<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Uber Uji Coba Layanan Taksi Terbang di Melbourne</title><description>Rencana Uber Technologies dalam menyediakan layanan taksi terbang hampir mendekati kenyataan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/13/320/2065948/uber-uji-coba-layanan-taksi-terbang-di-melbourne</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/06/13/320/2065948/uber-uji-coba-layanan-taksi-terbang-di-melbourne"/><item><title>Uber Uji Coba Layanan Taksi Terbang di Melbourne</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/13/320/2065948/uber-uji-coba-layanan-taksi-terbang-di-melbourne</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/06/13/320/2065948/uber-uji-coba-layanan-taksi-terbang-di-melbourne</guid><pubDate>Kamis 13 Juni 2019 10:37 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/13/320/2065948/uber-uji-coba-layanan-taksi-terbang-di-melbourne-3qLzFIN3L0.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Foto: Ilustrasi Koran Sindo)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/13/320/2065948/uber-uji-coba-layanan-taksi-terbang-di-melbourne-3qLzFIN3L0.jpg</image><title>(Foto: Ilustrasi Koran Sindo)</title></images><description>NEW YORK - Rencana Uber Technologies dalam menyediakan layanan taksi terbang hampir mendekati kenyataan. Perusahaan jaringan transportasi Amerika Serikat (AS) itu akan menjadikan Melbourne sebagai kota pertama uji coba layanan Uber Air pada tahun depan sebelum beroperasi penuh pada 2023. Untuk menaiki mobil yang lepas landas secara vertikal itu, para calon penumpang dapat memesannya melalui aplikasi Uber.
Juru Bicara (Jubir) Uber Eric Allison mengatakan, konsep transportasi ini berpotensi mengurangi tingkat kemacetan yang merugikan ekonomi Australia senilai USD16,5 miliar per tahun. Allison juga mengatakan Uber Air dapat memangkas waktu perjalanan di sekitar Melbourne. &amp;ldquo;Perjalanan dari CBD menuju Bandara Melbourne (19 kilometer) dapat ditempuh dalam jangka waktu 25-60 menit dengan kendaraan roda empat.
Namun, dengan Uber Air, penumpang dapat tiba dalam 10 menit,&amp;rdquo; kata Allison. Selain Melbourne, kota lain yang akan dijadikan tempat uji coba ialah Dallas dan Los Angeles. Politikus Australia Tim Pallas menyambut baik pemilihan tersebut yang menunjukkan Melbourne merupakan kota inovatif.
Baca Juga:&amp;nbsp; Uber Rugi USD1,8 Miliar pada 2018
&amp;ldquo;Kami berharap Uber Air dapat sukses melalui uji coba di Melbourne,&amp;rdquo; kata Pallas, dikutip CNN . Ahli dirgantara dari Universitas RMIT Matthew Marino mengatakan, konsep taksi terbang lebih aman dibanding mobil tanpa pengemudi.
Tidak seperti taksi terbang, mobil tanpa pengemudi telah menghadapi berbagai rintangan, mulai pedestrian hingga kendaraan lain seperti sepeda motor atau trem. Chris de Gruyter dari Pusat Penelitian Urban tidak membantah keunggulan taksi terbang dibanding mobil tanpa pengemudi.
Namun, dia skeptis taksi terbang dapat mengatasi masalah transportasi. Pasalnya, kapasitas taksi terbang sangat rendah. Selain itu, keramahan lingkungan taksi terbang masih diragukan. Sebelumnya, startup asal Jerman, Lilium, telah berhasil melewati uji coba pertama taksi terbang lima kursi dengan skala penuh dan bertenaga listrik. Seperti dilansir the verge.com, taksi terbang tanpa awak rancangan Lilium itu berhasil terbang secara vertikal layaknya helikopter dan melayang sebelum mendarat.
Baca Juga: Bos Baru Uber Mengundurkan Diri karena Terlilit Banyak Masalah
Sama seperti taksi terbang lainnya, rancangan taksi terbang Lilium juga unik. Kabinnya yang berbentuk bulat telur bertengger di atas roda pendarat dengan sepasang sayap paralel mirip pesawat. Sayap itu di lengkapi mesin 36 jet listrik untuk menggerakkan taksi secara vertikal dan horizontal saat di udara.
Taksi terbang itu tidak memiliki ekor, kemudi, baling-baling, atau gigi. Di atas kertas, taksi terbang itu dapat menempuh hingga 300 km dengan kecepatan maksimum 300 km per jam, yang didukung rancangan sayap pesawat era Perang Dunia II.
Statistik itu jauh lebih baik dibanding pesaing lainnya. Kepala Komersial Lilium Remo Gerber mengatakan sayap itu mengurangi konsumsi daya sebesar 10% selama di udara. &amp;ldquo;Kami senang dengan hasil uji coba kali ini. Semuanya berjalan sesuai dengan harapan,&amp;rdquo; ujar Gerber. Setahun sebelumnya, Lilium juga berhasil melalui uji coba serupa, tapi saat itu baru prototipe. Rasio daya hingga berat merupakan pertimbangan paling besar dalam pengembangan taksi terbang bertenaga listrik karena merupakan salah satu inhibitor terbesar.Massa jenis energi atau jumlah energi yang tersimpan di dalam sistem  juga menjadi kunci metrik. Saat ini baterai yang tersedia tidak ada yang  memadai. &amp;ldquo;Untuk mengatasi hal itu, kami menggunakan mesin jet yang  dapat memberikan energi 43 kali lebih banyak daripada baterai,&amp;rdquo; kata  Gerber.
Namun, dia menolak memaparkannya lebih detail. Dia memastikan taksi  terbang itu akan mampu mengangkat lima penumpang dan seorang pilot, juga  sebuah bagasi. Lilium menyatakan, meski full otomatis, taksi terbang  garapan mereka tetap akan diawasi pilot sehingga proses perizinan dari  Lembaga Keamanan Penerbangan Eropa (EASA) dan Lembaga Penerbangan  Federal AS (FAA) juga di harapkan dapat lebih mudah.
Tiket taksi terbang itu direncanakan dijual secara daring. Lilium  memperkirakan harga dari Manhattan ke Bandara Internasional JFK sekitar  USD70 dengan waktu perjalanan 10 menit. Saat ini Blade yang mengklaim  diri sebagai Uber helikopter menawarkan perjalanan serupa dengan  banderol USD195.
Lilium merupakan satu dari 100 lebih pengembang taksi terbang. Boeing  juga berhasil melewati fase pertama uji coba penerbangan taksi terbang  di bandara kecil di luar Washington DC, AS. Suksesnya percobaan tersebut  menjadi sinyal positif bagi Boeing.
Baca Juga: Usai Hengkang dari Asia Tenggara, Uber Beli Perusahaan Penyewaan Sepeda
Mereka berharap ke depan angkutan melayang itu bisa menjadi solusi  transportasi di kota yang kerap dilanda kemacetan parah. Kendati  dibilang sukses, percobaan mobil terbang tersebut belum melibatkan  penumpang atau pilot.
Taksi terbang itu baru mengudara kurang dari satu menit dan tidak  bergerak ke mana pun sebelum kembali mendarat. Boeing juga menolak  mengungkapkan seberapa tinggi taksi terbang itu berada di atas tanah.
Prototipe taksi terbang yang di rancang Boeing memiliki panjang 9  meter dan lebar 8,5 meter. Taksi itu dapat menempuh perjalanan hingga 80  km sebelum kembali ke darat. Seperti diketahui, Boeing merupakan  produsen pesawat berbasis di Amerika Serikat yang memproduksi pesawat  komersial dan militer.
Boeing beserta para pesaingnya, seperti Airbus, meyakini pesawat  kecil yang dapat dikendarai sendiri, yang juga dikenal dengan eVTOL  (electric Vertical Takeoff and Landing ) akan merevolusi transportasi,  terutama di kawasan perkotaan.
Mereka yakin jenis kendaraan itu akan menjadi solusi dalam mengatasi  kemacetan. &amp;ldquo;Boeing menunjukkan gaya produksi mereka dan  memublikasikannya,&amp;rdquo; kata Investor Cyrus Sigari, dikutip cnn.com.
&amp;ldquo;Kegigihan ini menunjukkan Boeing sangat serius mengembangkan moda  transportasi yang dapat memobilisasi pergerakan di wilayah urban. Saya  sangat senang dapat melihat semangat kuat Boeing,&amp;rdquo; katanya.
Eric Bartsch, chief operating officer di VerdeGo Aeuro, pengembang  sistem daya eVTOL, juga memuji kemajuan kendaraan otonom, propulsi  listrik, dan drone sebagai teknologi baru. &amp;ldquo;Kita telah memasuki masa  keemasan inovasi di mana orang-orang mencoba hal baru. Generasi ini  sungguh berbeda,&amp;rdquo; imbuh Bartsch.
(Muh Shamil)</description><content:encoded>NEW YORK - Rencana Uber Technologies dalam menyediakan layanan taksi terbang hampir mendekati kenyataan. Perusahaan jaringan transportasi Amerika Serikat (AS) itu akan menjadikan Melbourne sebagai kota pertama uji coba layanan Uber Air pada tahun depan sebelum beroperasi penuh pada 2023. Untuk menaiki mobil yang lepas landas secara vertikal itu, para calon penumpang dapat memesannya melalui aplikasi Uber.
Juru Bicara (Jubir) Uber Eric Allison mengatakan, konsep transportasi ini berpotensi mengurangi tingkat kemacetan yang merugikan ekonomi Australia senilai USD16,5 miliar per tahun. Allison juga mengatakan Uber Air dapat memangkas waktu perjalanan di sekitar Melbourne. &amp;ldquo;Perjalanan dari CBD menuju Bandara Melbourne (19 kilometer) dapat ditempuh dalam jangka waktu 25-60 menit dengan kendaraan roda empat.
Namun, dengan Uber Air, penumpang dapat tiba dalam 10 menit,&amp;rdquo; kata Allison. Selain Melbourne, kota lain yang akan dijadikan tempat uji coba ialah Dallas dan Los Angeles. Politikus Australia Tim Pallas menyambut baik pemilihan tersebut yang menunjukkan Melbourne merupakan kota inovatif.
Baca Juga:&amp;nbsp; Uber Rugi USD1,8 Miliar pada 2018
&amp;ldquo;Kami berharap Uber Air dapat sukses melalui uji coba di Melbourne,&amp;rdquo; kata Pallas, dikutip CNN . Ahli dirgantara dari Universitas RMIT Matthew Marino mengatakan, konsep taksi terbang lebih aman dibanding mobil tanpa pengemudi.
Tidak seperti taksi terbang, mobil tanpa pengemudi telah menghadapi berbagai rintangan, mulai pedestrian hingga kendaraan lain seperti sepeda motor atau trem. Chris de Gruyter dari Pusat Penelitian Urban tidak membantah keunggulan taksi terbang dibanding mobil tanpa pengemudi.
Namun, dia skeptis taksi terbang dapat mengatasi masalah transportasi. Pasalnya, kapasitas taksi terbang sangat rendah. Selain itu, keramahan lingkungan taksi terbang masih diragukan. Sebelumnya, startup asal Jerman, Lilium, telah berhasil melewati uji coba pertama taksi terbang lima kursi dengan skala penuh dan bertenaga listrik. Seperti dilansir the verge.com, taksi terbang tanpa awak rancangan Lilium itu berhasil terbang secara vertikal layaknya helikopter dan melayang sebelum mendarat.
Baca Juga: Bos Baru Uber Mengundurkan Diri karena Terlilit Banyak Masalah
Sama seperti taksi terbang lainnya, rancangan taksi terbang Lilium juga unik. Kabinnya yang berbentuk bulat telur bertengger di atas roda pendarat dengan sepasang sayap paralel mirip pesawat. Sayap itu di lengkapi mesin 36 jet listrik untuk menggerakkan taksi secara vertikal dan horizontal saat di udara.
Taksi terbang itu tidak memiliki ekor, kemudi, baling-baling, atau gigi. Di atas kertas, taksi terbang itu dapat menempuh hingga 300 km dengan kecepatan maksimum 300 km per jam, yang didukung rancangan sayap pesawat era Perang Dunia II.
Statistik itu jauh lebih baik dibanding pesaing lainnya. Kepala Komersial Lilium Remo Gerber mengatakan sayap itu mengurangi konsumsi daya sebesar 10% selama di udara. &amp;ldquo;Kami senang dengan hasil uji coba kali ini. Semuanya berjalan sesuai dengan harapan,&amp;rdquo; ujar Gerber. Setahun sebelumnya, Lilium juga berhasil melalui uji coba serupa, tapi saat itu baru prototipe. Rasio daya hingga berat merupakan pertimbangan paling besar dalam pengembangan taksi terbang bertenaga listrik karena merupakan salah satu inhibitor terbesar.Massa jenis energi atau jumlah energi yang tersimpan di dalam sistem  juga menjadi kunci metrik. Saat ini baterai yang tersedia tidak ada yang  memadai. &amp;ldquo;Untuk mengatasi hal itu, kami menggunakan mesin jet yang  dapat memberikan energi 43 kali lebih banyak daripada baterai,&amp;rdquo; kata  Gerber.
Namun, dia menolak memaparkannya lebih detail. Dia memastikan taksi  terbang itu akan mampu mengangkat lima penumpang dan seorang pilot, juga  sebuah bagasi. Lilium menyatakan, meski full otomatis, taksi terbang  garapan mereka tetap akan diawasi pilot sehingga proses perizinan dari  Lembaga Keamanan Penerbangan Eropa (EASA) dan Lembaga Penerbangan  Federal AS (FAA) juga di harapkan dapat lebih mudah.
Tiket taksi terbang itu direncanakan dijual secara daring. Lilium  memperkirakan harga dari Manhattan ke Bandara Internasional JFK sekitar  USD70 dengan waktu perjalanan 10 menit. Saat ini Blade yang mengklaim  diri sebagai Uber helikopter menawarkan perjalanan serupa dengan  banderol USD195.
Lilium merupakan satu dari 100 lebih pengembang taksi terbang. Boeing  juga berhasil melewati fase pertama uji coba penerbangan taksi terbang  di bandara kecil di luar Washington DC, AS. Suksesnya percobaan tersebut  menjadi sinyal positif bagi Boeing.
Baca Juga: Usai Hengkang dari Asia Tenggara, Uber Beli Perusahaan Penyewaan Sepeda
Mereka berharap ke depan angkutan melayang itu bisa menjadi solusi  transportasi di kota yang kerap dilanda kemacetan parah. Kendati  dibilang sukses, percobaan mobil terbang tersebut belum melibatkan  penumpang atau pilot.
Taksi terbang itu baru mengudara kurang dari satu menit dan tidak  bergerak ke mana pun sebelum kembali mendarat. Boeing juga menolak  mengungkapkan seberapa tinggi taksi terbang itu berada di atas tanah.
Prototipe taksi terbang yang di rancang Boeing memiliki panjang 9  meter dan lebar 8,5 meter. Taksi itu dapat menempuh perjalanan hingga 80  km sebelum kembali ke darat. Seperti diketahui, Boeing merupakan  produsen pesawat berbasis di Amerika Serikat yang memproduksi pesawat  komersial dan militer.
Boeing beserta para pesaingnya, seperti Airbus, meyakini pesawat  kecil yang dapat dikendarai sendiri, yang juga dikenal dengan eVTOL  (electric Vertical Takeoff and Landing ) akan merevolusi transportasi,  terutama di kawasan perkotaan.
Mereka yakin jenis kendaraan itu akan menjadi solusi dalam mengatasi  kemacetan. &amp;ldquo;Boeing menunjukkan gaya produksi mereka dan  memublikasikannya,&amp;rdquo; kata Investor Cyrus Sigari, dikutip cnn.com.
&amp;ldquo;Kegigihan ini menunjukkan Boeing sangat serius mengembangkan moda  transportasi yang dapat memobilisasi pergerakan di wilayah urban. Saya  sangat senang dapat melihat semangat kuat Boeing,&amp;rdquo; katanya.
Eric Bartsch, chief operating officer di VerdeGo Aeuro, pengembang  sistem daya eVTOL, juga memuji kemajuan kendaraan otonom, propulsi  listrik, dan drone sebagai teknologi baru. &amp;ldquo;Kita telah memasuki masa  keemasan inovasi di mana orang-orang mencoba hal baru. Generasi ini  sungguh berbeda,&amp;rdquo; imbuh Bartsch.
(Muh Shamil)</content:encoded></item></channel></rss>
