<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>MRT Masuk Tangsel Pacu Pengembangan Properti</title><description>Mass rapid transit (MRT) menembus Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dapat memacu pengembangan properti.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/22/470/2046406/mrt-masuk-tangsel-pacu-pengembangan-properti</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/04/22/470/2046406/mrt-masuk-tangsel-pacu-pengembangan-properti"/><item><title>MRT Masuk Tangsel Pacu Pengembangan Properti</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/22/470/2046406/mrt-masuk-tangsel-pacu-pengembangan-properti</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/04/22/470/2046406/mrt-masuk-tangsel-pacu-pengembangan-properti</guid><pubDate>Senin 22 April 2019 13:08 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/04/22/470/2046406/mrt-masuk-tangsel-pacu-pengembangan-properti-ThrAJ2blJQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/04/22/470/2046406/mrt-masuk-tangsel-pacu-pengembangan-properti-ThrAJ2blJQ.jpg</image><title>Foto: Okezone</title></images><description>TANGERANG SELATAN - Wacana moda transportasi massal mass rapid transit (MRT) menembus Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dapat memacu pengembangan properti.
Keberadaan MRT juga melengkapi Tangsel sebagai kota meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE). Wakil Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, kehadiran MRT semakin mengukuhkan Tangsel sebagai kawasan megapolitan di Banten.
Apalagi, pembangunan di Tangsel berkembang pesat selama 10 tahun terakhir yang sekitar 60% wilayahnya ditanam investasi oleh para pengembang besar. Terdapat tiga pengembang besar di Tangsel seperti PT Jaya Real Property di Bintaro, Pondok Aren kemudian Sinarmas Land dan PT Alam Sutera Realty di Serpong.
&amp;ldquo;Pengembang ini telah menjadi satu identitas bagi Tangsel sehingga kehadiran MRT dapat saling melengkapi pembangunan yang ada,&amp;rdquo; ujar Benyamin kemarin.
&amp;nbsp;Baca Juga: Usai Jakarta, MRT Tangsel Segera Terwujud
Saat ini MRT telah melayani rute Bundaran HI-Lebak Bulus, Jakarta Selatan sepanjang 15,7 kilometer. Supaya bisa diteruskan ke Tangsel, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan penyusunan feasibility study (FS) baru kemudian masuk tahapan detail engineering design (DED). Dalam penyusunan FS, Pemkot Tangsel memiliki peran penting terutama mengusulkan rute-rute mana saja yang dilewati kereta MRT.
Ada dua pertimbangan dalam usulan tersebut, yakni MRT harus terintegrasi dengan terminal terpadu transit oriented development (TOD) di Terminal Pondok Cabe, Pamulang dan Stasiun Cisauk, Serpong. Kemudian harus bisa dirasakan oleh warga Tangsel yang bekerja di Jakarta sekaligus membawa dampak peningkatan ekonomi bagi masyarakat yang wilayahnya dilewati MRT.
Dengan demikian, Tangsel tidak hanya menjadi daerah lintasan warga perbatasan utara Kota Tangerang, selatan Kabupaten Bogor, serta barat Kabupaten Tangerang, namun menjadi kawasan transit bagi warga sekitarnya. Menurut Benyamin, trase yang akan dibangun sebaiknya tidak bertabrakan dengan konsep pembangunan pengembang yang ada. Sebaliknya, harus bisa saling menunjang dan menguatkan.
&amp;nbsp;Baca Juga: MRT Jakarta ke Tangsel Masuk Tahap Studi Kelayakan, Airin Minta Rute Ini
Adapun trase yang diusulkan lebih dari 35 kilometer, mulai dari Stasiun MRT Lebak Bulus terus lurus menuju Jalan Raya Ciputat sampai Prapatan Gaplek kemudian belok kanan hingga Kecamatan Pamulang. Dari Kecamatan Pamulang kereta MRT meluncur ke Perempatan Puspiptek atau Muncul lalu belok menuju Taman Tekno 2 di BSD ke arah Stasiun KRL Commuter Line Rawa Buntu. &amp;ldquo;Dari Rawa Buntu bisa diteruskan ke Kota Tangerang. Nanti akan jelas di DED-nya. Saat ini kan prosesnya masih studi kelayakan,&amp;rdquo; katanya.
Dengan beroperasinya MRT, tingkat kemacetan di wilayah perbatasan Tangsel akan lebih terurai. Penggunaan kendaraan pribadi juga bisa ditekan. Pengamat perkotaan Nirwono Joga menuturkan, hampir 60% lahan di wilayah Tangsel dikuasai pengembang besar. &amp;ldquo;Jadi, Pemkot Tangsel tidak bisa berbuat banyak, tapi mendukung apa yang sudah dikembangkan oleh pengembang,&amp;rdquo; ujarnya.
Meski demikian, pengembang di Tangsel juga memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat jika diberikan kemudahan transportasi melalui MRT yakni dengan menyediakan lapangan pekerjaan.
&amp;ldquo;Pemkot Tangsel juga harus mengarahkan para pengembang agar melakukan pengembangan kawasan dan pembangunan properti di sepanjang koridor MRT, itu lah konsekuensinya,&amp;rdquo; kata Nirwono.Dia menilai perpanjangan rute MRT ke Tangsel cukup rumit, apalagi  rute yang dilewati Jalan Ciputat Raya dikenal cukup padat. &amp;ldquo;Kemungkinan  besar dibangun jalur rel layang mengingat kepadatan bangunan di  sepanjang Jalan Ciputat Raya,&amp;rdquo; ucapnya.
Pemkot Tangsel pun harus merevisi Rencana Tata Ruang dan Wilayah  (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang ada sehingga memiliki  manajemen risikonya. &amp;ldquo;Juga harus dipikirkan rencana rekayasa lalu  lintasnya di sepanjang koridor bawah selama pengerjaan konstruksi  berjalan termasuk kompensasi kepada pemilik bangunan yang terdampak  proyek,&amp;rdquo; ucap Nirwono.
Kompensasi ini harus dipikirkan dengan sangat matang, mulai dari  total kerugiannya, bantuan modal usaha kembali, hingga relokasi  pembangunan usahanya kembali. &amp;ldquo;Rancang ulang jaringan transportasi dan  angkutan perkotaan serta angkutan massal supaya saling mendukung dan  tidak tumpang tindih dengan angkutan yang ada sehingga terhindar dari  gesekan,&amp;rdquo; ungkapnya.
Dengan begitu, keberadaan MRT dapat benar-benar dirasakan bukan hanya  warga Tangsel yang bekerja di Jakarta, melainkan masyarakat di  sekitarnya. Menurut Nirwono, masuknya MRT ke Tangsel justru jangan malah  menciptakan urbanisasi. Perkembangan kota harus mandiri dan tidak  bergantung pada Jakarta.
&amp;ldquo;Jangan pikirkan transportasi yang kian dekat dan memudahkan  perjalanan dari Kota Satelit ke Jakarta, tapi bagaimana pikirkan soal  pengembangan Kota Satelit,&amp;rdquo; ujarnya. Dia menilai tanpa konsep dan aturan  yang jelas, keberadaan MRT atau light rail transit (LRT) di kota-kota  penyangga malah menimbulkan masalah baru.
Urbanisasi bakal makin menjadi lantaran kemudahan transportasi.  Kondisi ini diperburuk masyarakat meninggalkan rumah untuk bekerja di  Ibu Kota kemudian belanja di Jakarta. Namun, bila mengukur jangka  panjang keberadaan urbanisasi malah merugi. Investasi kesehatan perlu  dipikirkan seiring bertambahnya umur seseorang otomatis biaya kesehatan  juga bertambah.
Karena itu, dalam pengembangan MRT atau LRT berbagai Kota Satelit  harus mempersiapkan diri. Pencanangan kemandirian kota wajib dilakukan  agar tak merugikan kota itu sendiri. &amp;ldquo;Bila perlu, segala aktivitas harus  di kota. Fungsi MRT atau LRT ketika ada keperluan ke Jakarta,&amp;rdquo; ucapnya.
Dia mencontohkan pembangunan MRT di Jakarta persisnya di kawasan  Fatmawati, ketika MRT tak menguntungkan bangunan atau gedung di sekitar  lantaran tak terhubung MRT. &amp;ldquo;Ini yang perlu dipertimbangkan dengan  pembangunan MRT atau LRT di luar Jakarta,&amp;rdquo; kata Nirwono. (Hasan  Kurniawan/Yan Yusuf)</description><content:encoded>TANGERANG SELATAN - Wacana moda transportasi massal mass rapid transit (MRT) menembus Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dapat memacu pengembangan properti.
Keberadaan MRT juga melengkapi Tangsel sebagai kota meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE). Wakil Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, kehadiran MRT semakin mengukuhkan Tangsel sebagai kawasan megapolitan di Banten.
Apalagi, pembangunan di Tangsel berkembang pesat selama 10 tahun terakhir yang sekitar 60% wilayahnya ditanam investasi oleh para pengembang besar. Terdapat tiga pengembang besar di Tangsel seperti PT Jaya Real Property di Bintaro, Pondok Aren kemudian Sinarmas Land dan PT Alam Sutera Realty di Serpong.
&amp;ldquo;Pengembang ini telah menjadi satu identitas bagi Tangsel sehingga kehadiran MRT dapat saling melengkapi pembangunan yang ada,&amp;rdquo; ujar Benyamin kemarin.
&amp;nbsp;Baca Juga: Usai Jakarta, MRT Tangsel Segera Terwujud
Saat ini MRT telah melayani rute Bundaran HI-Lebak Bulus, Jakarta Selatan sepanjang 15,7 kilometer. Supaya bisa diteruskan ke Tangsel, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan penyusunan feasibility study (FS) baru kemudian masuk tahapan detail engineering design (DED). Dalam penyusunan FS, Pemkot Tangsel memiliki peran penting terutama mengusulkan rute-rute mana saja yang dilewati kereta MRT.
Ada dua pertimbangan dalam usulan tersebut, yakni MRT harus terintegrasi dengan terminal terpadu transit oriented development (TOD) di Terminal Pondok Cabe, Pamulang dan Stasiun Cisauk, Serpong. Kemudian harus bisa dirasakan oleh warga Tangsel yang bekerja di Jakarta sekaligus membawa dampak peningkatan ekonomi bagi masyarakat yang wilayahnya dilewati MRT.
Dengan demikian, Tangsel tidak hanya menjadi daerah lintasan warga perbatasan utara Kota Tangerang, selatan Kabupaten Bogor, serta barat Kabupaten Tangerang, namun menjadi kawasan transit bagi warga sekitarnya. Menurut Benyamin, trase yang akan dibangun sebaiknya tidak bertabrakan dengan konsep pembangunan pengembang yang ada. Sebaliknya, harus bisa saling menunjang dan menguatkan.
&amp;nbsp;Baca Juga: MRT Jakarta ke Tangsel Masuk Tahap Studi Kelayakan, Airin Minta Rute Ini
Adapun trase yang diusulkan lebih dari 35 kilometer, mulai dari Stasiun MRT Lebak Bulus terus lurus menuju Jalan Raya Ciputat sampai Prapatan Gaplek kemudian belok kanan hingga Kecamatan Pamulang. Dari Kecamatan Pamulang kereta MRT meluncur ke Perempatan Puspiptek atau Muncul lalu belok menuju Taman Tekno 2 di BSD ke arah Stasiun KRL Commuter Line Rawa Buntu. &amp;ldquo;Dari Rawa Buntu bisa diteruskan ke Kota Tangerang. Nanti akan jelas di DED-nya. Saat ini kan prosesnya masih studi kelayakan,&amp;rdquo; katanya.
Dengan beroperasinya MRT, tingkat kemacetan di wilayah perbatasan Tangsel akan lebih terurai. Penggunaan kendaraan pribadi juga bisa ditekan. Pengamat perkotaan Nirwono Joga menuturkan, hampir 60% lahan di wilayah Tangsel dikuasai pengembang besar. &amp;ldquo;Jadi, Pemkot Tangsel tidak bisa berbuat banyak, tapi mendukung apa yang sudah dikembangkan oleh pengembang,&amp;rdquo; ujarnya.
Meski demikian, pengembang di Tangsel juga memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat jika diberikan kemudahan transportasi melalui MRT yakni dengan menyediakan lapangan pekerjaan.
&amp;ldquo;Pemkot Tangsel juga harus mengarahkan para pengembang agar melakukan pengembangan kawasan dan pembangunan properti di sepanjang koridor MRT, itu lah konsekuensinya,&amp;rdquo; kata Nirwono.Dia menilai perpanjangan rute MRT ke Tangsel cukup rumit, apalagi  rute yang dilewati Jalan Ciputat Raya dikenal cukup padat. &amp;ldquo;Kemungkinan  besar dibangun jalur rel layang mengingat kepadatan bangunan di  sepanjang Jalan Ciputat Raya,&amp;rdquo; ucapnya.
Pemkot Tangsel pun harus merevisi Rencana Tata Ruang dan Wilayah  (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang ada sehingga memiliki  manajemen risikonya. &amp;ldquo;Juga harus dipikirkan rencana rekayasa lalu  lintasnya di sepanjang koridor bawah selama pengerjaan konstruksi  berjalan termasuk kompensasi kepada pemilik bangunan yang terdampak  proyek,&amp;rdquo; ucap Nirwono.
Kompensasi ini harus dipikirkan dengan sangat matang, mulai dari  total kerugiannya, bantuan modal usaha kembali, hingga relokasi  pembangunan usahanya kembali. &amp;ldquo;Rancang ulang jaringan transportasi dan  angkutan perkotaan serta angkutan massal supaya saling mendukung dan  tidak tumpang tindih dengan angkutan yang ada sehingga terhindar dari  gesekan,&amp;rdquo; ungkapnya.
Dengan begitu, keberadaan MRT dapat benar-benar dirasakan bukan hanya  warga Tangsel yang bekerja di Jakarta, melainkan masyarakat di  sekitarnya. Menurut Nirwono, masuknya MRT ke Tangsel justru jangan malah  menciptakan urbanisasi. Perkembangan kota harus mandiri dan tidak  bergantung pada Jakarta.
&amp;ldquo;Jangan pikirkan transportasi yang kian dekat dan memudahkan  perjalanan dari Kota Satelit ke Jakarta, tapi bagaimana pikirkan soal  pengembangan Kota Satelit,&amp;rdquo; ujarnya. Dia menilai tanpa konsep dan aturan  yang jelas, keberadaan MRT atau light rail transit (LRT) di kota-kota  penyangga malah menimbulkan masalah baru.
Urbanisasi bakal makin menjadi lantaran kemudahan transportasi.  Kondisi ini diperburuk masyarakat meninggalkan rumah untuk bekerja di  Ibu Kota kemudian belanja di Jakarta. Namun, bila mengukur jangka  panjang keberadaan urbanisasi malah merugi. Investasi kesehatan perlu  dipikirkan seiring bertambahnya umur seseorang otomatis biaya kesehatan  juga bertambah.
Karena itu, dalam pengembangan MRT atau LRT berbagai Kota Satelit  harus mempersiapkan diri. Pencanangan kemandirian kota wajib dilakukan  agar tak merugikan kota itu sendiri. &amp;ldquo;Bila perlu, segala aktivitas harus  di kota. Fungsi MRT atau LRT ketika ada keperluan ke Jakarta,&amp;rdquo; ucapnya.
Dia mencontohkan pembangunan MRT di Jakarta persisnya di kawasan  Fatmawati, ketika MRT tak menguntungkan bangunan atau gedung di sekitar  lantaran tak terhubung MRT. &amp;ldquo;Ini yang perlu dipertimbangkan dengan  pembangunan MRT atau LRT di luar Jakarta,&amp;rdquo; kata Nirwono. (Hasan  Kurniawan/Yan Yusuf)</content:encoded></item></channel></rss>
