<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Presiden Donald Trump dan Xi Jinping Sepakat Kendurkan Perang Dagang</title><description>Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menegaskan akan mengurangi ketegangan atas perang dagang</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/30/320/2072773/presiden-donald-trump-dan-xi-jinping-sepakat-kendurkan-perang-dagang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/06/30/320/2072773/presiden-donald-trump-dan-xi-jinping-sepakat-kendurkan-perang-dagang"/><item><title>Presiden Donald Trump dan Xi Jinping Sepakat Kendurkan Perang Dagang</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/06/30/320/2072773/presiden-donald-trump-dan-xi-jinping-sepakat-kendurkan-perang-dagang</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/06/30/320/2072773/presiden-donald-trump-dan-xi-jinping-sepakat-kendurkan-perang-dagang</guid><pubDate>Minggu 30 Juni 2019 12:06 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/06/30/320/2072773/presiden-donald-trump-dan-xi-jinping-sepakat-kendurkan-perang-dagang-9VugbhVQkb.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping (Foto: Koran Sindo)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/06/30/320/2072773/presiden-donald-trump-dan-xi-jinping-sepakat-kendurkan-perang-dagang-9VugbhVQkb.jpg</image><title>Presiden Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping (Foto: Koran Sindo)</title></images><description> 
OSAKA &amp;ndash; Ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China sedikit mengendur setelah kedua pemimpin negara bertemu di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Osaka, Jepang, kemarin.
Kedua raksasa ekonomi dunia itu sepakat akan merundingkan kembali isu perang dagang yang telah membuat tatanan perekonomian global mengalami guncangan. Seusai pertemuan tersebut Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menegaskan akan mengurangi ketegangan atas perang dagang dengan meningkatkan kerja sama lebih lanjut.
&amp;ldquo;Kami telah mendiskusikan banyak hal dan akan kembali ke rencana awal,&amp;rdquo; ujar Trump kepada awak media seperti dikutip The New York Times.
Baca Juga: Bos IMF: Perang Dagang AS-China Tak Menguntungkan Siapapun
Pernyataan tersebut diharapkan dapat meredam dampak perang dagang antar kedua negara yang telah berlangsung setahun lebih.
Selama itu AS dan China bersitegang dan saling menetapkan tarif impor yang berdampak pada terganggunya perdagangan kedua negara. Tak hanya itu, perang dagang juga telah menyebabkan korporasi di kedua negara mengeluarkan protes karena merasa dirugikan.
&amp;ldquo;Pemerintah AS tidak akan menjatuhkan tarif baru terhadap barang ekspor dari China selama perundingan berlangsung. China akan kembali membeli produk dari AS,&amp;rdquo; kata Trump.

Dengan demikian penerapan tarif 25% terhadap barang China senilai USD300 miliar akan ditunda. Sekitar tujuh pekan yang lalu, negosiasi untuk mengakhiri perang dagang telah menemui titik buntu dan memanas.
Saat itu Pemerintah China tidak dapat menerima sebagian ketentuan yang ditetapkan Pemerintah AS. Dalam pertemuan terbaru di Jepang, Trump bahkan mencabut larangan transaksi perusahaan AS dengan perusahaan raksasa telekomunikasi asal China, Huawei.
Baca Juga: Perang Dagang AS-China Bisa Ganggu Kesejahteraan Negara ASEAN
Larangan bertransaksi dengan Huawei tersebut sempat memicu keresahan para produsen China lainnya karena merasa diperlakukan tidak adil. &amp;ldquo;Perusahaan AS dapat kembali menjual produknya kepada Huawei,&amp;rdquo; kata Trump.
Pada Mei lalu Pemerintah AS memasukkan Huawei ke dalam daftar hitam dan melarang perusahaan AS bertransaksi dengan Huawei tanpa seizin Pemerintah AS. Kebijakan itu tidak hanya merugikan Huawei, tetapi juga perusahaan AS.
Huawei menyambut baik keputusan itu. Sebelumnya pendiri dan CEO Huawei, Ren Zhengfei, mengatakan Google akan kehilangan 700 juta-800 juta penggunanya jika kerja sama kedua perusahaan dihentikan. Hal itu berkaitan dengan rencana pencabutan lisensi Android smartphone Huawei pada Agustus 2019.
Zhengfei menambahkan, perusahaannya tidak berniat beralih dari produk Google. Namun Huawei akan membuat sistem operasi (OS) sendiri jika tidak memiliki pilihan lain. HongMeng atau Oak OS dilaporkan siap dirilis pada akhir tahun ini dan dapat digunakan pada berbagai perangkat, mulai dari smartphone hingga PC.Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe juga menyampaikan perlunya  kebijakan perdagangan yang bebas, adil, dan tidak diskriminatif serta  penurunan ketegangan perang dagang.
&amp;ldquo;Ekonomi global terus menghadapi risiko penurunan akibat ketegangan  perdagangan masih terus berlanjut,&amp;rdquo; kata Abe selama KTT G-20. Seperti  disampaikan Abe, para pemimpin negara anggota G-20 juga sepakat untuk  mengakhiri proteksionisme dan memilih untuk menerapkan perdagangan  bebas, adil, dan transparan.
Pertumbuhan ekonomi global berlangsung rendah dan berisiko mengalami  krisis akibat ketegangan geopolitik dan perdagangan. &amp;ldquo;Kami perlu tetap  membuka pasar agar perdagangan stabil dan menciptakan lingkungan  investasi yang sehat,&amp;rdquo; ungkap G-20 dalam keterangan gabungan seperti  dilansir Reuters.&amp;nbsp;
Presiden Rusia Vladimir Putin juga mengatakan semua negara  anggota beraspirasi untuk bekerja lebih keras meningkatkan sistem  perdagangan. Senada dengan Rusia, Uni Eropa dan Amerika Selatan juga  menyepakati traktat perdagangan bebas dan pasar terbuka serta mengakhiri  proteksionisme.
Managing Director Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde  mengatakan, ekonomi global &amp;ldquo;terluka&amp;rdquo; akibat perang dagang dan perlunya  perubahan kebijakan.
&amp;ldquo;Pemulihan perundingan perdagangan antara AS dan China saya sambut  dengan baik, tapi penerapan tarif yang telanjur diimplementasikan  menghalangi pertumbuhan ekonomi global. Permasalahan yang tidak kunjung  usai juga menciptakan ketidakpastian di masa yang akan datang,&amp;rdquo; kata  Lagarde.
Hindari Proteksionisme
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, para pemimpin  negara-negara G-20 yang hadir pada pertemuan di Osaka, Jepang, juga  menginginkan adanya reformasi di dalam World Trade Organization (WTO).
Reformasi ini terutama soal investasi dan perdagangan sebagai upaya  meningkatkan pertumbuhan ekonomi global. Menurut dia, investasi dan  perdagangan menjadi isu sangat penting karena menyangkut bagian dari  kebijakan ekonomi negaranegara anggota G-20 yang bisa memengaruhi  pertumbuhan ekonomi secara global.
&amp;ldquo;Semua sepakat bahwa kita perlu melakukan reformasi. Hampir semua  pihak mengatakan perlu adanya upaya menghilangkan atau mengurangi  ketegangan perdagangan internasional, tapi belum ada kesepakatan tentang  bagaimana cara mencapainya,&amp;rdquo; ujar Sri Mulyani dalam keterangan  resminya.
Sri Mulyani menceritakan bahwa untuk menyelesaikan sengketa  perdagangan, para pemimpin yang hadir menginginkan adanya reformasi di  WTO. &amp;ldquo;Mungkin penekanannya berbeda-beda, tapi yang paling penting  reformasi WTO mengenai dispute settlement (penyelesaian perselisihan),  dibentuk mekanisme untuk menangani dispute settlement,&amp;rdquo; jelasnya.
Kedua, menurut dia, menangani berbagai kebijakan multilateral yang  kerap menimbulkan kekacauan (distorsi). Tepatnya bagaimana membentuk  penyelesaian perbedaan sehingga tercipta praktik perdagangan yang adil.
&amp;ldquo;Saya rasa yang paling penting adalah masalah itu,&amp;rdquo; tambahnya.  Pengamat ekonomi Asian Development Bank Institute (ADBI) Eric Sugandi  mengatakan reformasi WTO diperlukan karena selama ini masih banyak  kendala dalam liberalisasi perdagangan internasional.Saat ini, menurut dia, banyak negara anggota WTO yang menetapkan   kebijakan perdagangan proteksionis yang bisa berujung saling balas dan   merugikan pelaku ekonomi. &amp;ldquo;Saat ini kita bisa lihat pada kasus perang   dagang ASChina.
China menerapkan kebijakan state capitalism dengan mendukung   perusahaan-perusahaan mereka, termasuk BUMN, agar kompetitif di pasar   internasional dengan berbagai macam subsidi dan insentif,&amp;rdquo; ujar Eric.&amp;nbsp;
Praktik ini dianggap melanggar prinsip-prinsip perdagangan bebas   oleh AS. Sementara AS sendiri makin proteksionis di bawah Trump. Dia   menilai, pertemuan G-20 harus diakui bersifat politis dan komunike yang   dikeluarkan juga tidak mengikat.
Ekonom BNI Kiryanto sepakat dengan komunike G- 20 mengenai reformasi   struktural di WTO atas reformasi kelembagaan di WTO serta bidang   investasi dan perdagangan. Menurutnya, WTO harus direformasi sesuai   dengan tuntutan dan kebutuhan global.
Sementara reformasi bidang investasi dan perdagangan dimaksudkan   untuk merespons isu-isu tentang trade war, proteksionisme, populisme,   dumping, restriksi investasi, dan daya saing investasi (Global   Competitiveness Rank 2019).
&amp;ldquo;Ada harapan 50% terwujud karena bergantung pada political will AS,   Donald Trump, dan Rusia Vladimir Putin yang mendominasi WTO. Walaupun   ada kemungkinan reformasi G-20, butuh waktu yang panjang. Karena setiap   negara ingin menjadi pemain dominan di ekonomi global,&amp;rdquo; ujar Kiryanto.</description><content:encoded> 
OSAKA &amp;ndash; Ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China sedikit mengendur setelah kedua pemimpin negara bertemu di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Osaka, Jepang, kemarin.
Kedua raksasa ekonomi dunia itu sepakat akan merundingkan kembali isu perang dagang yang telah membuat tatanan perekonomian global mengalami guncangan. Seusai pertemuan tersebut Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menegaskan akan mengurangi ketegangan atas perang dagang dengan meningkatkan kerja sama lebih lanjut.
&amp;ldquo;Kami telah mendiskusikan banyak hal dan akan kembali ke rencana awal,&amp;rdquo; ujar Trump kepada awak media seperti dikutip The New York Times.
Baca Juga: Bos IMF: Perang Dagang AS-China Tak Menguntungkan Siapapun
Pernyataan tersebut diharapkan dapat meredam dampak perang dagang antar kedua negara yang telah berlangsung setahun lebih.
Selama itu AS dan China bersitegang dan saling menetapkan tarif impor yang berdampak pada terganggunya perdagangan kedua negara. Tak hanya itu, perang dagang juga telah menyebabkan korporasi di kedua negara mengeluarkan protes karena merasa dirugikan.
&amp;ldquo;Pemerintah AS tidak akan menjatuhkan tarif baru terhadap barang ekspor dari China selama perundingan berlangsung. China akan kembali membeli produk dari AS,&amp;rdquo; kata Trump.

Dengan demikian penerapan tarif 25% terhadap barang China senilai USD300 miliar akan ditunda. Sekitar tujuh pekan yang lalu, negosiasi untuk mengakhiri perang dagang telah menemui titik buntu dan memanas.
Saat itu Pemerintah China tidak dapat menerima sebagian ketentuan yang ditetapkan Pemerintah AS. Dalam pertemuan terbaru di Jepang, Trump bahkan mencabut larangan transaksi perusahaan AS dengan perusahaan raksasa telekomunikasi asal China, Huawei.
Baca Juga: Perang Dagang AS-China Bisa Ganggu Kesejahteraan Negara ASEAN
Larangan bertransaksi dengan Huawei tersebut sempat memicu keresahan para produsen China lainnya karena merasa diperlakukan tidak adil. &amp;ldquo;Perusahaan AS dapat kembali menjual produknya kepada Huawei,&amp;rdquo; kata Trump.
Pada Mei lalu Pemerintah AS memasukkan Huawei ke dalam daftar hitam dan melarang perusahaan AS bertransaksi dengan Huawei tanpa seizin Pemerintah AS. Kebijakan itu tidak hanya merugikan Huawei, tetapi juga perusahaan AS.
Huawei menyambut baik keputusan itu. Sebelumnya pendiri dan CEO Huawei, Ren Zhengfei, mengatakan Google akan kehilangan 700 juta-800 juta penggunanya jika kerja sama kedua perusahaan dihentikan. Hal itu berkaitan dengan rencana pencabutan lisensi Android smartphone Huawei pada Agustus 2019.
Zhengfei menambahkan, perusahaannya tidak berniat beralih dari produk Google. Namun Huawei akan membuat sistem operasi (OS) sendiri jika tidak memiliki pilihan lain. HongMeng atau Oak OS dilaporkan siap dirilis pada akhir tahun ini dan dapat digunakan pada berbagai perangkat, mulai dari smartphone hingga PC.Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe juga menyampaikan perlunya  kebijakan perdagangan yang bebas, adil, dan tidak diskriminatif serta  penurunan ketegangan perang dagang.
&amp;ldquo;Ekonomi global terus menghadapi risiko penurunan akibat ketegangan  perdagangan masih terus berlanjut,&amp;rdquo; kata Abe selama KTT G-20. Seperti  disampaikan Abe, para pemimpin negara anggota G-20 juga sepakat untuk  mengakhiri proteksionisme dan memilih untuk menerapkan perdagangan  bebas, adil, dan transparan.
Pertumbuhan ekonomi global berlangsung rendah dan berisiko mengalami  krisis akibat ketegangan geopolitik dan perdagangan. &amp;ldquo;Kami perlu tetap  membuka pasar agar perdagangan stabil dan menciptakan lingkungan  investasi yang sehat,&amp;rdquo; ungkap G-20 dalam keterangan gabungan seperti  dilansir Reuters.&amp;nbsp;
Presiden Rusia Vladimir Putin juga mengatakan semua negara  anggota beraspirasi untuk bekerja lebih keras meningkatkan sistem  perdagangan. Senada dengan Rusia, Uni Eropa dan Amerika Selatan juga  menyepakati traktat perdagangan bebas dan pasar terbuka serta mengakhiri  proteksionisme.
Managing Director Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde  mengatakan, ekonomi global &amp;ldquo;terluka&amp;rdquo; akibat perang dagang dan perlunya  perubahan kebijakan.
&amp;ldquo;Pemulihan perundingan perdagangan antara AS dan China saya sambut  dengan baik, tapi penerapan tarif yang telanjur diimplementasikan  menghalangi pertumbuhan ekonomi global. Permasalahan yang tidak kunjung  usai juga menciptakan ketidakpastian di masa yang akan datang,&amp;rdquo; kata  Lagarde.
Hindari Proteksionisme
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, para pemimpin  negara-negara G-20 yang hadir pada pertemuan di Osaka, Jepang, juga  menginginkan adanya reformasi di dalam World Trade Organization (WTO).
Reformasi ini terutama soal investasi dan perdagangan sebagai upaya  meningkatkan pertumbuhan ekonomi global. Menurut dia, investasi dan  perdagangan menjadi isu sangat penting karena menyangkut bagian dari  kebijakan ekonomi negaranegara anggota G-20 yang bisa memengaruhi  pertumbuhan ekonomi secara global.
&amp;ldquo;Semua sepakat bahwa kita perlu melakukan reformasi. Hampir semua  pihak mengatakan perlu adanya upaya menghilangkan atau mengurangi  ketegangan perdagangan internasional, tapi belum ada kesepakatan tentang  bagaimana cara mencapainya,&amp;rdquo; ujar Sri Mulyani dalam keterangan  resminya.
Sri Mulyani menceritakan bahwa untuk menyelesaikan sengketa  perdagangan, para pemimpin yang hadir menginginkan adanya reformasi di  WTO. &amp;ldquo;Mungkin penekanannya berbeda-beda, tapi yang paling penting  reformasi WTO mengenai dispute settlement (penyelesaian perselisihan),  dibentuk mekanisme untuk menangani dispute settlement,&amp;rdquo; jelasnya.
Kedua, menurut dia, menangani berbagai kebijakan multilateral yang  kerap menimbulkan kekacauan (distorsi). Tepatnya bagaimana membentuk  penyelesaian perbedaan sehingga tercipta praktik perdagangan yang adil.
&amp;ldquo;Saya rasa yang paling penting adalah masalah itu,&amp;rdquo; tambahnya.  Pengamat ekonomi Asian Development Bank Institute (ADBI) Eric Sugandi  mengatakan reformasi WTO diperlukan karena selama ini masih banyak  kendala dalam liberalisasi perdagangan internasional.Saat ini, menurut dia, banyak negara anggota WTO yang menetapkan   kebijakan perdagangan proteksionis yang bisa berujung saling balas dan   merugikan pelaku ekonomi. &amp;ldquo;Saat ini kita bisa lihat pada kasus perang   dagang ASChina.
China menerapkan kebijakan state capitalism dengan mendukung   perusahaan-perusahaan mereka, termasuk BUMN, agar kompetitif di pasar   internasional dengan berbagai macam subsidi dan insentif,&amp;rdquo; ujar Eric.&amp;nbsp;
Praktik ini dianggap melanggar prinsip-prinsip perdagangan bebas   oleh AS. Sementara AS sendiri makin proteksionis di bawah Trump. Dia   menilai, pertemuan G-20 harus diakui bersifat politis dan komunike yang   dikeluarkan juga tidak mengikat.
Ekonom BNI Kiryanto sepakat dengan komunike G- 20 mengenai reformasi   struktural di WTO atas reformasi kelembagaan di WTO serta bidang   investasi dan perdagangan. Menurutnya, WTO harus direformasi sesuai   dengan tuntutan dan kebutuhan global.
Sementara reformasi bidang investasi dan perdagangan dimaksudkan   untuk merespons isu-isu tentang trade war, proteksionisme, populisme,   dumping, restriksi investasi, dan daya saing investasi (Global   Competitiveness Rank 2019).
&amp;ldquo;Ada harapan 50% terwujud karena bergantung pada political will AS,   Donald Trump, dan Rusia Vladimir Putin yang mendominasi WTO. Walaupun   ada kemungkinan reformasi G-20, butuh waktu yang panjang. Karena setiap   negara ingin menjadi pemain dominan di ekonomi global,&amp;rdquo; ujar Kiryanto.</content:encoded></item></channel></rss>
