<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Saingi Amazon hingga Apple, Facebook Kembangkan Voice Assistant</title><description>Facebook kini sedang fokus mengembangkan voice assistant untuk bersaing dengan Alexa milik Amazon.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/22/320/2046409/saingi-amazon-hingga-apple-facebook-kembangkan-voice-assistant</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/04/22/320/2046409/saingi-amazon-hingga-apple-facebook-kembangkan-voice-assistant"/><item><title>Saingi Amazon hingga Apple, Facebook Kembangkan Voice Assistant</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/22/320/2046409/saingi-amazon-hingga-apple-facebook-kembangkan-voice-assistant</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/04/22/320/2046409/saingi-amazon-hingga-apple-facebook-kembangkan-voice-assistant</guid><pubDate>Senin 22 April 2019 13:12 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/04/22/320/2046409/saingi-amazon-hingga-appele-facebook-kembangkan-voice-assistant-joXfrYpoKO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Reuters</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/04/22/320/2046409/saingi-amazon-hingga-appele-facebook-kembangkan-voice-assistant-joXfrYpoKO.jpg</image><title>Foto: Reuters</title></images><description>NEW YORK &amp;ndash; Facebook kini sedang fokus mengembangkan voice assistant untuk bersaing dengan Alexa milik Amazon, Siri punya Apple, dan Google Assistant. Perusahaan teknologi raksasa itu bekerja menyusun inisiatif tersebut sejak awal tahun lalu.
Langkah tersebut dilakukan setelah Facebook memiliki grup augmented reality dan virtual reality serta divisi perusahaan peranti lunak yang merilis headset virtual reality Oculus. Sebuah tim berbasis di Redmond, Washington, sedang mengembangkan voice assistant berbasis artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Hal itu diungkapkan dua mantan pegawai Facebook yang sudah mengundurkan diri beberapa bulan lalu. Sebagaimana dilansir CNBC , gebrakan Facebook tersebut dipimpin Ira Snyder, Direktur AR/VR dan Facebook Assistant. Tim itu juga sudah menghubungi banyak pihak untuk menyuplai smart speaker. Tidak jelas bagaimana visi Facebook atas penggunaan asisten itu.
&amp;nbsp;Baca Juga: Facebook Simpan 'Jutaan' Password Instagram Tak Terenkripsi
Namun hal itu berpotensi untuk digunakan sebagai percakapan cerdas melalui video seperti headset Oculus dan berbagai proyek lain. Sebagaimana dilansir The Verge , Facebook mengonfirmasi laporan mengenai pengembangan digital voice assistant berbasis AI. Facebook mengungkapkan mereka tidak fokus pada pesan, tetapi lebih mengem bangkan platform dalam interaksi melalui kontrol suara ataupun gerak tubuh.
&amp;ldquo;Kita bekerja mengembangkan teknologi bantuan berbasis AI dan suara yang mungkin bekerja dengan produk AR/VR seperti Portal, Oculus, dan produk lain,&amp;rdquo; ujar juru bicara Facebook kepada The Verge. Hanya saja Voice Assistant Facebook itu akan berkompetisi dengan rivalnya secara sangat ketat.
Berdasarkan eMarketer, Amazon dan Google sudah memimpin pasar smart speaker dengan nilai pasar 67% dan 30% di Amerika Serikat pada 2018. Pada 2015 silam Facebook sudah merilis asisten berbasis AI untuk aplikasi Messenger yang disebut dengan M. Hal itu bertujuan untuk membantu pengguna Facebook. Namun proyek tersebut sangat tergantung dengan bantuan manusia dan tidak pernah mendapatkan perhatian serius dari pasar.
&amp;nbsp;Baca Juga: Facebook Tertarik Bikin Layanan Voice Assistant Saingi Alexa?
Facebook menutup proyek yang tidak menguntungkan tersebut pada tahun lalu. Berkaca pada M, Yann LeCun, Kepala Ilmuwan AI Facebook, mengungkapkan, eksperimen memang selalu memiliki ambisi untuk mewujudkan bagaimana orang menggunakan asisten virtual dengan dasar kecerdasan manusia.
&amp;ldquo;Eksperimen didesain untuk digunakan seberapa kita bisa otomatis dan seberapa besar ruang gerak kita,&amp;rdquo; ujar Yann seperti dilansir Forbes.
Dia menjelaskan, alat itu pasti kecil sehingga kita bisa masuk ke dunia otomatis dan berwilayah besar karena bisa di jangkau dengan teknologi. Sejak November lalu, Facebook menjual alat percakapan video Portal yang membantu penggunanya untuk melakukan panggilan menggunakan Facebook Messenger. Pengguna bisa mengatakan &amp;ldquo;Hey Portal&amp;rdquo; untuk melakukan perintah sederhana. Tapi alat tersebut bisa dikalahkan oleh Alexa Assistant milik Amazon yang bisa melakukan tugas yang lebih kompleks.Proyek ini menunjukkan keinginan Facebook terhadap teknologi  eksperimen. Sejak Facebook mengakuisisi Oculus pada 2013, mereka  berusaha memperluas struktur organisasi dengan membentuk divisi baru.  Pertama adalah divisi kelompok peranti keras AR/VR yang bertujuan  mengembangkan alat percakapan video bernama Portal. Divisi tersebut  termasuk melibatkan Building 8, divisi rahasia yang sebelumnya  dijalankan mantan direktur DARPA dan pegawai Google Regina Dugan yang  meninggalkan perusahaan itu pada akhir 2017.
Divisi kedua dikenal dengan Facebook Reality Labs yang dijalankan  pionir game video Michael Abrash yang menjadi pegawai Facebook dan  menjadi kepala ilmuwan di VR. Facebook AI Assistant sepertinya  menggabungkan dua di visi tersebut di mana Synder akan memegang posisi  tersebut.
Apapun tujuannya, Facebook akan fokus mengembangkan divisi peranti  lunak sebagai platform bisnis masa depan dan tidak terbatas pada produk  tunggal. Sebelumnya CEO Facebook Mark Zuckerberg selalu mendorong AI  agar menjadi platform Facebook dan para penggunanya.
Dia sendiri memiliki robot pelayan yang bernama Jarvis. Dia juga  menyebut miliarder Elon Musk tidak bertanggung jawab karena  mengungkapkan bahwa AI bisa menjadi hal yang berbahaya. &amp;ldquo;Saya memiliki  opini kuat mengenai ini (AI),&amp;rdquo; ujar Zuckerberg pada live broadcast pada  Juli 2017. &amp;ldquo;Saya sangat optimistis. Saya adalah orang yang optimistis  secara umum. Saya pikir kamu bisa membangun sesuatu atau dunia dengan  lebih baik. Dengan AI khususnya, saya optimistis dan saya pikir orang  yang menjadi penentang dan mencoba menabung skenario kimia, saya tidak  memahaminya. Saya tidak memahaminya. Itu adalah cara negatif di mana  saya pikir hal itu tidak bertanggung jawab,&amp;rdquo; sebutnya. (Andika Hendra  Mustaqim)</description><content:encoded>NEW YORK &amp;ndash; Facebook kini sedang fokus mengembangkan voice assistant untuk bersaing dengan Alexa milik Amazon, Siri punya Apple, dan Google Assistant. Perusahaan teknologi raksasa itu bekerja menyusun inisiatif tersebut sejak awal tahun lalu.
Langkah tersebut dilakukan setelah Facebook memiliki grup augmented reality dan virtual reality serta divisi perusahaan peranti lunak yang merilis headset virtual reality Oculus. Sebuah tim berbasis di Redmond, Washington, sedang mengembangkan voice assistant berbasis artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Hal itu diungkapkan dua mantan pegawai Facebook yang sudah mengundurkan diri beberapa bulan lalu. Sebagaimana dilansir CNBC , gebrakan Facebook tersebut dipimpin Ira Snyder, Direktur AR/VR dan Facebook Assistant. Tim itu juga sudah menghubungi banyak pihak untuk menyuplai smart speaker. Tidak jelas bagaimana visi Facebook atas penggunaan asisten itu.
&amp;nbsp;Baca Juga: Facebook Simpan 'Jutaan' Password Instagram Tak Terenkripsi
Namun hal itu berpotensi untuk digunakan sebagai percakapan cerdas melalui video seperti headset Oculus dan berbagai proyek lain. Sebagaimana dilansir The Verge , Facebook mengonfirmasi laporan mengenai pengembangan digital voice assistant berbasis AI. Facebook mengungkapkan mereka tidak fokus pada pesan, tetapi lebih mengem bangkan platform dalam interaksi melalui kontrol suara ataupun gerak tubuh.
&amp;ldquo;Kita bekerja mengembangkan teknologi bantuan berbasis AI dan suara yang mungkin bekerja dengan produk AR/VR seperti Portal, Oculus, dan produk lain,&amp;rdquo; ujar juru bicara Facebook kepada The Verge. Hanya saja Voice Assistant Facebook itu akan berkompetisi dengan rivalnya secara sangat ketat.
Berdasarkan eMarketer, Amazon dan Google sudah memimpin pasar smart speaker dengan nilai pasar 67% dan 30% di Amerika Serikat pada 2018. Pada 2015 silam Facebook sudah merilis asisten berbasis AI untuk aplikasi Messenger yang disebut dengan M. Hal itu bertujuan untuk membantu pengguna Facebook. Namun proyek tersebut sangat tergantung dengan bantuan manusia dan tidak pernah mendapatkan perhatian serius dari pasar.
&amp;nbsp;Baca Juga: Facebook Tertarik Bikin Layanan Voice Assistant Saingi Alexa?
Facebook menutup proyek yang tidak menguntungkan tersebut pada tahun lalu. Berkaca pada M, Yann LeCun, Kepala Ilmuwan AI Facebook, mengungkapkan, eksperimen memang selalu memiliki ambisi untuk mewujudkan bagaimana orang menggunakan asisten virtual dengan dasar kecerdasan manusia.
&amp;ldquo;Eksperimen didesain untuk digunakan seberapa kita bisa otomatis dan seberapa besar ruang gerak kita,&amp;rdquo; ujar Yann seperti dilansir Forbes.
Dia menjelaskan, alat itu pasti kecil sehingga kita bisa masuk ke dunia otomatis dan berwilayah besar karena bisa di jangkau dengan teknologi. Sejak November lalu, Facebook menjual alat percakapan video Portal yang membantu penggunanya untuk melakukan panggilan menggunakan Facebook Messenger. Pengguna bisa mengatakan &amp;ldquo;Hey Portal&amp;rdquo; untuk melakukan perintah sederhana. Tapi alat tersebut bisa dikalahkan oleh Alexa Assistant milik Amazon yang bisa melakukan tugas yang lebih kompleks.Proyek ini menunjukkan keinginan Facebook terhadap teknologi  eksperimen. Sejak Facebook mengakuisisi Oculus pada 2013, mereka  berusaha memperluas struktur organisasi dengan membentuk divisi baru.  Pertama adalah divisi kelompok peranti keras AR/VR yang bertujuan  mengembangkan alat percakapan video bernama Portal. Divisi tersebut  termasuk melibatkan Building 8, divisi rahasia yang sebelumnya  dijalankan mantan direktur DARPA dan pegawai Google Regina Dugan yang  meninggalkan perusahaan itu pada akhir 2017.
Divisi kedua dikenal dengan Facebook Reality Labs yang dijalankan  pionir game video Michael Abrash yang menjadi pegawai Facebook dan  menjadi kepala ilmuwan di VR. Facebook AI Assistant sepertinya  menggabungkan dua di visi tersebut di mana Synder akan memegang posisi  tersebut.
Apapun tujuannya, Facebook akan fokus mengembangkan divisi peranti  lunak sebagai platform bisnis masa depan dan tidak terbatas pada produk  tunggal. Sebelumnya CEO Facebook Mark Zuckerberg selalu mendorong AI  agar menjadi platform Facebook dan para penggunanya.
Dia sendiri memiliki robot pelayan yang bernama Jarvis. Dia juga  menyebut miliarder Elon Musk tidak bertanggung jawab karena  mengungkapkan bahwa AI bisa menjadi hal yang berbahaya. &amp;ldquo;Saya memiliki  opini kuat mengenai ini (AI),&amp;rdquo; ujar Zuckerberg pada live broadcast pada  Juli 2017. &amp;ldquo;Saya sangat optimistis. Saya adalah orang yang optimistis  secara umum. Saya pikir kamu bisa membangun sesuatu atau dunia dengan  lebih baik. Dengan AI khususnya, saya optimistis dan saya pikir orang  yang menjadi penentang dan mencoba menabung skenario kimia, saya tidak  memahaminya. Saya tidak memahaminya. Itu adalah cara negatif di mana  saya pikir hal itu tidak bertanggung jawab,&amp;rdquo; sebutnya. (Andika Hendra  Mustaqim)</content:encoded></item></channel></rss>
