<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>  Perubahan Perilaku Konsumen Bikin Giant Tutup 6 Gerai</title><description>Aprindo menilai perubahan perilaku konsumen turut memengaruhi penutupan gerai ritel modern Giant</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/24/320/2070354/perubahan-perilaku-konsumen-bikin-giant-tutup-6-gerai</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/06/24/320/2070354/perubahan-perilaku-konsumen-bikin-giant-tutup-6-gerai"/><item><title>  Perubahan Perilaku Konsumen Bikin Giant Tutup 6 Gerai</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/24/320/2070354/perubahan-perilaku-konsumen-bikin-giant-tutup-6-gerai</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/06/24/320/2070354/perubahan-perilaku-konsumen-bikin-giant-tutup-6-gerai</guid><pubDate>Senin 24 Juni 2019 19:30 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/24/320/2070354/perubahan-perilaku-konsumen-bikin-giant-tutup-6-gerai-RxNdwT5sWF.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Giant Mampang yang Akan Segera Ditutup (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/24/320/2070354/perubahan-perilaku-konsumen-bikin-giant-tutup-6-gerai-RxNdwT5sWF.jpg</image><title>Foto: Giant Mampang yang Akan Segera Ditutup (Okezone)</title></images><description> 
JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menilai perubahan perilaku konsumen turut memengaruhi penutupan gerai ritel modern yang dimiliki oleh PT Hero Supermarket Tbk, Giant.
&amp;nbsp;Baca Juga: Ini Dugaan Penyebab Giant Tutup 6 Toko di Jabodetabek
Ketua Umum Aprindo Roy N Mandey mengatakan bergesernya perilaku konsumen (consumen behaviour) dari yang biasanya memasak di rumah menjadi berkuliner dan membeli makanan di rumah turut memengaruhi penurunan transaksi komoditas pangan, baik makanan dan minuman.

&quot;Bergesernya perilaku konsumen dari shopper lifestyle sekarang perilakunya menjadi leisure lifestyle yang di dalamnya terdapat kuliner dan hiburan sebagai bagian dari gaya hidup saat ini,&quot; kata Roy seperti dikutip Antaranews, di Jakarta, Senin (24/6/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Giant Tutup, Menko Darmin: Normal dan Jangan Dirisaukan
Roy mengaku bahwa Aprindo belum mendapatkan keterangan resmi dari Giant mengenai rangkaian penutupan gerai ini. Menurut dia, penutupan supermarket Giant di enam lokasi ini lebih karena pada efisiensi agar korporasi dapat terus berusaha dan menghidupi bisnisnya.

Keenam gerai yang akan ditutup, kata Roy, akan direlokasi terhadap lokasi yang baru, yang lebih strategis dan memiliki potensi pendapatan lebih baik daripada gerai yang saat ini masih beroperasi.
Saat ini, gerai ritel dengan luasan medium berkisar 2.000-2.500 meter  persegi lebih populer dibanding supermarket yang tergolong largest size  area dengan luas 5.000 meter persegi ke atas.

&quot;Kemungkinan membuka area yang lebih kecil ini sebagai dampak  perubahan perilaku belanja konsumen di Indonesia. Ukuran 2.000-2.500 m2  menjadi cukup populer saat ini,&quot; katanya.

Roy menambahkan strategi agar para ritel modern lain dapat bertahan,  yakni menambahkan fungsi ritel agar tidak hanya sekadar menjadi pusat  belanja, tetapi juga wahana bermain anak-anak, restoran, cafe dan  bioskop.

Dia juga berharap agar para ritel menerapkan omni channel, yakni  memberikan akses belanja dengan menggunakan berbagai channel sekaligus  baik online maupun offline.
</description><content:encoded> 
JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menilai perubahan perilaku konsumen turut memengaruhi penutupan gerai ritel modern yang dimiliki oleh PT Hero Supermarket Tbk, Giant.
&amp;nbsp;Baca Juga: Ini Dugaan Penyebab Giant Tutup 6 Toko di Jabodetabek
Ketua Umum Aprindo Roy N Mandey mengatakan bergesernya perilaku konsumen (consumen behaviour) dari yang biasanya memasak di rumah menjadi berkuliner dan membeli makanan di rumah turut memengaruhi penurunan transaksi komoditas pangan, baik makanan dan minuman.

&quot;Bergesernya perilaku konsumen dari shopper lifestyle sekarang perilakunya menjadi leisure lifestyle yang di dalamnya terdapat kuliner dan hiburan sebagai bagian dari gaya hidup saat ini,&quot; kata Roy seperti dikutip Antaranews, di Jakarta, Senin (24/6/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Giant Tutup, Menko Darmin: Normal dan Jangan Dirisaukan
Roy mengaku bahwa Aprindo belum mendapatkan keterangan resmi dari Giant mengenai rangkaian penutupan gerai ini. Menurut dia, penutupan supermarket Giant di enam lokasi ini lebih karena pada efisiensi agar korporasi dapat terus berusaha dan menghidupi bisnisnya.

Keenam gerai yang akan ditutup, kata Roy, akan direlokasi terhadap lokasi yang baru, yang lebih strategis dan memiliki potensi pendapatan lebih baik daripada gerai yang saat ini masih beroperasi.
Saat ini, gerai ritel dengan luasan medium berkisar 2.000-2.500 meter  persegi lebih populer dibanding supermarket yang tergolong largest size  area dengan luas 5.000 meter persegi ke atas.

&quot;Kemungkinan membuka area yang lebih kecil ini sebagai dampak  perubahan perilaku belanja konsumen di Indonesia. Ukuran 2.000-2.500 m2  menjadi cukup populer saat ini,&quot; katanya.

Roy menambahkan strategi agar para ritel modern lain dapat bertahan,  yakni menambahkan fungsi ritel agar tidak hanya sekadar menjadi pusat  belanja, tetapi juga wahana bermain anak-anak, restoran, cafe dan  bioskop.

Dia juga berharap agar para ritel menerapkan omni channel, yakni  memberikan akses belanja dengan menggunakan berbagai channel sekaligus  baik online maupun offline.
</content:encoded></item></channel></rss>
