<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>6 Gerai Giant Tutup, Sebelumnya Sudah Ada Lotus hingga Debenhams</title><description>PT Hero Supermarket Tbk menutup enam gerai ritel modern miliknya, Giant.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/26/320/2070777/6-gerai-giant-tutup-sebelumnya-sudah-ada-lotus-hingga-debenhams</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/06/26/320/2070777/6-gerai-giant-tutup-sebelumnya-sudah-ada-lotus-hingga-debenhams"/><item><title>6 Gerai Giant Tutup, Sebelumnya Sudah Ada Lotus hingga Debenhams</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/26/320/2070777/6-gerai-giant-tutup-sebelumnya-sudah-ada-lotus-hingga-debenhams</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/06/26/320/2070777/6-gerai-giant-tutup-sebelumnya-sudah-ada-lotus-hingga-debenhams</guid><pubDate>Rabu 26 Juni 2019 06:43 WIB</pubDate><dc:creator>Rani Hardjanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/25/320/2070777/6-gerai-giant-tutup-sebelumnya-sudah-ada-lotus-hingga-debenhams-rBhHTF7QBS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Giant Mampang yang Akan Segera Ditutup (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/25/320/2070777/6-gerai-giant-tutup-sebelumnya-sudah-ada-lotus-hingga-debenhams-rBhHTF7QBS.jpg</image><title>Foto: Giant Mampang yang Akan Segera Ditutup (Okezone)</title></images><description>JAKARTA - PT Hero Supermarket Tbk menutup enam gerai ritel modern miliknya, Giant. Untuk menghabiskan stok yang tersisa sekaligus memberikan pelayanan kepada pelanggan setiannya, Giant memberikan diskon banting harga hingga 28 Juli 2019.

Presiden Direktur Hero Supermarket Patrik Lindvall pernah mengatakan, tren bisnis Hero Group dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan penurunan pada lini bisnis makanan, yaitu Hero dan Giant. Meski begitu, lini bisnis non-makanan dari IKEA dan Guardian mengalami peningkatan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Jelang Tutup, Giant Diserbu Ibu-Ibu
Pada kuartal I-2019, penjualan Hero Group secara umum naik 0,5% menjadi Rp3,06 triliun. Namun, kerugian yang dialami belum berubah di kisaran Rp4 miliar.

Lindval mengatakan, penjualan makanan yang menyumbang 75% pendapatan Hero Group turun 5 persen menjadi Rp2,34 triliun. Hero Group berupaya melakukan konsolidasi toko agar produktivitas dan profitabilitas meningkat.

&quot;Bisnis makanan mencatat kerugian operasi sebesar Rp64 miliar di biaya-biaya perseroan yang tidak dialokasikan, dibandingkan dengan Rp78 miliar pada periode yang sama tahun lalu,&quot; ujarnya Jakarta, Senin 24 Juni 2019.
&amp;nbsp;Baca Juga: Ini Dugaan Penyebab Giant Tutup 6 Toko di Jabodetabek
Sementara itu di tempat terpisah, Direktur PT Hero Supermarket Tbk Hadrianus Wahyu Trikusumo mengakui, penutupan gerai Giant merupakan respons atas perilaku konsumen yang berubah dengan cepat.

&quot;Ini bukanlah hal yang mudah, tetapi perlu dilakukan guna merespons perilaku konsumen yang berubah dengan cepat,&quot; kata Hadrianus.

Senada dengan Hadrianus, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey mengakui adanya penurunan transaksi pangan, baik makanan dan minuman, akibat bergesernya perilaku konsumen. Konsumen lebih memilih kuliner di luar rumah sebagai gaya hidup masyarakat global.







Berikut ini lika-liku bisnis ritel, baik yang bertahan dan telah tutup di Indonesia sebelum Giant.

1. Lotus Departement Store, pada akhir Oktober 2017.

Gerai yang tutup : Thamrin, Cibubur, dan Bekasi
Penjelasan : Lotus mengalami kerugian terus menerus sehingga MAP  memutuskan untuk menutupnya. Penutupan gerai Lotus ini dilakukan untuk  memoles kinerja keuangan divisi department store PT Mitra Adi Perkasa  (MAP) Tbk, induk usaha Lotus.

2. PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk pada 28 Agustus 2017

Gerai yang tutup : 8 supermarketnya
Penjelasan : Penutupan bersifat sementara karena perusahaan sedang  mendesign ulang toko. Redisain ini berlaku untuk gerai supermarket,  bukan gerai yang menjual pakaian. Design ulang ini dilakukan sekaligus  memanfaatkan waktu pada saat daya beli sedang lesu.
&amp;nbsp;
 
3. Debenhams, pada akhir 2017

Gerai yang tutup:  3 Gerai
Penjelasan: Gerai Debenhams di Senayan City, Kemang Village dan  Supermall Karawaci. Penutupan ini diyakini akibat perubahan pola  konsumsi masyarakat dari belanja langsung ke belanja online.
&amp;nbsp;
 
4. 7-Eleven, pada 30 Juni 2017

Gerai yang tutup : Seluruhnya
Penjelasan : 7 Eleven adalah  milik PT Modern Internasional Tbk (MDRN) Penutupan karena besarnya biaya  operasional dibandingkan dengan pendapatan mereka sehingga 7-Eleven  mengalami kerugian besar. Tercatat hingga Maret 2017, 7-Eleven  mencatatkan rugi Rp447,93 miliar. Padahal periode sama tahun sebelumnya  untung Rp21,31 miliar.
</description><content:encoded>JAKARTA - PT Hero Supermarket Tbk menutup enam gerai ritel modern miliknya, Giant. Untuk menghabiskan stok yang tersisa sekaligus memberikan pelayanan kepada pelanggan setiannya, Giant memberikan diskon banting harga hingga 28 Juli 2019.

Presiden Direktur Hero Supermarket Patrik Lindvall pernah mengatakan, tren bisnis Hero Group dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan penurunan pada lini bisnis makanan, yaitu Hero dan Giant. Meski begitu, lini bisnis non-makanan dari IKEA dan Guardian mengalami peningkatan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Jelang Tutup, Giant Diserbu Ibu-Ibu
Pada kuartal I-2019, penjualan Hero Group secara umum naik 0,5% menjadi Rp3,06 triliun. Namun, kerugian yang dialami belum berubah di kisaran Rp4 miliar.

Lindval mengatakan, penjualan makanan yang menyumbang 75% pendapatan Hero Group turun 5 persen menjadi Rp2,34 triliun. Hero Group berupaya melakukan konsolidasi toko agar produktivitas dan profitabilitas meningkat.

&quot;Bisnis makanan mencatat kerugian operasi sebesar Rp64 miliar di biaya-biaya perseroan yang tidak dialokasikan, dibandingkan dengan Rp78 miliar pada periode yang sama tahun lalu,&quot; ujarnya Jakarta, Senin 24 Juni 2019.
&amp;nbsp;Baca Juga: Ini Dugaan Penyebab Giant Tutup 6 Toko di Jabodetabek
Sementara itu di tempat terpisah, Direktur PT Hero Supermarket Tbk Hadrianus Wahyu Trikusumo mengakui, penutupan gerai Giant merupakan respons atas perilaku konsumen yang berubah dengan cepat.

&quot;Ini bukanlah hal yang mudah, tetapi perlu dilakukan guna merespons perilaku konsumen yang berubah dengan cepat,&quot; kata Hadrianus.

Senada dengan Hadrianus, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey mengakui adanya penurunan transaksi pangan, baik makanan dan minuman, akibat bergesernya perilaku konsumen. Konsumen lebih memilih kuliner di luar rumah sebagai gaya hidup masyarakat global.







Berikut ini lika-liku bisnis ritel, baik yang bertahan dan telah tutup di Indonesia sebelum Giant.

1. Lotus Departement Store, pada akhir Oktober 2017.

Gerai yang tutup : Thamrin, Cibubur, dan Bekasi
Penjelasan : Lotus mengalami kerugian terus menerus sehingga MAP  memutuskan untuk menutupnya. Penutupan gerai Lotus ini dilakukan untuk  memoles kinerja keuangan divisi department store PT Mitra Adi Perkasa  (MAP) Tbk, induk usaha Lotus.

2. PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk pada 28 Agustus 2017

Gerai yang tutup : 8 supermarketnya
Penjelasan : Penutupan bersifat sementara karena perusahaan sedang  mendesign ulang toko. Redisain ini berlaku untuk gerai supermarket,  bukan gerai yang menjual pakaian. Design ulang ini dilakukan sekaligus  memanfaatkan waktu pada saat daya beli sedang lesu.
&amp;nbsp;
 
3. Debenhams, pada akhir 2017

Gerai yang tutup:  3 Gerai
Penjelasan: Gerai Debenhams di Senayan City, Kemang Village dan  Supermall Karawaci. Penutupan ini diyakini akibat perubahan pola  konsumsi masyarakat dari belanja langsung ke belanja online.
&amp;nbsp;
 
4. 7-Eleven, pada 30 Juni 2017

Gerai yang tutup : Seluruhnya
Penjelasan : 7 Eleven adalah  milik PT Modern Internasional Tbk (MDRN) Penutupan karena besarnya biaya  operasional dibandingkan dengan pendapatan mereka sehingga 7-Eleven  mengalami kerugian besar. Tercatat hingga Maret 2017, 7-Eleven  mencatatkan rugi Rp447,93 miliar. Padahal periode sama tahun sebelumnya  untung Rp21,31 miliar.
</content:encoded></item></channel></rss>
