<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ancaman Perang Dagang AS-China, Sektor Manufaktur RI Perlu Diperkuat</title><description>Ancaman perang dagang antara Amerika Serikat dengan China kembali mewarnai perdagangan global.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/05/13/320/2054963/ancaman-perang-dagang-as-china-sektor-manufaktur-ri-perlu-diperkuat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/05/13/320/2054963/ancaman-perang-dagang-as-china-sektor-manufaktur-ri-perlu-diperkuat"/><item><title>Ancaman Perang Dagang AS-China, Sektor Manufaktur RI Perlu Diperkuat</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/05/13/320/2054963/ancaman-perang-dagang-as-china-sektor-manufaktur-ri-perlu-diperkuat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/05/13/320/2054963/ancaman-perang-dagang-as-china-sektor-manufaktur-ri-perlu-diperkuat</guid><pubDate>Senin 13 Mei 2019 11:39 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/05/13/320/2054963/ancaman-perang-dagang-as-china-sektor-manufaktur-ri-perlu-diperkuat-QLJWB7BAjc.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/05/13/320/2054963/ancaman-perang-dagang-as-china-sektor-manufaktur-ri-perlu-diperkuat-QLJWB7BAjc.jpeg</image><title>Ilustrasi: Shutterstock</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Ancaman perang dagang antara Amerika Serikat dengan China kembali mewarnai perdagangan global. Hal ini dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada awal pekan ini mengenai ancaman kenaikan tarif bagi China. Ancaman kenaikan tarif ini memunculkan adanya eskalasi ketegangan antara kedua negara yang berperan besar pada perekonomian dunia.
Baca Juga: Warren Buffett Peringatkan Bahaya Perang Dagang AS-China
 
Sebelumnya, ada indikasi meredanya perang dagang tersebut melalui beberapa pertemuan dan negosiasi yang dilaksanakan kedua negara. Namun, hal ini berubah dengan pernyataan Donald Trump yang ingin menerapkan tarif pada barang dari China yang bernilai USD200 miliar pada Jumat mendatang. Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman menyampaikan, menghadapi kemungkinan perang dagang yang kembali terjadi, pemerintah sebaiknya perlu bersiap-siap.
&quot;China merupakan mitra terbesar perdagangan Indonesia. Tentunya perang dagang dalam bentuk penerapan tarif antar China dan Amerika Serikat berakibat pada berubahnya pola konsumsi masyarakat China. Bisa dikatakan, produk-produk ekspor kita di China dapat berpotensi menjadi lesu performanya,&quot; kata Ilman dilansir dari Harian Neraca, Senin (13/5/2019).

Saat ini, China merupakan mitra dagang terbesar Indonesia dengan nilai perdagangan sebesar USD27,1 miliar pada 2018 yang disusul oleh Jepang dengan nilai perdagangan sebesar USD19,5 miliar dan Amerika Serikat dengan nilai perdagangan sebesar USD18,5 miliar. Setelah perang dagang pertama kali menegang di akhir tahun 2018, salah satu sektor yang terdampak dari perdagangan perang saat itu adalah sektor manufaktur. Sektor ini, lanjutnya, mengalami perlambatan pertumbuhan dari 4,38% menuju 4,3% di akhir 2018.
Ilman menambahkan, sektor manufaktur berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, mengingat saat ini perekonomian Indonesia sedang melalui tahapan transformasi struktural. Peran manufaktur dapat mendorong perekonomian Indonesia ke depannya semakin mantap didorong oleh industri dan lebih baik lagi dapat mendorong Indonesia untuk lepas dari ketergantungan dari ekspor berbasis bahan mentah yang hingga saat ini masih cukup besar.&quot;Melihat bahwa dua mitra utama perdagangan Indonesia saat ini akan  terdampak dari perang dagang yang mereka lakukan, pemerintah Indonesia  sebaiknya bersiap-siap untuk mendukung industri manufaktur berbasis  ekspor agar lebih kompetitif di pasar Internasional. Penguatan ini perlu  dilakukan supaya dapat menangkap peluang dari perang dagang ini dengan  menjadi alternatif pilihan bagi dua negara tersebut sebagai sumber  pasokan barang mentah,&quot; tutur Ilman.
Dukungan ini dapat dimulai dengan memberikan pelonggaran sementara  atau permanen terhadap barang-barang yang masih menghadapi restriksi  seperti bea ekspor agar harga barang ekspor di pasar internasional lebih  kompetitif. Namun perlu diingat, Indonesia perlu mendorong peningkatan  nilai jual produk ekspor tersebut. Insentif bagi pelaku usaha untuk  melakukan ekspor produk olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi  untuk selanjutnya dapat diberikan melalui skema keringanan kewajiban  seperti keringanan pajak, baik itu bersifat temporer maupun permanen.
Pada akhirnya, sebenarnya sulit untuk mengetahui kapan akhir dari  perang dagang ini. Kehadiran perundingan tidak bisa dijadikan indikator  akan meredanya perang dagang. Mengingat Indonesia bergantung kepada dua  negara ini sebagai mitra dagang utama, pemerintah perlu memastikan bahwa  komoditas yang diekspor saat ini memiliki harga yang kompetitif di  pasar internasional dan seterusnya juga secara konsisten mendorong  peningkatan ekspor untuk produk dengan nilai jual yang lebih tinggi.  Semua ini dapat dicapai dengan mendukung sektor manufaktur.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Ancaman perang dagang antara Amerika Serikat dengan China kembali mewarnai perdagangan global. Hal ini dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada awal pekan ini mengenai ancaman kenaikan tarif bagi China. Ancaman kenaikan tarif ini memunculkan adanya eskalasi ketegangan antara kedua negara yang berperan besar pada perekonomian dunia.
Baca Juga: Warren Buffett Peringatkan Bahaya Perang Dagang AS-China
 
Sebelumnya, ada indikasi meredanya perang dagang tersebut melalui beberapa pertemuan dan negosiasi yang dilaksanakan kedua negara. Namun, hal ini berubah dengan pernyataan Donald Trump yang ingin menerapkan tarif pada barang dari China yang bernilai USD200 miliar pada Jumat mendatang. Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman menyampaikan, menghadapi kemungkinan perang dagang yang kembali terjadi, pemerintah sebaiknya perlu bersiap-siap.
&quot;China merupakan mitra terbesar perdagangan Indonesia. Tentunya perang dagang dalam bentuk penerapan tarif antar China dan Amerika Serikat berakibat pada berubahnya pola konsumsi masyarakat China. Bisa dikatakan, produk-produk ekspor kita di China dapat berpotensi menjadi lesu performanya,&quot; kata Ilman dilansir dari Harian Neraca, Senin (13/5/2019).

Saat ini, China merupakan mitra dagang terbesar Indonesia dengan nilai perdagangan sebesar USD27,1 miliar pada 2018 yang disusul oleh Jepang dengan nilai perdagangan sebesar USD19,5 miliar dan Amerika Serikat dengan nilai perdagangan sebesar USD18,5 miliar. Setelah perang dagang pertama kali menegang di akhir tahun 2018, salah satu sektor yang terdampak dari perdagangan perang saat itu adalah sektor manufaktur. Sektor ini, lanjutnya, mengalami perlambatan pertumbuhan dari 4,38% menuju 4,3% di akhir 2018.
Ilman menambahkan, sektor manufaktur berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, mengingat saat ini perekonomian Indonesia sedang melalui tahapan transformasi struktural. Peran manufaktur dapat mendorong perekonomian Indonesia ke depannya semakin mantap didorong oleh industri dan lebih baik lagi dapat mendorong Indonesia untuk lepas dari ketergantungan dari ekspor berbasis bahan mentah yang hingga saat ini masih cukup besar.&quot;Melihat bahwa dua mitra utama perdagangan Indonesia saat ini akan  terdampak dari perang dagang yang mereka lakukan, pemerintah Indonesia  sebaiknya bersiap-siap untuk mendukung industri manufaktur berbasis  ekspor agar lebih kompetitif di pasar Internasional. Penguatan ini perlu  dilakukan supaya dapat menangkap peluang dari perang dagang ini dengan  menjadi alternatif pilihan bagi dua negara tersebut sebagai sumber  pasokan barang mentah,&quot; tutur Ilman.
Dukungan ini dapat dimulai dengan memberikan pelonggaran sementara  atau permanen terhadap barang-barang yang masih menghadapi restriksi  seperti bea ekspor agar harga barang ekspor di pasar internasional lebih  kompetitif. Namun perlu diingat, Indonesia perlu mendorong peningkatan  nilai jual produk ekspor tersebut. Insentif bagi pelaku usaha untuk  melakukan ekspor produk olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi  untuk selanjutnya dapat diberikan melalui skema keringanan kewajiban  seperti keringanan pajak, baik itu bersifat temporer maupun permanen.
Pada akhirnya, sebenarnya sulit untuk mengetahui kapan akhir dari  perang dagang ini. Kehadiran perundingan tidak bisa dijadikan indikator  akan meredanya perang dagang. Mengingat Indonesia bergantung kepada dua  negara ini sebagai mitra dagang utama, pemerintah perlu memastikan bahwa  komoditas yang diekspor saat ini memiliki harga yang kompetitif di  pasar internasional dan seterusnya juga secara konsisten mendorong  peningkatan ekspor untuk produk dengan nilai jual yang lebih tinggi.  Semua ini dapat dicapai dengan mendukung sektor manufaktur.</content:encoded></item></channel></rss>
