<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pengusaha Minta Pemerintah Antisipasi Penurunan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global</title><description>Pengusaha meminta pemerintah segera menyelaraskan berbagai kebijakan sebagai antisipasi penurunan pertumbuhan ekonomi global</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/06/20/2064101/pengusaha-minta-pemerintah-antisipasi-penurunan-proyeksi-pertumbuhan-ekonomi-global</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/06/06/20/2064101/pengusaha-minta-pemerintah-antisipasi-penurunan-proyeksi-pertumbuhan-ekonomi-global"/><item><title>Pengusaha Minta Pemerintah Antisipasi Penurunan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/06/20/2064101/pengusaha-minta-pemerintah-antisipasi-penurunan-proyeksi-pertumbuhan-ekonomi-global</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/06/06/20/2064101/pengusaha-minta-pemerintah-antisipasi-penurunan-proyeksi-pertumbuhan-ekonomi-global</guid><pubDate>Kamis 06 Juni 2019 17:29 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/06/20/2064101/pengusaha-minta-pemerintah-antisipasi-penurunan-proyeksi-pertumbuhan-ekonomi-global-ueY30mIjPg.jpg" expression="full" type="image/jpeg">foto: Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/06/20/2064101/pengusaha-minta-pemerintah-antisipasi-penurunan-proyeksi-pertumbuhan-ekonomi-global-ueY30mIjPg.jpg</image><title>foto: Okezone</title></images><description>JAKARTA - Kalangan dunia usaha meminta pemerintah segera menyelaraskan berbagai kebijakan sebagai antisipasi penurunan pertumbuhan ekonomi global, yang diprediksi Bank Dunia dari 2,9% menjadi 2,6% pada 2019.
&quot;Pemerintah harus membuat regulasi yang betul-betul dapat meningkatkan daya saing produk-produk dalam negeri. Negara-negara maju saat ini memasuki era proteksi pasar masing-masing, maka Indonesia harus meresponsnya dengan hal yang sama,&quot; kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani, dikutip dari Antaranews, di Jakarta, Kamis (6/6/2019).
Bank Dunia dalam laporan Global Economic Prospects edisi Juni 2019, kembali memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global dari 2,9% turun menjadi 2,6%. Sejumlah kalangan menilai penurunan tersebut terkait dengan semakin memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China.
Namun, ekonomi Indonesia diperkirakan stabil di kisaran 5,2%.
Baca Juga: World Bank Turunkan Target Pertumbuhan Ekonomi Global, Begini Respons Sri Mulyani
Menurut Hariyadi, dalam kondisi seperti ini masing-masing negara adidaya tersebut aktif melakukan proteksi terhadap pasar dalam negeri negaranya.
&quot;Amerika Serikat gencar mengenakan tarif produk-produk impor, sementara China berpikir keras bagaimana produk-produk mereka harus diekspor masuk ke pasar global,&quot; ujarnya.
Salah satu langkah dalam meningkatkan daya saing produk-produk nasional, tambah Hariyadi, pemerintah harus memberikan perhatian khusus terkait insentif fiskal untuk sektor-sektor usaha yang memiliki potensi nilai ekspor besar dan dalam jumlah besar.
Misalnya, industri yang terkait dengan petrokimia, sektor turunan industri baja yang sifatnya dapat menjadi subsitusi barang-barang impor.
Baca Juga: 25 Negara dengan Kekuatan Militer dan Keuangan Paling Kuat di Dunia
&quot;Ekonomi kita selama ini digerakkan oleh konsumsi dalam negeri, di satu sisi ekspor tidak terlalu besar-besar amat,&quot; ujarnya.
Untuk itu, diperlukan langkah yang protektif terhadap pasar dalam negeri dengan meningkatkan daya saing produk nasional, sehingga pasar yang besar ini tidak mudah dimasuki produk-produk impor.
Selain itu, pemerintah juga perlu mendorong pendanaan ekspor melalui instrumen keuangan yang sudah ada seperti Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).
&quot;LPEI harus lebih diaktifkan kembali untuk mendanai modal kerja yang pada ujungnya dapat meningkatkan kapasitas produksi industri baik untuk pasar lokal maupun untuk pasar ekspor,&quot; ujarnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Kalangan dunia usaha meminta pemerintah segera menyelaraskan berbagai kebijakan sebagai antisipasi penurunan pertumbuhan ekonomi global, yang diprediksi Bank Dunia dari 2,9% menjadi 2,6% pada 2019.
&quot;Pemerintah harus membuat regulasi yang betul-betul dapat meningkatkan daya saing produk-produk dalam negeri. Negara-negara maju saat ini memasuki era proteksi pasar masing-masing, maka Indonesia harus meresponsnya dengan hal yang sama,&quot; kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani, dikutip dari Antaranews, di Jakarta, Kamis (6/6/2019).
Bank Dunia dalam laporan Global Economic Prospects edisi Juni 2019, kembali memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global dari 2,9% turun menjadi 2,6%. Sejumlah kalangan menilai penurunan tersebut terkait dengan semakin memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China.
Namun, ekonomi Indonesia diperkirakan stabil di kisaran 5,2%.
Baca Juga: World Bank Turunkan Target Pertumbuhan Ekonomi Global, Begini Respons Sri Mulyani
Menurut Hariyadi, dalam kondisi seperti ini masing-masing negara adidaya tersebut aktif melakukan proteksi terhadap pasar dalam negeri negaranya.
&quot;Amerika Serikat gencar mengenakan tarif produk-produk impor, sementara China berpikir keras bagaimana produk-produk mereka harus diekspor masuk ke pasar global,&quot; ujarnya.
Salah satu langkah dalam meningkatkan daya saing produk-produk nasional, tambah Hariyadi, pemerintah harus memberikan perhatian khusus terkait insentif fiskal untuk sektor-sektor usaha yang memiliki potensi nilai ekspor besar dan dalam jumlah besar.
Misalnya, industri yang terkait dengan petrokimia, sektor turunan industri baja yang sifatnya dapat menjadi subsitusi barang-barang impor.
Baca Juga: 25 Negara dengan Kekuatan Militer dan Keuangan Paling Kuat di Dunia
&quot;Ekonomi kita selama ini digerakkan oleh konsumsi dalam negeri, di satu sisi ekspor tidak terlalu besar-besar amat,&quot; ujarnya.
Untuk itu, diperlukan langkah yang protektif terhadap pasar dalam negeri dengan meningkatkan daya saing produk nasional, sehingga pasar yang besar ini tidak mudah dimasuki produk-produk impor.
Selain itu, pemerintah juga perlu mendorong pendanaan ekspor melalui instrumen keuangan yang sudah ada seperti Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).
&quot;LPEI harus lebih diaktifkan kembali untuk mendanai modal kerja yang pada ujungnya dapat meningkatkan kapasitas produksi industri baik untuk pasar lokal maupun untuk pasar ekspor,&quot; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
