<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Agar Tak Menganggur, SMK Harus Ikuti Perkembangan Industri</title><description>Sekolah menengah kejuruan (SMK) harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan kebutuhan industri.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/20/320/2068651/agar-tak-menganggur-smk-harus-ikuti-perkembangan-industri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/06/20/320/2068651/agar-tak-menganggur-smk-harus-ikuti-perkembangan-industri"/><item><title>Agar Tak Menganggur, SMK Harus Ikuti Perkembangan Industri</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/20/320/2068651/agar-tak-menganggur-smk-harus-ikuti-perkembangan-industri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/06/20/320/2068651/agar-tak-menganggur-smk-harus-ikuti-perkembangan-industri</guid><pubDate>Kamis 20 Juni 2019 11:31 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/20/320/2068651/agar-tak-menganggur-smk-harus-ikuti-perkembangan-industri-G7RCzTw77v.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Ist</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/20/320/2068651/agar-tak-menganggur-smk-harus-ikuti-perkembangan-industri-G7RCzTw77v.jpg</image><title>Foto: Ist</title></images><description>JAKARTA - Sekolah menengah kejuruan (SMK) harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan kebutuhan industri. Dengan demikian lulusannya bisa terserap industri.

Pandangan itu disampaikan kalangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) merespons fakta bahwa angka pengangguran lulusan SMK lebih tinggi bila dibandingkan dengan lulusan sekolah menengah atas (SMA).

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga Agustus 2018 sebanyak 7 juta orang menganggur. Dari jumlah tersebut, lulusan SMK mendominasi, yakni sebesar 11,24%, sedangkan lulusan SMA 7,95%. Kondisi ini dianggap ironis karena semestinya lulusan SMK lebih terserap lapangan pekerjaan formal karena secara teoretis mereka telah dibekali keterampilan.

&quot;Tantangan utama bagi tenaga kerja Indonesia adalah ketidaksesuaian sistem pendidikan dengan kebutuhan industri. Untuk itu program link and match sangat membantu sehingga lulusan SMK bisa bekerja sesuai dengan yang dibutuhkan industri,&quot; ujar Wakil Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani di Jakarta.
&amp;nbsp;Baca Juga: Tingkat Pengangguran Tinggi, Metode Pendidikan Vokasi SMK Dipertanyakan
Menurut dia, untuk memenuhi kebutuhan SDM, pihaknya sudah membuat pelatihan vokasi di kawasan industri yang sesuai dengan industri yang bersangkutan. Langkah ini dilakukan demi meningkatkan pengembangan sumber daya manusia dengan lebih banyak skilled labor.

&amp;ldquo;Saat ini ada perubahan dari jenis pekerjaan karena faktor teknologi. Untuk itu diperlukan insentif bagi dunia usaha untuk pengembangan kapasitas SDM. Kami menyambut baik pemerintah yang mengeluarkan super-deductible tax untuk pelatihan. Ini akan sangat membantu untuk mendorong perusahaan melakukan lebih banyak lagi pelatihan, khususnya vokasi,&quot; kata Shinta.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perhubungan Carmelita Hartoto meyakinkan bahwa industri masih membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Hanya saja dia menekankan pentingnya kualitas SDM sesuai dengan kebutuhan industri. &amp;ldquo;Tapi itu tadi, kualitas SMK-nya, didikannya (mesti) mengikuti perkembangan kebutuhan tenaga kerja. Jangan sampai kurikulumnya ketinggalan jauh dengan kebutuhan setiap perusahaan,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Kurikulum SMK Tidak Menghasilkan Lulusan untuk Kerja
Pengamat pendidikan dari UPI Said Hamid Hasan sepakat, banyaknya angka pengangguran tingkat SMK ini karena banyak program SMK yang tidak sesuai dengan kebutuhan dunia industri di sekitarnya. Selain itu karena banyak program SMK yang tidak memiliki peralatan yang tidak lagi digunakan dunia industri.

&amp;ldquo;Sehingga mereka terampil, tapi bukan menguasai keterampilan yang diperlukan dunia industri. Kondisi ini juga terjadi karena SMK tidak lagi dalam program kerja sama dengan dunia industri sehingga jumlah lulusan tidak sesuai dengan kebutuhan industri,&amp;rdquo; ujar dia.

Solusi yang bisa dilakukan pemerintah, lanjutnya, ialah jika mau membuka suatu program SMK, terlebih dulu harus ada pernyataan dunia industri mengenai kebutuhan tenaga yang akan dihasilkan. Selain itu kurikulum SMK yang dibuat haruslah model market driven curriculum yang dikembangkan bersama dengan dunia industri.
Pengamat pendidikan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta Alif  Muarifah menganggap banyaknya pengangguran lulusan SMK memang berdasar.  Dia menyebut pihaknya sudah melakukan riset di sekolah-sekolah berkaitan  dengan hal tersebut. &quot;Hasil riset kami ternyata anak-anak masih bisa  berubah minat setelah duduk di bangku kelas 11 atau kelas 2 SLTA,&quot;  terangnya kepada KORAN SINDO tadi malam.

Dijelaskannya, tes minat bakat yang diberikan di SMP saat kelas akhir  masih terlalu dini. Seharusnya di usia 16 tahun tes minat bakat baru  diberikan. &quot;Namun bisa juga persoalan lulusan SMK ini karena proses  pembelajaran di sekolah yang tidak sesuai dengan kebutuhan dunia usaha.  Seharusnya SMK melihat kebutuhan pasar dan akan berubah mengikuti  pasar,&quot; tandanya.

Di sisi lain peran guru juga sangat penting. Begitu juga dengan  kurikulum dan laboratorium yang harus siap. &quot;Kompetensi guru harus  selalu ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan pasar. Jangan sampai ketika  siswa dituntut mengelas yang baik, tapi mereka tidak diajari cara  mengelas yang baik. Ini persoalan kompetensi guru,&quot; beber pengajar  Fakultas Psikologi UAD ini.

Selain itu dia juga menyinggung soft skill anak dan peran orang tua  untuk mendukung mereka menjadi pribadi tangguh dan siap kerja. Hal itu  lantaran saat ini generasi milenial menjadi generasi yang cenderung  manja.

Sebelumnya temuan BPS tentang besarnya pengangguran dari kalangan  lulusan SMK memicu keprihatinan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional  (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang  Brodjonegoro. &quot;Indonesia memang ada logika yang terbalik. Tingkat  pengangguran lulusan SMK mendominasi pengangguran nasional. Tingkat  pengangguran SMK lebih tinggi daripada (pengangguran tingkat) SMA. Ini  terbalik,&quot; kata Bambang saat ditemui di JIExpo Kemayoran, Jakarta,  (3/4).

Dalam pandangannya, lulusan SMK seharusnya memiliki peluang kerja  yang lebih besar daripada lulusan SMA. Sebab pendidikan SMK merupakan  pendidikan vokasi, yakni mempersiapkan siswa untuk bekerja ketika lulus.  Berdasar data tersebut, dia menilai ada kesalahan dari sistem  pendidikan vokasi. Hal ini yang membuat pemerintah sedang mendorong  perbaikan pendidikan vokasi.

Sementara itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir  Effendy menandaskan, kalau merujuk pada laporan BPS per Februari 2019,  di sana dinyatakan bahwa jumlah pengangguran SMK telah mengalami  penurunan cukup tajam. &amp;ldquo;Saya kira hal tersebut merupakan dampak dari  implementasi Inpres No 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK yang mulai  digulirkan 2 tahun terakhir ini. Justru (dari laporan BPS) tamatan  diploma dan universitas mengalami kenaikan (tingkat penganggurannya),&amp;rdquo;  katanya kepada KORAN SINDO.
Mendikbud menyampaikan, kalaupun ada data yang menunjukkan angka   pengangguran SMK paling tinggi bila dibandingkan dengan pengangguran   pada jenjang pendidikan yang lain, hal itu dikarenakan jumlah tamatan   SMK memang paling besar bila dibandingkan dengan tamatan dari jenis dan   jenjang pendidikan yang lain.

Dari data Kemendikbud, berdasarkan Instruksi Presiden No 9 Tahun 2016   tentang Revitalisasi SMK dalam rangka peningkatan sumber daya manusia   Indonesia, pemerintah melalui Kemendikbud menerapkan lima langkah   strategi revitalisasi SMK.

Lima langkah tersebut adalah membuat peta jalan pengembangan SMK,   mengembangkan dan menyelaraskan kurikulum, memberikan pemenuhan guru   kejuruan dengan pelaksanaan Program Keahlian Ganda, meningkatkan kerja   sama sekolah dengan dunia usaha, industri, serta perguruan tinggi, dan   meningkatkan akses sertifikasi lulusan SMK dan akreditasi SMK.

Mengingat revitalisasi SMK sebagai salah satu program prioritas   pemerintah, Kemendikbud telah merevitalisasi sebanyak 147 SMK   Pariwisata, 312 SMK Pertanian, dan 219 SMK Kemaritiman. Selain itu saat   ini terdapat 2.700 SMK yang telah bekerja sama dengan dunia usaha dan   dunia industri (DUDI) serta 870 SMK telah melakukan teaching factory dan   technopark.

Guru besar Universitas Negeri Malang itu menjelaskan, fokus program   revitalisasi SMK tahun ini ialah pemerintah akan mengurangi   program-program keterampilan yang sudah jenuh. Selain itu prioritas   revitalisasi SMK juga akan dikembangkan untuk wilayah pengembangan   industri atau kawasan khusus yang saat ini sedang gencar dibangun   pemerintah.

&amp;ldquo;Khususnya kawasan industri khusus yang baru, kawasan destinasi   wisata, sentra-sentra pertanian pangan industri dan hortikultura, lalu   pusat budi daya dan pengolahan hasil laut,&amp;rdquo; sebutnya.

Belajar dari Negara Maju

Pendidikan kejuruan di Finlandia dapat menjadi contoh sukses dalam    mengurangi jumlah pengangguran pemuda. Sejumlah negara telah berhasil    menjadikan pendidikan kejuruan sebagai salah satu tulang punggung    perekonomian. Finlandia selama dekade terakhir telah membuat sekolah    kejuruan semakin populer.

Menurut Direktur Kemitraan Pendidikan Omnia Mervi Jansson, lembaga    pendidikan kejuruan dengan 10.000 pelajar menjadi cara sistematis    Finlandia memperbaiki kualitas pendidikan kejuruan. Saat ini lebih dari    50% pemuda Finlandia memiliki program kejuruan dan lebih kompetitif   bila  dibandingkan dengan pendidikan umum. &amp;ldquo;Musim semi lalu, 70%   pendaftar  pendidikan kejuruan telah sukses bila dibandingkan dengan 94%   pendidikan  umum,&amp;rdquo; ungkap Jansson.
Salah satu alasan tingginya pengangguran pemuda di berbagai penjuru     dunia adalah semakin tidak sesuainya antara suplai dan permintaan  untuk    skill. Di banyak negara Afrika, ada kelebihan suplai lulusan  ilmu   sosial  dan bisnis, tapi kekurangan suplai lulusan teknik, sains,  dan   teknisi.  Kurangnya skill itu di dalam negeri membuat sejumlah  negara   tergantung  pada buruh asing untuk mengisi permintaan tenaga  kerja   dengan skill  teknik.

Pendidikan kejuruan menghasilkan transisi lebih cepat ke tempat     kerja. Sejumlah negara telah memiliki target itu dalam kurikulum     pendidikan kejuruannya seperti Jerman, Swiss, Austria, Belanda. Empat     negara itu berhasil menjaga tingkat pengangguran pemuda tetap rendah     dengan pendidikan kejuruan yang berorientasi kerja.

&amp;ldquo;Di Jerman, sebanyak 80% tenaga kerja memiliki pelatihan skill resmi.     Adapun di India, hanya 2,3% tenaga kerja yang memiliki pelatihan   skill   resmi. Kondisi itu menunjukkan tantangan yang dihadapi India   karena   kekurangan jumlah tenaga kerja dengan skill kejuruan,&amp;rdquo; papar   laporan   yang dirilis grup City and Guilds itu.
Di Amerika Serikat, pemerintah menggelar National Apprenticeship Week   yang bertujuan meningkatkan citra pelatihan kejuruan. Saat ini ada   sekitar 410.000 pelajar kejuruan di AS, kurang dari setengah di Inggris.   Di Inggris, citra pendidikan kejuruan semakin baik sehingga peminatnya   sangat banyak. Inggris menargetkan memiliki 3 juta pelajar kejuruan   dengan sejumlah skill yang bermanfaat bagi ekonomi Inggris dalam jangka   panjang, termasuk memangkas pengangguran dan mendorong produktivitas.

Austria menjadi negara terbagus di Eropa yang mendorong pemuda   menempuh pendidikan kejuruan. Studi menunjukkan langkah ini menjadi   kunci mengurangi pengangguran pemuda di Austria.

Austria dan Jerman yang sangat tinggi jumlah siswa kejuruannya   memiliki angka pengangguran terendah untuk pemuda berumur di bawah 25   tahun. Ini menunjukkan program pendidikan kejuruan di negara itu telah   sukses.

&amp;ldquo;Di berbagai penjuru dunia, pemerintah dan bisnis sadar tentang   pentingnya pendidikan kejuruan sesuai lapangan kerja. Meski demikian ada   stigma lama yang menolak pendidikan kejuruan. Untuk menjadi kompetitif   di masa depan, pemerintah perlu berpikir tentang strategi pendidikan   mereka dalam konteks gambar lebih besar. Mereka perlu berpikir tentang   ke mana ekonomi mereka bergerak dan siapa yang mereka perlukan untuk   membantu ke sana dan bagaimana memenuhi kebutuhan masa depan dengan   suplai tenaga kerja sekarang,&amp;rdquo; ungkap Chief Executive City and Guilds   Group Chris Jones. (Neneng Zubaidah/Syarifuddin/Oktiani Endarwati/Ichsan   Amin/Suharjono)</description><content:encoded>JAKARTA - Sekolah menengah kejuruan (SMK) harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan kebutuhan industri. Dengan demikian lulusannya bisa terserap industri.

Pandangan itu disampaikan kalangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) merespons fakta bahwa angka pengangguran lulusan SMK lebih tinggi bila dibandingkan dengan lulusan sekolah menengah atas (SMA).

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga Agustus 2018 sebanyak 7 juta orang menganggur. Dari jumlah tersebut, lulusan SMK mendominasi, yakni sebesar 11,24%, sedangkan lulusan SMA 7,95%. Kondisi ini dianggap ironis karena semestinya lulusan SMK lebih terserap lapangan pekerjaan formal karena secara teoretis mereka telah dibekali keterampilan.

&quot;Tantangan utama bagi tenaga kerja Indonesia adalah ketidaksesuaian sistem pendidikan dengan kebutuhan industri. Untuk itu program link and match sangat membantu sehingga lulusan SMK bisa bekerja sesuai dengan yang dibutuhkan industri,&quot; ujar Wakil Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani di Jakarta.
&amp;nbsp;Baca Juga: Tingkat Pengangguran Tinggi, Metode Pendidikan Vokasi SMK Dipertanyakan
Menurut dia, untuk memenuhi kebutuhan SDM, pihaknya sudah membuat pelatihan vokasi di kawasan industri yang sesuai dengan industri yang bersangkutan. Langkah ini dilakukan demi meningkatkan pengembangan sumber daya manusia dengan lebih banyak skilled labor.

&amp;ldquo;Saat ini ada perubahan dari jenis pekerjaan karena faktor teknologi. Untuk itu diperlukan insentif bagi dunia usaha untuk pengembangan kapasitas SDM. Kami menyambut baik pemerintah yang mengeluarkan super-deductible tax untuk pelatihan. Ini akan sangat membantu untuk mendorong perusahaan melakukan lebih banyak lagi pelatihan, khususnya vokasi,&quot; kata Shinta.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perhubungan Carmelita Hartoto meyakinkan bahwa industri masih membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Hanya saja dia menekankan pentingnya kualitas SDM sesuai dengan kebutuhan industri. &amp;ldquo;Tapi itu tadi, kualitas SMK-nya, didikannya (mesti) mengikuti perkembangan kebutuhan tenaga kerja. Jangan sampai kurikulumnya ketinggalan jauh dengan kebutuhan setiap perusahaan,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Kurikulum SMK Tidak Menghasilkan Lulusan untuk Kerja
Pengamat pendidikan dari UPI Said Hamid Hasan sepakat, banyaknya angka pengangguran tingkat SMK ini karena banyak program SMK yang tidak sesuai dengan kebutuhan dunia industri di sekitarnya. Selain itu karena banyak program SMK yang tidak memiliki peralatan yang tidak lagi digunakan dunia industri.

&amp;ldquo;Sehingga mereka terampil, tapi bukan menguasai keterampilan yang diperlukan dunia industri. Kondisi ini juga terjadi karena SMK tidak lagi dalam program kerja sama dengan dunia industri sehingga jumlah lulusan tidak sesuai dengan kebutuhan industri,&amp;rdquo; ujar dia.

Solusi yang bisa dilakukan pemerintah, lanjutnya, ialah jika mau membuka suatu program SMK, terlebih dulu harus ada pernyataan dunia industri mengenai kebutuhan tenaga yang akan dihasilkan. Selain itu kurikulum SMK yang dibuat haruslah model market driven curriculum yang dikembangkan bersama dengan dunia industri.
Pengamat pendidikan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta Alif  Muarifah menganggap banyaknya pengangguran lulusan SMK memang berdasar.  Dia menyebut pihaknya sudah melakukan riset di sekolah-sekolah berkaitan  dengan hal tersebut. &quot;Hasil riset kami ternyata anak-anak masih bisa  berubah minat setelah duduk di bangku kelas 11 atau kelas 2 SLTA,&quot;  terangnya kepada KORAN SINDO tadi malam.

Dijelaskannya, tes minat bakat yang diberikan di SMP saat kelas akhir  masih terlalu dini. Seharusnya di usia 16 tahun tes minat bakat baru  diberikan. &quot;Namun bisa juga persoalan lulusan SMK ini karena proses  pembelajaran di sekolah yang tidak sesuai dengan kebutuhan dunia usaha.  Seharusnya SMK melihat kebutuhan pasar dan akan berubah mengikuti  pasar,&quot; tandanya.

Di sisi lain peran guru juga sangat penting. Begitu juga dengan  kurikulum dan laboratorium yang harus siap. &quot;Kompetensi guru harus  selalu ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan pasar. Jangan sampai ketika  siswa dituntut mengelas yang baik, tapi mereka tidak diajari cara  mengelas yang baik. Ini persoalan kompetensi guru,&quot; beber pengajar  Fakultas Psikologi UAD ini.

Selain itu dia juga menyinggung soft skill anak dan peran orang tua  untuk mendukung mereka menjadi pribadi tangguh dan siap kerja. Hal itu  lantaran saat ini generasi milenial menjadi generasi yang cenderung  manja.

Sebelumnya temuan BPS tentang besarnya pengangguran dari kalangan  lulusan SMK memicu keprihatinan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional  (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang  Brodjonegoro. &quot;Indonesia memang ada logika yang terbalik. Tingkat  pengangguran lulusan SMK mendominasi pengangguran nasional. Tingkat  pengangguran SMK lebih tinggi daripada (pengangguran tingkat) SMA. Ini  terbalik,&quot; kata Bambang saat ditemui di JIExpo Kemayoran, Jakarta,  (3/4).

Dalam pandangannya, lulusan SMK seharusnya memiliki peluang kerja  yang lebih besar daripada lulusan SMA. Sebab pendidikan SMK merupakan  pendidikan vokasi, yakni mempersiapkan siswa untuk bekerja ketika lulus.  Berdasar data tersebut, dia menilai ada kesalahan dari sistem  pendidikan vokasi. Hal ini yang membuat pemerintah sedang mendorong  perbaikan pendidikan vokasi.

Sementara itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir  Effendy menandaskan, kalau merujuk pada laporan BPS per Februari 2019,  di sana dinyatakan bahwa jumlah pengangguran SMK telah mengalami  penurunan cukup tajam. &amp;ldquo;Saya kira hal tersebut merupakan dampak dari  implementasi Inpres No 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK yang mulai  digulirkan 2 tahun terakhir ini. Justru (dari laporan BPS) tamatan  diploma dan universitas mengalami kenaikan (tingkat penganggurannya),&amp;rdquo;  katanya kepada KORAN SINDO.
Mendikbud menyampaikan, kalaupun ada data yang menunjukkan angka   pengangguran SMK paling tinggi bila dibandingkan dengan pengangguran   pada jenjang pendidikan yang lain, hal itu dikarenakan jumlah tamatan   SMK memang paling besar bila dibandingkan dengan tamatan dari jenis dan   jenjang pendidikan yang lain.

Dari data Kemendikbud, berdasarkan Instruksi Presiden No 9 Tahun 2016   tentang Revitalisasi SMK dalam rangka peningkatan sumber daya manusia   Indonesia, pemerintah melalui Kemendikbud menerapkan lima langkah   strategi revitalisasi SMK.

Lima langkah tersebut adalah membuat peta jalan pengembangan SMK,   mengembangkan dan menyelaraskan kurikulum, memberikan pemenuhan guru   kejuruan dengan pelaksanaan Program Keahlian Ganda, meningkatkan kerja   sama sekolah dengan dunia usaha, industri, serta perguruan tinggi, dan   meningkatkan akses sertifikasi lulusan SMK dan akreditasi SMK.

Mengingat revitalisasi SMK sebagai salah satu program prioritas   pemerintah, Kemendikbud telah merevitalisasi sebanyak 147 SMK   Pariwisata, 312 SMK Pertanian, dan 219 SMK Kemaritiman. Selain itu saat   ini terdapat 2.700 SMK yang telah bekerja sama dengan dunia usaha dan   dunia industri (DUDI) serta 870 SMK telah melakukan teaching factory dan   technopark.

Guru besar Universitas Negeri Malang itu menjelaskan, fokus program   revitalisasi SMK tahun ini ialah pemerintah akan mengurangi   program-program keterampilan yang sudah jenuh. Selain itu prioritas   revitalisasi SMK juga akan dikembangkan untuk wilayah pengembangan   industri atau kawasan khusus yang saat ini sedang gencar dibangun   pemerintah.

&amp;ldquo;Khususnya kawasan industri khusus yang baru, kawasan destinasi   wisata, sentra-sentra pertanian pangan industri dan hortikultura, lalu   pusat budi daya dan pengolahan hasil laut,&amp;rdquo; sebutnya.

Belajar dari Negara Maju

Pendidikan kejuruan di Finlandia dapat menjadi contoh sukses dalam    mengurangi jumlah pengangguran pemuda. Sejumlah negara telah berhasil    menjadikan pendidikan kejuruan sebagai salah satu tulang punggung    perekonomian. Finlandia selama dekade terakhir telah membuat sekolah    kejuruan semakin populer.

Menurut Direktur Kemitraan Pendidikan Omnia Mervi Jansson, lembaga    pendidikan kejuruan dengan 10.000 pelajar menjadi cara sistematis    Finlandia memperbaiki kualitas pendidikan kejuruan. Saat ini lebih dari    50% pemuda Finlandia memiliki program kejuruan dan lebih kompetitif   bila  dibandingkan dengan pendidikan umum. &amp;ldquo;Musim semi lalu, 70%   pendaftar  pendidikan kejuruan telah sukses bila dibandingkan dengan 94%   pendidikan  umum,&amp;rdquo; ungkap Jansson.
Salah satu alasan tingginya pengangguran pemuda di berbagai penjuru     dunia adalah semakin tidak sesuainya antara suplai dan permintaan  untuk    skill. Di banyak negara Afrika, ada kelebihan suplai lulusan  ilmu   sosial  dan bisnis, tapi kekurangan suplai lulusan teknik, sains,  dan   teknisi.  Kurangnya skill itu di dalam negeri membuat sejumlah  negara   tergantung  pada buruh asing untuk mengisi permintaan tenaga  kerja   dengan skill  teknik.

Pendidikan kejuruan menghasilkan transisi lebih cepat ke tempat     kerja. Sejumlah negara telah memiliki target itu dalam kurikulum     pendidikan kejuruannya seperti Jerman, Swiss, Austria, Belanda. Empat     negara itu berhasil menjaga tingkat pengangguran pemuda tetap rendah     dengan pendidikan kejuruan yang berorientasi kerja.

&amp;ldquo;Di Jerman, sebanyak 80% tenaga kerja memiliki pelatihan skill resmi.     Adapun di India, hanya 2,3% tenaga kerja yang memiliki pelatihan   skill   resmi. Kondisi itu menunjukkan tantangan yang dihadapi India   karena   kekurangan jumlah tenaga kerja dengan skill kejuruan,&amp;rdquo; papar   laporan   yang dirilis grup City and Guilds itu.
Di Amerika Serikat, pemerintah menggelar National Apprenticeship Week   yang bertujuan meningkatkan citra pelatihan kejuruan. Saat ini ada   sekitar 410.000 pelajar kejuruan di AS, kurang dari setengah di Inggris.   Di Inggris, citra pendidikan kejuruan semakin baik sehingga peminatnya   sangat banyak. Inggris menargetkan memiliki 3 juta pelajar kejuruan   dengan sejumlah skill yang bermanfaat bagi ekonomi Inggris dalam jangka   panjang, termasuk memangkas pengangguran dan mendorong produktivitas.

Austria menjadi negara terbagus di Eropa yang mendorong pemuda   menempuh pendidikan kejuruan. Studi menunjukkan langkah ini menjadi   kunci mengurangi pengangguran pemuda di Austria.

Austria dan Jerman yang sangat tinggi jumlah siswa kejuruannya   memiliki angka pengangguran terendah untuk pemuda berumur di bawah 25   tahun. Ini menunjukkan program pendidikan kejuruan di negara itu telah   sukses.

&amp;ldquo;Di berbagai penjuru dunia, pemerintah dan bisnis sadar tentang   pentingnya pendidikan kejuruan sesuai lapangan kerja. Meski demikian ada   stigma lama yang menolak pendidikan kejuruan. Untuk menjadi kompetitif   di masa depan, pemerintah perlu berpikir tentang strategi pendidikan   mereka dalam konteks gambar lebih besar. Mereka perlu berpikir tentang   ke mana ekonomi mereka bergerak dan siapa yang mereka perlukan untuk   membantu ke sana dan bagaimana memenuhi kebutuhan masa depan dengan   suplai tenaga kerja sekarang,&amp;rdquo; ungkap Chief Executive City and Guilds   Group Chris Jones. (Neneng Zubaidah/Syarifuddin/Oktiani Endarwati/Ichsan   Amin/Suharjono)</content:encoded></item></channel></rss>
