<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Integrasi MRT hingga LRT Jadi Upaya Jakarta Perbaiki Kualitas Udara</title><description>Mengintegrasikan sejumlah transportasi massal seperti KRL, MRT, LRT dan TransJakarta ditargetkan pada 2030 kualitas udara membaik.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/27/320/2071455/integrasi-mrt-hingga-lrt-jadi-upaya-jakarta-perbaiki-kualitas-udara</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/06/27/320/2071455/integrasi-mrt-hingga-lrt-jadi-upaya-jakarta-perbaiki-kualitas-udara"/><item><title>Integrasi MRT hingga LRT Jadi Upaya Jakarta Perbaiki Kualitas Udara</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/27/320/2071455/integrasi-mrt-hingga-lrt-jadi-upaya-jakarta-perbaiki-kualitas-udara</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/06/27/320/2071455/integrasi-mrt-hingga-lrt-jadi-upaya-jakarta-perbaiki-kualitas-udara</guid><pubDate>Kamis 27 Juni 2019 09:30 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/27/320/2071455/integrasi-mrt-hingga-lrt-jadi-upaya-jakarta-perbaiki-kualitas-udara-mD8zLXjdUb.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Polusi Udara di Jakarta (Foto: Koran Sindo)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/27/320/2071455/integrasi-mrt-hingga-lrt-jadi-upaya-jakarta-perbaiki-kualitas-udara-mD8zLXjdUb.jpg</image><title>Ilustrasi Polusi Udara di Jakarta (Foto: Koran Sindo)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Jakarta harus terus berbenah untuk meningkatkan kualitas udaranya. Berbagai upaya yang telah dilakukan selama ini terbukti tidak membuahkan hasil.
Laporan teranyar, kualitas udaranya bahkan lebih parah dan tidak sehat untuk pernapasan. Parameter itu berdasar data situs penyedia peta polusi daring untuk kota-kota besar di dunia, Air Visual, per Selasa 25 Juni 2019.
Nilai Air Quality Index (AQI) Jakarta mencapai 240. Tingkat skor ini mengindikasikan kondisi udara di Jakarta sangat tidak sehat. Tingkat keburukan udara Jakarta mengalahkan Kota Lahore, Pakistan, Hanoi, Vietnam, dan Dubai, Uni Emirat Arab.
Kemarin, Rabu (26/6), skor AQI berangsur menurun menjadi 152 dan menduduki posisi ketiga sebagai kota dengan udara terkotor setelah Tashkent, Uzbekistan, dan Dubai. Kendati demikian kualitas udara Ibu Kota ini masih termasuk kategori tidak sehat.
Baca Juga: Percantik Terminal Bus, Kemenhub Dapat Tambahan Anggaran Rp1 Triliun
Sebagai informasi, AQI dihitung berdasarkan enam jenis polutan utama, yakni PM 2,5, PM 10, karbon monoksida, nitrogen dioksida, ozon permukaan tanah, dan asam belerang.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengakui persoalan tersebut. Dalam pandangannya, kondisi tersebut terjadi karena banyak masyarakat memilih menggunakan kendaraan pribadi daripada transportasi massal.
Berdasar catatan, hampir 75% masyarakat menggunakan kendaraan pribadi. Adapun yang menggunakan transportasi massal hanya 25%. Kondisi demikian berbanding terbalik dengan di tahun 1998. Kala itu hampir separuh penduduk Jakarta menggunakan transportasi umum.
&amp;ldquo;Yah minimal harus cepat kembali ke 1998,&amp;rdquo; ujar Anies di Jakarta kemarin.
Baca Juga: 38 Terminal Bus Bakal Dimodif bak Bandara
Sebagai solusi, Pemprov DKI tengah berupaya mengurangi kendaraan pribadi. Meski saat ini pengurangan belum signifikan, upaya menggenjot kendaraan pribadi agar tak lalu lalang di Jakarta terus dilakukan. Salah satunya memperluas aturan ganji-genap.
Selain itu upaya lain adalah mengintegrasikan sejumlah transportasi massal seperti commuter line, mass rapid transit (MRT), TransJakarta, dan light rail transit (LRT). Dia menargetkan 2030 lalui lintas Jakarta membaik dan kualitas udara membaik.
&amp;ldquo;Kota ini harus cepat menuntaskan pengintegrasian transportasi, proyek-proyek pembangunan kendaraan massal,&amp;rdquo; ucap Anies.
Ketua Fraksi NasDem DPRD DKI Bestari Barus meminta Pemprov DKI rajin melakukan pengecekan ulang kendaraan yang lolos uji emisi agar kualitas udara lebih terkendali.
&amp;ldquo;Sampai sekarang kita belum mendapat penjelasan seberapa banyak kendaraan yang beroperasi di Jakarta dan belum lolos uji emisi,&amp;rdquo; kata Bestari. Bestari kemudian mencontohkan transportasi massal Metromini. Kondisi armada yang tua membuat emisi gas sangat tinggi.
Hal itu terlihat dari banyaknya asap tebal yang keluar dari pembuangan. Aneh nya, saat melakukan uji kendaraan bermotor, kendaraan ini lolos uji emisi. &amp;ldquo;Dinas Perhubungan dan Lingkungan Hidup harus berkoordinasi melakukan pengecekan dan pe laksanaan uji emisi secara periodik,&amp;rdquo; tandasnya.Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga menilai  saat ini penggunaan transportasi umum di Jakarta tinggal 23%. Padahal  pada 2030 pengguna transportasi ditargetkan 60%.
Untuk mewujudkan target ter sebut, selain perlu integrasi,  harmonisasi transportasi perlu dilakukan selaras dengan Perpes No 54  Tahun 2008 tentang Penataan Ruang Jabodetabek punjur dan Perpres Nomor  55/2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jabodetabek agar pengembangan  transportasi massal sejalan dengan rencana tata ruang kota.
Selain itu masyarakat harus di dorong menggunakan transportasi  massal. Moda pengumpan mendesak dibuat sehingga transportasi massal  menjadi satu simpul.
&amp;ldquo;Perpindahan moda dalam satu perjalanan maksimal tiga kali, waktu  perjalanan dari asal ke tujuan maksimal 2,5 jam, akses jalan kaki menuju  angkutan umum maksimal 500 meter, serta trotoar dan park and ride  memadai,&amp;rdquo; ucap Nirwono.
Selain itu untuk di lintasan besar demi mengurangi kendaraan pribadi,  pihaknya menyarankan Pemprov DKI segera menerapkan jalan berbayar  elektronik di jalan protokol, perluasan kebijakan ganjil-genap,  e-parking progresif, park and ride di terminal/stasiun.
Kota-kota di India Terparah
Sebanyak 22 dari 30 kota berpolusi terburuk di dunia versi IQAir,  AirVisual, dan Green peace berasal dari India. Kota India yang paling  tercemar ialah Gurugram, wilayah keuangan dan industri. Tingkat polusi  udaranya 13 kali lebih tinggi bila di bandingkan dengan standar yang  ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.
Kota lainnya yang berada di belakang Gurugram ialah Delhi, ibu kota  paling tercemar di seluruh dunia, Patna, Lucknow, Faisalabad, Lahore,  dan Hotan. Para ahli dari IQAir, AirVisual, dan Greenpeace fokus pada  PM2.5. Partikel mikros kopis itu 20 kali lebih kecil daripada sehelai  rambut manusia dan sangat berbahaya.
PM2.5 dapat berupa logam, senyawa organik, atau hasil dari pembakaran  batu bara, kayu, arang, gas, dan minyak. Dampaknya terhadap kesehatan  dan ekonomi lebih hebat daripada asap rokok. Secara global, partikel itu  menyebabkan 7 juta orang tewas per tahun dan mengurangi rata-rata usia  sekitar 1,8 tahun.
Kerugian ekonomi dari kematian buruh akibat PM2.5 saja mencapai  USD225 miliar. Adapun untuk kesehatan ditaksir mencapai triliunan dolar  AS. Bank Dunia bahkan mengestimasi polusi udara merugikan India sebesar  8,5% dari PDB.Dengan peningkatan industrialisasi, masalah itu akan kian sulit   diatasi. Menteri Lingkungan India Harsh Vardhan meluncurkan Program   Udara Bersih Nasional sebagai langkah antisipasi. Dia berharap polusi   udara dapat berkurang 20-30% dalam lima tahun ke depan, tergantung pada   inisiatif dan kebijakan khusus dari setiap pemerintah daerah.
Jika berhasil, warga India disebutnya akan lebih sehat. Sesuai dengan   program Pemerintah India, moda transportasi umum dilarang bergantung   pada mesin diesel dan pemerintah mendorong pemangku kepentingan untuk   menggunakan sumber energi terbarukan, menaikkan pajak bahan bakar, dan   memungut biaya kemacetan.
Para ahli menilai pendistribusian kompor juga akan membantu. China   yang mengalami pertumbuhan ekonomi sangat pesat juga tidak terbebas dari   polusi udara. Terkadang wilayah perkotaan di China di selimuti kabut   asap selama seharian penuh.
Namun, melalui kebijakan baru, China berhasil mengurangi partikel   PM2.5 dan sulfur-dioksida dalam beberapa tahun terakhir. Dengan   kebijakan ramah lingkungan, kualitas udara di be berapa kota Eropa juga   sekarang lebih bersih bila di bandingkan dengan satu generasi   sebelumnya.
Pada 1960-an, California juga pernah menjadi negara dengan polusi   terburuk di dunia. Namun investasi di bidang energi terbarukan   menjadikannya sebagai pelopor antipolusi. Polusi udara merupakan salah   satu penyebab kematian yang tidak disadari banyak orang dan sudah   menyebar keseluruh dunia.
WHO menyebut sebanyak 91% penduduk du nia menghirup udara &amp;ldquo;jahat&amp;rdquo;.   PM2.5 dapat mencemari aliran darah ketika terhirup hingga menyebabkan   kanker, stroke, dan penyakit jantung.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Jakarta harus terus berbenah untuk meningkatkan kualitas udaranya. Berbagai upaya yang telah dilakukan selama ini terbukti tidak membuahkan hasil.
Laporan teranyar, kualitas udaranya bahkan lebih parah dan tidak sehat untuk pernapasan. Parameter itu berdasar data situs penyedia peta polusi daring untuk kota-kota besar di dunia, Air Visual, per Selasa 25 Juni 2019.
Nilai Air Quality Index (AQI) Jakarta mencapai 240. Tingkat skor ini mengindikasikan kondisi udara di Jakarta sangat tidak sehat. Tingkat keburukan udara Jakarta mengalahkan Kota Lahore, Pakistan, Hanoi, Vietnam, dan Dubai, Uni Emirat Arab.
Kemarin, Rabu (26/6), skor AQI berangsur menurun menjadi 152 dan menduduki posisi ketiga sebagai kota dengan udara terkotor setelah Tashkent, Uzbekistan, dan Dubai. Kendati demikian kualitas udara Ibu Kota ini masih termasuk kategori tidak sehat.
Baca Juga: Percantik Terminal Bus, Kemenhub Dapat Tambahan Anggaran Rp1 Triliun
Sebagai informasi, AQI dihitung berdasarkan enam jenis polutan utama, yakni PM 2,5, PM 10, karbon monoksida, nitrogen dioksida, ozon permukaan tanah, dan asam belerang.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengakui persoalan tersebut. Dalam pandangannya, kondisi tersebut terjadi karena banyak masyarakat memilih menggunakan kendaraan pribadi daripada transportasi massal.
Berdasar catatan, hampir 75% masyarakat menggunakan kendaraan pribadi. Adapun yang menggunakan transportasi massal hanya 25%. Kondisi demikian berbanding terbalik dengan di tahun 1998. Kala itu hampir separuh penduduk Jakarta menggunakan transportasi umum.
&amp;ldquo;Yah minimal harus cepat kembali ke 1998,&amp;rdquo; ujar Anies di Jakarta kemarin.
Baca Juga: 38 Terminal Bus Bakal Dimodif bak Bandara
Sebagai solusi, Pemprov DKI tengah berupaya mengurangi kendaraan pribadi. Meski saat ini pengurangan belum signifikan, upaya menggenjot kendaraan pribadi agar tak lalu lalang di Jakarta terus dilakukan. Salah satunya memperluas aturan ganji-genap.
Selain itu upaya lain adalah mengintegrasikan sejumlah transportasi massal seperti commuter line, mass rapid transit (MRT), TransJakarta, dan light rail transit (LRT). Dia menargetkan 2030 lalui lintas Jakarta membaik dan kualitas udara membaik.
&amp;ldquo;Kota ini harus cepat menuntaskan pengintegrasian transportasi, proyek-proyek pembangunan kendaraan massal,&amp;rdquo; ucap Anies.
Ketua Fraksi NasDem DPRD DKI Bestari Barus meminta Pemprov DKI rajin melakukan pengecekan ulang kendaraan yang lolos uji emisi agar kualitas udara lebih terkendali.
&amp;ldquo;Sampai sekarang kita belum mendapat penjelasan seberapa banyak kendaraan yang beroperasi di Jakarta dan belum lolos uji emisi,&amp;rdquo; kata Bestari. Bestari kemudian mencontohkan transportasi massal Metromini. Kondisi armada yang tua membuat emisi gas sangat tinggi.
Hal itu terlihat dari banyaknya asap tebal yang keluar dari pembuangan. Aneh nya, saat melakukan uji kendaraan bermotor, kendaraan ini lolos uji emisi. &amp;ldquo;Dinas Perhubungan dan Lingkungan Hidup harus berkoordinasi melakukan pengecekan dan pe laksanaan uji emisi secara periodik,&amp;rdquo; tandasnya.Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga menilai  saat ini penggunaan transportasi umum di Jakarta tinggal 23%. Padahal  pada 2030 pengguna transportasi ditargetkan 60%.
Untuk mewujudkan target ter sebut, selain perlu integrasi,  harmonisasi transportasi perlu dilakukan selaras dengan Perpes No 54  Tahun 2008 tentang Penataan Ruang Jabodetabek punjur dan Perpres Nomor  55/2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jabodetabek agar pengembangan  transportasi massal sejalan dengan rencana tata ruang kota.
Selain itu masyarakat harus di dorong menggunakan transportasi  massal. Moda pengumpan mendesak dibuat sehingga transportasi massal  menjadi satu simpul.
&amp;ldquo;Perpindahan moda dalam satu perjalanan maksimal tiga kali, waktu  perjalanan dari asal ke tujuan maksimal 2,5 jam, akses jalan kaki menuju  angkutan umum maksimal 500 meter, serta trotoar dan park and ride  memadai,&amp;rdquo; ucap Nirwono.
Selain itu untuk di lintasan besar demi mengurangi kendaraan pribadi,  pihaknya menyarankan Pemprov DKI segera menerapkan jalan berbayar  elektronik di jalan protokol, perluasan kebijakan ganjil-genap,  e-parking progresif, park and ride di terminal/stasiun.
Kota-kota di India Terparah
Sebanyak 22 dari 30 kota berpolusi terburuk di dunia versi IQAir,  AirVisual, dan Green peace berasal dari India. Kota India yang paling  tercemar ialah Gurugram, wilayah keuangan dan industri. Tingkat polusi  udaranya 13 kali lebih tinggi bila di bandingkan dengan standar yang  ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.
Kota lainnya yang berada di belakang Gurugram ialah Delhi, ibu kota  paling tercemar di seluruh dunia, Patna, Lucknow, Faisalabad, Lahore,  dan Hotan. Para ahli dari IQAir, AirVisual, dan Greenpeace fokus pada  PM2.5. Partikel mikros kopis itu 20 kali lebih kecil daripada sehelai  rambut manusia dan sangat berbahaya.
PM2.5 dapat berupa logam, senyawa organik, atau hasil dari pembakaran  batu bara, kayu, arang, gas, dan minyak. Dampaknya terhadap kesehatan  dan ekonomi lebih hebat daripada asap rokok. Secara global, partikel itu  menyebabkan 7 juta orang tewas per tahun dan mengurangi rata-rata usia  sekitar 1,8 tahun.
Kerugian ekonomi dari kematian buruh akibat PM2.5 saja mencapai  USD225 miliar. Adapun untuk kesehatan ditaksir mencapai triliunan dolar  AS. Bank Dunia bahkan mengestimasi polusi udara merugikan India sebesar  8,5% dari PDB.Dengan peningkatan industrialisasi, masalah itu akan kian sulit   diatasi. Menteri Lingkungan India Harsh Vardhan meluncurkan Program   Udara Bersih Nasional sebagai langkah antisipasi. Dia berharap polusi   udara dapat berkurang 20-30% dalam lima tahun ke depan, tergantung pada   inisiatif dan kebijakan khusus dari setiap pemerintah daerah.
Jika berhasil, warga India disebutnya akan lebih sehat. Sesuai dengan   program Pemerintah India, moda transportasi umum dilarang bergantung   pada mesin diesel dan pemerintah mendorong pemangku kepentingan untuk   menggunakan sumber energi terbarukan, menaikkan pajak bahan bakar, dan   memungut biaya kemacetan.
Para ahli menilai pendistribusian kompor juga akan membantu. China   yang mengalami pertumbuhan ekonomi sangat pesat juga tidak terbebas dari   polusi udara. Terkadang wilayah perkotaan di China di selimuti kabut   asap selama seharian penuh.
Namun, melalui kebijakan baru, China berhasil mengurangi partikel   PM2.5 dan sulfur-dioksida dalam beberapa tahun terakhir. Dengan   kebijakan ramah lingkungan, kualitas udara di be berapa kota Eropa juga   sekarang lebih bersih bila di bandingkan dengan satu generasi   sebelumnya.
Pada 1960-an, California juga pernah menjadi negara dengan polusi   terburuk di dunia. Namun investasi di bidang energi terbarukan   menjadikannya sebagai pelopor antipolusi. Polusi udara merupakan salah   satu penyebab kematian yang tidak disadari banyak orang dan sudah   menyebar keseluruh dunia.
WHO menyebut sebanyak 91% penduduk du nia menghirup udara &amp;ldquo;jahat&amp;rdquo;.   PM2.5 dapat mencemari aliran darah ketika terhirup hingga menyebabkan   kanker, stroke, dan penyakit jantung.</content:encoded></item></channel></rss>
