<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kapasitas Pembangkit Jawa-Bali Ditingkatkan hingga 2.800 MW</title><description>Sistem koneksi memungkinkan pasokan listrik dari Pulau Jawa ke Bali itu juga akan disertai pembangunan transmisi berkapasitas 500 KV</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/27/320/2071437/kapasitas-pembangkit-jawa-bali-ditingkatkan-hingga-2-800-mw</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/06/27/320/2071437/kapasitas-pembangkit-jawa-bali-ditingkatkan-hingga-2-800-mw"/><item><title>Kapasitas Pembangkit Jawa-Bali Ditingkatkan hingga 2.800 MW</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/27/320/2071437/kapasitas-pembangkit-jawa-bali-ditingkatkan-hingga-2-800-mw</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/06/27/320/2071437/kapasitas-pembangkit-jawa-bali-ditingkatkan-hingga-2-800-mw</guid><pubDate>Kamis 27 Juni 2019 08:37 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/27/320/2071437/kapasitas-pembangkit-jawa-bali-ditingkatkan-hingga-2-800-mw-1w3vKqhWRP.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pembangkit Listrik (Ilustrasi: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/27/320/2071437/kapasitas-pembangkit-jawa-bali-ditingkatkan-hingga-2-800-mw-1w3vKqhWRP.jpg</image><title>Pembangkit Listrik (Ilustrasi: Reuters)</title></images><description>DENPASAR &amp;ndash; Pengembangan sistem interkoneksi listrik Jawa-Bali dipersiapkan memiliki kapasitas hingga 2.800 megawatt (MW) untuk merespons kebutuhan listrik dalam jangka panjang 10-15 tahun ke depan.
Kapasitas itu meningkat signifikan dibandingkan interkoneksi melalui kabel bawah laut yang saat ini berkapasitas 340 MW. Sistem koneksi memungkinkan pasokan listrik dari Pulau Jawa ke Bali itu juga akan disertai pembangunan transmisi berkapasitas 500 KV yang diharapkan mengurangi loss saat pendistribusian listrik antarpulau.
&amp;ldquo;Sistem interkoneksi ini yang paling optimal bisa dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Pulau Bali pada masa mendatang,&amp;rdquo; ujar Direktur Regional Jawa bagian Timur, Bali, dan Nusa Tenggara PLN Supangkat Iwan Santoso di Denpasar, Bali, kemarin.
Baca Juga: PLTGU Jawa 2 Perkuat Sistem Kelistrikan Jawa-Bali
Dia menambahkan, kebutuhan listrik di Bali pada masa mendatang diperkirakan terus meningkat seiring tumbuhnya perekonomian di wilayah itu sebagai dampak dari berkembangnya sektor pariwisata.
Sektor ini otomatis memerlukan pasokan listrik yang andal dan stabil sehingga bisa memberikan layanan terbaik kepada para stakeholder-nya. &amp;ldquo;Pembangunan sistem interkoneksi ini sudah mempertimbangkan risiko pembiayaan, lingkungan, dan faktor lainnya,&amp;rdquo; ujar Iwan.
Dia mengatakan, penyediaan listrik di Bali akan menyesuaikan dengan program Pemerintah Provinsi Bali yang menginginkan energi bersih dan mandiri. Meski demikian, untuk menyediakan listrik tersebut, PLN harus tetap memperhatikan sumber energi primer yang paling murah.
&amp;ldquo;Kalau energi primernya murah, akan memiliki multiflier effect yang baik juga terhadap sektor lainnya,&amp;rdquo; ujar dia.
Baca Juga: PLTGU Jawa 1 Siap Konstruksi
Iwan mengatakan, solusi interkoneksi Jawa-Bali dipilih karena pembangkit di Pulau Jawa termasuk paling efisien karena menggunakan bahan bakar batu bara yang relatif murah.
Sementara itu, GM Unit Induk Distribusi Bali Nyoman Suwarjoni Astawa mengatakan, sistem interkoneksi listrik Jawa- Bali akan dibangun menggunakan model menara atau tower saluran listrik bertegangan ekstra tinggi yang melintang di atas Selat Bali.
Rencana tersebut saat ini sedang memasuki tahapan penentuan lokasi yang akan di lanjutkan dengan studi kelayakan. &amp;ldquo;Jadi nanti akan dibangun menara tinggi yang akan membentangkan kabel listrik tegangan tinggi dari Jawa ke Pulau Bali,&amp;rdquo; kata Nyoman.
Tower transmisi listrik interkoneksi itu akan melewati wilayah Banyuwangi dan Gilimanuk. Dalam desain terbaru yang diperlihatkan pada kalangan media, nanti menara raksasa yang akan dibangun berjumlah empat unit.Satu unit di wilayah Banyuwangi, satu unit di Gilimanuk, dan dua unit  di Perairan Selat Bali. Menurut Nyoman, rencana pembangunan  interkoneksi dengan empat menara itu merupakan opsi paling memungkinkan  setelah usulan awal, yakni membuat dua menara raksasa setinggi 376 meter  ditolak Pemerintah Provinsi Bali dan masyarakat setempat karena  dianggap akan mengganggu kesakralan tempat ibadah di daerah Gilimanuk.
Adapun terkait pelaksanaan pembangunan proyek tersebut masih menunggu  hasil stu di yang diperkirakan rampung tahun depan. &amp;ldquo;Kemungkinan ba ru  akan dilakukan pengerjaan tahun 2021-2024,&amp;rdquo; kata Nyoman.
Pembangkit Nonfosil
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali menginginkan  pengembangan energi listrik ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan di  ma sa mendatang. Oleh karena itu, ke depan pembangkit listrik di Bali  tidak akan menggunakan bahan bakar berbasis fosil.
&amp;ldquo;Minggu lalu, kami rapat dengan Pemprov Bali, intinya Bali ingin  listrik yang diproduksi berasal dari energi bersih. Bali juga ingin  mandiri secara energi dengan memenuhi kebutuhan listrik dari pembangkit  yang ada di Bali,&amp;rdquo; ungkap Iwan.
Merespons keinginan tersebut, kata Iwan, pembangkit yang memungkinkan  dikembangkan adalah menggunakan energi terbarukan atau gas yang  notabene lebih bersih dibandingkan batu bara atau minyak.
&amp;ldquo;Itu (energi baru terbarukan dan gas) yang akan diutamakan. Ada juga  yang bisa seperti pembangkit tenaga bayu atau panas bumi, tapi itu  potensinya kecil di sini,&amp;rdquo; kata Iwan. Dia menambahkan, untuk memenuhi  pasokan listrik di Pulau Bali yang bisa dilakukan adalah dengan  mempercepat pro yek sistem interkoneksi Jawa-Bali.
Langkah ini, kata Iwan, merupakan cara paling optimal mengantisipasi  pertumbuhan permintaan listrik dalam jangka panjang. Sementara itu, PLN  Unit Induk Distribusi (UID) Bali menargetkan pertumbuhan kelistrikan  sebesar 6% sepanjang tahun ini.
Untuk itu, PLN terus memaksimalkan pelayanan kepada pelanggan di  Pulau Dewata. Saat ini total kapasitas daya PLN UID Bali mencapai 1.274  megawatt (MW). Adapun beban puncaknya sebesar 900,1 MW dengan jumlah  pelanggan 1,4 juta sambungan.</description><content:encoded>DENPASAR &amp;ndash; Pengembangan sistem interkoneksi listrik Jawa-Bali dipersiapkan memiliki kapasitas hingga 2.800 megawatt (MW) untuk merespons kebutuhan listrik dalam jangka panjang 10-15 tahun ke depan.
Kapasitas itu meningkat signifikan dibandingkan interkoneksi melalui kabel bawah laut yang saat ini berkapasitas 340 MW. Sistem koneksi memungkinkan pasokan listrik dari Pulau Jawa ke Bali itu juga akan disertai pembangunan transmisi berkapasitas 500 KV yang diharapkan mengurangi loss saat pendistribusian listrik antarpulau.
&amp;ldquo;Sistem interkoneksi ini yang paling optimal bisa dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Pulau Bali pada masa mendatang,&amp;rdquo; ujar Direktur Regional Jawa bagian Timur, Bali, dan Nusa Tenggara PLN Supangkat Iwan Santoso di Denpasar, Bali, kemarin.
Baca Juga: PLTGU Jawa 2 Perkuat Sistem Kelistrikan Jawa-Bali
Dia menambahkan, kebutuhan listrik di Bali pada masa mendatang diperkirakan terus meningkat seiring tumbuhnya perekonomian di wilayah itu sebagai dampak dari berkembangnya sektor pariwisata.
Sektor ini otomatis memerlukan pasokan listrik yang andal dan stabil sehingga bisa memberikan layanan terbaik kepada para stakeholder-nya. &amp;ldquo;Pembangunan sistem interkoneksi ini sudah mempertimbangkan risiko pembiayaan, lingkungan, dan faktor lainnya,&amp;rdquo; ujar Iwan.
Dia mengatakan, penyediaan listrik di Bali akan menyesuaikan dengan program Pemerintah Provinsi Bali yang menginginkan energi bersih dan mandiri. Meski demikian, untuk menyediakan listrik tersebut, PLN harus tetap memperhatikan sumber energi primer yang paling murah.
&amp;ldquo;Kalau energi primernya murah, akan memiliki multiflier effect yang baik juga terhadap sektor lainnya,&amp;rdquo; ujar dia.
Baca Juga: PLTGU Jawa 1 Siap Konstruksi
Iwan mengatakan, solusi interkoneksi Jawa-Bali dipilih karena pembangkit di Pulau Jawa termasuk paling efisien karena menggunakan bahan bakar batu bara yang relatif murah.
Sementara itu, GM Unit Induk Distribusi Bali Nyoman Suwarjoni Astawa mengatakan, sistem interkoneksi listrik Jawa- Bali akan dibangun menggunakan model menara atau tower saluran listrik bertegangan ekstra tinggi yang melintang di atas Selat Bali.
Rencana tersebut saat ini sedang memasuki tahapan penentuan lokasi yang akan di lanjutkan dengan studi kelayakan. &amp;ldquo;Jadi nanti akan dibangun menara tinggi yang akan membentangkan kabel listrik tegangan tinggi dari Jawa ke Pulau Bali,&amp;rdquo; kata Nyoman.
Tower transmisi listrik interkoneksi itu akan melewati wilayah Banyuwangi dan Gilimanuk. Dalam desain terbaru yang diperlihatkan pada kalangan media, nanti menara raksasa yang akan dibangun berjumlah empat unit.Satu unit di wilayah Banyuwangi, satu unit di Gilimanuk, dan dua unit  di Perairan Selat Bali. Menurut Nyoman, rencana pembangunan  interkoneksi dengan empat menara itu merupakan opsi paling memungkinkan  setelah usulan awal, yakni membuat dua menara raksasa setinggi 376 meter  ditolak Pemerintah Provinsi Bali dan masyarakat setempat karena  dianggap akan mengganggu kesakralan tempat ibadah di daerah Gilimanuk.
Adapun terkait pelaksanaan pembangunan proyek tersebut masih menunggu  hasil stu di yang diperkirakan rampung tahun depan. &amp;ldquo;Kemungkinan ba ru  akan dilakukan pengerjaan tahun 2021-2024,&amp;rdquo; kata Nyoman.
Pembangkit Nonfosil
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali menginginkan  pengembangan energi listrik ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan di  ma sa mendatang. Oleh karena itu, ke depan pembangkit listrik di Bali  tidak akan menggunakan bahan bakar berbasis fosil.
&amp;ldquo;Minggu lalu, kami rapat dengan Pemprov Bali, intinya Bali ingin  listrik yang diproduksi berasal dari energi bersih. Bali juga ingin  mandiri secara energi dengan memenuhi kebutuhan listrik dari pembangkit  yang ada di Bali,&amp;rdquo; ungkap Iwan.
Merespons keinginan tersebut, kata Iwan, pembangkit yang memungkinkan  dikembangkan adalah menggunakan energi terbarukan atau gas yang  notabene lebih bersih dibandingkan batu bara atau minyak.
&amp;ldquo;Itu (energi baru terbarukan dan gas) yang akan diutamakan. Ada juga  yang bisa seperti pembangkit tenaga bayu atau panas bumi, tapi itu  potensinya kecil di sini,&amp;rdquo; kata Iwan. Dia menambahkan, untuk memenuhi  pasokan listrik di Pulau Bali yang bisa dilakukan adalah dengan  mempercepat pro yek sistem interkoneksi Jawa-Bali.
Langkah ini, kata Iwan, merupakan cara paling optimal mengantisipasi  pertumbuhan permintaan listrik dalam jangka panjang. Sementara itu, PLN  Unit Induk Distribusi (UID) Bali menargetkan pertumbuhan kelistrikan  sebesar 6% sepanjang tahun ini.
Untuk itu, PLN terus memaksimalkan pelayanan kepada pelanggan di  Pulau Dewata. Saat ini total kapasitas daya PLN UID Bali mencapai 1.274  megawatt (MW). Adapun beban puncaknya sebesar 900,1 MW dengan jumlah  pelanggan 1,4 juta sambungan.</content:encoded></item></channel></rss>
