<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Harga Minyak Anjlok 4% meski OPEC Pangkas Pasokan</title><description>Harga minyak anjlok lebih dari 4% pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/03/320/2073946/harga-minyak-anjlok-4-meski-opec-pangkas-pasokan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/03/320/2073946/harga-minyak-anjlok-4-meski-opec-pangkas-pasokan"/><item><title>   Harga Minyak Anjlok 4% meski OPEC Pangkas Pasokan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/03/320/2073946/harga-minyak-anjlok-4-meski-opec-pangkas-pasokan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/03/320/2073946/harga-minyak-anjlok-4-meski-opec-pangkas-pasokan</guid><pubDate>Rabu 03 Juli 2019 07:40 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/03/320/2073946/harga-minyak-anjlok-4-meski-opec-pangkas-pasokan-ra2gcthsrS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/03/320/2073946/harga-minyak-anjlok-4-meski-opec-pangkas-pasokan-ra2gcthsrS.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Shutterstock</title></images><description>NEW YORK - Harga minyak anjlok lebih dari 4% pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), sekalipun setelah OPEC dan sekutunya termasuk Rusia sepakat untuk memperpanjang pengurangan pasokan hingga Maret mendatang, karena data manufaktur yang lemah membuat para investor khawatir bahwa pelambatan ekonomi global dapat mengurangi permintaan minyak.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September jatuh USD2,66 atau 4,1% menjadi ditutup pada USD62,40 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara itu, minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus tergelincir USD2,84 atau 4,8% menjadi menetap pada USD56,25 per barel di New York Mercantile Exchange, setelah menyentuh tertinggi dalam lebih dari lima minggu pada Senin. Demikian seperti dikutip Antaranews, Jakarta, Rabu (3/7/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: OPEC Pangkas Pasokan, Harga Minyak Dunia Naik
Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen lain seperti Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, sepakat untuk memperpanjang pengurangan pasokan minyak hingga Maret 2020 ketika para anggotanya mengatasi perbedaan untuk mencoba menopang harga.

Perpanjangan itu terjadi setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa ia telah setuju dengan Arab Saudi untuk memperpanjang pakta dan terus memotong produksi gabungan sebesar 1,2 juta barel per hari, atau 1,2% dari permintaan dunia.

Tanda-tanda perlambatan ekonomi global yang dapat menekan pertumbuhan permintaan minyak, berarti OPEC dan sekutunya dapat menghadapi perjuangan berat untuk menopang harga dengan mengekang pasokan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Harga Minyak Kembali Mendidih Jelang Pertemuan OPEC dan G20
&quot;Itu angka minimum yang bisa disepakati OPEC &amp;#8203;&amp;#8203;&amp;#8203;&amp;#8203;&amp;#8203;&amp;#8203;&amp;#8203;untuk mencegah penurunan harga yang besar. Negara-negara anggota mencatat bahwa pertumbuhan permintaan minyak global untuk tahun ini telah turun menjadi 1,14 juta barel per hari, sementara pasokan non-OPEC diperkirakan akan tumbuh sebesar 2,14 juta barel per hari,&quot; tulis analis PVM, Tamas Varga dalam sebuah catatan.

&quot;Tampaknya sisi penawaran dari penyamaan minyak mendukung harga minyak, tetapi kekhawatiran permintaan memaksa minyak lebih rendah.&quot;
Amerika Serikat dan China sepakat pada KTT G20 untuk memulai kembali  perundingan perdagangan, tetapi aktivitas pabrik menyusut di sebagian  besar Eropa dan Asia pada Juni, sementara aktivitas manufaktur AS  melambat mendekati level terendah tiga tahun.

Lebih lanjut, Presiden AS Donald Trump  mengatakan kesepakatan apa  pun perlu agak dimiringkan ke Amerika Serikat, yang memicu keraguan atas  prospek untuk kesepakatan perdagangan antara dua ekonomi teratas.

&quot;Meningkatnya indikasi perlambatan ekonomi global tetap sebagai  pertimbangan penetapan harga negatif yang lebih besar untuk kompleks  energi, dan kebutuhan OPEC untuk memperpanjang pengurangan produksi  lebih jauh akan terlihat membuktikan perlambatan jalur pertumbuhan  ekonomi,&quot; kata Jim Ritterbusch dari Ritterbusch and Associates dalam  sebuah catatan.

Sementara itu, persediaan minyak mentah AS turun lima juta barel  dalam pekan yang berakhir 28 Juni menjadi 469,5 juta barel, kelompok  industri American Petroleum Institute (API) dalam laporannya. Analis  memperkirakan penurunan tiga juta barel.</description><content:encoded>NEW YORK - Harga minyak anjlok lebih dari 4% pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), sekalipun setelah OPEC dan sekutunya termasuk Rusia sepakat untuk memperpanjang pengurangan pasokan hingga Maret mendatang, karena data manufaktur yang lemah membuat para investor khawatir bahwa pelambatan ekonomi global dapat mengurangi permintaan minyak.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September jatuh USD2,66 atau 4,1% menjadi ditutup pada USD62,40 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara itu, minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus tergelincir USD2,84 atau 4,8% menjadi menetap pada USD56,25 per barel di New York Mercantile Exchange, setelah menyentuh tertinggi dalam lebih dari lima minggu pada Senin. Demikian seperti dikutip Antaranews, Jakarta, Rabu (3/7/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: OPEC Pangkas Pasokan, Harga Minyak Dunia Naik
Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen lain seperti Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, sepakat untuk memperpanjang pengurangan pasokan minyak hingga Maret 2020 ketika para anggotanya mengatasi perbedaan untuk mencoba menopang harga.

Perpanjangan itu terjadi setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa ia telah setuju dengan Arab Saudi untuk memperpanjang pakta dan terus memotong produksi gabungan sebesar 1,2 juta barel per hari, atau 1,2% dari permintaan dunia.

Tanda-tanda perlambatan ekonomi global yang dapat menekan pertumbuhan permintaan minyak, berarti OPEC dan sekutunya dapat menghadapi perjuangan berat untuk menopang harga dengan mengekang pasokan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Harga Minyak Kembali Mendidih Jelang Pertemuan OPEC dan G20
&quot;Itu angka minimum yang bisa disepakati OPEC &amp;#8203;&amp;#8203;&amp;#8203;&amp;#8203;&amp;#8203;&amp;#8203;&amp;#8203;untuk mencegah penurunan harga yang besar. Negara-negara anggota mencatat bahwa pertumbuhan permintaan minyak global untuk tahun ini telah turun menjadi 1,14 juta barel per hari, sementara pasokan non-OPEC diperkirakan akan tumbuh sebesar 2,14 juta barel per hari,&quot; tulis analis PVM, Tamas Varga dalam sebuah catatan.

&quot;Tampaknya sisi penawaran dari penyamaan minyak mendukung harga minyak, tetapi kekhawatiran permintaan memaksa minyak lebih rendah.&quot;
Amerika Serikat dan China sepakat pada KTT G20 untuk memulai kembali  perundingan perdagangan, tetapi aktivitas pabrik menyusut di sebagian  besar Eropa dan Asia pada Juni, sementara aktivitas manufaktur AS  melambat mendekati level terendah tiga tahun.

Lebih lanjut, Presiden AS Donald Trump  mengatakan kesepakatan apa  pun perlu agak dimiringkan ke Amerika Serikat, yang memicu keraguan atas  prospek untuk kesepakatan perdagangan antara dua ekonomi teratas.

&quot;Meningkatnya indikasi perlambatan ekonomi global tetap sebagai  pertimbangan penetapan harga negatif yang lebih besar untuk kompleks  energi, dan kebutuhan OPEC untuk memperpanjang pengurangan produksi  lebih jauh akan terlihat membuktikan perlambatan jalur pertumbuhan  ekonomi,&quot; kata Jim Ritterbusch dari Ritterbusch and Associates dalam  sebuah catatan.

Sementara itu, persediaan minyak mentah AS turun lima juta barel  dalam pekan yang berakhir 28 Juni menjadi 469,5 juta barel, kelompok  industri American Petroleum Institute (API) dalam laporannya. Analis  memperkirakan penurunan tiga juta barel.</content:encoded></item></channel></rss>
