<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Minyak Bervariasi Imbas Tensi Perang Dagang AS-China</title><description>Harga-harga minyak sebagian besar relatif stabil pada penutupan perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/05/11/320/2054341/harga-minyak-bervariasi-imbas-tensi-perang-dagang-as-china</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/05/11/320/2054341/harga-minyak-bervariasi-imbas-tensi-perang-dagang-as-china"/><item><title>Harga Minyak Bervariasi Imbas Tensi Perang Dagang AS-China</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/05/11/320/2054341/harga-minyak-bervariasi-imbas-tensi-perang-dagang-as-china</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/05/11/320/2054341/harga-minyak-bervariasi-imbas-tensi-perang-dagang-as-china</guid><pubDate>Sabtu 11 Mei 2019 09:03 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/05/11/320/2054341/harga-minyak-bervariasi-imbas-tensi-perang-dagang-as-china-Kjy7VvbtWM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Reuters</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/05/11/320/2054341/harga-minyak-bervariasi-imbas-tensi-perang-dagang-as-china-Kjy7VvbtWM.jpg</image><title>Foto: Reuters</title></images><description> 
HOUSTON - Harga-harga minyak sebagian besar relatif stabil pada penutupan perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), mengakhiri pekan ini sedikit lebih rendah karena ketegangan perdagangan yang dipicu oleh langkah Amerika Serikat (AS) untuk menaikkan tarif barang-barang China dibayangi pengetatan pasokan global dan ekspektasi kenaikan permintaan pengilangan AS.

Patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli naik tipis USD0,23  atau 0,4% menjadi ditutup pada USD70,62 per barel di London ICE Futures Exchange, tetapi membukukan kerugian mingguan sebesar 0,3%.

Patokan AS, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni, turun USD0,04 menjadi menetap pada USD61,66 per barel di New York Mercantile Exchange, dengan kerugian mingguan sebesar 0,5%. Demikian seperti dilansir Antaranews, Jakarta, Sabtu (11/5/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Surat Xi Jinping ke Trump Angkat Harga Minyak
Setelah minggu yang bergejolak, investor khawatir tentang kemungkinan perang perdagangan Amerika Serikat - China yang berlarut-larut, meskipun ada upaya-upaya menit terakhir untuk menyelamatkan kesepakatan.

Presiden AS Donald Trump pada Jumat (10/5/2019) mengatakan dia tidak terburu-buru untuk menandatangani kesepakatan perdagangan dengan China ketika Washington memberlakukan tarif baru untuk barang-barang China dan para negosiator mengakhiri pembicaraan hari kedua.

Ketegangan perdagangan yang meningkat antara dua konsumen minyak terbesar dunia itu dapat mempengaruhi permintaan minyak. Data dari Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan Amerika Serikat dan China bersama-sama menyumbang 34 persen dari konsumsi minyak global pada kuartal pertama 2019.
&amp;nbsp;Baca Juga: Ada Harapan Pertemuan AS-China, Wall Street Menguat
Harga mendapat beberapa dukungan pada Jumat (10/5/2019) karena investor mengantisipasi kilang-kilang Gulf Coast dan Midwestern, yang keluar dari pemeliharaan musiman, untuk mendorong permintaan minyak menjelang musim mengemudi musim panas di Amerika Serikat.

&quot;Minyak mentah memiliki potensi lebih besar untuk naik,&quot; kata Kepala Analis Minyak di Oil Price Information Service, Tom Kloza. &quot;Dengan dimulainya pengilangan Teluk, permintaan akan secara signifikan di atas pasokan untuk sekitar 100 hari ke depan.&quot;

Investor juga fokus pada pengetatan pasokan menyusul pengurangan  produksi yang dipimpin OPEC sejak awal tahun. Investor percaya  Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu produsennya  akan memperpanjang perjanjian pengurangan produksi enam bulan dalam  beberapa minggu mendatang.

&quot;Kami menunggu untuk melihat apakah Saudi memberi sinyal perpanjangan  pengurangan produksi mereka, dalam beberapa minggu mendatang,&quot; kata  Wakil Presiden Riset Pasar Tradition Energy, Gene McGillian, di  Stamford, Connecticut. &quot;Pasar sedang mencari penggerak berikutnya.&quot;

Pasar telah didukung lebih jauh oleh tawaran Washington untuk  memangkas ekspor minyak Iran menjadi nol. Amerika Serikat menerapkan  kembali sanksi terhadap Iran pada November, setelah menarik diri dari  perjanjian nuklir 2015 antara Teheran dan kekuatan dunia tahun lalu.

Ini pada awalnya memungkinkan pembeli terbesar Iran untuk terus  membeli minyak melalui keringanan selama enam bulan lagi, tetapi  pengecualian itu berakhir pada awal Mei.

China Petrochemical Corp (Sinopec Group) dan China National Petroleum  Corp (CNPC), perusahaan penyulingan milik negara, mengabaikan pembelian  minyak Iran untuk pemuatan pada Mei setelah Washington mengakhiri  keringanan sanksi untuk meningkatkan tekanan pada Teheran, tiga orang  dengan pengetahuan tentang masalah tersebut mengatakan. Demikian laporan  yang dikutip dari Reuters.</description><content:encoded> 
HOUSTON - Harga-harga minyak sebagian besar relatif stabil pada penutupan perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), mengakhiri pekan ini sedikit lebih rendah karena ketegangan perdagangan yang dipicu oleh langkah Amerika Serikat (AS) untuk menaikkan tarif barang-barang China dibayangi pengetatan pasokan global dan ekspektasi kenaikan permintaan pengilangan AS.

Patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli naik tipis USD0,23  atau 0,4% menjadi ditutup pada USD70,62 per barel di London ICE Futures Exchange, tetapi membukukan kerugian mingguan sebesar 0,3%.

Patokan AS, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni, turun USD0,04 menjadi menetap pada USD61,66 per barel di New York Mercantile Exchange, dengan kerugian mingguan sebesar 0,5%. Demikian seperti dilansir Antaranews, Jakarta, Sabtu (11/5/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Surat Xi Jinping ke Trump Angkat Harga Minyak
Setelah minggu yang bergejolak, investor khawatir tentang kemungkinan perang perdagangan Amerika Serikat - China yang berlarut-larut, meskipun ada upaya-upaya menit terakhir untuk menyelamatkan kesepakatan.

Presiden AS Donald Trump pada Jumat (10/5/2019) mengatakan dia tidak terburu-buru untuk menandatangani kesepakatan perdagangan dengan China ketika Washington memberlakukan tarif baru untuk barang-barang China dan para negosiator mengakhiri pembicaraan hari kedua.

Ketegangan perdagangan yang meningkat antara dua konsumen minyak terbesar dunia itu dapat mempengaruhi permintaan minyak. Data dari Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan Amerika Serikat dan China bersama-sama menyumbang 34 persen dari konsumsi minyak global pada kuartal pertama 2019.
&amp;nbsp;Baca Juga: Ada Harapan Pertemuan AS-China, Wall Street Menguat
Harga mendapat beberapa dukungan pada Jumat (10/5/2019) karena investor mengantisipasi kilang-kilang Gulf Coast dan Midwestern, yang keluar dari pemeliharaan musiman, untuk mendorong permintaan minyak menjelang musim mengemudi musim panas di Amerika Serikat.

&quot;Minyak mentah memiliki potensi lebih besar untuk naik,&quot; kata Kepala Analis Minyak di Oil Price Information Service, Tom Kloza. &quot;Dengan dimulainya pengilangan Teluk, permintaan akan secara signifikan di atas pasokan untuk sekitar 100 hari ke depan.&quot;

Investor juga fokus pada pengetatan pasokan menyusul pengurangan  produksi yang dipimpin OPEC sejak awal tahun. Investor percaya  Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu produsennya  akan memperpanjang perjanjian pengurangan produksi enam bulan dalam  beberapa minggu mendatang.

&quot;Kami menunggu untuk melihat apakah Saudi memberi sinyal perpanjangan  pengurangan produksi mereka, dalam beberapa minggu mendatang,&quot; kata  Wakil Presiden Riset Pasar Tradition Energy, Gene McGillian, di  Stamford, Connecticut. &quot;Pasar sedang mencari penggerak berikutnya.&quot;

Pasar telah didukung lebih jauh oleh tawaran Washington untuk  memangkas ekspor minyak Iran menjadi nol. Amerika Serikat menerapkan  kembali sanksi terhadap Iran pada November, setelah menarik diri dari  perjanjian nuklir 2015 antara Teheran dan kekuatan dunia tahun lalu.

Ini pada awalnya memungkinkan pembeli terbesar Iran untuk terus  membeli minyak melalui keringanan selama enam bulan lagi, tetapi  pengecualian itu berakhir pada awal Mei.

China Petrochemical Corp (Sinopec Group) dan China National Petroleum  Corp (CNPC), perusahaan penyulingan milik negara, mengabaikan pembelian  minyak Iran untuk pemuatan pada Mei setelah Washington mengakhiri  keringanan sanksi untuk meningkatkan tekanan pada Teheran, tiga orang  dengan pengetahuan tentang masalah tersebut mengatakan. Demikian laporan  yang dikutip dari Reuters.</content:encoded></item></channel></rss>
