<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BI Pelajari Uang Digital Libra Milik Facebook</title><description>Peluncuran Libra ini tak ayal membuat sejumlah negara, termasuk Indonesia, pun berancang-ancang untuk menyiapkan kebijakan anyar</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/24/20/2070072/bi-pelajari-uang-digital-libra-milik-facebook</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/06/24/20/2070072/bi-pelajari-uang-digital-libra-milik-facebook"/><item><title>BI Pelajari Uang Digital Libra Milik Facebook</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/24/20/2070072/bi-pelajari-uang-digital-libra-milik-facebook</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/06/24/20/2070072/bi-pelajari-uang-digital-libra-milik-facebook</guid><pubDate>Senin 24 Juni 2019 10:15 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/24/20/2070072/bi-pelajari-uang-digital-libra-milik-facebook-CTNL6LnFhf.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bank Indonesia (Foto: BI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/24/20/2070072/bi-pelajari-uang-digital-libra-milik-facebook-CTNL6LnFhf.jpg</image><title>Bank Indonesia (Foto: BI)</title></images><description>SAN FRANCISCO &amp;ndash; Mata uang digital (cryptocurrencies) tak henti bermunculan meski keabsahannya masih menjadi kontroversi. Produk uang digital terakhir adalah Libra yang diciptakan oleh perusahaan raksasa jejaring sosial Facebook Inc.
Kehadiran Libra membuat mata uang kripto makin populer di dunia. Facebook pun sangat ambisius untuk meluncurkan mata uang ini. Pekan lalu Facebook telah mengenalkan Libra ini ke publik.
Pada semester pertama 2020 ditargetkan seluruh sistem mata uang digital ini bisa berjalan secara global. Status Facebook sebagai raksasa Silicon Valley dengan miliaran pengguna di berbagai penjuru dunia diyakini dapat membantu melegitimasi pasar mata uang kripto yang selama ini sangat kecil dan labil.
Peluncuran Libra ini tak ayal membuat sejumlah negara, termasuk Indonesia, pun berancang-ancang untuk menyiapkan kebijakan anyar. Hingga saat ini Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa uang yang sah dan di akui oleh undang-undang (UU) untuk alat pembayaran adalah Rupiah.
Dengan demikian, kendati mata uang digital seperti bitcoin, litecoin, ethereum sudah banyak dipakai untuk transaksi sebagian masyarakat Indonesia, hal itu sifatnya ilegal. Namun kehadiran Libra oleh Facebook ini membuat BI hati-hati melangkah.
Baca Juga: Saham Facebook Turun Pasca-Luncurkan Mata Uang Digital Libra
BI tidak tegas menolak, tetapi juga tidak ingin gegabah. Saat ini BI masih mempelajari fitur-fitur Libra secara menyeluruh dan mengkaji berbagai perkembangan.
&amp;ldquo;Libra itu punya fitur-fitur yang tentu saja harus kita studi lebih lanjut. Nantinya dari hasil kajian akan kami berikan statemen teknikalnya,&amp;rdquo; ujar Gubernur BI Perry War jiyo.
Dia menandaskan, BI adalah lembaga negara yang diamanatkan oleh UU untuk mengatur alat pembayaran yang sah di Indonesia. Untuk itu seluruh masyarakat diminta tunduk mengikuti peraturan BI.
&amp;ldquo;Kami tegaskan bahwa alat pembayaran yang sah di Indonesia adalah rupiah dan lembaga negara yang ditunjuk serta di mandatkan oleh UU adalah BI. Itu prinsip dasar,&amp;rdquo; terangnya.
Tak hanya Indonesia, Amerika Serikat (AS) juga mendesak Facebook segera memberi penjelasan ke Kongres. Desakan ini antara lain disampaikan anggota parlemen AS Maxine Waters yang memimpin Komisi Jasa Keuangan.  Dia meminta Facebook menghentikan pengembangan Libra hingga para anggota parlemen dan regulator meninjau ulang proyek itu.
Baca Juga: Facebook Luncurkan Mata Uang Digital Bernama Libra
&amp;ldquo;Facebook jelas melanjutkan perluasan tanpa pemeriksaan dan memperluas jangkauan pada kehidupan para penggunanya,&amp;rdquo; kata Waters seperti dilansir Reuters.
Regulator lain, para anggota parlemen dan pejabat pemerintah di berbagai penjuru dunia juga segera mengeluarkan komentar kritis. Kementerian Keuangan Prancis meminta ke pala bank sentral dari negara-negara G-7 untuk menulis laporan tentang proyek itu pada pertengahan Juli nanti.
Regulator Global Perlu Merespons
Perwakilan Facebook menyatakan perusahaan siap menjawab berbagai pertanyaan dari anggota parlemen. Kevin Weil yang mengelola produk untuk inisiatif Libra menjelaskan, Facebook berharap rencana ini dapat mengumpulkan para regulator global untuk membahasnya.
&amp;ldquo;Ini memberi kita dasar untuk melangkah dan memiliki percakapan produktif dengan para regulator di berbagai penjuru dunia. Kami ingin melakukan itu,&amp;rdquo; papar dia.
Kepala proyek Libra untuk Facebook David Marcus mengungkapkan nama Libra diambil dari timbangan berat Roma atau tanda astrologi untuk keadilan. Dalam bahasa Prancis Libra juga berarti untuk kebebasan.
&amp;ldquo;Kebebasan, keadilan, dan uang, itu tepatnya apa yang kami coba lakukan di sini,&amp;rdquo; terang Marcus.Co-founder Facebook Chris Hughes juga menyatakan Libra akan  menyerahkan sebagian besar kontrol kebijakan moneter dari bank sentral  ke perusahaan privat.
&amp;ldquo;Jika regulator global tidak bertindak sekarang, ini dapat sangat  segera, jadi terlalu terlambat,&amp;rdquo; papar Hughes dalam artikel opini di  Financial Times. Dia menjelaskan, korporasi yang akan mengawasi mata  uang baru akan menempatkan kepentingan privat mereka, yakni laba dan  pengaruh, di atas kepentingan publik.
Kehadiran Libra memang lebih istimewa. Selain diinisiasi Facebook,  Libra juga meng gandeng sekitar 28 mitra seperti Mastercard,  PayPal,Uber, Visa, Spotify, eBay, Vodafone, serta per usahaan venture  capital Andrees sen Horowitz.
Mitra ini akan membentuk Libra Association, lembaga di Jenewa yang  mengelola koin digital baru itu. Belum ada perbankan yang terlibat dalam  grup tersebut. Untuk memfasilitasi transaksi, Facebook juga menciptakan  Calibra, anak usaha yang akan menawarkan dompet digital guna menabung,  transfer, dan membelanjakan Libra.
Calibra akan terhubung dengan platform pesan Facebook, yakni  Messenger dan WhatsApp. Para eksekutif Facebook dan mi tra terkait Libra  berharap pro yek ini tidak hanya akan memperkuat transaksi antara  konsumen dan bisnis global, tapi menawarkan akses kepada para konsumen  yang belum tersentuh perbankan untuk mendapat layanan keuangan pertama  kali.
Facebook juga berharap Libra dapat mengalirkan lebih banyak  pendapatan dari berbagai aplikasi yang sudah ada seperti yang sudah  dilakukan jejaring sosial asal China WeChat.
Belum Bisa Diterapkan
Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah memandang, dalam jangka  pendek dan menengah ini, uang kripto termasuk Libra kemungkinan belum  akan mendapatkan tempat sebagai alat pembayaran di pasar Indonesia. Ini  karena terbentur dengan regulasi.
Menurut dia, izin oleh Bappebti hanya dalam konteks uang kripto  sebagai komoditas, bukan sebagai alat pembayaran. Dengan tidak diakuinya  sebagai alat pembayaran, posisi semua uang kripto sangat terbatas,  yakni hanya untuk investasi yang benar-benar bersifat spekulatif penuh  dengan risiko.
&amp;ldquo;Daya tariknya hanya pada tawaran return yang tinggi. High risk high return,&amp;rdquo; ungkapnya.
Ekonom Indef Bhima Yudhistira menilai regulasi mata uang digital  memang belum ada di Indonesia.Namun mlihat manfaat dari sisi kecepatan  transaksi dan mendukung bisnis digital, bukan tidak mungkin Indonesia  pada akhirnya akan mengakui Libra.
&amp;ldquo;Otoritas moneter mungkin wait and see dulu,&amp;rdquo; katanya.
Jika sudah sustainable dan risikonya bisa di petakan, cepat atau  lambat Libra mulai masuk ke platform di Indonesia. Berbeda dengan  bitcoin yang sering dijadikan alat transaksi ilegal, Libra milik  Facebook ini harapannya bisa bekerja sama dengan BI untuk standardisasi  keamanan dan transparansi proses transaksi. &amp;ldquo;Jadi lebih bisa diterima,&amp;ldquo;  tandas dia.</description><content:encoded>SAN FRANCISCO &amp;ndash; Mata uang digital (cryptocurrencies) tak henti bermunculan meski keabsahannya masih menjadi kontroversi. Produk uang digital terakhir adalah Libra yang diciptakan oleh perusahaan raksasa jejaring sosial Facebook Inc.
Kehadiran Libra membuat mata uang kripto makin populer di dunia. Facebook pun sangat ambisius untuk meluncurkan mata uang ini. Pekan lalu Facebook telah mengenalkan Libra ini ke publik.
Pada semester pertama 2020 ditargetkan seluruh sistem mata uang digital ini bisa berjalan secara global. Status Facebook sebagai raksasa Silicon Valley dengan miliaran pengguna di berbagai penjuru dunia diyakini dapat membantu melegitimasi pasar mata uang kripto yang selama ini sangat kecil dan labil.
Peluncuran Libra ini tak ayal membuat sejumlah negara, termasuk Indonesia, pun berancang-ancang untuk menyiapkan kebijakan anyar. Hingga saat ini Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa uang yang sah dan di akui oleh undang-undang (UU) untuk alat pembayaran adalah Rupiah.
Dengan demikian, kendati mata uang digital seperti bitcoin, litecoin, ethereum sudah banyak dipakai untuk transaksi sebagian masyarakat Indonesia, hal itu sifatnya ilegal. Namun kehadiran Libra oleh Facebook ini membuat BI hati-hati melangkah.
Baca Juga: Saham Facebook Turun Pasca-Luncurkan Mata Uang Digital Libra
BI tidak tegas menolak, tetapi juga tidak ingin gegabah. Saat ini BI masih mempelajari fitur-fitur Libra secara menyeluruh dan mengkaji berbagai perkembangan.
&amp;ldquo;Libra itu punya fitur-fitur yang tentu saja harus kita studi lebih lanjut. Nantinya dari hasil kajian akan kami berikan statemen teknikalnya,&amp;rdquo; ujar Gubernur BI Perry War jiyo.
Dia menandaskan, BI adalah lembaga negara yang diamanatkan oleh UU untuk mengatur alat pembayaran yang sah di Indonesia. Untuk itu seluruh masyarakat diminta tunduk mengikuti peraturan BI.
&amp;ldquo;Kami tegaskan bahwa alat pembayaran yang sah di Indonesia adalah rupiah dan lembaga negara yang ditunjuk serta di mandatkan oleh UU adalah BI. Itu prinsip dasar,&amp;rdquo; terangnya.
Tak hanya Indonesia, Amerika Serikat (AS) juga mendesak Facebook segera memberi penjelasan ke Kongres. Desakan ini antara lain disampaikan anggota parlemen AS Maxine Waters yang memimpin Komisi Jasa Keuangan.  Dia meminta Facebook menghentikan pengembangan Libra hingga para anggota parlemen dan regulator meninjau ulang proyek itu.
Baca Juga: Facebook Luncurkan Mata Uang Digital Bernama Libra
&amp;ldquo;Facebook jelas melanjutkan perluasan tanpa pemeriksaan dan memperluas jangkauan pada kehidupan para penggunanya,&amp;rdquo; kata Waters seperti dilansir Reuters.
Regulator lain, para anggota parlemen dan pejabat pemerintah di berbagai penjuru dunia juga segera mengeluarkan komentar kritis. Kementerian Keuangan Prancis meminta ke pala bank sentral dari negara-negara G-7 untuk menulis laporan tentang proyek itu pada pertengahan Juli nanti.
Regulator Global Perlu Merespons
Perwakilan Facebook menyatakan perusahaan siap menjawab berbagai pertanyaan dari anggota parlemen. Kevin Weil yang mengelola produk untuk inisiatif Libra menjelaskan, Facebook berharap rencana ini dapat mengumpulkan para regulator global untuk membahasnya.
&amp;ldquo;Ini memberi kita dasar untuk melangkah dan memiliki percakapan produktif dengan para regulator di berbagai penjuru dunia. Kami ingin melakukan itu,&amp;rdquo; papar dia.
Kepala proyek Libra untuk Facebook David Marcus mengungkapkan nama Libra diambil dari timbangan berat Roma atau tanda astrologi untuk keadilan. Dalam bahasa Prancis Libra juga berarti untuk kebebasan.
&amp;ldquo;Kebebasan, keadilan, dan uang, itu tepatnya apa yang kami coba lakukan di sini,&amp;rdquo; terang Marcus.Co-founder Facebook Chris Hughes juga menyatakan Libra akan  menyerahkan sebagian besar kontrol kebijakan moneter dari bank sentral  ke perusahaan privat.
&amp;ldquo;Jika regulator global tidak bertindak sekarang, ini dapat sangat  segera, jadi terlalu terlambat,&amp;rdquo; papar Hughes dalam artikel opini di  Financial Times. Dia menjelaskan, korporasi yang akan mengawasi mata  uang baru akan menempatkan kepentingan privat mereka, yakni laba dan  pengaruh, di atas kepentingan publik.
Kehadiran Libra memang lebih istimewa. Selain diinisiasi Facebook,  Libra juga meng gandeng sekitar 28 mitra seperti Mastercard,  PayPal,Uber, Visa, Spotify, eBay, Vodafone, serta per usahaan venture  capital Andrees sen Horowitz.
Mitra ini akan membentuk Libra Association, lembaga di Jenewa yang  mengelola koin digital baru itu. Belum ada perbankan yang terlibat dalam  grup tersebut. Untuk memfasilitasi transaksi, Facebook juga menciptakan  Calibra, anak usaha yang akan menawarkan dompet digital guna menabung,  transfer, dan membelanjakan Libra.
Calibra akan terhubung dengan platform pesan Facebook, yakni  Messenger dan WhatsApp. Para eksekutif Facebook dan mi tra terkait Libra  berharap pro yek ini tidak hanya akan memperkuat transaksi antara  konsumen dan bisnis global, tapi menawarkan akses kepada para konsumen  yang belum tersentuh perbankan untuk mendapat layanan keuangan pertama  kali.
Facebook juga berharap Libra dapat mengalirkan lebih banyak  pendapatan dari berbagai aplikasi yang sudah ada seperti yang sudah  dilakukan jejaring sosial asal China WeChat.
Belum Bisa Diterapkan
Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah memandang, dalam jangka  pendek dan menengah ini, uang kripto termasuk Libra kemungkinan belum  akan mendapatkan tempat sebagai alat pembayaran di pasar Indonesia. Ini  karena terbentur dengan regulasi.
Menurut dia, izin oleh Bappebti hanya dalam konteks uang kripto  sebagai komoditas, bukan sebagai alat pembayaran. Dengan tidak diakuinya  sebagai alat pembayaran, posisi semua uang kripto sangat terbatas,  yakni hanya untuk investasi yang benar-benar bersifat spekulatif penuh  dengan risiko.
&amp;ldquo;Daya tariknya hanya pada tawaran return yang tinggi. High risk high return,&amp;rdquo; ungkapnya.
Ekonom Indef Bhima Yudhistira menilai regulasi mata uang digital  memang belum ada di Indonesia.Namun mlihat manfaat dari sisi kecepatan  transaksi dan mendukung bisnis digital, bukan tidak mungkin Indonesia  pada akhirnya akan mengakui Libra.
&amp;ldquo;Otoritas moneter mungkin wait and see dulu,&amp;rdquo; katanya.
Jika sudah sustainable dan risikonya bisa di petakan, cepat atau  lambat Libra mulai masuk ke platform di Indonesia. Berbeda dengan  bitcoin yang sering dijadikan alat transaksi ilegal, Libra milik  Facebook ini harapannya bisa bekerja sama dengan BI untuk standardisasi  keamanan dan transparansi proses transaksi. &amp;ldquo;Jadi lebih bisa diterima,&amp;ldquo;  tandas dia.</content:encoded></item></channel></rss>
