<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Taksi Terbang Buatan Jerman Sukses Uji Coba Pertama</title><description>Pengembangan mobil terbang mengalami momentum positif. Startup asal Jerman, Lilium, telah berhasil melewati uji coba pertama taksi terbang.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/05/17/320/2056822/taksi-terbang-buatan-jerman-sukses-uji-coba-pertama</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/05/17/320/2056822/taksi-terbang-buatan-jerman-sukses-uji-coba-pertama"/><item><title>   Taksi Terbang Buatan Jerman Sukses Uji Coba Pertama</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/05/17/320/2056822/taksi-terbang-buatan-jerman-sukses-uji-coba-pertama</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/05/17/320/2056822/taksi-terbang-buatan-jerman-sukses-uji-coba-pertama</guid><pubDate>Jum'at 17 Mei 2019 10:24 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/05/17/320/2056822/taksi-terbang-buatan-jerman-sukses-uji-coba-pertama-oiZXPvkZgt.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Taksi Terbang (Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/05/17/320/2056822/taksi-terbang-buatan-jerman-sukses-uji-coba-pertama-oiZXPvkZgt.jpg</image><title>Foto: Taksi Terbang (Ist)</title></images><description> 
BERLIN - Pengembangan mobil terbang mengalami momentum positif. Startup asal Jerman, Lilium, telah berhasil melewati uji coba pertama taksi terbang lima kursi dengan skala penuh dan bertenaga listrik. Capaian itu sebelumnya juga pernah dilalui perusahaan asal Amerika Serikat (AS) The Boeing Company.

Seperti dilansir theverge.com, taksi terbang tanpa awak rancangan Lilium itu berhasil terbang secara vertikal layaknya helikopter dan melayang sebentar sebelum mendarat. Secara kasat mata, capaian itu tampak kecil. Namun, bagi Lilum yang berharap dapat meluncurkan taksi terbang pada 2025 merupakan hal besar.

Sama seperti taksi terbang lainnya, rancangan taksi terbang Lilium juga unik. Kabinnya yang berbentuk bulat telur bertengger di atas roda pendarat dengan sepasang sayap paralel mirip pesawat. Sayap itu dilengkapi mesin 36 jet listrik untuk menggerakkan taksi secara vertikal dan horizontal saat berada di udara.


&amp;nbsp;Baca Juga: Penampakan 30 Taksi Blue Bird Bertenaga Listrik
Taksi terbang itu tidak memiliki ekor, kemudi, baling-baling, atau gigi. Di atas kertas, taksi terbang itu dapat menempuh hingga 300 kilometer dengan kecepatan maksimum 300 kilometer per jam yang didukung rancangan sayap pesawat era Perang Dunia II. Statistik itu jauh lebih baik dibanding pesaing lainnya.

Kepala Komersial Lilium, Remo Gerber, mengatakan sayap itu mengurangi konsumsi daya sebesar 10% selama di udara. &amp;ldquo;Kami senang dengan hasil uji coba kali ini. Semuanya berjalan sesuai dengan harapan,&amp;rdquo; ujar Gerber. Setahun sebelumnya, Lilium juga berhasil melalui uji coba serupa, tapi saat itu baru prototipe.

Rasio daya hingga berat merupakan pertimbangan paling besar dalam pengembangan taksi terbang bertenaga listrik karena merupakan salah satu inhibitor terbesar. Massa jenis energi atau jumlah energi yang tersimpan di dalam sistem juga menjadi kunci metrik. Saat ini, baterai yang tersedia tidak ada yang memadai.

&amp;ldquo;Untuk mengatasi hal itu, kami menggunakan mesin jet yang dapat memberikan energi 43 kali lebih banyak daripada baterai,&amp;rdquo; kata Gerber. Gerberg menolak memaparkannya lebih detail. Namun, dia menegaskan taksi terbang itu akan mampu mengangkat lima penumpang dan seorang pilot, juga sebuah bagasi.
&amp;nbsp;Baca Juga: Boeing Sukses Uji Coba Mobil Terbang, Revolusi Transportasi Dimulai
Lilum menyatakan, meski full-otomatis, taksi terbang garapan mereka tetap akan diawasi pilot sehingga proses perizinan dari Lembaga Keamanan Penerbangan Eropa (EASA) dan Lembaga Penerbangan Federal AS (FAA) juga diharapkan dapat lebih mudah. Tiket taksi terbang itu direncanakan dijual secara online.

Lilium memperkirakan harga dari Manhattan ke Bandara Internasional JFK sekitar USD70 dengan waktu perjalanan 10 menit. Saat ini, Blade yang mengklaim diri sebagai Uber helikopter menawarkan perjalanan serupa dengan banderol USD195. Lilium merupakan satu dari 100 lebih pengembang taksi terbang.

Boeing juga berhasil melewati fase pertama uji coba penerbangan taksi  terbang di bandara kecil di luar Washington DC, AS. Suksesnya percobaan  tersebut menjadi sinyal positif bagi Boeing. Mereka berharap ke depan  angkutan melayang itu bisa menjadi solusi transportasi di kota yang  kerap dilanda kemacetan parah.

Kendati dibilang sukses, percobaan mobil terbang tersebut belum  melibatkan penumpang atau pilot. Taksi terbang itu baru mengudara kurang  dari satu menit dan tidak bergerak ke mana pun sebelum kembali  mendarat. Boeing juga menolak mengungkapkan seberapa tinggi taksi  terbang itu berada di atas tanah.

Prototipe taksi terbang yang dirancang Boeing memiliki panjang 9  meter dan lebar 8,5 meter. Taksi itu dapat menempuh perjalanan hingga 80  kiloemeter sebelum kembali ke darat. Seperti diketahui, Boeing  merupakan produsen pesawat berbasis di Amerika Serikat yang memproduksi  pesawat komersial dan militer.

Boeing beserta para pesaingnya seperti Airbus meyakini pesawat kecil  yang dapat dikendarai sendiri, yang juga dikenal dengan eVTOL (electric  Vertical Takeoff and Landing) akan merevolusi transportasi, ter utama di  kawasan perkotaan. Mereka yakin jenis kendara an itu akan menjadi  solusi dalam mengatasi kemacetan.

&amp;ldquo;Boeing menunjukkan gaya produksi mereka dan memublikasikannya,&amp;rdquo; kata  Investor Cyrus Sigari, dikutip cnn.com. &amp;ldquo;Kegigihan ini menunjukkan  Boeing sangat serius mengembangkan moda transportasi yang dapat  memobilisasi pergerakan di wilayah urban. Saya sangat senang dapat  melihat semangat kuat Boeing,&amp;rdquo;

Eric Bartsch, chief operating officer di VerdeGo Aeuro, pengembang  sistem daya eVTOL, juga memuji kemajuan kendaraan otonom, propulsi  listrik, dan drone sebagai teknologi baru. &amp;ldquo;Kita telah memasuki masa  keemasan inovasi di mana orang-orang mencoba hal baru. Generasi ini  sungguh berbeda,&amp;rdquo; imbuh Bartsch.

Aurora Flight Scoences, anak perusahaan Boeing untuk taksi terbang  otonom, merupakan mitra pengembangan jaringan mobil terbang Uber, Uber  Elevate. Uber berencana merilis taksi terbang pada 2023. Taksi terbang  terdengar seperti fiksi ilmiah. Namun, progresnya menuju kenyataan  semakin di depan mata.
</description><content:encoded> 
BERLIN - Pengembangan mobil terbang mengalami momentum positif. Startup asal Jerman, Lilium, telah berhasil melewati uji coba pertama taksi terbang lima kursi dengan skala penuh dan bertenaga listrik. Capaian itu sebelumnya juga pernah dilalui perusahaan asal Amerika Serikat (AS) The Boeing Company.

Seperti dilansir theverge.com, taksi terbang tanpa awak rancangan Lilium itu berhasil terbang secara vertikal layaknya helikopter dan melayang sebentar sebelum mendarat. Secara kasat mata, capaian itu tampak kecil. Namun, bagi Lilum yang berharap dapat meluncurkan taksi terbang pada 2025 merupakan hal besar.

Sama seperti taksi terbang lainnya, rancangan taksi terbang Lilium juga unik. Kabinnya yang berbentuk bulat telur bertengger di atas roda pendarat dengan sepasang sayap paralel mirip pesawat. Sayap itu dilengkapi mesin 36 jet listrik untuk menggerakkan taksi secara vertikal dan horizontal saat berada di udara.


&amp;nbsp;Baca Juga: Penampakan 30 Taksi Blue Bird Bertenaga Listrik
Taksi terbang itu tidak memiliki ekor, kemudi, baling-baling, atau gigi. Di atas kertas, taksi terbang itu dapat menempuh hingga 300 kilometer dengan kecepatan maksimum 300 kilometer per jam yang didukung rancangan sayap pesawat era Perang Dunia II. Statistik itu jauh lebih baik dibanding pesaing lainnya.

Kepala Komersial Lilium, Remo Gerber, mengatakan sayap itu mengurangi konsumsi daya sebesar 10% selama di udara. &amp;ldquo;Kami senang dengan hasil uji coba kali ini. Semuanya berjalan sesuai dengan harapan,&amp;rdquo; ujar Gerber. Setahun sebelumnya, Lilium juga berhasil melalui uji coba serupa, tapi saat itu baru prototipe.

Rasio daya hingga berat merupakan pertimbangan paling besar dalam pengembangan taksi terbang bertenaga listrik karena merupakan salah satu inhibitor terbesar. Massa jenis energi atau jumlah energi yang tersimpan di dalam sistem juga menjadi kunci metrik. Saat ini, baterai yang tersedia tidak ada yang memadai.

&amp;ldquo;Untuk mengatasi hal itu, kami menggunakan mesin jet yang dapat memberikan energi 43 kali lebih banyak daripada baterai,&amp;rdquo; kata Gerber. Gerberg menolak memaparkannya lebih detail. Namun, dia menegaskan taksi terbang itu akan mampu mengangkat lima penumpang dan seorang pilot, juga sebuah bagasi.
&amp;nbsp;Baca Juga: Boeing Sukses Uji Coba Mobil Terbang, Revolusi Transportasi Dimulai
Lilum menyatakan, meski full-otomatis, taksi terbang garapan mereka tetap akan diawasi pilot sehingga proses perizinan dari Lembaga Keamanan Penerbangan Eropa (EASA) dan Lembaga Penerbangan Federal AS (FAA) juga diharapkan dapat lebih mudah. Tiket taksi terbang itu direncanakan dijual secara online.

Lilium memperkirakan harga dari Manhattan ke Bandara Internasional JFK sekitar USD70 dengan waktu perjalanan 10 menit. Saat ini, Blade yang mengklaim diri sebagai Uber helikopter menawarkan perjalanan serupa dengan banderol USD195. Lilium merupakan satu dari 100 lebih pengembang taksi terbang.

Boeing juga berhasil melewati fase pertama uji coba penerbangan taksi  terbang di bandara kecil di luar Washington DC, AS. Suksesnya percobaan  tersebut menjadi sinyal positif bagi Boeing. Mereka berharap ke depan  angkutan melayang itu bisa menjadi solusi transportasi di kota yang  kerap dilanda kemacetan parah.

Kendati dibilang sukses, percobaan mobil terbang tersebut belum  melibatkan penumpang atau pilot. Taksi terbang itu baru mengudara kurang  dari satu menit dan tidak bergerak ke mana pun sebelum kembali  mendarat. Boeing juga menolak mengungkapkan seberapa tinggi taksi  terbang itu berada di atas tanah.

Prototipe taksi terbang yang dirancang Boeing memiliki panjang 9  meter dan lebar 8,5 meter. Taksi itu dapat menempuh perjalanan hingga 80  kiloemeter sebelum kembali ke darat. Seperti diketahui, Boeing  merupakan produsen pesawat berbasis di Amerika Serikat yang memproduksi  pesawat komersial dan militer.

Boeing beserta para pesaingnya seperti Airbus meyakini pesawat kecil  yang dapat dikendarai sendiri, yang juga dikenal dengan eVTOL (electric  Vertical Takeoff and Landing) akan merevolusi transportasi, ter utama di  kawasan perkotaan. Mereka yakin jenis kendara an itu akan menjadi  solusi dalam mengatasi kemacetan.

&amp;ldquo;Boeing menunjukkan gaya produksi mereka dan memublikasikannya,&amp;rdquo; kata  Investor Cyrus Sigari, dikutip cnn.com. &amp;ldquo;Kegigihan ini menunjukkan  Boeing sangat serius mengembangkan moda transportasi yang dapat  memobilisasi pergerakan di wilayah urban. Saya sangat senang dapat  melihat semangat kuat Boeing,&amp;rdquo;

Eric Bartsch, chief operating officer di VerdeGo Aeuro, pengembang  sistem daya eVTOL, juga memuji kemajuan kendaraan otonom, propulsi  listrik, dan drone sebagai teknologi baru. &amp;ldquo;Kita telah memasuki masa  keemasan inovasi di mana orang-orang mencoba hal baru. Generasi ini  sungguh berbeda,&amp;rdquo; imbuh Bartsch.

Aurora Flight Scoences, anak perusahaan Boeing untuk taksi terbang  otonom, merupakan mitra pengembangan jaringan mobil terbang Uber, Uber  Elevate. Uber berencana merilis taksi terbang pada 2023. Taksi terbang  terdengar seperti fiksi ilmiah. Namun, progresnya menuju kenyataan  semakin di depan mata.
</content:encoded></item></channel></rss>
