<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sektor Jasa Teknologi Informasi Terus Sumbang Defisit Transaksi Berjalan</title><description>Neraca transaksi berjalan Indonesia mengalami defisit USD7 miliar pada kuartal I-2019.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/27/20/2071726/sektor-jasa-teknologi-informasi-terus-sumbang-defisit-transaksi-berjalan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/06/27/20/2071726/sektor-jasa-teknologi-informasi-terus-sumbang-defisit-transaksi-berjalan"/><item><title>Sektor Jasa Teknologi Informasi Terus Sumbang Defisit Transaksi Berjalan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/27/20/2071726/sektor-jasa-teknologi-informasi-terus-sumbang-defisit-transaksi-berjalan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/06/27/20/2071726/sektor-jasa-teknologi-informasi-terus-sumbang-defisit-transaksi-berjalan</guid><pubDate>Kamis 27 Juni 2019 17:41 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/27/20/2071726/sektor-jasa-teknologi-informasi-terus-sumbang-defisit-neraca-dagang-qeLq6mv0Wi.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/27/20/2071726/sektor-jasa-teknologi-informasi-terus-sumbang-defisit-neraca-dagang-qeLq6mv0Wi.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Shutterstock</title></images><description>JAKARTA - Neraca transaksi berjalan Indonesia mengalami defisit USD7 miliar pada kuartal I-2019 atau sebesar 2,6% dari produk domestik bruto (PDB), berdasarkan statistik yang diumumkan Bank Indonesia.
Terkait hal itu, Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta mengatakan, sektor transportasi masih menjadi penyumbang utama defisit neraca jasa. Namun, yang menjadi perhatian yakni mulai tingginya angka defisit yang disumbangkan oleh sektor teknologi informasi komunikasi (ICT) dan sektor hak kekayaan intelektual (HKI).
&quot;Jadi, neraca jasa yang negatif itu disebabkan impor jasa yang lebih besar dari ekspornya. Di mana sektor transportasi merupakan kontributor utama defisit neraca jasa, disusul oleh biaya penggunaan HKI, jasa ICT dan jasa bisnis lainnya,&quot; ujar dia di Jakarta, Kamis (27/6/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Neraca Dagang Surplus, BI: Positif ke Transaksi Berjalan
Tercatat, biaya penggunaan HKI menyumbangkan USD397 terhadap defisit neraca jasa kuartal I-2019. Sementara ICT menyumbangkan defisit sebesar USD339 juta.
Arif menuturkan, sejak 2011 sektor ICT terus menyumbangkan defisit neraca jasa. Bahkan, untuk biaya penggunaan HKI sudah menyumbangkan defisit sejak 2004. Di mana sering terlambatnya pelaku usaha untuk mengajukan hak paten menjadi pendorong terjadinya defisit HKI.
&quot;Kita lihat pada saat bersamaan, pemerintah juga masih minim mengeluarkan insentif untuk penelitian dan pengembangan (R&amp;amp;D), sehingga ICT Indonesia dinilai tertinggal dibandingkan negara-negara tetangganya,&quot; tutur dia
&amp;nbsp;Baca Juga: Defisit Transaksi Berjalan Jadi Pekerjaan Rumah BI Tahun IniDia menjelaskan, dibandingkan negara ASEAN lainnya, Indonesia masih  mengalami keterlambatan dalam hal pengajuan paten dan pengeluaran untuk  litbang.
&quot;Hal tersebut berpengaruh terhadap penggunaan hak atas kekayaan intelektual,&quot; ungkap dia.
Arif mendorong pemerintah untuk memperbaiki sektor-sektor tersebut,  dengan cara mengeluarkan kebijakan yang komprehensif terkait  pengembangan kedua sektor tersebut.
&quot;Sehingga neraca di sektor tersebut dapat kembali mengalami surplus, seperti yang terjadi sebelum Desember 2011,&quot; pungkas dia.
Mengacu kepada data The Global Competitive Index, pada 2018 Indonesia  berada diperingkat ke-112 terkait dengan pengeluaran biaya pengembangan  R&amp;amp;D. Di tahun yang sama, Indonesia tercatat berada diperingkat  ke-99 terkait dengan hak paten yang diajukan.</description><content:encoded>JAKARTA - Neraca transaksi berjalan Indonesia mengalami defisit USD7 miliar pada kuartal I-2019 atau sebesar 2,6% dari produk domestik bruto (PDB), berdasarkan statistik yang diumumkan Bank Indonesia.
Terkait hal itu, Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta mengatakan, sektor transportasi masih menjadi penyumbang utama defisit neraca jasa. Namun, yang menjadi perhatian yakni mulai tingginya angka defisit yang disumbangkan oleh sektor teknologi informasi komunikasi (ICT) dan sektor hak kekayaan intelektual (HKI).
&quot;Jadi, neraca jasa yang negatif itu disebabkan impor jasa yang lebih besar dari ekspornya. Di mana sektor transportasi merupakan kontributor utama defisit neraca jasa, disusul oleh biaya penggunaan HKI, jasa ICT dan jasa bisnis lainnya,&quot; ujar dia di Jakarta, Kamis (27/6/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Neraca Dagang Surplus, BI: Positif ke Transaksi Berjalan
Tercatat, biaya penggunaan HKI menyumbangkan USD397 terhadap defisit neraca jasa kuartal I-2019. Sementara ICT menyumbangkan defisit sebesar USD339 juta.
Arif menuturkan, sejak 2011 sektor ICT terus menyumbangkan defisit neraca jasa. Bahkan, untuk biaya penggunaan HKI sudah menyumbangkan defisit sejak 2004. Di mana sering terlambatnya pelaku usaha untuk mengajukan hak paten menjadi pendorong terjadinya defisit HKI.
&quot;Kita lihat pada saat bersamaan, pemerintah juga masih minim mengeluarkan insentif untuk penelitian dan pengembangan (R&amp;amp;D), sehingga ICT Indonesia dinilai tertinggal dibandingkan negara-negara tetangganya,&quot; tutur dia
&amp;nbsp;Baca Juga: Defisit Transaksi Berjalan Jadi Pekerjaan Rumah BI Tahun IniDia menjelaskan, dibandingkan negara ASEAN lainnya, Indonesia masih  mengalami keterlambatan dalam hal pengajuan paten dan pengeluaran untuk  litbang.
&quot;Hal tersebut berpengaruh terhadap penggunaan hak atas kekayaan intelektual,&quot; ungkap dia.
Arif mendorong pemerintah untuk memperbaiki sektor-sektor tersebut,  dengan cara mengeluarkan kebijakan yang komprehensif terkait  pengembangan kedua sektor tersebut.
&quot;Sehingga neraca di sektor tersebut dapat kembali mengalami surplus, seperti yang terjadi sebelum Desember 2011,&quot; pungkas dia.
Mengacu kepada data The Global Competitive Index, pada 2018 Indonesia  berada diperingkat ke-112 terkait dengan pengeluaran biaya pengembangan  R&amp;amp;D. Di tahun yang sama, Indonesia tercatat berada diperingkat  ke-99 terkait dengan hak paten yang diajukan.</content:encoded></item></channel></rss>
