<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Berebut Pasar Mobil Listrik di China</title><description>Keberadaan mobil listrik di China bukan hanya didominasi merek-merek yang sudah lama eksis.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/21/320/2046040/berebut-pasar-mobil-listrik-di-china</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/04/21/320/2046040/berebut-pasar-mobil-listrik-di-china"/><item><title>   Berebut Pasar Mobil Listrik di China</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/21/320/2046040/berebut-pasar-mobil-listrik-di-china</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/04/21/320/2046040/berebut-pasar-mobil-listrik-di-china</guid><pubDate>Minggu 21 April 2019 14:39 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/04/21/320/2046040/berebut-pasar-mobil-listrik-di-china-OFYdzgGRzZ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Koran Sindo</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/04/21/320/2046040/berebut-pasar-mobil-listrik-di-china-OFYdzgGRzZ.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Koran Sindo</title></images><description> 
BEIJING &amp;ndash; Sebagai negara dengan penjualan mobil terbesar di dunia, China terus berupaya menjaga pasarnya. Mobil listrik menjadi salah satu pilihan sejalan dengan upaya penyediaan kendaraan ramah lingkungan. Para produsen kendaraan di China menyadari betul besarnya potensi di negara itu.

Tak mengherankan jika mereka begitu agresif memproduksi kendaraan masa depan di samping mobil-mobil konvensional berteknologi tinggi. Keberadaan mobil listrik di China bukan hanya didominasi merek-merek yang sudah lama eksis.

Sejumlah perusahaan rintisan pun tak mau kalah dengan merilis produk baru dengan segala keunggulannya. Dua merek mobil startup automotif yang mencoba peruntungan pada ketatnya pasar di China adalah NIO dan Xpeng.
&amp;nbsp;Baca Juga: Dorong Pertumbuhan Mobil Listrik, Pemerintah Genjot Penyediaan SPLU
Keduanya memperkenalkan sejumlah produk baru dalam gelaran Shanghai Auto Show 2019. NIO bahkan berani mengklaim spesifikasi mobilnya sudah di atas standar New European Driving Cycle (NEDC).

Produk pertamanya yang akan diproduksi adalah mobil 7 seaters, ES8. Adapun Xpeng fokus pada fokus pengembangan mobil listrik jenis sedan dengan model andalannya Xpeng P7.

Mobil listrik ini dirancang untuk mampu melahap jarak 600 km dalam kondisi baterai penuh. Xpeng juga dilengkapi sistem advance driver assistance yang disebut Xpilot, menggunakan chip Nvidia Drive Xavier yang diset untuk mengendalikan kemudi secara otomatis dan semiotomatis.

Pasar automotif di China begitu menjanjikan menyusul kuatnya dukungan pemerintah. Pada 2018 penjualan mobil di seluruh China mencapai hampir 28 juta unit. Akselerasi pertumbuhan penjualan mobil di China memang agak melambat sejak 2016 lalu.
&amp;nbsp;Baca Juga: Hyundai dan Grab Siap Bangun Pabrik Mobil Listrik di Indonesia
Pada 2018 saja penjualan mobil di China turun 1 juta unit bila dibandingkan dengan 2017. Ada beberapa penyebab, di antaranya karena secara makro pertumbuhan ekonomi di negara itu lebih rendah daripada tahun-tahun sebelumnya.

Kendati demikian otoritas di China tidak tinggal diam. Mereka terus melakukan evaluasi, termasuk mengatasi masalah polusi dan kemacetan. Pemerintah China memindahkan fokus pengembangan mobil dari semula fokus ke jumlah penjualan ke mesin yang lebih ramah.

Selain itu insentif juga diberikan pada mobil dengan emisi rendah. Pembeli mobil listrik di China diberi subsidi hingga 50.000 yuan per mobil. Kebijakan itu berlaku hingga akhir tahun depan.
Pemerintah China mendukung mobil listrik selama 15 tahun demi  membersihkan polusi. &amp;ldquo;Persaingan di China kian ketat,&amp;rdquo; ujar pemerhati  industri automotif Paul Gong dari UBS seperti dikutip komonews.com.

Belakangan ini salah satu investasi yang didukung penuh Pemerintah  China adalah mobil bertenaga listrik. Pajak kendaraan jenis ini turun  menjadi 15% sejak Juli tahun lalu.

Kebijakan ini mendorong perusahaan automotif asing dan lokal untuk  berlombalomba menciptakan, memperkenalkan, dan memasarkan mobil listrik.  Selama auto-show di Shanghai akhir-akhir ini, perusahaan memajang  puluhan mobil listrik.

Pada tahun lalu pembelian mobil sedan dan SUV, baik hibrida ataupun  murni listrik, naik sebesar 60% atau menjadi 1,3 juta unit di China,  separuh dari total penjualan global.

Tapi, secara keseluruhan, penjualan mobil menurun 4,1%. Besarnya  pasar kendaraan listrik di China juga menggoda produsen mobil listrik  asal AS, Tesla. Awal tahun ini, perusahaan yang didirikan oleh Elon Musk  itu mulai mebangun pabrik di Shanghai, yang disebut-sebut sebagai  pabrik Tesla terbesar di luar AS.

Produsen lainnya, Volkswagen (VW) juga tidak mau kehilangan momentum.  Pabrikan asal Jerman itu akan membuka pabrik mobil listrik di Anting,  pingiran kota Shanghai mulai tahun depan.

VW akan berkerja sama dengan perusahaan lokal yakni Fushan dan akan  memproduksi 14 mobil listrik. Wakil Kepala Komisi Reformasi dan  Pembangunan Nasional China Ning Jizhe mengatakan, pangsa pasar global  automotif di China mencapai 30% dengan rata-rata penjualan tahunan  nyaris 30 juta.

Pemerintah China, kata dia, akan terus menerapkan kebijakan baru guna  merangsang produksi mobil dalam negeri yang mulai menggeliat.  Sekretaris Jenderal Asosiasi Penumpang Kendaraan China Cui Dongshu  menilai, turunnya pertumbuhan makroekonomi, pembatalan pajak pembelian  preferensial, pertumbuhan penjualan yang cepat pada tahun lalu, dan  pasar perumahan yang stabil akan memberikan tekanan dalam penjualan  mobil pada tahun ini.

Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Automotif China Shi  Jianhua mengatakan, penjualan automotif di China tetap berjalan stabil.  Dia mengakui, pertumbuhan penjualan di wilayah perkotaan memang  melambat, tetapi penjualan di daerah meningkat menyusul membaiknya  sistem infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat.

&amp;ldquo;Pertumbuhannya mungkin tidak akan secepat tahun lalu, tapi semuanya  berjalan sesuai harapan,&amp;rdquo; ujar Direktur Departemen Penelitian Ekonomi  Industri Song Zifeng seperti dikutip people.cn.

Saat ini perusahaan produsen mobil asing, termasuk Amerika Serikat  (AS), kehilangan momentum di China akibat kurangnya daya saing. Pangsa  pasar merek AS jatuh dari 12,2% menjadi 10,7% selama delapan bulan  pertama 2018.

Penurunan itu akibat kurangnya peremajaan dan inovasi produk,  termasuk oleh Ford Motor Co. Namun Asisten Sekretaris Jenderal Asosiasi  Produsen Automotif China Xu Haidong membantah hal itu didalangi perang  dagang.

&amp;ldquo;Di sini tidak ada sentimen anti- AS atau aksi pemboikotan brand AS  oleh konsumen. Ekonomi yang melambat telah membebani permintaan dan  mengancam pasar otomotif yang sedang meluas di China,&amp;rdquo; kata Xu seperti  dilansir bloomberg.com.
Penjualan mobil AS juga telah anjlok selama tiga bulan berturut-turut   di China. Di China, impor mobil asing sangat sedikit bila dibandingkan   dengan mobil lokal. Pemerintah China memasang tarif tinggi terhadap   brand AS sehingga harga tidak menentu dan banyak konsumen yang lari.

Ford juga mengalami penurunan penjualan sebesar 36% pada Agustus lalu   akibat kalah bersaing dengan produk-produk lokal. Saat ini,  berdasarkan  data Asosiasi Produsen Automotif China, perusahaan  automotif yang  memimpin penjualan ialah Volkswagen sebanyak 460.000  unit.

Berikutnya adalah Toyota (237.000 unit), Geely (222.000 unit), Honda   (213.000 unit), Changan (169.000 unit), Nissan (164.000 unit), Buick   (150.000 unit), dan Wuling (145.000 unit).

General Motors, Volkswagen, Nissan, dan perusahaan besar lainnya   mengembangkan model mobil yang beraneka ragam, tetapi diupayakan   memenuhi selera konsumen di China.

Meski demikian perusahaan lokal juga tidak mau kalah. BYD Auto dan   BAIC Group mencoba melakukan gebrakan dengan menawarkan mobil murah.   &amp;ldquo;Pada akhir tahun depan, konsumen akan kesulitan menolak mobil listrik   karena inovasinya akan semakin maju,&amp;rdquo; kata CEO Volkswagen, Herbert   Diess.

Menurutnya, perusahaan asing akan mencoba melakukan pemasaran dan   penjualan di pasar China untuk menaikkan pendapatan di tengah menurunnya   permintaan di pasar AS dan Eropa. (Muh Shamil)
</description><content:encoded> 
BEIJING &amp;ndash; Sebagai negara dengan penjualan mobil terbesar di dunia, China terus berupaya menjaga pasarnya. Mobil listrik menjadi salah satu pilihan sejalan dengan upaya penyediaan kendaraan ramah lingkungan. Para produsen kendaraan di China menyadari betul besarnya potensi di negara itu.

Tak mengherankan jika mereka begitu agresif memproduksi kendaraan masa depan di samping mobil-mobil konvensional berteknologi tinggi. Keberadaan mobil listrik di China bukan hanya didominasi merek-merek yang sudah lama eksis.

Sejumlah perusahaan rintisan pun tak mau kalah dengan merilis produk baru dengan segala keunggulannya. Dua merek mobil startup automotif yang mencoba peruntungan pada ketatnya pasar di China adalah NIO dan Xpeng.
&amp;nbsp;Baca Juga: Dorong Pertumbuhan Mobil Listrik, Pemerintah Genjot Penyediaan SPLU
Keduanya memperkenalkan sejumlah produk baru dalam gelaran Shanghai Auto Show 2019. NIO bahkan berani mengklaim spesifikasi mobilnya sudah di atas standar New European Driving Cycle (NEDC).

Produk pertamanya yang akan diproduksi adalah mobil 7 seaters, ES8. Adapun Xpeng fokus pada fokus pengembangan mobil listrik jenis sedan dengan model andalannya Xpeng P7.

Mobil listrik ini dirancang untuk mampu melahap jarak 600 km dalam kondisi baterai penuh. Xpeng juga dilengkapi sistem advance driver assistance yang disebut Xpilot, menggunakan chip Nvidia Drive Xavier yang diset untuk mengendalikan kemudi secara otomatis dan semiotomatis.

Pasar automotif di China begitu menjanjikan menyusul kuatnya dukungan pemerintah. Pada 2018 penjualan mobil di seluruh China mencapai hampir 28 juta unit. Akselerasi pertumbuhan penjualan mobil di China memang agak melambat sejak 2016 lalu.
&amp;nbsp;Baca Juga: Hyundai dan Grab Siap Bangun Pabrik Mobil Listrik di Indonesia
Pada 2018 saja penjualan mobil di China turun 1 juta unit bila dibandingkan dengan 2017. Ada beberapa penyebab, di antaranya karena secara makro pertumbuhan ekonomi di negara itu lebih rendah daripada tahun-tahun sebelumnya.

Kendati demikian otoritas di China tidak tinggal diam. Mereka terus melakukan evaluasi, termasuk mengatasi masalah polusi dan kemacetan. Pemerintah China memindahkan fokus pengembangan mobil dari semula fokus ke jumlah penjualan ke mesin yang lebih ramah.

Selain itu insentif juga diberikan pada mobil dengan emisi rendah. Pembeli mobil listrik di China diberi subsidi hingga 50.000 yuan per mobil. Kebijakan itu berlaku hingga akhir tahun depan.
Pemerintah China mendukung mobil listrik selama 15 tahun demi  membersihkan polusi. &amp;ldquo;Persaingan di China kian ketat,&amp;rdquo; ujar pemerhati  industri automotif Paul Gong dari UBS seperti dikutip komonews.com.

Belakangan ini salah satu investasi yang didukung penuh Pemerintah  China adalah mobil bertenaga listrik. Pajak kendaraan jenis ini turun  menjadi 15% sejak Juli tahun lalu.

Kebijakan ini mendorong perusahaan automotif asing dan lokal untuk  berlombalomba menciptakan, memperkenalkan, dan memasarkan mobil listrik.  Selama auto-show di Shanghai akhir-akhir ini, perusahaan memajang  puluhan mobil listrik.

Pada tahun lalu pembelian mobil sedan dan SUV, baik hibrida ataupun  murni listrik, naik sebesar 60% atau menjadi 1,3 juta unit di China,  separuh dari total penjualan global.

Tapi, secara keseluruhan, penjualan mobil menurun 4,1%. Besarnya  pasar kendaraan listrik di China juga menggoda produsen mobil listrik  asal AS, Tesla. Awal tahun ini, perusahaan yang didirikan oleh Elon Musk  itu mulai mebangun pabrik di Shanghai, yang disebut-sebut sebagai  pabrik Tesla terbesar di luar AS.

Produsen lainnya, Volkswagen (VW) juga tidak mau kehilangan momentum.  Pabrikan asal Jerman itu akan membuka pabrik mobil listrik di Anting,  pingiran kota Shanghai mulai tahun depan.

VW akan berkerja sama dengan perusahaan lokal yakni Fushan dan akan  memproduksi 14 mobil listrik. Wakil Kepala Komisi Reformasi dan  Pembangunan Nasional China Ning Jizhe mengatakan, pangsa pasar global  automotif di China mencapai 30% dengan rata-rata penjualan tahunan  nyaris 30 juta.

Pemerintah China, kata dia, akan terus menerapkan kebijakan baru guna  merangsang produksi mobil dalam negeri yang mulai menggeliat.  Sekretaris Jenderal Asosiasi Penumpang Kendaraan China Cui Dongshu  menilai, turunnya pertumbuhan makroekonomi, pembatalan pajak pembelian  preferensial, pertumbuhan penjualan yang cepat pada tahun lalu, dan  pasar perumahan yang stabil akan memberikan tekanan dalam penjualan  mobil pada tahun ini.

Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Automotif China Shi  Jianhua mengatakan, penjualan automotif di China tetap berjalan stabil.  Dia mengakui, pertumbuhan penjualan di wilayah perkotaan memang  melambat, tetapi penjualan di daerah meningkat menyusul membaiknya  sistem infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat.

&amp;ldquo;Pertumbuhannya mungkin tidak akan secepat tahun lalu, tapi semuanya  berjalan sesuai harapan,&amp;rdquo; ujar Direktur Departemen Penelitian Ekonomi  Industri Song Zifeng seperti dikutip people.cn.

Saat ini perusahaan produsen mobil asing, termasuk Amerika Serikat  (AS), kehilangan momentum di China akibat kurangnya daya saing. Pangsa  pasar merek AS jatuh dari 12,2% menjadi 10,7% selama delapan bulan  pertama 2018.

Penurunan itu akibat kurangnya peremajaan dan inovasi produk,  termasuk oleh Ford Motor Co. Namun Asisten Sekretaris Jenderal Asosiasi  Produsen Automotif China Xu Haidong membantah hal itu didalangi perang  dagang.

&amp;ldquo;Di sini tidak ada sentimen anti- AS atau aksi pemboikotan brand AS  oleh konsumen. Ekonomi yang melambat telah membebani permintaan dan  mengancam pasar otomotif yang sedang meluas di China,&amp;rdquo; kata Xu seperti  dilansir bloomberg.com.
Penjualan mobil AS juga telah anjlok selama tiga bulan berturut-turut   di China. Di China, impor mobil asing sangat sedikit bila dibandingkan   dengan mobil lokal. Pemerintah China memasang tarif tinggi terhadap   brand AS sehingga harga tidak menentu dan banyak konsumen yang lari.

Ford juga mengalami penurunan penjualan sebesar 36% pada Agustus lalu   akibat kalah bersaing dengan produk-produk lokal. Saat ini,  berdasarkan  data Asosiasi Produsen Automotif China, perusahaan  automotif yang  memimpin penjualan ialah Volkswagen sebanyak 460.000  unit.

Berikutnya adalah Toyota (237.000 unit), Geely (222.000 unit), Honda   (213.000 unit), Changan (169.000 unit), Nissan (164.000 unit), Buick   (150.000 unit), dan Wuling (145.000 unit).

General Motors, Volkswagen, Nissan, dan perusahaan besar lainnya   mengembangkan model mobil yang beraneka ragam, tetapi diupayakan   memenuhi selera konsumen di China.

Meski demikian perusahaan lokal juga tidak mau kalah. BYD Auto dan   BAIC Group mencoba melakukan gebrakan dengan menawarkan mobil murah.   &amp;ldquo;Pada akhir tahun depan, konsumen akan kesulitan menolak mobil listrik   karena inovasinya akan semakin maju,&amp;rdquo; kata CEO Volkswagen, Herbert   Diess.

Menurutnya, perusahaan asing akan mencoba melakukan pemasaran dan   penjualan di pasar China untuk menaikkan pendapatan di tengah menurunnya   permintaan di pasar AS dan Eropa. (Muh Shamil)
</content:encoded></item></channel></rss>
