<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kepala Bappenas Buka-bukaan Lokasi Pemindahan Ibu Kota </title><description>Bambang Brodjonegoro mengemukakan, ada tiga alternatif yang dibahas dalam kajian rencana pemindahan Ibu kota negara dari Jakarta itu.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/29/470/2049549/kepala-bappenas-buka-bukaan-lokasi-pemindahan-ibu-kota</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/04/29/470/2049549/kepala-bappenas-buka-bukaan-lokasi-pemindahan-ibu-kota"/><item><title>Kepala Bappenas Buka-bukaan Lokasi Pemindahan Ibu Kota </title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/04/29/470/2049549/kepala-bappenas-buka-bukaan-lokasi-pemindahan-ibu-kota</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/04/29/470/2049549/kepala-bappenas-buka-bukaan-lokasi-pemindahan-ibu-kota</guid><pubDate>Senin 29 April 2019 20:16 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/04/29/470/2049549/kepala-bappenas-buka-bukaan-lokasi-pemindahan-ibu-kota-N7hNTMgX5c.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (Foto: Setkab)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/04/29/470/2049549/kepala-bappenas-buka-bukaan-lokasi-pemindahan-ibu-kota-N7hNTMgX5c.jpg</image><title>Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (Foto: Setkab)</title></images><description>JAKARTA - Saat menyampaikan paparan pada Rapat Terbatas tentang tentang Tindak Lanjut Rencana Pemindahan Ibu Kota, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin siang, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengemukakan, ada tiga alternatif yang dibahas dalam kajian rencana pemindahan Ibu kota negara dari Jakarta itu.

Alternatif pertama adalah ibu kota tetap di Jakarta tetapi dibuat government district atau distrik khusus untuk pemerintahan, yaitu daerah di seputaran istana dan Monas dan sekitarnya itu akan dibuat khusus hanya untuk kantor pemerintahan, khususnya kementerian lembaga.

&amp;ldquo;Itu adalah alternatif pertama yang berarti harus tentunya mengubah peruntukan di wilayah seputaran Istana dan Monas,&amp;rdquo; jelas Bambang seraya menambahkan, kerugiannya tentunya ini hanya akan menguatkan Jakarta sebagai pusat segalanya di Indonesia dan dikhawatirkan dampak urbanisasi terhadap pertumbuhan ekonomi tidak optimal seperti dilansir laman setkab, Jakarta, Senin (29/4/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Kepala Bappenas: Pemindahan Ibu Kota Perlu Biaya Rp466 Triliun
Alternatif kedua, seperti Putra Jaya di Malaysia, adalah memindahkan pusat pemerintahan ke wilayah dekat Jakarta, misalnya di seputaran Jabodetabek, tentunya dengan ketersediaan lahan. Tetapi kelemahannya, menurut Menteri PPN/Kepala Bappenas itu, adalah tetap membuat perekonomian Indonesia terpusat di daerah Jakarta dan sekitarnya atau wilayah Metropolitan Jakarta.

Atau alternatif ketiga yaitu memindahkan ibu kota langsung ke luar Jawa, seperti contoh misalkan Brazil yang memindahkan dari Rio de Janeiro ke Brasilia yang jauh ya Amazon, kemudian Canberra di antara Sydney dan Melbourne. Demikian juga Astana-Kazakhstan karena ibu kotanya ini dipindah lebih dekat ke arah tengah dari negaranya dan Naypyidaw yang juga lebih ke dalam negara Myanmar.

Untuk alternatif pertama yaitu distrik khusus pemerintahan, menurut Menteri PPN/Kepala Bappenas itu, harus dibuat konektivitas dengan LRT atau monorel sehingga mudah untuk bergerak di antara kantor kementerian/lembaga di seputaran istana dan Monas.
&amp;nbsp;Baca Juga: Jokowi Putuskan Ibu Kota Indonesia Dipindah ke Luar Jawa
Untuk alternatif kedua, alternatifnya radius 50 sampai 70 km dari Jakarta, misalkan daerah yang pernah dibahas zaman Presiden Soeharto yaitu Jonggol-Jawa Barat maupun daerah Maja yang ada di Banten.

&amp;ldquo;Nah kemudian ketiga, memindahan ibu kota ke luar Jawa. Intinya kita ingin lebih menyebarkan perekonomian Indonesia, tidak hanya terpusat di Pulau Jawa yang saat ini menyumbang 58% dari PDB tapi juga mulai bergerak untuk membuat kegiatan tambahan di luar Jawa,&amp;rdquo; terang Bambang seraya mengingatkan, syarat utamanya adalah kembali lagi kepada ketersedian lahan yang luas karena pada intinya adalah membangun kota baru, dan tentunya akan dibutuhkan biaya yang tidak sedikit di samping tentunya para ASN harus bersedia untuk pindah dari posisi mereka sekarang di Jakarta ke kota baru tersebut.
Wilayah Tengah Indonesia

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengusulkan  penetapan lokasi pada alternatif ketiga, yaitu memindahkan keluar Pulau  Jawa, tepatnya kami lokasi strategis ini secara geografis ada di tengah  wilayah Indonesia.

&amp;ldquo;Tengah ini adalah memperhitungkan Barat ke Timur maupun Utara ke  Selatan untuk merepresentasikan keadilan dan mendorong percepatan  pembangunan khususnya wilayah kawasan Timur Indonesia. Jadi kita dorong  ibu  kota yang Indonesiasentris,&amp;rdquo; ujar Bambang.

Kemudian, lanjut Bambang, ada lahan yang luas milik pemerintah maupun  BUMN yang sudah tersedia yang bisa dibangun, yang tidak lagi memerlukan  biaya pembebasan.

Kemudian wilayah tersebut harus bebas bencana gempa bumi, gunung  berapi, tsunami, banjir, erosi maupun kebakaran hutan dan lahan gambut.  Jadi ini kita harus mencari lokasi yang benar-benar minimal dari segi  risiko bencana. Selain itu, harus tersedia sumber daya air yang cukup  dan bebas pencemaran lingkungan.

Sementara untuk bisa melakukan efisiensi dalam investasi awal  infrastruktur, Menteri PPN/Kepala Bappenas itu mengusulkan lokasi ibu  kota baru tersebut dengan kota yang sudah existing, kota kelas menengah  yang sudah existing.

&amp;ldquo;Maksudnya kota yang sudah punya akses mobilitas atau logistik.  Misalkan kita tidak perlu membangun bandara baru di kota tersebut, bisa  menggunakan bandara yang sudah ada demikian juga pelabuhan dan sebagian  jalan connecting,&amp;rdquo; terang Bambang.

Selain itu, Menteri PPN/Kepala Bappenas itu mengusulkan kota tersebut  tidak jauh dari pantai karena bagaimanapun Indonesia adalah negara  maritim. Sehingga sebaiknya ibukota berlokasi tidak jauh dari pantai  tapi tidak harus di tepi pantai itu sendiri. Kemudian ada tingkat  layanan air minum, sanitasi, listrik dan jaringan komunikasi yang punya  memadai.

Demikian juga yang harus diperhatikan dari sisi sosial. Menteri  PPN/Kepala Bappenas itu ingin meminimumkan potensi konflik-konflik  sosial, dan juga diharapkan masyarakat di sekitar wilayah tersebut  mempunyai budaya yang terbuka terhadap pendatang, karena bagaimanapun  nanti ASN ini akan berdatangan dari Jakarta ke kota baru tersebut.

&amp;ldquo;Tentunya kita harapkan tidak ada dampak negatif terhadap komunitas  lokal. Dan kemudian dari sisi pertahanan keamanan, kita harus memastikan  perimeternya sesuai, yaitu untuk meminimumkan vulnerability dari state  dan juga untuk menjaga wilayah teritorialnya dan tidak dekat dengan  wilayah perbatasan negara,&amp;rdquo; ucap Bambang.</description><content:encoded>JAKARTA - Saat menyampaikan paparan pada Rapat Terbatas tentang tentang Tindak Lanjut Rencana Pemindahan Ibu Kota, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin siang, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengemukakan, ada tiga alternatif yang dibahas dalam kajian rencana pemindahan Ibu kota negara dari Jakarta itu.

Alternatif pertama adalah ibu kota tetap di Jakarta tetapi dibuat government district atau distrik khusus untuk pemerintahan, yaitu daerah di seputaran istana dan Monas dan sekitarnya itu akan dibuat khusus hanya untuk kantor pemerintahan, khususnya kementerian lembaga.

&amp;ldquo;Itu adalah alternatif pertama yang berarti harus tentunya mengubah peruntukan di wilayah seputaran Istana dan Monas,&amp;rdquo; jelas Bambang seraya menambahkan, kerugiannya tentunya ini hanya akan menguatkan Jakarta sebagai pusat segalanya di Indonesia dan dikhawatirkan dampak urbanisasi terhadap pertumbuhan ekonomi tidak optimal seperti dilansir laman setkab, Jakarta, Senin (29/4/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Kepala Bappenas: Pemindahan Ibu Kota Perlu Biaya Rp466 Triliun
Alternatif kedua, seperti Putra Jaya di Malaysia, adalah memindahkan pusat pemerintahan ke wilayah dekat Jakarta, misalnya di seputaran Jabodetabek, tentunya dengan ketersediaan lahan. Tetapi kelemahannya, menurut Menteri PPN/Kepala Bappenas itu, adalah tetap membuat perekonomian Indonesia terpusat di daerah Jakarta dan sekitarnya atau wilayah Metropolitan Jakarta.

Atau alternatif ketiga yaitu memindahkan ibu kota langsung ke luar Jawa, seperti contoh misalkan Brazil yang memindahkan dari Rio de Janeiro ke Brasilia yang jauh ya Amazon, kemudian Canberra di antara Sydney dan Melbourne. Demikian juga Astana-Kazakhstan karena ibu kotanya ini dipindah lebih dekat ke arah tengah dari negaranya dan Naypyidaw yang juga lebih ke dalam negara Myanmar.

Untuk alternatif pertama yaitu distrik khusus pemerintahan, menurut Menteri PPN/Kepala Bappenas itu, harus dibuat konektivitas dengan LRT atau monorel sehingga mudah untuk bergerak di antara kantor kementerian/lembaga di seputaran istana dan Monas.
&amp;nbsp;Baca Juga: Jokowi Putuskan Ibu Kota Indonesia Dipindah ke Luar Jawa
Untuk alternatif kedua, alternatifnya radius 50 sampai 70 km dari Jakarta, misalkan daerah yang pernah dibahas zaman Presiden Soeharto yaitu Jonggol-Jawa Barat maupun daerah Maja yang ada di Banten.

&amp;ldquo;Nah kemudian ketiga, memindahan ibu kota ke luar Jawa. Intinya kita ingin lebih menyebarkan perekonomian Indonesia, tidak hanya terpusat di Pulau Jawa yang saat ini menyumbang 58% dari PDB tapi juga mulai bergerak untuk membuat kegiatan tambahan di luar Jawa,&amp;rdquo; terang Bambang seraya mengingatkan, syarat utamanya adalah kembali lagi kepada ketersedian lahan yang luas karena pada intinya adalah membangun kota baru, dan tentunya akan dibutuhkan biaya yang tidak sedikit di samping tentunya para ASN harus bersedia untuk pindah dari posisi mereka sekarang di Jakarta ke kota baru tersebut.
Wilayah Tengah Indonesia

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengusulkan  penetapan lokasi pada alternatif ketiga, yaitu memindahkan keluar Pulau  Jawa, tepatnya kami lokasi strategis ini secara geografis ada di tengah  wilayah Indonesia.

&amp;ldquo;Tengah ini adalah memperhitungkan Barat ke Timur maupun Utara ke  Selatan untuk merepresentasikan keadilan dan mendorong percepatan  pembangunan khususnya wilayah kawasan Timur Indonesia. Jadi kita dorong  ibu  kota yang Indonesiasentris,&amp;rdquo; ujar Bambang.

Kemudian, lanjut Bambang, ada lahan yang luas milik pemerintah maupun  BUMN yang sudah tersedia yang bisa dibangun, yang tidak lagi memerlukan  biaya pembebasan.

Kemudian wilayah tersebut harus bebas bencana gempa bumi, gunung  berapi, tsunami, banjir, erosi maupun kebakaran hutan dan lahan gambut.  Jadi ini kita harus mencari lokasi yang benar-benar minimal dari segi  risiko bencana. Selain itu, harus tersedia sumber daya air yang cukup  dan bebas pencemaran lingkungan.

Sementara untuk bisa melakukan efisiensi dalam investasi awal  infrastruktur, Menteri PPN/Kepala Bappenas itu mengusulkan lokasi ibu  kota baru tersebut dengan kota yang sudah existing, kota kelas menengah  yang sudah existing.

&amp;ldquo;Maksudnya kota yang sudah punya akses mobilitas atau logistik.  Misalkan kita tidak perlu membangun bandara baru di kota tersebut, bisa  menggunakan bandara yang sudah ada demikian juga pelabuhan dan sebagian  jalan connecting,&amp;rdquo; terang Bambang.

Selain itu, Menteri PPN/Kepala Bappenas itu mengusulkan kota tersebut  tidak jauh dari pantai karena bagaimanapun Indonesia adalah negara  maritim. Sehingga sebaiknya ibukota berlokasi tidak jauh dari pantai  tapi tidak harus di tepi pantai itu sendiri. Kemudian ada tingkat  layanan air minum, sanitasi, listrik dan jaringan komunikasi yang punya  memadai.

Demikian juga yang harus diperhatikan dari sisi sosial. Menteri  PPN/Kepala Bappenas itu ingin meminimumkan potensi konflik-konflik  sosial, dan juga diharapkan masyarakat di sekitar wilayah tersebut  mempunyai budaya yang terbuka terhadap pendatang, karena bagaimanapun  nanti ASN ini akan berdatangan dari Jakarta ke kota baru tersebut.

&amp;ldquo;Tentunya kita harapkan tidak ada dampak negatif terhadap komunitas  lokal. Dan kemudian dari sisi pertahanan keamanan, kita harus memastikan  perimeternya sesuai, yaitu untuk meminimumkan vulnerability dari state  dan juga untuk menjaga wilayah teritorialnya dan tidak dekat dengan  wilayah perbatasan negara,&amp;rdquo; ucap Bambang.</content:encoded></item></channel></rss>
