<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Giant Tutup, Menko Darmin: Normal dan Jangan Dirisaukan</title><description>Darmin Nasution menilai penutupan beberapa gerai ritel modern Giant disebabkan persaingan bisnis, yang makin ketat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/24/320/2070348/giant-tutup-menko-darmin-normal-dan-jangan-dirisaukan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/06/24/320/2070348/giant-tutup-menko-darmin-normal-dan-jangan-dirisaukan"/><item><title>   Giant Tutup, Menko Darmin: Normal dan Jangan Dirisaukan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/24/320/2070348/giant-tutup-menko-darmin-normal-dan-jangan-dirisaukan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/06/24/320/2070348/giant-tutup-menko-darmin-normal-dan-jangan-dirisaukan</guid><pubDate>Senin 24 Juni 2019 19:20 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/24/320/2070348/giant-tutup-menko-darmin-normal-dan-jangan-dirisaukan-4h6rPffbJZ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Menko Darmin (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/24/320/2070348/giant-tutup-menko-darmin-normal-dan-jangan-dirisaukan-4h6rPffbJZ.jpg</image><title>Foto: Menko Darmin (Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai penutupan beberapa gerai ritel modern Giant, yang dimiliki oleh PT Hero Supermarket Tbk, disebabkan persaingan bisnis, yang makin ketat.

&quot;Itu hasil dari persaingan, kalau ada yang kalah dalam bersaing, itu normal,&quot; kata Darmin saat ditemui di Jakarta seperti dikutip Antaranews, Senin (24/6/2019).

Darmin mengatakan saat ini persaingan bisnis ritel modern sangat ketat, karena pelaku industri saling berlomba-lomba untuk menawarkan layanan terbaik kepada konsumen.
&amp;nbsp;Baca Juga: Ini Dugaan Penyebab Giant Tutup 6 Toko di Jabodetabek
Untuk itu, dia meminta tidak ada hal yang dirisaukan dari persaingan bisnis ritel tersebut, karena ini merupakan bagian dari dinamika kegiatan ekonomi.

&quot;Jangan dirisaukan, karena yang sana ada yang naik, sini ada yang turun,&quot; ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N. Mandey mengaku belum mendapatkan keterangan resmi dari Giant mengenai rangkaian penutupan beberapa gerai.
&amp;nbsp;Baca Juga: Konsumen: Sangat Disayangkan Giant Tutup Beberapa Gerainya
Namun, menurut dia, penutupan supermarket Giant di enam lokasi ini lebih karena alasan efisiensi agar korporasi dapat terus berusaha dan menghidupi bisnisnya.

Keenam gerai yang akan ditutup, kata Roy, akan direlokasi terhadap lokasi yang baru, yang lebih strategis dan memiliki potensi pendapatan lebih baik daripada gerai yang saat ini masih beroperasi.
Selain itu, dia menilai bahwa telah terjadi perubahan perilaku  konsumen dari yang biasanya memasak di rumah dan berbelanja bahan pangan  di supermarket, kini mereka lebih memilih untuk berkuliner.

&quot;Adanya penurunan transaksi pangan, baik makanan dan minuman, akibat  bergesernya perilaku konsumen. Konsumen lebih memilih kuliner di luar  rumah sebagai gaya hidup masyarakat global,&quot; kata Roy.

Seperti diketahui, enam supermarket Giant dikabarkan tutup pada 28  Juli 2019. Keenam gerai tersebut, yakni Giant Ekspres Cinere Mall, Giant  Ekspres Mampang, Giant Ekspres Pondok Timur, Giant Ekstra Jatimakmur,  Giant Ekstra Mitra 10 Cibubur, dan Giant Ekstra Wisma Asri.

Sebelum tutup, Giant akan memberikan diskon ke masyarakat dari lima persen hingga 50%.

</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai penutupan beberapa gerai ritel modern Giant, yang dimiliki oleh PT Hero Supermarket Tbk, disebabkan persaingan bisnis, yang makin ketat.

&quot;Itu hasil dari persaingan, kalau ada yang kalah dalam bersaing, itu normal,&quot; kata Darmin saat ditemui di Jakarta seperti dikutip Antaranews, Senin (24/6/2019).

Darmin mengatakan saat ini persaingan bisnis ritel modern sangat ketat, karena pelaku industri saling berlomba-lomba untuk menawarkan layanan terbaik kepada konsumen.
&amp;nbsp;Baca Juga: Ini Dugaan Penyebab Giant Tutup 6 Toko di Jabodetabek
Untuk itu, dia meminta tidak ada hal yang dirisaukan dari persaingan bisnis ritel tersebut, karena ini merupakan bagian dari dinamika kegiatan ekonomi.

&quot;Jangan dirisaukan, karena yang sana ada yang naik, sini ada yang turun,&quot; ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N. Mandey mengaku belum mendapatkan keterangan resmi dari Giant mengenai rangkaian penutupan beberapa gerai.
&amp;nbsp;Baca Juga: Konsumen: Sangat Disayangkan Giant Tutup Beberapa Gerainya
Namun, menurut dia, penutupan supermarket Giant di enam lokasi ini lebih karena alasan efisiensi agar korporasi dapat terus berusaha dan menghidupi bisnisnya.

Keenam gerai yang akan ditutup, kata Roy, akan direlokasi terhadap lokasi yang baru, yang lebih strategis dan memiliki potensi pendapatan lebih baik daripada gerai yang saat ini masih beroperasi.
Selain itu, dia menilai bahwa telah terjadi perubahan perilaku  konsumen dari yang biasanya memasak di rumah dan berbelanja bahan pangan  di supermarket, kini mereka lebih memilih untuk berkuliner.

&quot;Adanya penurunan transaksi pangan, baik makanan dan minuman, akibat  bergesernya perilaku konsumen. Konsumen lebih memilih kuliner di luar  rumah sebagai gaya hidup masyarakat global,&quot; kata Roy.

Seperti diketahui, enam supermarket Giant dikabarkan tutup pada 28  Juli 2019. Keenam gerai tersebut, yakni Giant Ekspres Cinere Mall, Giant  Ekspres Mampang, Giant Ekspres Pondok Timur, Giant Ekstra Jatimakmur,  Giant Ekstra Mitra 10 Cibubur, dan Giant Ekstra Wisma Asri.

Sebelum tutup, Giant akan memberikan diskon ke masyarakat dari lima persen hingga 50%.

</content:encoded></item></channel></rss>
