<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekspor Mainan Indonesia Tembus Rp4,4 Triliun, Ada Barbie hingga Mobil Mini</title><description>Industri mainan menjadi salah satu sektor manuaktur yang mampu memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/23/320/2046861/ekspor-mainan-indonesia-tembus-rp4-4-triliun-ada-barbie-hingga-mobil-mini</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/04/23/320/2046861/ekspor-mainan-indonesia-tembus-rp4-4-triliun-ada-barbie-hingga-mobil-mini"/><item><title>Ekspor Mainan Indonesia Tembus Rp4,4 Triliun, Ada Barbie hingga Mobil Mini</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/23/320/2046861/ekspor-mainan-indonesia-tembus-rp4-4-triliun-ada-barbie-hingga-mobil-mini</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/04/23/320/2046861/ekspor-mainan-indonesia-tembus-rp4-4-triliun-ada-barbie-hingga-mobil-mini</guid><pubDate>Selasa 23 April 2019 10:26 WIB</pubDate><dc:creator>Retno Tri Wardani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/04/23/320/2046861/ekspor-mainan-indonesia-tembus-rp4-4-triliun-ada-barbie-hingga-mobil-mini-hGEsG4a8Ru.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/04/23/320/2046861/ekspor-mainan-indonesia-tembus-rp4-4-triliun-ada-barbie-hingga-mobil-mini-hGEsG4a8Ru.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Okezone</title></images><description>JAKARTA - Industri mainan menjadi salah satu sektor manuaktur yang mampu memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Ini tercermin dari capaian nilai ekspor mainan anak-anak pada tahun 2018 yang menembus hingga USD319,93 juta (Rp4,47 triliun dengan kurs Rp14.000 per USD) atau naik 5,79% dibanding perolehan periode sebelumnya sebesar USD302,42 juta.

&amp;ldquo;Industri mainan nasional telah menunjukkan daya saingnya di kancah global. Hal ini sekaligus mampu membuktikan bahwa Indonesia termasuk dalam negara-negara produsen utama untuk beberapa produk mainan unggulan yang telah mendunia,&amp;rdquo; kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dilansir dari laman Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (23/4/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Menko Darmin Sebut Ekspor Jadi PR Indonesia 5 Tahun ke Depan
Untuk itu, Kementerian Perindustrian terus memacu pengembangan industri mainan di dalam negeri. Apalagi, sektor tersebut tergolong padat karya dan berorientasi ekspor. Pada tahun 2017, nilai investasi industri mainan di Indonesia mencapai Rp410 miliar dengan jumlah tenaga kerja yang diserap sebanyak 23.116 orang.

&amp;ldquo;Contohnya, PT Mattel Indonesia yang telah menyerap tenaga kerja sebanyak 10 ribu orang dengan nilai ekspor dalam kurun lima tahun terakhir rata-rata di atas USD150 juta per tahun,&amp;rdquo; ujar Menperin.

Airlangga pun mengaku bangga karena Indonesia adalah produsen boneka merek Barbie terbesar di dunia yang dihasilkan oleh PT Mattel Indonesia. Perusahaan ini memasok 60% ke seluruh pasar global atau telah mengungguli produksi China.
&amp;ldquo;Jadi, enam dari 10 boneka yang beredar di dunia itu berasal dari Indonesia, dibuat dengan tangan-tangan terampil anak bangsa kita,&amp;rdquo; tuturnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Ekspor Naik 12%, Industri Mainan Jadi Andalan
Menariknya lagi, Indonesia memiliki pabrik mobil dengan kapasitas produksi yang cukup besar mencapai 50 juta unit per tahun. &amp;ldquo;Pabrik Hot Wheels di Cikarang milik PT Mattel Indonesia adalah industri mobil mini yang kapasitasnya lebih besar 50 kali dari industri otomotif beneran,&amp;rdquo; ungkapnya.

Hot Wheels merupakan mobil mainan diecast atau dibuat dari bahan logam yang dicetak. Tak cuma dari segi jumlah produksinya yang mencengangkan, Menperin menuturkan, pabrik ini juga sudah mengaplikasikan teknologi industri 4.0 pada proses produksinya.

&amp;ldquo;Selain mampu memproduksi Barbie dan Hot Wheels yang berkualitas, perusahaan ini juga memiliki kemampuan engineering lokal yang punya inovasi luar biasa membuat mesin canggih sendiri,&amp;rdquo; ungkapnya.



Dalam upaya memacu daya saing industri mainan nasional, pemerintah  telah berupaya melindungi produk dan pasar dalam negeri serta  menghindari gempuran produk impor yang tidak berkualitas melalui  penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI).
&amp;ldquo;Implementasi SNI ini mampu meningkatkan competitiveness produk dalam negeri,&amp;rdquo; ujar Airlangga.

Selain itu, pemberlakuan SNI memberikan jaminan terhadap produk yang  masuk ke pasar domestik merupakan yang berkualitas dan aman bagi  konsumen serta menembus pasar ekspor. &amp;ldquo;Standar produk merupakan  technical barrier yang dapat diterima oleh seluruh negara, karena  memberikan efek positif, antara lain menjamin keamanan, keselamatan dan  kualitas produk,&amp;rdquo; katanya.

Ketua Asosiasi Mainan Anak (AMI) Sutjiadi Lukas memprediksikan,  industri mainan dalam negeri pada tahun 2019 dapat tumbuh sebesar 10%  secara year-on-year (yoy). Apalagi, potensi bisnis mainan di Tanah Air  cukup prospektif.

Sebab, Indonesia merupakan negara dengan populasi penduduk terbesar  di kawasan ASEAN. &amp;ldquo;Dengan angka kelahiran rata-rata 4,5 juta jiwa per  tahun, Indonesia dapat menjadi pasar terbesar se-Asia Tenggara,&amp;rdquo;  terangnya.

Selain memenuhi kebutuhan pasar domestik, AMI pun menggenjot industri  mainan nasional agar semakin agresif mempeluas pasar ekspor. Tutupnya  beberapa pabrik mainan di Vietnam membuat peluang industri mainan di  Indonesia kelimpahan pesanan.

&amp;ldquo;Kemungkinan, pasar mainan akan lebih tancap gas mulai kuartal kedua  setelah Pemilu,&amp;rdquo; ucapnya. Guna menggairahkan bisnis mainan di dalam  negeri, Indonesia membutuhkan investasi baru. Salah satu strateginya,  AMI akan menyelenggarakan kembali pameran yang diikuti enam negara pada  18-20 Juni 2019 di JIExpo. Dalam pameran ini bakal ditampilkan teknologi  produksi mainan terbaru.

Pada tahun lalu, AMI telah meneken nota kesepakatan (MoU) dengan  Chaiyu Exhibition berkenaan dengan kerja sama antara pengusaha Indonesia  dan China. Dengan kolaborasi ini, diharapkan perusahaan mainan asal  China berinvestasi membangun pabrik di Indonesia, terutama untuk  memproduksi komponen seperti gear box, baut dan keypad.
</description><content:encoded>JAKARTA - Industri mainan menjadi salah satu sektor manuaktur yang mampu memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Ini tercermin dari capaian nilai ekspor mainan anak-anak pada tahun 2018 yang menembus hingga USD319,93 juta (Rp4,47 triliun dengan kurs Rp14.000 per USD) atau naik 5,79% dibanding perolehan periode sebelumnya sebesar USD302,42 juta.

&amp;ldquo;Industri mainan nasional telah menunjukkan daya saingnya di kancah global. Hal ini sekaligus mampu membuktikan bahwa Indonesia termasuk dalam negara-negara produsen utama untuk beberapa produk mainan unggulan yang telah mendunia,&amp;rdquo; kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dilansir dari laman Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (23/4/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Menko Darmin Sebut Ekspor Jadi PR Indonesia 5 Tahun ke Depan
Untuk itu, Kementerian Perindustrian terus memacu pengembangan industri mainan di dalam negeri. Apalagi, sektor tersebut tergolong padat karya dan berorientasi ekspor. Pada tahun 2017, nilai investasi industri mainan di Indonesia mencapai Rp410 miliar dengan jumlah tenaga kerja yang diserap sebanyak 23.116 orang.

&amp;ldquo;Contohnya, PT Mattel Indonesia yang telah menyerap tenaga kerja sebanyak 10 ribu orang dengan nilai ekspor dalam kurun lima tahun terakhir rata-rata di atas USD150 juta per tahun,&amp;rdquo; ujar Menperin.

Airlangga pun mengaku bangga karena Indonesia adalah produsen boneka merek Barbie terbesar di dunia yang dihasilkan oleh PT Mattel Indonesia. Perusahaan ini memasok 60% ke seluruh pasar global atau telah mengungguli produksi China.
&amp;ldquo;Jadi, enam dari 10 boneka yang beredar di dunia itu berasal dari Indonesia, dibuat dengan tangan-tangan terampil anak bangsa kita,&amp;rdquo; tuturnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Ekspor Naik 12%, Industri Mainan Jadi Andalan
Menariknya lagi, Indonesia memiliki pabrik mobil dengan kapasitas produksi yang cukup besar mencapai 50 juta unit per tahun. &amp;ldquo;Pabrik Hot Wheels di Cikarang milik PT Mattel Indonesia adalah industri mobil mini yang kapasitasnya lebih besar 50 kali dari industri otomotif beneran,&amp;rdquo; ungkapnya.

Hot Wheels merupakan mobil mainan diecast atau dibuat dari bahan logam yang dicetak. Tak cuma dari segi jumlah produksinya yang mencengangkan, Menperin menuturkan, pabrik ini juga sudah mengaplikasikan teknologi industri 4.0 pada proses produksinya.

&amp;ldquo;Selain mampu memproduksi Barbie dan Hot Wheels yang berkualitas, perusahaan ini juga memiliki kemampuan engineering lokal yang punya inovasi luar biasa membuat mesin canggih sendiri,&amp;rdquo; ungkapnya.



Dalam upaya memacu daya saing industri mainan nasional, pemerintah  telah berupaya melindungi produk dan pasar dalam negeri serta  menghindari gempuran produk impor yang tidak berkualitas melalui  penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI).
&amp;ldquo;Implementasi SNI ini mampu meningkatkan competitiveness produk dalam negeri,&amp;rdquo; ujar Airlangga.

Selain itu, pemberlakuan SNI memberikan jaminan terhadap produk yang  masuk ke pasar domestik merupakan yang berkualitas dan aman bagi  konsumen serta menembus pasar ekspor. &amp;ldquo;Standar produk merupakan  technical barrier yang dapat diterima oleh seluruh negara, karena  memberikan efek positif, antara lain menjamin keamanan, keselamatan dan  kualitas produk,&amp;rdquo; katanya.

Ketua Asosiasi Mainan Anak (AMI) Sutjiadi Lukas memprediksikan,  industri mainan dalam negeri pada tahun 2019 dapat tumbuh sebesar 10%  secara year-on-year (yoy). Apalagi, potensi bisnis mainan di Tanah Air  cukup prospektif.

Sebab, Indonesia merupakan negara dengan populasi penduduk terbesar  di kawasan ASEAN. &amp;ldquo;Dengan angka kelahiran rata-rata 4,5 juta jiwa per  tahun, Indonesia dapat menjadi pasar terbesar se-Asia Tenggara,&amp;rdquo;  terangnya.

Selain memenuhi kebutuhan pasar domestik, AMI pun menggenjot industri  mainan nasional agar semakin agresif mempeluas pasar ekspor. Tutupnya  beberapa pabrik mainan di Vietnam membuat peluang industri mainan di  Indonesia kelimpahan pesanan.

&amp;ldquo;Kemungkinan, pasar mainan akan lebih tancap gas mulai kuartal kedua  setelah Pemilu,&amp;rdquo; ucapnya. Guna menggairahkan bisnis mainan di dalam  negeri, Indonesia membutuhkan investasi baru. Salah satu strateginya,  AMI akan menyelenggarakan kembali pameran yang diikuti enam negara pada  18-20 Juni 2019 di JIExpo. Dalam pameran ini bakal ditampilkan teknologi  produksi mainan terbaru.

Pada tahun lalu, AMI telah meneken nota kesepakatan (MoU) dengan  Chaiyu Exhibition berkenaan dengan kerja sama antara pengusaha Indonesia  dan China. Dengan kolaborasi ini, diharapkan perusahaan mainan asal  China berinvestasi membangun pabrik di Indonesia, terutama untuk  memproduksi komponen seperti gear box, baut dan keypad.
</content:encoded></item></channel></rss>
