<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Fakta-Fakta Menarik Neraca Dagang Defisit Terbesar Sepanjang Sejarah RI</title><description>Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada April 2019 mengalami defisit USD2,5 miliar</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/05/20/320/2057590/fakta-fakta-menarik-neraca-dagang-defisit-terbesar-sepanjang-sejarah-ri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/05/20/320/2057590/fakta-fakta-menarik-neraca-dagang-defisit-terbesar-sepanjang-sejarah-ri"/><item><title>Fakta-Fakta Menarik Neraca Dagang Defisit Terbesar Sepanjang Sejarah RI</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/05/20/320/2057590/fakta-fakta-menarik-neraca-dagang-defisit-terbesar-sepanjang-sejarah-ri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/05/20/320/2057590/fakta-fakta-menarik-neraca-dagang-defisit-terbesar-sepanjang-sejarah-ri</guid><pubDate>Senin 20 Mei 2019 08:06 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/05/19/320/2057590/fakta-fakta-menarik-neraca-dagang-defisit-terbesar-sepanjang-sejarah-ri-MKGRborYx1.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/05/19/320/2057590/fakta-fakta-menarik-neraca-dagang-defisit-terbesar-sepanjang-sejarah-ri-MKGRborYx1.jpeg</image><title>Ilustrasi: Foto Shutterstock</title></images><description>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada April 2019 mengalami defisit USD2,5 miliar. Defisit ini menjadi yang terbesar selama BPS merilis data neraca perdagangan.
Ekspor Indonesia mencapai USD12,60 miliar atau turun 10,8% dibandingkan Maret 2019. Sedangkan impor sebesar USD15,10 miliar atau naik 12,25% dibanding Maret 2019.
Okezone pun merangkum fakta-fakta menarik terkait neraca perdagangan April 2019 yang disebut terbesar sepanjang sejarah, Senin (20/5/2019).
1. Dibanding Juli 2013, Neraca Perdagangan April 2019 Lebih Parah
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, laju ekspor Indonesia mencapai USD12,60 miliar atau turun 10,8% dibandingkan Maret 2019. Sedangkan impor sebesar USD15,10 miliar atau naik 12,25% dibanding Maret 2019.
&quot;Jadi secara total, neraca perdagangan kita pada April defisit sebesar USD2,56 miliar. Tapi (defisit April 2019 terparah) yang ada betul. Defisit (terdalam) di Juli 2013 sebesar USD2,3 miliar. Tapi data lengkapnya saya tidak bawa,&quot; ujarnya.
2. Ekspor Anjlok
Pria yang akrab disapa Kecuk ini menyatakan, mengatakan, beberapa komoditas terpengaruh pada ekonomi global dan perang dagang yang kian memanas.
Baca Juga: Neraca Perdagangan Defisit USD2,5 Miliar, Menko Darmin: Sangat Lebar
&quot;Migas dari bulan ke bulan turun 34,9%, ini terjadi karena nilai minyak mentah naik tapi hasil migas turun. Sektor pertanian (MtM) turun 70%,&quot; tuturnya.
Dengan demikian tercatat posisi Januari-April, total ekspor Indonesia sebesar USD53,2 miliar. Angka ini mengalami penurunan sebesar 9,39% dibandingkan periode yang sama di 2018.
&quot;Untuk mayoritas ekspor Januari-April itu dari BBM dengan kontribusi 15%. Kemudian diikuti minyak dan hewan nabati 11%,&quot; ujarnya.
3. Impor Mulai Terkendali
Sementara itu, untuk laju impor pada April 2019 USD15,10 miliar. Dibandingkan Maret alami peningkatan 12,25%
&quot;Dari sana bisa dilihat impor migas naik 46,9% dan non migas 7,88%. Kita tahu dekati Lebaran biasanya impor meningkat,&quot; ujarnya.
Namun, kata Kecuk, dibandingkan total impor periode yang sama di 2018 mengalami penurunan. Hal ini menjadi bukti adanya pengendalian impor untuk impor di April 2019.
Baca Juga: Neraca Perdagangan Defisit, BI: Dampak Ekonomi Global Melambat
&quot;Total impor ini dibandingkan April, berarti ada penurunan. Jadi sebetulnya lebih kecil dibandingkan 2018,&quot; ujarnya.
Secara total dari Januari-April 2019, total impor mencapai USD55,77 miliar atau mengalami penurunan 7,24% dibandingkan periode yang sama di 2018.
4. Sri Mulyani Waspadai Defisit Neraca Perdagangan
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menayatakan, defisif necara perdagangan ini harus diwaspadai. Sebab laju ekspor mengalami penurunan lebih dalam yakni 10,80% dari Maret 2019.
&quot;Walaupun impornya kontraksi, tapi ekspor kontraksinya juga lebih dalam lagi. Jadi ini faktor dari ekspor yang sebetulnya mengalami pelemahan. Kita juga harus waspada,&quot; ujarnya.5. Defisit Neraca Perdagangan Melebar, Ini Kata BI
Bank Indonesia (BI) menilai kondisi pertumbuhan ekonomi global  menjadi penyebab menurunnya kinerja ekspor Indonesia, sehingga berdampak  pada neraca perdagangan yang pada bulan April 2019 mengalami defisit  USD2,50 miliar.
&amp;ldquo;Neraca perdagangan April 2019 banyak dipengaruhi pertumbuhan ekonomi  global yang melambat dan harga komoditas ekspor Indonesia yang menurun,  yang pada gilirannya menurunkan kinerja ekspor Indonesia. Sementara di  sisi lain, impor tetap diperlukan guna memenuhi pemintaan domestik,&amp;rdquo;  kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko.
Ke depan, menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI itu,  Bank Indonesia dan Pemerintah akan terus berkoordinasi mencermati  perkembangan ekonomi global dan domestik sehingga tetap dapat memperkuat  stabilitas eksternal, termasuk prospek kinerja neraca perdagangan.
6. Menko Darmin Akui Besarnya Defisit Neraca Perdagangan
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution memberikan  penjelasan terkait neraca perdagangan defisit USD2,5 miliar pada April  2019.
&quot;Ya memang defisitnya sangat lebar artinya itu membuat kita  betul-betul harus mempelajari situasi. Bukan hanya ekspornya yang  melambat, impornya juga mulai melambat, sehingga kita kalau tidak bisa  mencari jalan menjaga pertumbuhan, itu bisa menurun,&quot; ujarnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada April 2019 mengalami defisit USD2,5 miliar. Defisit ini menjadi yang terbesar selama BPS merilis data neraca perdagangan.
Ekspor Indonesia mencapai USD12,60 miliar atau turun 10,8% dibandingkan Maret 2019. Sedangkan impor sebesar USD15,10 miliar atau naik 12,25% dibanding Maret 2019.
Okezone pun merangkum fakta-fakta menarik terkait neraca perdagangan April 2019 yang disebut terbesar sepanjang sejarah, Senin (20/5/2019).
1. Dibanding Juli 2013, Neraca Perdagangan April 2019 Lebih Parah
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, laju ekspor Indonesia mencapai USD12,60 miliar atau turun 10,8% dibandingkan Maret 2019. Sedangkan impor sebesar USD15,10 miliar atau naik 12,25% dibanding Maret 2019.
&quot;Jadi secara total, neraca perdagangan kita pada April defisit sebesar USD2,56 miliar. Tapi (defisit April 2019 terparah) yang ada betul. Defisit (terdalam) di Juli 2013 sebesar USD2,3 miliar. Tapi data lengkapnya saya tidak bawa,&quot; ujarnya.
2. Ekspor Anjlok
Pria yang akrab disapa Kecuk ini menyatakan, mengatakan, beberapa komoditas terpengaruh pada ekonomi global dan perang dagang yang kian memanas.
Baca Juga: Neraca Perdagangan Defisit USD2,5 Miliar, Menko Darmin: Sangat Lebar
&quot;Migas dari bulan ke bulan turun 34,9%, ini terjadi karena nilai minyak mentah naik tapi hasil migas turun. Sektor pertanian (MtM) turun 70%,&quot; tuturnya.
Dengan demikian tercatat posisi Januari-April, total ekspor Indonesia sebesar USD53,2 miliar. Angka ini mengalami penurunan sebesar 9,39% dibandingkan periode yang sama di 2018.
&quot;Untuk mayoritas ekspor Januari-April itu dari BBM dengan kontribusi 15%. Kemudian diikuti minyak dan hewan nabati 11%,&quot; ujarnya.
3. Impor Mulai Terkendali
Sementara itu, untuk laju impor pada April 2019 USD15,10 miliar. Dibandingkan Maret alami peningkatan 12,25%
&quot;Dari sana bisa dilihat impor migas naik 46,9% dan non migas 7,88%. Kita tahu dekati Lebaran biasanya impor meningkat,&quot; ujarnya.
Namun, kata Kecuk, dibandingkan total impor periode yang sama di 2018 mengalami penurunan. Hal ini menjadi bukti adanya pengendalian impor untuk impor di April 2019.
Baca Juga: Neraca Perdagangan Defisit, BI: Dampak Ekonomi Global Melambat
&quot;Total impor ini dibandingkan April, berarti ada penurunan. Jadi sebetulnya lebih kecil dibandingkan 2018,&quot; ujarnya.
Secara total dari Januari-April 2019, total impor mencapai USD55,77 miliar atau mengalami penurunan 7,24% dibandingkan periode yang sama di 2018.
4. Sri Mulyani Waspadai Defisit Neraca Perdagangan
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menayatakan, defisif necara perdagangan ini harus diwaspadai. Sebab laju ekspor mengalami penurunan lebih dalam yakni 10,80% dari Maret 2019.
&quot;Walaupun impornya kontraksi, tapi ekspor kontraksinya juga lebih dalam lagi. Jadi ini faktor dari ekspor yang sebetulnya mengalami pelemahan. Kita juga harus waspada,&quot; ujarnya.5. Defisit Neraca Perdagangan Melebar, Ini Kata BI
Bank Indonesia (BI) menilai kondisi pertumbuhan ekonomi global  menjadi penyebab menurunnya kinerja ekspor Indonesia, sehingga berdampak  pada neraca perdagangan yang pada bulan April 2019 mengalami defisit  USD2,50 miliar.
&amp;ldquo;Neraca perdagangan April 2019 banyak dipengaruhi pertumbuhan ekonomi  global yang melambat dan harga komoditas ekspor Indonesia yang menurun,  yang pada gilirannya menurunkan kinerja ekspor Indonesia. Sementara di  sisi lain, impor tetap diperlukan guna memenuhi pemintaan domestik,&amp;rdquo;  kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko.
Ke depan, menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI itu,  Bank Indonesia dan Pemerintah akan terus berkoordinasi mencermati  perkembangan ekonomi global dan domestik sehingga tetap dapat memperkuat  stabilitas eksternal, termasuk prospek kinerja neraca perdagangan.
6. Menko Darmin Akui Besarnya Defisit Neraca Perdagangan
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution memberikan  penjelasan terkait neraca perdagangan defisit USD2,5 miliar pada April  2019.
&quot;Ya memang defisitnya sangat lebar artinya itu membuat kita  betul-betul harus mempelajari situasi. Bukan hanya ekspornya yang  melambat, impornya juga mulai melambat, sehingga kita kalau tidak bisa  mencari jalan menjaga pertumbuhan, itu bisa menurun,&quot; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
