<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>RI Ekspor 4 Ton Kerang Setiap Hari ke Thailand      </title><description>Sebanyak empat ton kerang darah yang merupakan hasil budidaya nelayan Panipahan, Kabupaten Rokan Hilir, Riau mulai diekspor ke Thailand</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/01/320/2073139/ri-ekspor-4-ton-kerang-setiap-hari-ke-thailand</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/01/320/2073139/ri-ekspor-4-ton-kerang-setiap-hari-ke-thailand"/><item><title>RI Ekspor 4 Ton Kerang Setiap Hari ke Thailand      </title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/01/320/2073139/ri-ekspor-4-ton-kerang-setiap-hari-ke-thailand</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/01/320/2073139/ri-ekspor-4-ton-kerang-setiap-hari-ke-thailand</guid><pubDate>Senin 01 Juli 2019 14:28 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/01/320/2073139/ri-ekspor-4-ton-kerang-setiap-hari-ke-thailand-gYZd04oAYd.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Kerang Darah (Foto: Wikipedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/01/320/2073139/ri-ekspor-4-ton-kerang-setiap-hari-ke-thailand-gYZd04oAYd.jpg</image><title>Ilustrasi Kerang Darah (Foto: Wikipedia)</title></images><description>PEKANBARU  - Riau berhasil membuka pintu ekspor kerang darah (Anadara granosa) ke Negeri Gajah Putih Thailand dengan volume mencapai empat ton setiap hari melalui jalur udara Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.
&quot;Mudah-mudahan dengan dibukanya ekspor melalui penerbangan langsung ini ekspor kerang akan terus meningkat,&quot; kata Kepala Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas 1 Pekanbaru Eko Sulistyanto,dikutip dari Antaranews, di Pekanbaru, Senin (1/7/2019).
Baca Juga: Indonesia Tingkatkan Ekspor Kopi dan Gula ke Korea Selatan
Sebanyak empat ton kerang darah yang merupakan hasil budidaya nelayan Panipahan, Kabupaten Rokan Hilir, Riau mulai diekspor ke Thailand setiap hari. Potensi nilai ekonomi ekspor tersebut mencapai Rp5,5 miliar setiap bulannya.
Sejatinya, Eko mengatakan kegiatan ekspor kerang darah ke Thailand mulai dilakukan sejak beberapa waktu terakhir. Namun, dia mengatakan pihaknya bersama dengan pemerintah dan pengusaha akan terus berupaya meningkatkan jumlah ekspor seiring komitmen pemerintah dalam mendukung peningkatan potensi sumber devisa tersebut.
Baca Juga: Terbang ke Prancis, Menko Darmin Buka Peluang Ekspor Kopi
Saat ini, baru ada dua perusahaan di Riau yang bergerak dalam kegiatan ekspor kerang ke Thailand. Kedua perusahaan itu milik masyarakat setempat yang berada di Pekanbaru. Sistem ekspor kerang itu sendiri diawali dengan pengiriman kerang hidup dari Rokan Hilir ke Pekanbaru untuk selanjutnya diterbangkan ke Thailand.
Ke depan, Eko mengatakan pengembangan ekspor kerang diharapkan tidak hanya ke satu negara melainkan sejumlah negara lainnya sehingga membantu peningkatan ekonomi nelayan Rokan Hilir.Wakil Gubernur Riau Edy Natar Nasution berharap ekspor kerang secara  langsung melalui jalur udara menjadi tonggak awal Bumi Lancang Kuning  sebagai penghasil dan eksportir komoditas ikan.
Dia mengatakan bahwa Riau memiliki sejarah penghasil komoditas ikan  terbesar di dunia. Merujuk sejarah, dia menjelaskan bahwa Pelabuhan  Bagansiapiapi, Rokan Hilir pernah mencapai kejayaan di era penjajahan  Belanda silam atau sekitar 1930-an.
Pada masa itu kejayaan Bagansiapiapi mencapai puncak ketika produksi  ikan mencapai 300.000 ton per tahun. Capaian itu menempatkan  Bagansiapiapi menjadi pelabuhan dengan produksi ikan terbanyak dan  teramai kedua di dunia setelah Norwegia.
&quot;Kita sangat punya potensi. Dulu kan pernah Rokan Hilir jadi daerah  eksportir ikan terbesar dunia. Sementara tadi kita lihat baru ada dua  perusahaan. Makanya kita akan terus lakukan pembinaan. Potensi kita  besar sekali,&quot; kata Edy.</description><content:encoded>PEKANBARU  - Riau berhasil membuka pintu ekspor kerang darah (Anadara granosa) ke Negeri Gajah Putih Thailand dengan volume mencapai empat ton setiap hari melalui jalur udara Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.
&quot;Mudah-mudahan dengan dibukanya ekspor melalui penerbangan langsung ini ekspor kerang akan terus meningkat,&quot; kata Kepala Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas 1 Pekanbaru Eko Sulistyanto,dikutip dari Antaranews, di Pekanbaru, Senin (1/7/2019).
Baca Juga: Indonesia Tingkatkan Ekspor Kopi dan Gula ke Korea Selatan
Sebanyak empat ton kerang darah yang merupakan hasil budidaya nelayan Panipahan, Kabupaten Rokan Hilir, Riau mulai diekspor ke Thailand setiap hari. Potensi nilai ekonomi ekspor tersebut mencapai Rp5,5 miliar setiap bulannya.
Sejatinya, Eko mengatakan kegiatan ekspor kerang darah ke Thailand mulai dilakukan sejak beberapa waktu terakhir. Namun, dia mengatakan pihaknya bersama dengan pemerintah dan pengusaha akan terus berupaya meningkatkan jumlah ekspor seiring komitmen pemerintah dalam mendukung peningkatan potensi sumber devisa tersebut.
Baca Juga: Terbang ke Prancis, Menko Darmin Buka Peluang Ekspor Kopi
Saat ini, baru ada dua perusahaan di Riau yang bergerak dalam kegiatan ekspor kerang ke Thailand. Kedua perusahaan itu milik masyarakat setempat yang berada di Pekanbaru. Sistem ekspor kerang itu sendiri diawali dengan pengiriman kerang hidup dari Rokan Hilir ke Pekanbaru untuk selanjutnya diterbangkan ke Thailand.
Ke depan, Eko mengatakan pengembangan ekspor kerang diharapkan tidak hanya ke satu negara melainkan sejumlah negara lainnya sehingga membantu peningkatan ekonomi nelayan Rokan Hilir.Wakil Gubernur Riau Edy Natar Nasution berharap ekspor kerang secara  langsung melalui jalur udara menjadi tonggak awal Bumi Lancang Kuning  sebagai penghasil dan eksportir komoditas ikan.
Dia mengatakan bahwa Riau memiliki sejarah penghasil komoditas ikan  terbesar di dunia. Merujuk sejarah, dia menjelaskan bahwa Pelabuhan  Bagansiapiapi, Rokan Hilir pernah mencapai kejayaan di era penjajahan  Belanda silam atau sekitar 1930-an.
Pada masa itu kejayaan Bagansiapiapi mencapai puncak ketika produksi  ikan mencapai 300.000 ton per tahun. Capaian itu menempatkan  Bagansiapiapi menjadi pelabuhan dengan produksi ikan terbanyak dan  teramai kedua di dunia setelah Norwegia.
&quot;Kita sangat punya potensi. Dulu kan pernah Rokan Hilir jadi daerah  eksportir ikan terbesar dunia. Sementara tadi kita lihat baru ada dua  perusahaan. Makanya kita akan terus lakukan pembinaan. Potensi kita  besar sekali,&quot; kata Edy.</content:encoded></item></channel></rss>
