<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>4 Pandangan Alibaba soal Perang Dagang AS-China</title><description>Raksasa e-commerce China, Alibaba Group Holding buka-bukaan soal perang dagang yang kembali memanas.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/05/31/320/2062410/4-pandangan-alibaba-soal-perang-dagang-as-china</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/05/31/320/2062410/4-pandangan-alibaba-soal-perang-dagang-as-china"/><item><title>4 Pandangan Alibaba soal Perang Dagang AS-China</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/05/31/320/2062410/4-pandangan-alibaba-soal-perang-dagang-as-china</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/05/31/320/2062410/4-pandangan-alibaba-soal-perang-dagang-as-china</guid><pubDate>Jum'at 31 Mei 2019 10:46 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/05/31/320/2062410/4-pandangan-alibaba-soal-perang-dagang-as-china-LjuxMnu3W1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bendera AS (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/05/31/320/2062410/4-pandangan-alibaba-soal-perang-dagang-as-china-LjuxMnu3W1.jpg</image><title>Bendera AS (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Raksasa e-commerce China, Alibaba Group Holding buka-bukaan soal perang dagang yang kembali memanas. Executive Vice Chairman Alibaba Joe Tsai menyatakan, Alibaba memiliki kinerja kuartal yang bagus, baik di bidang operasi, pendapatan, dan laba yang angkanya di luar perkiraan. Hasil ini membuktikan daya tahan usaha Alibaba di hadapan rumitnya keadaan politik dan ekonomi yang sedang dihadapi.
Dirinya memilah kompleksitas hubungan Amerika Serikat dan China untuk melihat posisi Alibaba dalam situasi tersebut.
&quot;Secara singkat, wacana perdagangan yang ada menempatkan Alibaba di posisi yang tepat di segala isu,&quot; katanya seperti dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat (31/5/2019).
Pertama, pengurangan neraca perdagangan Amerika Serikat. Komitmen China untuk membeli lebih banyak produk Amerika selama beberapa tahun mendatang akan menjadikan China sebagai negara pengimpor langsung.
Baca Juga: Ketegangan Perang Dagang Meningkat, China dan AS Mulai Saling Serang
Konsumen di China akan merasakan manfaat langsung dengan ketersediaan produk impor berkualitas dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari brand bisnis kecil, dan juga para petani Amerika.
&quot;Pada hal ini, Alibaba memiliki posisi dan keadaan yang tepat untuk memanfaatkan peluang dari tren impor yang berkembang di China. Kami adalah platform pilihan bagi produsen global yang ingin memasuki pasar China karena kami memiliki pengetahuan mendalam akan 650 juta konsumen aktif China pada platform kami,&quot; katanya.
Dia menambahkan, skala dan efektivitas Alibaba dalam menjangkau konsumen China tidaklah tertandingi. Dalam perdagangan internasional, Tmall Global adalah  platform nomor satu di China bagi para pedagang mancanegara. Mereka dapat menjual langsung pada konsumen China tanpa harus mendirikan sarana operasional fisik di sana.

Experience ini telah dirasakan oleh perusahaan internasional yang sudah membangun brand mereka dalam Tmall Global mencakup Chemist Warehouse, Blackmores, Pampers, dan juga Emporio Armani.
Kedua, negosiasi perdagangan yang ada akan mendorong China untuk membuka diri atas perdagangan luar demi memenuhi permintaan konsumen domestik yang terus berkembang pesat. &quot;Kami tidak mencemaskan hal tersebut akan menurunkan perkembangan produk domestik bruto (GDP),&quot; ujarnya.
Alasannya adalah ekonomi China akan bergeser dari berorientasi ekspor menuju berorientasi konsumsi domestik. Perkembangan lapangan kerja turut berperan besar dalam pemikiran ini. Dalam lima tahun terakhir, China memang kehilangan 14 juta pekerjaan manufaktur. Namun, pergerakan ekonomi China membuka 70 juta lapangan kerja di bidang pelayanan.Masyarakat kelas menengah di China telah mencapai angka kritis di  atas 300 juta, hampir sebesar seluruh populasi Amerika Serikat. Angka  tersebut diprediksi akan bertambah dua kali lipat dalam 10 tahun ke  depan, terutama pada kota-kota yang belum begitu berkembang.
Sementara saat ini total konsumsi domestik China mencapai angka  USD5,5 triliun (Rp78.000 triliun), konsumsi dari kota-kota yang belum  begitu berkembang tersebut, dengan populasi mencapai 500 juta warga,  diprediksi akan meningkat ke angka USD7 triliun (Rp100.000 triliun)  dalam 10 tahun mendatang.
Ketiga, perlindungan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Dalam  beberapa tahun terakhir, China telah meningkatkan sejumlah peningkatan  signifikan untuk mengurangi pelanggaran HAKI. China juga mengakui  pentingnya melindungi hak para inovator. Selain itu, China juga memahami  pentingnya mengutamakan konsumen yang menginginkan produk orisinil  berkualitas tinggi.
&quot;Saat ini Alibaba berada di posisi terdepan dalam melindungi HAKI.  Dengan memanfaatkan teknologi yang kami miliki, kami mengambil langkah  agresif dan proaktif untuk membongkar pihak-pihak pemalsu dalam platform  kami. Itulah permintaan dari para pelanggan yang mempercayai platform  kami,&quot; ujarnya.

Keempat, reformasi struktur ekonomi China. Saat ini, sektor swasta  tengah berinisiatif membawa ekonomi ke dalam dunia digital, mulai dari  proses produksi, rantai pasok, distribusi, pengembangan produk, dan  pemasaran. Hal tersebut akan mendukung industri tradisional yang masih  dipengaruhi oleh dominasi negara. &quot;Melalui strategi New Retail dari kami  dan dukungan teknologi cerdas, Alibaba tengah memimpin pembangunan  infrastruktur perdagangan baru dalam dunia ekonomi yang kian menjadi  digital,&quot; tuturnya.
Kerjasama Alibaba dengan Starbucks adalah salah satu contoh yang  bagus. Di China, Starbucks telah menciptakan kehadiran signifikan  melalui marketplace Alibaba yang amat bersahabat bagi pengguna telepon  seluler. Hasilnya, Starbucks telah mendapatkan jutaan pelanggan setia  baru secara online. &quot;Kami juga mendukung Starbucks untuk mengembangkan  penawaran mereka dari operasi berbasis toko fisik menjadi pengiriman  langsung ke pelanggan. Melalui inisiatif tersebut, Starbucks berhasil  menambahkan dimensi online pada strategi pemasarannya. Hal itu tidak  mungkin terjadi tanpa dukungan dari Alibaba Business Operating System,&quot;  katanya.
Menurutnya, isu negosiasi perdagangan ini akan selesai dengan  sendirinya. Ekonomi China tengah berubah untuk menutup celah antara  kepentingan pemerintah China dan Amerika Serikat. Artinya, di masa depan  akan ada konsumsi domestik yang lebih besar, lebih banyak barang impor,  perlindungan HAKI yang terus berkembang, dan proses pemindahan industri  ke dunia digital dengan partisipasi sektor swasta.
&quot;Ketika kami memandang perubahan ekonomi China, Alibaba ada di posisi  yang paling tepat. Saya tidak dapat membayangkan perusahaan lain yang  lebih baik dan lebih siap untuk menghadapi isu-isu tersebut dan untuk  bisa memanfaatkan peluang secara jangka panjang,&quot; tutupnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Raksasa e-commerce China, Alibaba Group Holding buka-bukaan soal perang dagang yang kembali memanas. Executive Vice Chairman Alibaba Joe Tsai menyatakan, Alibaba memiliki kinerja kuartal yang bagus, baik di bidang operasi, pendapatan, dan laba yang angkanya di luar perkiraan. Hasil ini membuktikan daya tahan usaha Alibaba di hadapan rumitnya keadaan politik dan ekonomi yang sedang dihadapi.
Dirinya memilah kompleksitas hubungan Amerika Serikat dan China untuk melihat posisi Alibaba dalam situasi tersebut.
&quot;Secara singkat, wacana perdagangan yang ada menempatkan Alibaba di posisi yang tepat di segala isu,&quot; katanya seperti dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat (31/5/2019).
Pertama, pengurangan neraca perdagangan Amerika Serikat. Komitmen China untuk membeli lebih banyak produk Amerika selama beberapa tahun mendatang akan menjadikan China sebagai negara pengimpor langsung.
Baca Juga: Ketegangan Perang Dagang Meningkat, China dan AS Mulai Saling Serang
Konsumen di China akan merasakan manfaat langsung dengan ketersediaan produk impor berkualitas dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari brand bisnis kecil, dan juga para petani Amerika.
&quot;Pada hal ini, Alibaba memiliki posisi dan keadaan yang tepat untuk memanfaatkan peluang dari tren impor yang berkembang di China. Kami adalah platform pilihan bagi produsen global yang ingin memasuki pasar China karena kami memiliki pengetahuan mendalam akan 650 juta konsumen aktif China pada platform kami,&quot; katanya.
Dia menambahkan, skala dan efektivitas Alibaba dalam menjangkau konsumen China tidaklah tertandingi. Dalam perdagangan internasional, Tmall Global adalah  platform nomor satu di China bagi para pedagang mancanegara. Mereka dapat menjual langsung pada konsumen China tanpa harus mendirikan sarana operasional fisik di sana.

Experience ini telah dirasakan oleh perusahaan internasional yang sudah membangun brand mereka dalam Tmall Global mencakup Chemist Warehouse, Blackmores, Pampers, dan juga Emporio Armani.
Kedua, negosiasi perdagangan yang ada akan mendorong China untuk membuka diri atas perdagangan luar demi memenuhi permintaan konsumen domestik yang terus berkembang pesat. &quot;Kami tidak mencemaskan hal tersebut akan menurunkan perkembangan produk domestik bruto (GDP),&quot; ujarnya.
Alasannya adalah ekonomi China akan bergeser dari berorientasi ekspor menuju berorientasi konsumsi domestik. Perkembangan lapangan kerja turut berperan besar dalam pemikiran ini. Dalam lima tahun terakhir, China memang kehilangan 14 juta pekerjaan manufaktur. Namun, pergerakan ekonomi China membuka 70 juta lapangan kerja di bidang pelayanan.Masyarakat kelas menengah di China telah mencapai angka kritis di  atas 300 juta, hampir sebesar seluruh populasi Amerika Serikat. Angka  tersebut diprediksi akan bertambah dua kali lipat dalam 10 tahun ke  depan, terutama pada kota-kota yang belum begitu berkembang.
Sementara saat ini total konsumsi domestik China mencapai angka  USD5,5 triliun (Rp78.000 triliun), konsumsi dari kota-kota yang belum  begitu berkembang tersebut, dengan populasi mencapai 500 juta warga,  diprediksi akan meningkat ke angka USD7 triliun (Rp100.000 triliun)  dalam 10 tahun mendatang.
Ketiga, perlindungan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Dalam  beberapa tahun terakhir, China telah meningkatkan sejumlah peningkatan  signifikan untuk mengurangi pelanggaran HAKI. China juga mengakui  pentingnya melindungi hak para inovator. Selain itu, China juga memahami  pentingnya mengutamakan konsumen yang menginginkan produk orisinil  berkualitas tinggi.
&quot;Saat ini Alibaba berada di posisi terdepan dalam melindungi HAKI.  Dengan memanfaatkan teknologi yang kami miliki, kami mengambil langkah  agresif dan proaktif untuk membongkar pihak-pihak pemalsu dalam platform  kami. Itulah permintaan dari para pelanggan yang mempercayai platform  kami,&quot; ujarnya.

Keempat, reformasi struktur ekonomi China. Saat ini, sektor swasta  tengah berinisiatif membawa ekonomi ke dalam dunia digital, mulai dari  proses produksi, rantai pasok, distribusi, pengembangan produk, dan  pemasaran. Hal tersebut akan mendukung industri tradisional yang masih  dipengaruhi oleh dominasi negara. &quot;Melalui strategi New Retail dari kami  dan dukungan teknologi cerdas, Alibaba tengah memimpin pembangunan  infrastruktur perdagangan baru dalam dunia ekonomi yang kian menjadi  digital,&quot; tuturnya.
Kerjasama Alibaba dengan Starbucks adalah salah satu contoh yang  bagus. Di China, Starbucks telah menciptakan kehadiran signifikan  melalui marketplace Alibaba yang amat bersahabat bagi pengguna telepon  seluler. Hasilnya, Starbucks telah mendapatkan jutaan pelanggan setia  baru secara online. &quot;Kami juga mendukung Starbucks untuk mengembangkan  penawaran mereka dari operasi berbasis toko fisik menjadi pengiriman  langsung ke pelanggan. Melalui inisiatif tersebut, Starbucks berhasil  menambahkan dimensi online pada strategi pemasarannya. Hal itu tidak  mungkin terjadi tanpa dukungan dari Alibaba Business Operating System,&quot;  katanya.
Menurutnya, isu negosiasi perdagangan ini akan selesai dengan  sendirinya. Ekonomi China tengah berubah untuk menutup celah antara  kepentingan pemerintah China dan Amerika Serikat. Artinya, di masa depan  akan ada konsumsi domestik yang lebih besar, lebih banyak barang impor,  perlindungan HAKI yang terus berkembang, dan proses pemindahan industri  ke dunia digital dengan partisipasi sektor swasta.
&quot;Ketika kami memandang perubahan ekonomi China, Alibaba ada di posisi  yang paling tepat. Saya tidak dapat membayangkan perusahaan lain yang  lebih baik dan lebih siap untuk menghadapi isu-isu tersebut dan untuk  bisa memanfaatkan peluang secara jangka panjang,&quot; tutupnya.</content:encoded></item></channel></rss>
