<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Laksanakan Amanat Presiden Jokowi, Efisiensi Belanja Alsintan Rp1,2 Triliun</title><description>Kementerian Pertanian (Kementan) secara aktif melakukan upaya modernisasi pertanian dengan pengembangan teknologi pertanian.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/01/320/2072990/laksanakan-amanat-presiden-jokowi-efisiensi-belanja-alsintan-rp1-2-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/01/320/2072990/laksanakan-amanat-presiden-jokowi-efisiensi-belanja-alsintan-rp1-2-triliun"/><item><title>Laksanakan Amanat Presiden Jokowi, Efisiensi Belanja Alsintan Rp1,2 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/01/320/2072990/laksanakan-amanat-presiden-jokowi-efisiensi-belanja-alsintan-rp1-2-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/01/320/2072990/laksanakan-amanat-presiden-jokowi-efisiensi-belanja-alsintan-rp1-2-triliun</guid><pubDate>Senin 01 Juli 2019 07:58 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/01/320/2072990/laksanakan-amanat-presiden-jokowi-efisiensi-belanja-alsintan-rp1-2-triliun-9NtTvqAxwU.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Dok. Kementan</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/01/320/2072990/laksanakan-amanat-presiden-jokowi-efisiensi-belanja-alsintan-rp1-2-triliun-9NtTvqAxwU.jpg</image><title>Foto: Dok. Kementan</title></images><description> 
JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) secara aktif melakukan upaya modernisasi pertanian dengan pengembangan teknologi pertanian, mulai dari perbenihan, cara tanam, perhitungan pola tanam berbasis IT, hingga mekanisasi.

Pertanaman dan panen komoditas utama seperti padi dan jagung secara khusus dikembangkan pemanfaatan mekanisasi dengan alat mesin pertanian (alsintan) modern.

Selama 4,5 tahun terakhir, pemerintah telah melaksanakan pengadaan alsintan dalam jumlah besar dan menggunakan alokasi anggaran yang besar pula. Kementan sebagai kementerian yang telah mendapatkan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebanyak 3 tahun berturut-turut, terbukti berhasil mengelola pengadaannya dengan baik.

&quot;Kami sadar anggaran yang dipergunakan sangat besar, untuk itu kami memastikan sistem yang digunakan pun akuntabel dan efisien terhadap keuangan negara. Kami juga terus menjaga integritas petugas yang menangani ini,&amp;rdquo; ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Senin (1/7/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Kementan: Efisiensi Lewat E-catalog, Belanja Alsintan Hemat Rp1,2 Triliun
Amran mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengamanahkan agar anggaran kementerian dikelola dengan baik dan  mengedepankan efisiensi. Untuk meningkatkan efisiensi, Kementan telah menggunakan e-catalog, yaitu layanan  pengelolaan memfasilitasi pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa berbasis teknologi informasi dan teknologi (TIK).

Tender Elektronik Lebih Efisien
 
&amp;nbsp;
Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Sarwo Edhy memyampaikan e-catalog merupakan bentuk komitmen Kementan dalam melakukan digitalisasi pengadaan.

&amp;ldquo;Jadi pembelian apapun langsung ke pabrik, harga murah, dan datang tepat waktu. Semuanya karena e-catalog. Dengan cara ini harga juga turun, kemudian saya akumulasi pertahun penghematan anggaran sangat drastis,&amp;rdquo; ungkap Edhy.

Edhy juga menyampaikan bahwa pengadaan barang dan jasa untuk alsintan pra panen dan pasca panen 4 tahun terakhir melalui e-catalog  telah menghemat anggaran negara hingga Rp1,2 triliun. Penghematan terhadap pengadaan alsintan pra panen yaitu traktor roda 2, traktor roda 4 sebesar dan rice transplanter sebesar Rp1,096 triliun serta penghematan pengadaan alsintan pasca panen yaitu combine harvester sebesar Rp120 miliar.
&amp;nbsp;Baca Juga: Kementan Minta Bantuan Alsintan Dikelola Secara Profesional
Sebagai gambaran pemanfaatan e-katalog untuk alsintan pertanian, sebelum menggunakan e-katalog untuk traktor roda dua per unitnya harganya Rp26 juta,  tahun 2015, setelah e-katalog harga menjadi Rp23 juta pada tahun 2016. begitupula dengan traktor roda empat (35-50hp) di tahun 2015 tanpa e-katalog Rp367 juta- menjadi Rp326 juta. Penghematan juga terjadi pada pengadaan rice transplanter dan combine harvester.

&amp;ldquo;Harga rice transplanter sebelum implementasi e-catalog senilai Rp 76 juta, sementara pada saat pemberlakuan e-catalog tahun 2015, harganya menjadi lebih murah yaitu senilai Rp 63 juta. Begitu pun untuk combine harvester besar, dari Rp 380 juta menjadi Rp 337 juta,&amp;rdquo; papar Edhy.
Dalam proses e-catalog, diungkap Edhy,  terjadi negosiasi harga yang  terekam jelas secara elektronik dan transparansi serta akuntabel. Semua  pihak dapat mengawasi pengadaan dengan sistem e-katalog, karena sistem  tersebut melalui Lembaga Kebijakan Pengadaaan Barang/Jasa Pemerintah  (LKPP).

Langkah untuk mendigitalkan layanan penyediaan alsintan sepertinya  menjadi salah satu jalan yang paling pas untuk dipilih oleh Kementerian  Pertanian. Walaupun belum semua layanan mampu ter-cover dengan baik  dalam sistem digital yang ada saat ini, setidaknya sistem e-Katalog yang  diimplementasikan di Kementerian Pertanian telah membuktikan manfaatnya  dengan penghematan biaya belanja pemerintah hingga 40%.

Menurut Edhy, sistem tender elektronik yang telah dilaksanakan sejak  tahun 2015 telah memberikan kinerja yang cukup baik dalam hal  penghematan. Ia menyebutkan penghematan biaya ini didapat di antaranya  lantaran kita tidak perlu lagi harus mengeluarkan budget lebih untuk  biasa transportasi dan akomodasi untuk menghampiri pihak-pihak yang  berminat ikut tender atau lelang.

Kebijakan digitalisasi dalam pengadaan alsintan ini turut berpengaruh  terhadap peningkatan level mekanisasi pertanian di Indonesia. &amp;ldquo;Pada  tahun 2014, level mekanisasi pertanian hanya 0,14. Pada tahun 2018  kemarin meningkat signifikan menjadi 1,68,&amp;rdquo; jelas Edhy.

Kementan telah menguji efisiensi lima alsintan yang berbasis  teknologi 4.0, yaitu atonomous tractor, robot tanam, drone sebar pupil,  autonomous combine, dan panen olah tanah terintegrasi.

&amp;ldquo;Kelima alsintan berbasis teknologi 4.0 ini bila dibandingkan  alsintan konvensional meningkatkan efisiensi waktu kerja berkisar 51%  hingga 82%. Sementara efisiensi biaya berkisar 30% hingga 75%,&amp;rdquo; beber  Edhy.

Mekanisasi Wujudkan Pertanian 4.0
 
&amp;nbsp;
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat meresmikan Program  Pertanian 4.0 di Desa Junwangi, Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (29/6),  menyampaikan bahwa teknologi 4.0  diimplementasikan di pertanian  Indonesia sesuai arahan Presiden Jokowi. Diharapkan  pemanfaatan  Pertanian 4.0 dapat meningkatkan efisiensi waktu kerja dan efisiensi  biaya secara signifikan, serta memberikan keuntungan bagi petani.

&quot;Ini hasil anak-anak bangsa, Anda lihat mesin pertanian sudah bisa  bergerak tanpa awak. Alat-alat mesin pertanian ini sudah memanfaatkan  IT, mulai dari mesin pengolah lahan, drone penebar benih dan pupuk serta  alat panen. Dengan begitu, semua biaya menjadi lebih efisien, efektif,  transparansi dan akuntabel, &quot; ujar Amran.

Mekanisasi mampu mengurangi kerugian petani, baik saat menanam maupun  panen. Menurut Amran, kehilangan atau losses saat panen biasanya  terjadi saat pemotongan, Perontokan, Pengeringan, dan diperhitungkan  bisa mencapai 10%. Namun panen dengan menggunakan combine harvester  hanya 1% - 3%.

&quot;Jauh sangat efisien dan menguntungkan petani. Efisiensi kerja dengan  menggunakan alsintan dapat terlihat dalam waktu kerja olah tanah yang  biasanya bila manual butuh 320-400 jam/hektare, kini dengan alsintan  hanya butuh 4-6 jam per hektare atau 97.4% lebih efisien dan menghemat  biaya kerja hingga 40% (hanya 1.2 juta per hektare bila sebelumnya 2  juta per hektare),&amp;rdquo; terang Amran.
Efisiensi waktu juga berpengaruh terhadap alokasi tenaga kerja yang   akhirnya akan mempengaruhi efisiensi biaya. Berdasarkan uji yang   dilakukan oleh Kementan, mekanisasi telah mampu menurunkan biaya   produksi sekitar 30% dan disisi lain mampu meningkatkan produktivitas   lahan  33,83%.


Dukungan terhadap upaya pemerintah mewujudkan Pertanian 4.0 datang   dari Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Imam   Santoso. Pria yang juga menjabat sebagai  Ketua Forum Komunikasi   Perguruan Tinggi Teknologi Pertanian Indonesia (FKPT-TPI) tersebut   menyampaikan bahwa sektor pertanian harus sudah mengimplementasikan   teknologi dalam proses pertanian dari hulu sampai dengan ke hilir.

&quot;Di era serba digital ini, sektor pertanian harus sudah mulai   menggunakan teknologi. Dengan teknologi semua akan menjadi efektif dan   efisien. Begitupula target yang akan dicapai akan lebih realistis,   karena teknologi itu identik dengan presisi tinggi. Selain itu, untuk   makin meningkatkan keberhasilan pertanian presisi ini perlu didukung   juga oleh pengembangan agroindustri 4.0, yang mengintegrasikan hulu   hilir secara efektif dan efisien, &quot; ujar Imam.

Imam menyampaikan bahwa pertanian presisi (precision agriculture)   atau pertanian terukur, atau yang lebih dikenal dengan precision   farming, merupakan konsep pertanian berbasis teknologi yang dalam   pendekatannya bertumpu pada observasi dan pengukuran yang nantinya akan   menghasilkan data untuk menentukan kegiatan kerja bercocok tanam yang   efektif dan efisien.

Mekanisasi Pertanian Tingkatkan Kesejahteraan Petani
 
&amp;nbsp;
Mekanisasi pertanian yang telah dilakukan dinilai telah mampu   meningkatkan pendapatan petani, meskipun harga yang diterima petani    menurun (deflasi) akibat produksi melimpah, akan tetapi karena tambahan   penghematan biaya dan kenaikan produksi akibat mekanisasi mampu   mengkonpensasi turunnya harga yang diterima petani, sehingga tidak   berdampak terhadap turunnya Nilai Tukar Petani (NTP).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Nilai Tukar Petani (NTP)   nasional pada Mei 2019 tercatat sebesar 102,61 atau meningkat 0,38   persen dibandingkan bulan sebelumnya.

rata-rata NTP tahun 2019 dari Januari - Mei pun masih menjadi catatan terbaik selama enam tahun terakhir.

NTP Januari &amp;ndash; Mei 2019 bila dirata-ratakan mencapai 102.77, lebih   tinggi 0,91% bila dibandingkan capaian NTP Januari &amp;ndash; Mei 2014 senilai   101.86, atau lebih tinggi 0.61% dibandingkan capaian periode yang sama   pada tahun 2018 senilai 102.16.

&amp;ldquo;NTP menunjukkan nilai tukar dari produk-produk pertanian terhadap   barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga termasuk biaya produksi.   Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan   atau daya beli petani,&amp;rdquo; ungkap Kepala BPS Suharyanto.

Inflasi bahan makanan turun dalam sejarah Indonesia  mencapai 1,26%   pada tahun 2017 dimana pada tahun 2013 masih sekitar 11,35%. Meski   inflasi menurun, nyatanya daya beli dan kesejahteraan petani tetap   membaik, yang ditandai meningkatnya NTUP sebesar 5,45% dan  NTP sebesar    0,42% selama periode 2014-2018. Secara khusus, menyebabkan jumlah   penduduk miskin di perdesaan turun dari 14,17% pada tahun 2014 menjadi   13,20% pada tahun 2018.

Lebih lanjut data BPS mencatat, PDB sektor pertanian naik Rp400   triliun sampai Rp500 triliun. Total akumulasi mencapai Rp1.370 triliun.   Kemudian,  pertumbuhan ekonomi pertanian 2018 mencapai 3,7%. Angka   tersebut melampaui target yang ditetapkan pemerintah 3,5%.

Kepala Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Agung Prabowo juga   menambahkan mekanisasi mampu menghemat penggunaan tenaga kerja dan   meningkatkan nilai tambah produksi sehingga menyebabkan produktivitas   tenaga kerja sektor pertanian meningkat.

&amp;ldquo;Selama tahun 2014-2018, produktivitas tenaga kerja sektor pertanian   meningkat 20,35%, dari sebesar Rp 23,29 juta per orang pada tahun 2014   meningkat menjadi Rp 28,03 juta per orang pada tahun 2018,&amp;rdquo; pungkasnya.
</description><content:encoded> 
JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) secara aktif melakukan upaya modernisasi pertanian dengan pengembangan teknologi pertanian, mulai dari perbenihan, cara tanam, perhitungan pola tanam berbasis IT, hingga mekanisasi.

Pertanaman dan panen komoditas utama seperti padi dan jagung secara khusus dikembangkan pemanfaatan mekanisasi dengan alat mesin pertanian (alsintan) modern.

Selama 4,5 tahun terakhir, pemerintah telah melaksanakan pengadaan alsintan dalam jumlah besar dan menggunakan alokasi anggaran yang besar pula. Kementan sebagai kementerian yang telah mendapatkan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebanyak 3 tahun berturut-turut, terbukti berhasil mengelola pengadaannya dengan baik.

&quot;Kami sadar anggaran yang dipergunakan sangat besar, untuk itu kami memastikan sistem yang digunakan pun akuntabel dan efisien terhadap keuangan negara. Kami juga terus menjaga integritas petugas yang menangani ini,&amp;rdquo; ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Senin (1/7/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Kementan: Efisiensi Lewat E-catalog, Belanja Alsintan Hemat Rp1,2 Triliun
Amran mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengamanahkan agar anggaran kementerian dikelola dengan baik dan  mengedepankan efisiensi. Untuk meningkatkan efisiensi, Kementan telah menggunakan e-catalog, yaitu layanan  pengelolaan memfasilitasi pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa berbasis teknologi informasi dan teknologi (TIK).

Tender Elektronik Lebih Efisien
 
&amp;nbsp;
Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Sarwo Edhy memyampaikan e-catalog merupakan bentuk komitmen Kementan dalam melakukan digitalisasi pengadaan.

&amp;ldquo;Jadi pembelian apapun langsung ke pabrik, harga murah, dan datang tepat waktu. Semuanya karena e-catalog. Dengan cara ini harga juga turun, kemudian saya akumulasi pertahun penghematan anggaran sangat drastis,&amp;rdquo; ungkap Edhy.

Edhy juga menyampaikan bahwa pengadaan barang dan jasa untuk alsintan pra panen dan pasca panen 4 tahun terakhir melalui e-catalog  telah menghemat anggaran negara hingga Rp1,2 triliun. Penghematan terhadap pengadaan alsintan pra panen yaitu traktor roda 2, traktor roda 4 sebesar dan rice transplanter sebesar Rp1,096 triliun serta penghematan pengadaan alsintan pasca panen yaitu combine harvester sebesar Rp120 miliar.
&amp;nbsp;Baca Juga: Kementan Minta Bantuan Alsintan Dikelola Secara Profesional
Sebagai gambaran pemanfaatan e-katalog untuk alsintan pertanian, sebelum menggunakan e-katalog untuk traktor roda dua per unitnya harganya Rp26 juta,  tahun 2015, setelah e-katalog harga menjadi Rp23 juta pada tahun 2016. begitupula dengan traktor roda empat (35-50hp) di tahun 2015 tanpa e-katalog Rp367 juta- menjadi Rp326 juta. Penghematan juga terjadi pada pengadaan rice transplanter dan combine harvester.

&amp;ldquo;Harga rice transplanter sebelum implementasi e-catalog senilai Rp 76 juta, sementara pada saat pemberlakuan e-catalog tahun 2015, harganya menjadi lebih murah yaitu senilai Rp 63 juta. Begitu pun untuk combine harvester besar, dari Rp 380 juta menjadi Rp 337 juta,&amp;rdquo; papar Edhy.
Dalam proses e-catalog, diungkap Edhy,  terjadi negosiasi harga yang  terekam jelas secara elektronik dan transparansi serta akuntabel. Semua  pihak dapat mengawasi pengadaan dengan sistem e-katalog, karena sistem  tersebut melalui Lembaga Kebijakan Pengadaaan Barang/Jasa Pemerintah  (LKPP).

Langkah untuk mendigitalkan layanan penyediaan alsintan sepertinya  menjadi salah satu jalan yang paling pas untuk dipilih oleh Kementerian  Pertanian. Walaupun belum semua layanan mampu ter-cover dengan baik  dalam sistem digital yang ada saat ini, setidaknya sistem e-Katalog yang  diimplementasikan di Kementerian Pertanian telah membuktikan manfaatnya  dengan penghematan biaya belanja pemerintah hingga 40%.

Menurut Edhy, sistem tender elektronik yang telah dilaksanakan sejak  tahun 2015 telah memberikan kinerja yang cukup baik dalam hal  penghematan. Ia menyebutkan penghematan biaya ini didapat di antaranya  lantaran kita tidak perlu lagi harus mengeluarkan budget lebih untuk  biasa transportasi dan akomodasi untuk menghampiri pihak-pihak yang  berminat ikut tender atau lelang.

Kebijakan digitalisasi dalam pengadaan alsintan ini turut berpengaruh  terhadap peningkatan level mekanisasi pertanian di Indonesia. &amp;ldquo;Pada  tahun 2014, level mekanisasi pertanian hanya 0,14. Pada tahun 2018  kemarin meningkat signifikan menjadi 1,68,&amp;rdquo; jelas Edhy.

Kementan telah menguji efisiensi lima alsintan yang berbasis  teknologi 4.0, yaitu atonomous tractor, robot tanam, drone sebar pupil,  autonomous combine, dan panen olah tanah terintegrasi.

&amp;ldquo;Kelima alsintan berbasis teknologi 4.0 ini bila dibandingkan  alsintan konvensional meningkatkan efisiensi waktu kerja berkisar 51%  hingga 82%. Sementara efisiensi biaya berkisar 30% hingga 75%,&amp;rdquo; beber  Edhy.

Mekanisasi Wujudkan Pertanian 4.0
 
&amp;nbsp;
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat meresmikan Program  Pertanian 4.0 di Desa Junwangi, Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (29/6),  menyampaikan bahwa teknologi 4.0  diimplementasikan di pertanian  Indonesia sesuai arahan Presiden Jokowi. Diharapkan  pemanfaatan  Pertanian 4.0 dapat meningkatkan efisiensi waktu kerja dan efisiensi  biaya secara signifikan, serta memberikan keuntungan bagi petani.

&quot;Ini hasil anak-anak bangsa, Anda lihat mesin pertanian sudah bisa  bergerak tanpa awak. Alat-alat mesin pertanian ini sudah memanfaatkan  IT, mulai dari mesin pengolah lahan, drone penebar benih dan pupuk serta  alat panen. Dengan begitu, semua biaya menjadi lebih efisien, efektif,  transparansi dan akuntabel, &quot; ujar Amran.

Mekanisasi mampu mengurangi kerugian petani, baik saat menanam maupun  panen. Menurut Amran, kehilangan atau losses saat panen biasanya  terjadi saat pemotongan, Perontokan, Pengeringan, dan diperhitungkan  bisa mencapai 10%. Namun panen dengan menggunakan combine harvester  hanya 1% - 3%.

&quot;Jauh sangat efisien dan menguntungkan petani. Efisiensi kerja dengan  menggunakan alsintan dapat terlihat dalam waktu kerja olah tanah yang  biasanya bila manual butuh 320-400 jam/hektare, kini dengan alsintan  hanya butuh 4-6 jam per hektare atau 97.4% lebih efisien dan menghemat  biaya kerja hingga 40% (hanya 1.2 juta per hektare bila sebelumnya 2  juta per hektare),&amp;rdquo; terang Amran.
Efisiensi waktu juga berpengaruh terhadap alokasi tenaga kerja yang   akhirnya akan mempengaruhi efisiensi biaya. Berdasarkan uji yang   dilakukan oleh Kementan, mekanisasi telah mampu menurunkan biaya   produksi sekitar 30% dan disisi lain mampu meningkatkan produktivitas   lahan  33,83%.


Dukungan terhadap upaya pemerintah mewujudkan Pertanian 4.0 datang   dari Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Imam   Santoso. Pria yang juga menjabat sebagai  Ketua Forum Komunikasi   Perguruan Tinggi Teknologi Pertanian Indonesia (FKPT-TPI) tersebut   menyampaikan bahwa sektor pertanian harus sudah mengimplementasikan   teknologi dalam proses pertanian dari hulu sampai dengan ke hilir.

&quot;Di era serba digital ini, sektor pertanian harus sudah mulai   menggunakan teknologi. Dengan teknologi semua akan menjadi efektif dan   efisien. Begitupula target yang akan dicapai akan lebih realistis,   karena teknologi itu identik dengan presisi tinggi. Selain itu, untuk   makin meningkatkan keberhasilan pertanian presisi ini perlu didukung   juga oleh pengembangan agroindustri 4.0, yang mengintegrasikan hulu   hilir secara efektif dan efisien, &quot; ujar Imam.

Imam menyampaikan bahwa pertanian presisi (precision agriculture)   atau pertanian terukur, atau yang lebih dikenal dengan precision   farming, merupakan konsep pertanian berbasis teknologi yang dalam   pendekatannya bertumpu pada observasi dan pengukuran yang nantinya akan   menghasilkan data untuk menentukan kegiatan kerja bercocok tanam yang   efektif dan efisien.

Mekanisasi Pertanian Tingkatkan Kesejahteraan Petani
 
&amp;nbsp;
Mekanisasi pertanian yang telah dilakukan dinilai telah mampu   meningkatkan pendapatan petani, meskipun harga yang diterima petani    menurun (deflasi) akibat produksi melimpah, akan tetapi karena tambahan   penghematan biaya dan kenaikan produksi akibat mekanisasi mampu   mengkonpensasi turunnya harga yang diterima petani, sehingga tidak   berdampak terhadap turunnya Nilai Tukar Petani (NTP).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Nilai Tukar Petani (NTP)   nasional pada Mei 2019 tercatat sebesar 102,61 atau meningkat 0,38   persen dibandingkan bulan sebelumnya.

rata-rata NTP tahun 2019 dari Januari - Mei pun masih menjadi catatan terbaik selama enam tahun terakhir.

NTP Januari &amp;ndash; Mei 2019 bila dirata-ratakan mencapai 102.77, lebih   tinggi 0,91% bila dibandingkan capaian NTP Januari &amp;ndash; Mei 2014 senilai   101.86, atau lebih tinggi 0.61% dibandingkan capaian periode yang sama   pada tahun 2018 senilai 102.16.

&amp;ldquo;NTP menunjukkan nilai tukar dari produk-produk pertanian terhadap   barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga termasuk biaya produksi.   Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan   atau daya beli petani,&amp;rdquo; ungkap Kepala BPS Suharyanto.

Inflasi bahan makanan turun dalam sejarah Indonesia  mencapai 1,26%   pada tahun 2017 dimana pada tahun 2013 masih sekitar 11,35%. Meski   inflasi menurun, nyatanya daya beli dan kesejahteraan petani tetap   membaik, yang ditandai meningkatnya NTUP sebesar 5,45% dan  NTP sebesar    0,42% selama periode 2014-2018. Secara khusus, menyebabkan jumlah   penduduk miskin di perdesaan turun dari 14,17% pada tahun 2014 menjadi   13,20% pada tahun 2018.

Lebih lanjut data BPS mencatat, PDB sektor pertanian naik Rp400   triliun sampai Rp500 triliun. Total akumulasi mencapai Rp1.370 triliun.   Kemudian,  pertumbuhan ekonomi pertanian 2018 mencapai 3,7%. Angka   tersebut melampaui target yang ditetapkan pemerintah 3,5%.

Kepala Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Agung Prabowo juga   menambahkan mekanisasi mampu menghemat penggunaan tenaga kerja dan   meningkatkan nilai tambah produksi sehingga menyebabkan produktivitas   tenaga kerja sektor pertanian meningkat.

&amp;ldquo;Selama tahun 2014-2018, produktivitas tenaga kerja sektor pertanian   meningkat 20,35%, dari sebesar Rp 23,29 juta per orang pada tahun 2014   meningkat menjadi Rp 28,03 juta per orang pada tahun 2018,&amp;rdquo; pungkasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
