<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Buah Tangan Sri Mulyani dari Washington DC</title><description>Sri Mulyani Indrawati membawa 'oleh-oleh' usai menghadiri acara Spring Meetings International Monetary Fund &amp;ndash; World Bank</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/17/20/2044826/buah-tangan-sri-mulyani-dari-washington-dc</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/04/17/20/2044826/buah-tangan-sri-mulyani-dari-washington-dc"/><item><title>Buah Tangan Sri Mulyani dari Washington DC</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/17/20/2044826/buah-tangan-sri-mulyani-dari-washington-dc</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/04/17/20/2044826/buah-tangan-sri-mulyani-dari-washington-dc</guid><pubDate>Rabu 17 April 2019 18:02 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/04/17/20/2044826/buah-tangan-sri-mulyani-dari-washington-dc-ovUlETrfBn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Humas Kemenpan RB)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/04/17/20/2044826/buah-tangan-sri-mulyani-dari-washington-dc-ovUlETrfBn.jpg</image><title>Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Humas Kemenpan RB)</title></images><description>TANGERANG SELATAN - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membawa 'oleh-oleh' usai menghadiri acara Spring Meetings International Monetary Fund &amp;ndash; World Bank Group 2019  di Washington DC. Oleh-oleh tersebut merupakan kondisi terbaru dari ekonomi global.
Saat ini pelemahan ekonomi global tengah membanyangi seluruh perekonomian negara di dunia, khususnya negara berkembang. IMF bahkan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,3%. Kondisi itu imbas dari perlemahan ekonomi negara maju seperti Amerika Serikat (AS) dan China, yang keduanya melakukanm perang dagang.
&quot;Jadi kita juga harus melihat kondisi perlemahan ekonomi global yang cukup drastis dibandingkan proyeksi awal (3,9%), direvisi turun 3,5%, hingga sekarang 3,3%. Artinya itu merupakan tantangan ekstrenal kita,&quot; jelasnya di Bintaro, Tangerang Selatan, Rabu (17/4/2019).
Baca Juga: Strategi Sri Mulyani Bangun Infrastruktur Pakai Dana Filantropi
Para pengambil kebijakan diharuskan melakukan menyesuaikan dengan kondisi pelemahan ekonomi global.  Kata dia, Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) bahkan lebih sabar dalam mengkaji pelemahan global. Artinya kenaikan suku bunga yang sempat mengguncang emerging market diprediki tidak akan terjadi kembali.
&amp;ldquo;Ini bagus untuk negara kita,&amp;rdquo; ujarnya.
Di sisi lain, lanjut dia, baik negara maju dan berkembang memiliki ruang fiskal yang terbatas.  Artinya kemampuan negara-negara untuk mengkontrol perlemahan ini secara fiskal tidak terlalu besar.
Baca Juga: David Malpass Jadi Bos Bank Dunia, Ini Catatan dari Sri Mulyani
&quot;Ini menyebabkan kekhawatiran, perlemahan ekonomi global bisa ditangani secara cukup kuat, karena space policy pada negara maju dan negara emerging itu terbatas,&quot; ujar dia.
Meski demikian, Sri Mulyani menilai, ekonomi Indonesia yang mampu tumbuh 5,17% di tahun 2018 menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan negara lain. Namun, pastinya tantangan ekonomi di 2019 akan berbeda dari tahun sebelummnya, di mana Indonesia harus mampu menjaga ruang kebijakan moneter dan fiskal yang cukuo untuk mengantisipasi kondisi global saat ini.
&quot;Sehingga bila terjadi pelemahan (ekonomi global), apakah misalnya ada ruang untuk melakukan dorongan ekonomi, dan kalau sampai terjadi ketegangan global, dari sisi perdagangan bagaimana kita meresponnya. Jadi kita harus antisipasi,&quot; jelas dia.</description><content:encoded>TANGERANG SELATAN - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membawa 'oleh-oleh' usai menghadiri acara Spring Meetings International Monetary Fund &amp;ndash; World Bank Group 2019  di Washington DC. Oleh-oleh tersebut merupakan kondisi terbaru dari ekonomi global.
Saat ini pelemahan ekonomi global tengah membanyangi seluruh perekonomian negara di dunia, khususnya negara berkembang. IMF bahkan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,3%. Kondisi itu imbas dari perlemahan ekonomi negara maju seperti Amerika Serikat (AS) dan China, yang keduanya melakukanm perang dagang.
&quot;Jadi kita juga harus melihat kondisi perlemahan ekonomi global yang cukup drastis dibandingkan proyeksi awal (3,9%), direvisi turun 3,5%, hingga sekarang 3,3%. Artinya itu merupakan tantangan ekstrenal kita,&quot; jelasnya di Bintaro, Tangerang Selatan, Rabu (17/4/2019).
Baca Juga: Strategi Sri Mulyani Bangun Infrastruktur Pakai Dana Filantropi
Para pengambil kebijakan diharuskan melakukan menyesuaikan dengan kondisi pelemahan ekonomi global.  Kata dia, Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) bahkan lebih sabar dalam mengkaji pelemahan global. Artinya kenaikan suku bunga yang sempat mengguncang emerging market diprediki tidak akan terjadi kembali.
&amp;ldquo;Ini bagus untuk negara kita,&amp;rdquo; ujarnya.
Di sisi lain, lanjut dia, baik negara maju dan berkembang memiliki ruang fiskal yang terbatas.  Artinya kemampuan negara-negara untuk mengkontrol perlemahan ini secara fiskal tidak terlalu besar.
Baca Juga: David Malpass Jadi Bos Bank Dunia, Ini Catatan dari Sri Mulyani
&quot;Ini menyebabkan kekhawatiran, perlemahan ekonomi global bisa ditangani secara cukup kuat, karena space policy pada negara maju dan negara emerging itu terbatas,&quot; ujar dia.
Meski demikian, Sri Mulyani menilai, ekonomi Indonesia yang mampu tumbuh 5,17% di tahun 2018 menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan negara lain. Namun, pastinya tantangan ekonomi di 2019 akan berbeda dari tahun sebelummnya, di mana Indonesia harus mampu menjaga ruang kebijakan moneter dan fiskal yang cukuo untuk mengantisipasi kondisi global saat ini.
&quot;Sehingga bila terjadi pelemahan (ekonomi global), apakah misalnya ada ruang untuk melakukan dorongan ekonomi, dan kalau sampai terjadi ketegangan global, dari sisi perdagangan bagaimana kita meresponnya. Jadi kita harus antisipasi,&quot; jelas dia.</content:encoded></item></channel></rss>
