<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>G20 Soroti Pelemahan Ekonomi Global, Apa Saja yang Dibahas?</title><description>Para menteri ekonomi dan gubernur bank sentral dunia justru fokus membahas tekanan ekonomi global.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/10/20/2064938/g20-soroti-pelemahan-ekonomi-global-apa-saja-yang-dibahas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/06/10/20/2064938/g20-soroti-pelemahan-ekonomi-global-apa-saja-yang-dibahas"/><item><title>G20 Soroti Pelemahan Ekonomi Global, Apa Saja yang Dibahas?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/10/20/2064938/g20-soroti-pelemahan-ekonomi-global-apa-saja-yang-dibahas</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/06/10/20/2064938/g20-soroti-pelemahan-ekonomi-global-apa-saja-yang-dibahas</guid><pubDate>Senin 10 Juni 2019 15:38 WIB</pubDate><dc:creator>Rani Hardjanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/10/20/2064938/g20-soroti-pelemahan-ekonomi-global-apa-saja-yang-dibahas-adux32GFPw.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/10/20/2064938/g20-soroti-pelemahan-ekonomi-global-apa-saja-yang-dibahas-adux32GFPw.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Shutterstock</title></images><description> 
JAKARTA - Di kala masyarakat Indonesia merayakan Lebaran, para menteri ekonomi dan gubernur bank sentral dunia justru fokus membahas tekanan ekonomi global. Tidak ketinggalan, Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Tensi perdagangan yang kembali meningkat mewarnai diskusi pada pertemuan otoritas keuangan dan moneter tersebut. Di mana hal ini dinilai telah berdampak negatif bagi ekonomi global, serta mempengaruhi keyakinan dunia usaha/investor. Bila berlanjut tanpa solusi, tensi perdagangan akan berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,5%, lebih besar dari perhitungan sebelumnya yang hanya sebesar 0,2%.
&amp;nbsp;Baca Juga: Rating Utang dan Daya Saing Naik, Menko Darmin: Ini Mengurangi Tekanan Global
Lalu apa saja yang dibahas dalam pertemuan (yang digelar 8-9 Juni 2019 di Fukuoka, Jepang) tersebut? Sri Mulyani yang hadir dalam pertemuan skala global tersebut membeberkannya dalam sebuah postingan Facebook, yang dikutip Senin (10/6/2019).

Hari kedua pertemuan Menkeu dan Gub Bank Sentral G20 fokus membahas mengenai :

1. International Taxation : membahas kemajuan kerjasama internasional untuk mencegah penghindaran pajak melalui &amp;ldquo;Base Erosion and Profit Shifting (BEPS) yang dimulai sehak 2012, termasuk penanganan perlakukan perpajakan untuk kegiatan ekonomi digital. Digital ekonomi mengubah model bisnis yang menghilangkan kehadiran fisik suatu perusahaan. Ini menyulitkan perhitungan kewajiban pajak. Diperlukan sistem perpajakan baru yang inklusif dan adil. Disepakati dua pilar pendekatan. Pilar Pertama, menyangkut penetapan &amp;ldquo;New profit allocation right&amp;rdquo; dimana hak memajak tidak ditentukan kehadiran fisik, namun berdasar economic relevance/ Economic presence. Ini dikenal sebagai New nexus.
&amp;nbsp;Baca Juga: Pengusaha Minta Pemerintah Antisipasi Penurunan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global
Pilar kedua, penerapan untuk menjamin minimum effective taxation. Ini untuk menghadapi kecenderungan perusahaan menghindari pajak dengan menggunakan negara/jurisdiksi yang memiliki tingkat pajak sangat rendah atau bahkan tidak ada pajak sama sekali. Kedua pilar ini dapat melindungi kepentingan pajak Indonesia - dari potensi kehilangan pajak. Kita perlu makin meningkatkan kemampuan Direktorat Jendral pajak untuk menggunakan kerjasama global dalam mengumpulkan penerimaan pajak yang optimal untuk kepentingan pembangunan Indonesia.

2. Topik kedua Global imbalances: membahas negara yang memiliki current account surplus - seperti RRT, Jerman dll versus mereka yang defisit (USA). Global imbalances memicu sentimen anti perdagangan internasional dan munculnya proteksionisme baik dari sisi perdagangan maupun arus modal. Meski global imbalances sudah berkurang 40% sejak global krisis 2008, namun masih tetap tinggi. Pengawasan komponen imbalances seperti ekspor dan impor barang dan jasa, serta keseimbangan arus modal dan income serta komposisi Invetasi global, juga memahami sumber imbalances seperti kebijakan fiskal dan gejolak harga komoditas - sangat penting untuk mencegah shock (sudden reversal) dan volatilitas.
&amp;nbsp;3. Topik ketiga Aging Demografi and Policy implications: membahas  perubahan demografi di negara yang sudah semakin menua - dihadapkan  beban fiskal, kemampuan dana pensiun, kebutuhan kesehatan dan penurunan  pertumbuhan ekonomi. Negara dengan demografi muda, perlu menciptakan  kesempatan kerja dan Investasi sumber daya manusia (pendidikan,  pelatihan, kesehatan). Kita dapat belajar dari situasi Brazil. Argentina  dan Meksiko yang menghadapi beban fiskal pensiun yang sangat berat dan  tidak sustainable, juga belajar dari negara maju yang mengalami aging  dengan kondisi fiskal dan ekonomi yang menantang. Reformasi pensiun dan  pasar tenaga kerja perlu dilakukan secara komprehensif dan hati-hati,  untuk memecahkan masalah demografi.

4. Infrastruktur Investment : dibahas mengenai prinsip Investasi di  bidang Infrastructure yang berkualitas. Bagaimana negara G20 dapat  saling belajar untuk membantu infrastruktur secara baik dan berkualitas  dan sustainable dan mampu membangun asset class untuk pembiayaan yang  makin beragam dan efisien.

5. Dalam pertemuan G20 juga dibahas fragmentasi pasar keuangan,  financial innovation, dan fintech, dan kerjasama anti money laundering  dan financing terorism. Kemajuan teknologi dan munculnya inovasi produk,  instrumen dan infrastruktur keuangan menyebabkan tantangan terhadap  regulasi, pengawasan dan keamanan bagi masyarakat. Masalah ini  memerlukan kerjasama global, karena situasi tantangan yang tidak  mengenal batas negara.

Pertemuan G20 ditutup dengan komunike berisi komitmen saling  bekerjasama menjaga ekonomi global, meskipun dibayangi suasana  persaingan antar negara besar.

Sebelum kembali ke Indonesia, saya menyempatkan bertemu dengan  masyarakat Indonesia yang sedang tugas belajar atau bekerja di Fukuoka.
</description><content:encoded> 
JAKARTA - Di kala masyarakat Indonesia merayakan Lebaran, para menteri ekonomi dan gubernur bank sentral dunia justru fokus membahas tekanan ekonomi global. Tidak ketinggalan, Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Tensi perdagangan yang kembali meningkat mewarnai diskusi pada pertemuan otoritas keuangan dan moneter tersebut. Di mana hal ini dinilai telah berdampak negatif bagi ekonomi global, serta mempengaruhi keyakinan dunia usaha/investor. Bila berlanjut tanpa solusi, tensi perdagangan akan berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,5%, lebih besar dari perhitungan sebelumnya yang hanya sebesar 0,2%.
&amp;nbsp;Baca Juga: Rating Utang dan Daya Saing Naik, Menko Darmin: Ini Mengurangi Tekanan Global
Lalu apa saja yang dibahas dalam pertemuan (yang digelar 8-9 Juni 2019 di Fukuoka, Jepang) tersebut? Sri Mulyani yang hadir dalam pertemuan skala global tersebut membeberkannya dalam sebuah postingan Facebook, yang dikutip Senin (10/6/2019).

Hari kedua pertemuan Menkeu dan Gub Bank Sentral G20 fokus membahas mengenai :

1. International Taxation : membahas kemajuan kerjasama internasional untuk mencegah penghindaran pajak melalui &amp;ldquo;Base Erosion and Profit Shifting (BEPS) yang dimulai sehak 2012, termasuk penanganan perlakukan perpajakan untuk kegiatan ekonomi digital. Digital ekonomi mengubah model bisnis yang menghilangkan kehadiran fisik suatu perusahaan. Ini menyulitkan perhitungan kewajiban pajak. Diperlukan sistem perpajakan baru yang inklusif dan adil. Disepakati dua pilar pendekatan. Pilar Pertama, menyangkut penetapan &amp;ldquo;New profit allocation right&amp;rdquo; dimana hak memajak tidak ditentukan kehadiran fisik, namun berdasar economic relevance/ Economic presence. Ini dikenal sebagai New nexus.
&amp;nbsp;Baca Juga: Pengusaha Minta Pemerintah Antisipasi Penurunan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global
Pilar kedua, penerapan untuk menjamin minimum effective taxation. Ini untuk menghadapi kecenderungan perusahaan menghindari pajak dengan menggunakan negara/jurisdiksi yang memiliki tingkat pajak sangat rendah atau bahkan tidak ada pajak sama sekali. Kedua pilar ini dapat melindungi kepentingan pajak Indonesia - dari potensi kehilangan pajak. Kita perlu makin meningkatkan kemampuan Direktorat Jendral pajak untuk menggunakan kerjasama global dalam mengumpulkan penerimaan pajak yang optimal untuk kepentingan pembangunan Indonesia.

2. Topik kedua Global imbalances: membahas negara yang memiliki current account surplus - seperti RRT, Jerman dll versus mereka yang defisit (USA). Global imbalances memicu sentimen anti perdagangan internasional dan munculnya proteksionisme baik dari sisi perdagangan maupun arus modal. Meski global imbalances sudah berkurang 40% sejak global krisis 2008, namun masih tetap tinggi. Pengawasan komponen imbalances seperti ekspor dan impor barang dan jasa, serta keseimbangan arus modal dan income serta komposisi Invetasi global, juga memahami sumber imbalances seperti kebijakan fiskal dan gejolak harga komoditas - sangat penting untuk mencegah shock (sudden reversal) dan volatilitas.
&amp;nbsp;3. Topik ketiga Aging Demografi and Policy implications: membahas  perubahan demografi di negara yang sudah semakin menua - dihadapkan  beban fiskal, kemampuan dana pensiun, kebutuhan kesehatan dan penurunan  pertumbuhan ekonomi. Negara dengan demografi muda, perlu menciptakan  kesempatan kerja dan Investasi sumber daya manusia (pendidikan,  pelatihan, kesehatan). Kita dapat belajar dari situasi Brazil. Argentina  dan Meksiko yang menghadapi beban fiskal pensiun yang sangat berat dan  tidak sustainable, juga belajar dari negara maju yang mengalami aging  dengan kondisi fiskal dan ekonomi yang menantang. Reformasi pensiun dan  pasar tenaga kerja perlu dilakukan secara komprehensif dan hati-hati,  untuk memecahkan masalah demografi.

4. Infrastruktur Investment : dibahas mengenai prinsip Investasi di  bidang Infrastructure yang berkualitas. Bagaimana negara G20 dapat  saling belajar untuk membantu infrastruktur secara baik dan berkualitas  dan sustainable dan mampu membangun asset class untuk pembiayaan yang  makin beragam dan efisien.

5. Dalam pertemuan G20 juga dibahas fragmentasi pasar keuangan,  financial innovation, dan fintech, dan kerjasama anti money laundering  dan financing terorism. Kemajuan teknologi dan munculnya inovasi produk,  instrumen dan infrastruktur keuangan menyebabkan tantangan terhadap  regulasi, pengawasan dan keamanan bagi masyarakat. Masalah ini  memerlukan kerjasama global, karena situasi tantangan yang tidak  mengenal batas negara.

Pertemuan G20 ditutup dengan komunike berisi komitmen saling  bekerjasama menjaga ekonomi global, meskipun dibayangi suasana  persaingan antar negara besar.

Sebelum kembali ke Indonesia, saya menyempatkan bertemu dengan  masyarakat Indonesia yang sedang tugas belajar atau bekerja di Fukuoka.
</content:encoded></item></channel></rss>
