<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Alasan Milenial Sering Pindah Kerja</title><description>Generasi milenial dikenal sebagai generasi kutu loncat karena sering berpindah-pindah kerja dengan cepat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/06/320/2074999/alasan-milenial-sering-pindah-kerja</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/06/320/2074999/alasan-milenial-sering-pindah-kerja"/><item><title>Alasan Milenial Sering Pindah Kerja</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/06/320/2074999/alasan-milenial-sering-pindah-kerja</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/06/320/2074999/alasan-milenial-sering-pindah-kerja</guid><pubDate>Sabtu 06 Juli 2019 07:38 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/05/320/2074999/alasan-milenial-sering-pindah-kerja-SwaGr9qYJx.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/05/320/2074999/alasan-milenial-sering-pindah-kerja-SwaGr9qYJx.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Shutterstock</title></images><description>JAKARTA - Generasi milenial dikenal sebagai generasi kutu loncat karena sering berpindah-pindah kerja dengan cepat. Berdasarkan survei CareerBuilder yang dikutip dari Forbes pada 2017, sekitar 45% pekerja baru lulus dari perguruan tinggi menyatakan hanya akan bertahan di perusahaan selama kurang dari dua tahun.

Apa penyebabnya generasi milenial ini senang untuk berpindah kerja dengan cepat?  Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa generasi milenial sering pindah kerja seperti dikutip Qerja, Jakarta, Sabtu (6/7/2019).

1. Menginginkan Peran Baru

Jika seorang karyawan yang pindah kerja karena mendambakan peran baru, artinya ia merasa terjebak di pekerjaan sebelumnya. Ia sudah jenuh karena melakukan tugas yang sama setiap hari.
&amp;nbsp;Baca Juga: Era Digital, Ini Daftar Pekerjaan untuk Milenial
Selain itu, ia juga sulit naik jabatan karena belum ada posisi yang tepat yang sesuai dengan keahliannya. Sebenarnya, kepindahan karyawan berkualitas bisa dicegah jika atasannya jeli melihat kegalauan stafnya dan memberi tantangan baru.

Apabila keresahan generasi milenial di tempat kerja dibiarkan dalam waktu lama, maka, cara cepat untuk mendapatkan peran baru adalah mencari kerja di luar perusahaan. Jika ia bekerja di perusahaan yang lebih kecil, bukan tidak mungkin mendapat jabatan dan peran yang lebih besar.

Sementara, bila pindah ke perusahaan dengan level setara, maka ia akan memilih tempat kerja yang menjanjikan peran berbeda dan bahkan jalur karir baru.

2. Budaya Kerja yang Sesuai

Generasi milenial mempertimbangkan budaya kerja perusahaan sebelum pindah kerja. Mereka berharap bisa bekerja dengan nyaman di tengah suasana yang postif dan kolega yang saling mendukung.
&amp;nbsp;Baca Juga: Tantangan Berat Milenial saat Bekerja di Era 4.0
Calon pekerja akan mencari tahu reputasi perusahaan dari berbagai sumber, mulai dari prestise perusahaan hingga ulasan karyawan yang disampaikan di berbagai platform karir.

Hari ini, image perusahaan bukan saja dibuat oleh manajemen sendiri. Namun, suasana kerja &amp;ldquo;di balik layar&amp;rdquo; bisa saja tersebar melalui berbagai platform media sosial.
Baca Juga: Generasi Milenial Harus Mengerti Kebutuhan Kerja Masa Kini
Jadi, apabila perusahaan ingin menarik talenta terbaik dari kalangan milenial maka harus berupaya menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Dengan begitu, karyawan sudah merasakan kepuasan selama bekerja di perusahaan.
&amp;nbsp; 
3. Kesempatan Tumbuh dan Berkembang

Menurut survei The Muse, sekitar 58% dari basis pengguna platform  yang berasal dari generasi milenial mengatakan rencana berganti  pekerjaan tahun 2018. Salah satu alasan yang mendasari rencana pindah  kerja adalah keinginan untuk mendapat peluang tumbuh dan berkembang.  Artinya, generasi milenial selalu haus akan ilmu baru.

Untuk itu, perusahaan mesti menyediakan pelatihan untuk pengembangan  individu, sistem mentoring yang baik, hingga membuka kesempatan cuti  sekolah. Dengan keahlian dan keterampilan yang lebih baik, generasi  milenial bisa berharap menaiki tangga karir lebih cepat. Pada akhirnya,  generasi milenial dapat berkontribusi lebih besar pada perusahaan.

4. Work Life Balance

Masih dari survei The Muse, milenial menyebut alasan pindah kerja  karena mencari keseimbangan kehidupan dan pekerjaan. Generasi muda ini  menyadari pentingnya meluangkan waktu berkualitas dengan keluarga dan  kerabat dibanding hanya berkutat dengan pekerjaan sehari-hari. Jadi,  milenial tidak akan betah bekerja pada perusahaan yang menuntut karyawan  untuk sering lembur hingga kerja di luar jam kerja.

Tapi, hal ini bukan berarti perusahaan mesti mengurangi pekerjaan  yang harus ditanggung setiap individu. Milenial tetap mau bekerja keras  dengan pengaturan waktu yang lebih fleksibel, seperti kebijakan work  from home. Selain itu, pekerja juga berharap kesempatan cuti yang tidak  dipersulit.
&amp;nbsp;
 
5. Kompensasi

Kebanyakan orang pindah kerja dengan alasan mengharapkan penghasilan  lebih baik, tak terkecuali generasi milenial. Memang, hal ini bukan  menjadi alasan utama, tetapi merupakan salah satu pertimbangan yang  menguatkan keputusan pindah kerja.

Tawaran gaji besar di perusahaan lain memang menarik. Di luar  pendapatan utama itu, generasi milenial juga melihat tunjangan di luar  gaji yang menguntungkan, mulai dari tunjangan kesehatan, transportasi,  hingga makanan gratis di kantor.

Dunia kerja hari ini tidak hanya dikendalikan oleh perusahaan. Tenaga  kerja juga punya daya tawar untuk menentukan tempat kerja terbaik.  Dengan memahami keinginan dan kebutuhan generasi milenial, maka  perusahaan akan mendapat talenta terbaik. Sementara karyawan yang  bekerja di perusahaan idaman akan berusaha lebih produktif dan memberi  kontribusi besar bagi perusahaan.</description><content:encoded>JAKARTA - Generasi milenial dikenal sebagai generasi kutu loncat karena sering berpindah-pindah kerja dengan cepat. Berdasarkan survei CareerBuilder yang dikutip dari Forbes pada 2017, sekitar 45% pekerja baru lulus dari perguruan tinggi menyatakan hanya akan bertahan di perusahaan selama kurang dari dua tahun.

Apa penyebabnya generasi milenial ini senang untuk berpindah kerja dengan cepat?  Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa generasi milenial sering pindah kerja seperti dikutip Qerja, Jakarta, Sabtu (6/7/2019).

1. Menginginkan Peran Baru

Jika seorang karyawan yang pindah kerja karena mendambakan peran baru, artinya ia merasa terjebak di pekerjaan sebelumnya. Ia sudah jenuh karena melakukan tugas yang sama setiap hari.
&amp;nbsp;Baca Juga: Era Digital, Ini Daftar Pekerjaan untuk Milenial
Selain itu, ia juga sulit naik jabatan karena belum ada posisi yang tepat yang sesuai dengan keahliannya. Sebenarnya, kepindahan karyawan berkualitas bisa dicegah jika atasannya jeli melihat kegalauan stafnya dan memberi tantangan baru.

Apabila keresahan generasi milenial di tempat kerja dibiarkan dalam waktu lama, maka, cara cepat untuk mendapatkan peran baru adalah mencari kerja di luar perusahaan. Jika ia bekerja di perusahaan yang lebih kecil, bukan tidak mungkin mendapat jabatan dan peran yang lebih besar.

Sementara, bila pindah ke perusahaan dengan level setara, maka ia akan memilih tempat kerja yang menjanjikan peran berbeda dan bahkan jalur karir baru.

2. Budaya Kerja yang Sesuai

Generasi milenial mempertimbangkan budaya kerja perusahaan sebelum pindah kerja. Mereka berharap bisa bekerja dengan nyaman di tengah suasana yang postif dan kolega yang saling mendukung.
&amp;nbsp;Baca Juga: Tantangan Berat Milenial saat Bekerja di Era 4.0
Calon pekerja akan mencari tahu reputasi perusahaan dari berbagai sumber, mulai dari prestise perusahaan hingga ulasan karyawan yang disampaikan di berbagai platform karir.

Hari ini, image perusahaan bukan saja dibuat oleh manajemen sendiri. Namun, suasana kerja &amp;ldquo;di balik layar&amp;rdquo; bisa saja tersebar melalui berbagai platform media sosial.
Baca Juga: Generasi Milenial Harus Mengerti Kebutuhan Kerja Masa Kini
Jadi, apabila perusahaan ingin menarik talenta terbaik dari kalangan milenial maka harus berupaya menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Dengan begitu, karyawan sudah merasakan kepuasan selama bekerja di perusahaan.
&amp;nbsp; 
3. Kesempatan Tumbuh dan Berkembang

Menurut survei The Muse, sekitar 58% dari basis pengguna platform  yang berasal dari generasi milenial mengatakan rencana berganti  pekerjaan tahun 2018. Salah satu alasan yang mendasari rencana pindah  kerja adalah keinginan untuk mendapat peluang tumbuh dan berkembang.  Artinya, generasi milenial selalu haus akan ilmu baru.

Untuk itu, perusahaan mesti menyediakan pelatihan untuk pengembangan  individu, sistem mentoring yang baik, hingga membuka kesempatan cuti  sekolah. Dengan keahlian dan keterampilan yang lebih baik, generasi  milenial bisa berharap menaiki tangga karir lebih cepat. Pada akhirnya,  generasi milenial dapat berkontribusi lebih besar pada perusahaan.

4. Work Life Balance

Masih dari survei The Muse, milenial menyebut alasan pindah kerja  karena mencari keseimbangan kehidupan dan pekerjaan. Generasi muda ini  menyadari pentingnya meluangkan waktu berkualitas dengan keluarga dan  kerabat dibanding hanya berkutat dengan pekerjaan sehari-hari. Jadi,  milenial tidak akan betah bekerja pada perusahaan yang menuntut karyawan  untuk sering lembur hingga kerja di luar jam kerja.

Tapi, hal ini bukan berarti perusahaan mesti mengurangi pekerjaan  yang harus ditanggung setiap individu. Milenial tetap mau bekerja keras  dengan pengaturan waktu yang lebih fleksibel, seperti kebijakan work  from home. Selain itu, pekerja juga berharap kesempatan cuti yang tidak  dipersulit.
&amp;nbsp;
 
5. Kompensasi

Kebanyakan orang pindah kerja dengan alasan mengharapkan penghasilan  lebih baik, tak terkecuali generasi milenial. Memang, hal ini bukan  menjadi alasan utama, tetapi merupakan salah satu pertimbangan yang  menguatkan keputusan pindah kerja.

Tawaran gaji besar di perusahaan lain memang menarik. Di luar  pendapatan utama itu, generasi milenial juga melihat tunjangan di luar  gaji yang menguntungkan, mulai dari tunjangan kesehatan, transportasi,  hingga makanan gratis di kantor.

Dunia kerja hari ini tidak hanya dikendalikan oleh perusahaan. Tenaga  kerja juga punya daya tawar untuk menentukan tempat kerja terbaik.  Dengan memahami keinginan dan kebutuhan generasi milenial, maka  perusahaan akan mendapat talenta terbaik. Sementara karyawan yang  bekerja di perusahaan idaman akan berusaha lebih produktif dan memberi  kontribusi besar bagi perusahaan.</content:encoded></item></channel></rss>
