<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Sederet PR Jokowi dari Pengusaha: Pangkas Pajak Badan hingga TKI</title><description>Rosan mengemukakan, ada 3 masukan yang disampaikan pengurus Kadin dan Hipmi dalam pertemuan itu.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/12/320/2065814/sederet-pr-jokowi-dari-pengusaha-pangkas-pajak-badan-hingga-tki</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/06/12/320/2065814/sederet-pr-jokowi-dari-pengusaha-pangkas-pajak-badan-hingga-tki"/><item><title>   Sederet PR Jokowi dari Pengusaha: Pangkas Pajak Badan hingga TKI</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/12/320/2065814/sederet-pr-jokowi-dari-pengusaha-pangkas-pajak-badan-hingga-tki</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/06/12/320/2065814/sederet-pr-jokowi-dari-pengusaha-pangkas-pajak-badan-hingga-tki</guid><pubDate>Rabu 12 Juni 2019 20:06 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/12/320/2065814/sederet-pr-jokowi-dari-pengusaha-pangkas-pajak-badan-hingga-tki-Uz6nRsgM7G.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Jokowi (Foto: Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/12/320/2065814/sederet-pr-jokowi-dari-pengusaha-pangkas-pajak-badan-hingga-tki-Uz6nRsgM7G.jpg</image><title>Presiden Jokowi (Foto: Antara)</title></images><description>JAKARTA - Setelah hajatan besar bangsa Indonesia, yaitu Pemilihan Umum (Pemilu) serentak usai, para pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) berharap semuanya kembali tertib, damai, dan tidak ada yang anarkis.

&amp;ldquo;Soalnya itu  modal utama lah. Kedamaian, ketertiban, keamanan, tidak ada suatu yang sifatnya anarkis itu tidak ada, itu modal utama untuk ekonomi bisa berjalan,&amp;rdquo; kata Ketua Umum Kadin Rosan P Roeslani seperti dilansir setkab, Jakarta, Rabu (12/6/2019).

Ketua Umum Kadin juga mengapresiasi hasil Pemilu, di mana parlemen lebih dari 50% adalah mendukung  Presiden, sehingga tentunya ini  juga menjadi hal yang positif karena konsistensi dari kebijakan-kebijakan/policy yang ada.

&amp;ldquo;Karena ini pemerintahan yang berkelanjutan jadi itu menambahkan kenyamanan. Kemudian rating agency juga menaikan rating kita yang tadinya B- menjadi BBB. Momentum itu sudah dibangun, sekarang adalah ini kita coba dorong supaya lebih cepat lagi,&amp;rdquo; ujar Rosan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Jokowi ke Kadin dan Hipmi: Manfaatkan Perang Dagang
Tiga Usulan

Terkait dengan permintaan Presiden Jokowi mengenai masukan dari pengusaha, Rosan mengemukakan, ada 3 masukan yang disampaikan pengurus Kadin dan Hipmi dalam pertemuan itu.

Yang pertama, mengenai pengiriman TKI (Tenaga Kerja Indonesia), di mana  remiten dari 3,6 juta TKI di luar negeri kurang lebih ada USD11 miliar. Jauh dibandingkan Filipina yang tenaga kerjanya di luar negeri hampir sama, 3,5 juta orang tapi remitennya sampai USD33 miliar.

&amp;ldquo;Nah, kenapa itu bisa lebih tinggi, karena masalahnya adalah kemampuan dari berbahasa, dari nursing dan sebagainya. Jadi itu bisa kita dorong untuk program vokasi yang memang sedang didorong oleh bapak Presiden dalam pemerintahan ini. Jadi itu adalah kita bilangnya quickwin karena naik USD10 miliar kita mengurangi CAD kita yang kurang lebih USD30 milar,&amp;rdquo; kata Rosan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Presiden Jokowi Minta Masukan Kadin dan Hipmi, Tapi Hanya Tiga Poin
Yang kedua, lanjut Ketua Umum Kadin itu, tentunya adalah kita mendorong pariwisata yang sudah ada sekarang untuk lebih cepat lagi. Ia menyebutkan, perbandingan-perbandingan dengan negara-negara asia lainnya memang kita kurang lebih hampir 15,5 juta orang, kita mendapatkan devisa kirang lebih USD17 miliar, atau kurang lebih USD1.100 per orang. Tapi dibandingkan dengan Thailand yang secara wisatawannya itu lebih hampir 38 juta orang, tetapi pendapatan devisanya kurang lebih sampai USD62 miliar.

&amp;ldquo;Jadi average spendingnya lebih lama, average tinggalnya juga lebih lama. Itu kenapa, salah satunya karena kebijakan maritim. Itu juga yang kita sampaikan,&amp;rdquo; papar Rosan.
Yang ketiga adalah mengenai tekstil. Karena di tengah perang dagang  ini justru tekstil, garmen berdasarkan dari asosiasi juga dari pemain  tekstil mengalami pelonjakan 25-30% tahun ini. Karena itu, bagaimana  mendorong kebijakan dan memanfaatkan kesempatan itu pada saat sekarang.

Kemudian untuk industrialisasi, lanjut Rosan, juga coba didorong  untuk pemerataan. Para pengusaha nasional kita bicarakan kita minta coba  dorong dari akses perbankannya, akses kesempatannya dan insentif apa  saja yang diperlukan. Karena kalau hanya dari 2 tangan saja, istilahnya,  kebijakan fiskal dan moneter mungkin kita bisa bertumbuh tapi hanya  seperti sekarang saja, gitu, 5%.

&amp;ldquo;Mesti ada kebijakan, itu adalah kebijakan reformasi struktural dan  sektor. Ini diharapkan bisa memanfaatkan bonus demografi kita yang saat  ini akan berakhir kurang lebih tahun 2040,&amp;rdquo; ujar Rosan.

Menurut Rosan, itu yang sifatnya mungkin jangka pendek, Ada jangka  mendengah, jangka panjang Para pengurus Kadin dan Hipmi juga bicara  bagaimana melanjutkan reformasi perpajakan, karena juga berkompetisi  dengan negara-negara tetangga. Di satu sisi mungkin produktivitas di  Indonesia masih rendah tapi coba mendorong reformasi perpajakan dari  pemotongan Pajak Penghasilan (PPh) badan.

&quot;Kita sampaikan apakah di level 17%-18% yang sekarang masih di atas  25%. Itu yan kita coba dorong karena tentunya nanti akan ada penurunan  tetapi kita bisa opsi dengan PPN. Jadi, ada masukan-masukan yang  sifatnya  bisa diimplementasikan secara cepat,&amp;rdquo; tutur Rosan.</description><content:encoded>JAKARTA - Setelah hajatan besar bangsa Indonesia, yaitu Pemilihan Umum (Pemilu) serentak usai, para pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) berharap semuanya kembali tertib, damai, dan tidak ada yang anarkis.

&amp;ldquo;Soalnya itu  modal utama lah. Kedamaian, ketertiban, keamanan, tidak ada suatu yang sifatnya anarkis itu tidak ada, itu modal utama untuk ekonomi bisa berjalan,&amp;rdquo; kata Ketua Umum Kadin Rosan P Roeslani seperti dilansir setkab, Jakarta, Rabu (12/6/2019).

Ketua Umum Kadin juga mengapresiasi hasil Pemilu, di mana parlemen lebih dari 50% adalah mendukung  Presiden, sehingga tentunya ini  juga menjadi hal yang positif karena konsistensi dari kebijakan-kebijakan/policy yang ada.

&amp;ldquo;Karena ini pemerintahan yang berkelanjutan jadi itu menambahkan kenyamanan. Kemudian rating agency juga menaikan rating kita yang tadinya B- menjadi BBB. Momentum itu sudah dibangun, sekarang adalah ini kita coba dorong supaya lebih cepat lagi,&amp;rdquo; ujar Rosan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Jokowi ke Kadin dan Hipmi: Manfaatkan Perang Dagang
Tiga Usulan

Terkait dengan permintaan Presiden Jokowi mengenai masukan dari pengusaha, Rosan mengemukakan, ada 3 masukan yang disampaikan pengurus Kadin dan Hipmi dalam pertemuan itu.

Yang pertama, mengenai pengiriman TKI (Tenaga Kerja Indonesia), di mana  remiten dari 3,6 juta TKI di luar negeri kurang lebih ada USD11 miliar. Jauh dibandingkan Filipina yang tenaga kerjanya di luar negeri hampir sama, 3,5 juta orang tapi remitennya sampai USD33 miliar.

&amp;ldquo;Nah, kenapa itu bisa lebih tinggi, karena masalahnya adalah kemampuan dari berbahasa, dari nursing dan sebagainya. Jadi itu bisa kita dorong untuk program vokasi yang memang sedang didorong oleh bapak Presiden dalam pemerintahan ini. Jadi itu adalah kita bilangnya quickwin karena naik USD10 miliar kita mengurangi CAD kita yang kurang lebih USD30 milar,&amp;rdquo; kata Rosan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Presiden Jokowi Minta Masukan Kadin dan Hipmi, Tapi Hanya Tiga Poin
Yang kedua, lanjut Ketua Umum Kadin itu, tentunya adalah kita mendorong pariwisata yang sudah ada sekarang untuk lebih cepat lagi. Ia menyebutkan, perbandingan-perbandingan dengan negara-negara asia lainnya memang kita kurang lebih hampir 15,5 juta orang, kita mendapatkan devisa kirang lebih USD17 miliar, atau kurang lebih USD1.100 per orang. Tapi dibandingkan dengan Thailand yang secara wisatawannya itu lebih hampir 38 juta orang, tetapi pendapatan devisanya kurang lebih sampai USD62 miliar.

&amp;ldquo;Jadi average spendingnya lebih lama, average tinggalnya juga lebih lama. Itu kenapa, salah satunya karena kebijakan maritim. Itu juga yang kita sampaikan,&amp;rdquo; papar Rosan.
Yang ketiga adalah mengenai tekstil. Karena di tengah perang dagang  ini justru tekstil, garmen berdasarkan dari asosiasi juga dari pemain  tekstil mengalami pelonjakan 25-30% tahun ini. Karena itu, bagaimana  mendorong kebijakan dan memanfaatkan kesempatan itu pada saat sekarang.

Kemudian untuk industrialisasi, lanjut Rosan, juga coba didorong  untuk pemerataan. Para pengusaha nasional kita bicarakan kita minta coba  dorong dari akses perbankannya, akses kesempatannya dan insentif apa  saja yang diperlukan. Karena kalau hanya dari 2 tangan saja, istilahnya,  kebijakan fiskal dan moneter mungkin kita bisa bertumbuh tapi hanya  seperti sekarang saja, gitu, 5%.

&amp;ldquo;Mesti ada kebijakan, itu adalah kebijakan reformasi struktural dan  sektor. Ini diharapkan bisa memanfaatkan bonus demografi kita yang saat  ini akan berakhir kurang lebih tahun 2040,&amp;rdquo; ujar Rosan.

Menurut Rosan, itu yang sifatnya mungkin jangka pendek, Ada jangka  mendengah, jangka panjang Para pengurus Kadin dan Hipmi juga bicara  bagaimana melanjutkan reformasi perpajakan, karena juga berkompetisi  dengan negara-negara tetangga. Di satu sisi mungkin produktivitas di  Indonesia masih rendah tapi coba mendorong reformasi perpajakan dari  pemotongan Pajak Penghasilan (PPh) badan.

&quot;Kita sampaikan apakah di level 17%-18% yang sekarang masih di atas  25%. Itu yan kita coba dorong karena tentunya nanti akan ada penurunan  tetapi kita bisa opsi dengan PPN. Jadi, ada masukan-masukan yang  sifatnya  bisa diimplementasikan secara cepat,&amp;rdquo; tutur Rosan.</content:encoded></item></channel></rss>
