<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Modernisasi Tingkatkan Produktivitas Tenaga Kerja Sektor Pertanian</title><description>Kementan menilai penggunaan alat mesin pertanian selama empat setengah tahun berhasil mendongkrak kesejahteraan petani.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/07/320/2075737/modernisasi-tingkatkan-produktivitas-tenaga-kerja-sektor-pertanian</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/07/320/2075737/modernisasi-tingkatkan-produktivitas-tenaga-kerja-sektor-pertanian"/><item><title>Modernisasi Tingkatkan Produktivitas Tenaga Kerja Sektor Pertanian</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/07/320/2075737/modernisasi-tingkatkan-produktivitas-tenaga-kerja-sektor-pertanian</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/07/320/2075737/modernisasi-tingkatkan-produktivitas-tenaga-kerja-sektor-pertanian</guid><pubDate>Minggu 07 Juli 2019 16:38 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/07/320/2075737/modernisasi-tingkatkan-produktivitas-tenaga-kerja-sektor-pertanian-pIV7WGMlk2.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Petani Menggunakan Alat dan Mesin Pertanian atau Alsintan (Dok. Kementan)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/07/320/2075737/modernisasi-tingkatkan-produktivitas-tenaga-kerja-sektor-pertanian-pIV7WGMlk2.jpeg</image><title>Petani Menggunakan Alat dan Mesin Pertanian atau Alsintan (Dok. Kementan)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan penggunaan alat mesin pertanian dalam memacu produksi selama empat setengah tahun ini berhasil mendongkrak kesejahteraan petani, hingga menurunkan kemiskinan penduduk desa secara keseluruhan.
&quot;Di samping itu, penggunaan alsintan (alat dan mesin pertanian) juga mampu memenuhi kelangkaan tenaga kerja dan mendorong generasi muda untuk terjun langsung ke sektor pertanian,&quot; ujar Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementan Ketut Kariyasa, dalam keterangan tertulis, Minggu (7/7/2019).
Menurut Kariyasa, hingga saat ini sudah lebih dari 400 ribu unit pemerintah mendistribusikan alsintan ke seluruh pelosok daerah. Jumlah ini bahkan meningkat 500% jika dibandingkan tahun sebelumnya.
&quot;Bantuan alsintan ini terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Modernisasi dilakukan sebagai persiapan menghadapi tantangan era revolusi industri 4.0,&quot; katanya.
Dia menjelaskan, modernisasi pertanian ini terbukti mampu menghemat biaya produksi dan mempercepat proses produksi hingga meningkatkan produktivitas lahan.&quot;Sebagai contoh, penggunaan traktor roda 2 dan roda 4 mampu menghemat penggunaan tenaga kerja dari 20 orang menjadi 3 orang perhektare. Belum lagi biaya pengolahan lahan turun sekitar 28%,&quot; kata dia.
Baca Juga: Laksanakan Amanat Presiden Jokowi, Efisiensi Belanja Alsintan Rp1,2 Triliun
Selain itu, ada juga penggunaan rice transplanter yang mampu menghemat tenaga tanam dari 19 orang menjadi 7 orang perhektar. Sehingga, pola ini dapat menurunkan biaya tanam hingga 35% serta mempercepat waktu tanam menjadi 6 jam per hektare (ha).
Belum lagi penggunaan Combined harvester yang bisa menghemat tenaga kerja dari 40 orang menjadi 7 orang. Lebih dari itu, alsintan juga bisa menekan biaya panen hingga 30% dan menekan kehilangan hasil menjadi 2%.
&quot;Dari sisi ekonomi, alsintan mampu memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga petani hingga mencapai 80% dari Rp 10,2 juta menjadi Rp 18,6 juta per hektare per musim,&quot; katanya.Kariyasa mengatakan, modernisasi yang dilakukan juga menyebabkan  produktivitas tenaga kerja sektor pertanian meningkat tajam. Hal ini  dapat dilihat, selama periode 2014-2018, dimana tenaga kerja saat itu  mencapai 20,34% atau meningkatkat rata-rata 4,79% per tahun.
&quot;Pada tahun 2014, produktivitas tenaga kerja di sektor pertanian  sebesar Rp 23,3 juta per orang dan pada tahun 2018 meningkat menjadi Rp  28,0 juta per orang,&quot; katanya.
Membaiknya produktivitas ini mengindikasikan bahwa tenaga kerja yang  digunakan pada sektor pertanian semakin produktif. Apalagi mekanisasi  yang ada mampu menghasilkan output yang semakin besar.
Meski demikian, kata dia, semua capaian ini tidak terlepas dari upaya  semua pihak dalam mendukung program terobosan dan kebijakan Kementan  yang tepat sasaran.
&quot;Saat ini kami juga terus mendorong petani untuk menerapkan inovasi  teknologi pertanian terkini, seperti penggunaan benih varietas unggul  baru, perbaikan manajemen pemupukan dan pengairan, maupun teknologi  panen dan pasca panen,&quot; pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan,  Kuntoro Boga menjelaskan, Kementan dalam 4,5 tahun terakhir secara aktif  melakukan upaya modernisasi pertanian dengan pengembangan teknologi  pertanian, mulai dari perbenihan, cara tanam, perhitungan pola tanam  berbasis IT, hingga mekanisasi.
Pertanaman dan panen komoditas utama seperti padi dan jagung secara  khusus dikembangkan pemanfaatan mekanisasi dengan alat mesin pertanian  (alsintan) modern.
Baca Juga:  Kementan Minta Bantuan Alsintan Dikelola Secara Profesional
Kuntoro menjelaskan, Mekanisasi pertanian yang telah dilakukan  dinilai telah mampu meningkatkan pendapatan petani, meskipun harga yang  diterima petani  menurun (deflasi) akibat produksi melimpah, akan tetapi  karena tambahan penghematan biaya dan kenaikan produksi akibat  mekanisasi mampu mengkonpensasi turunnya harga yang diterima petani,  sehingga tidak berdampak terhadap turunnya Nilai Tukar Petani (NTP).
Dijelaskan mekanisasi mampu menghemat penggunaan tenaga kerja dan  meningkatkan nilai tambah produksi sehingga menyebabkan produktivitas  tenaga kerja sektor pertanian meningkat.
&amp;ldquo;Selama tahun 2014-2018, produktivitas tenaga kerja sektor pertanian  meningkat 20,35%, dari sebesar Rp 23,29 juta per orang pada tahun 2014  meningkat menjadi Rp 28,03 juta per orang pada tahun 2018,&amp;rdquo; jelasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan penggunaan alat mesin pertanian dalam memacu produksi selama empat setengah tahun ini berhasil mendongkrak kesejahteraan petani, hingga menurunkan kemiskinan penduduk desa secara keseluruhan.
&quot;Di samping itu, penggunaan alsintan (alat dan mesin pertanian) juga mampu memenuhi kelangkaan tenaga kerja dan mendorong generasi muda untuk terjun langsung ke sektor pertanian,&quot; ujar Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementan Ketut Kariyasa, dalam keterangan tertulis, Minggu (7/7/2019).
Menurut Kariyasa, hingga saat ini sudah lebih dari 400 ribu unit pemerintah mendistribusikan alsintan ke seluruh pelosok daerah. Jumlah ini bahkan meningkat 500% jika dibandingkan tahun sebelumnya.
&quot;Bantuan alsintan ini terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Modernisasi dilakukan sebagai persiapan menghadapi tantangan era revolusi industri 4.0,&quot; katanya.
Dia menjelaskan, modernisasi pertanian ini terbukti mampu menghemat biaya produksi dan mempercepat proses produksi hingga meningkatkan produktivitas lahan.&quot;Sebagai contoh, penggunaan traktor roda 2 dan roda 4 mampu menghemat penggunaan tenaga kerja dari 20 orang menjadi 3 orang perhektare. Belum lagi biaya pengolahan lahan turun sekitar 28%,&quot; kata dia.
Baca Juga: Laksanakan Amanat Presiden Jokowi, Efisiensi Belanja Alsintan Rp1,2 Triliun
Selain itu, ada juga penggunaan rice transplanter yang mampu menghemat tenaga tanam dari 19 orang menjadi 7 orang perhektar. Sehingga, pola ini dapat menurunkan biaya tanam hingga 35% serta mempercepat waktu tanam menjadi 6 jam per hektare (ha).
Belum lagi penggunaan Combined harvester yang bisa menghemat tenaga kerja dari 40 orang menjadi 7 orang. Lebih dari itu, alsintan juga bisa menekan biaya panen hingga 30% dan menekan kehilangan hasil menjadi 2%.
&quot;Dari sisi ekonomi, alsintan mampu memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga petani hingga mencapai 80% dari Rp 10,2 juta menjadi Rp 18,6 juta per hektare per musim,&quot; katanya.Kariyasa mengatakan, modernisasi yang dilakukan juga menyebabkan  produktivitas tenaga kerja sektor pertanian meningkat tajam. Hal ini  dapat dilihat, selama periode 2014-2018, dimana tenaga kerja saat itu  mencapai 20,34% atau meningkatkat rata-rata 4,79% per tahun.
&quot;Pada tahun 2014, produktivitas tenaga kerja di sektor pertanian  sebesar Rp 23,3 juta per orang dan pada tahun 2018 meningkat menjadi Rp  28,0 juta per orang,&quot; katanya.
Membaiknya produktivitas ini mengindikasikan bahwa tenaga kerja yang  digunakan pada sektor pertanian semakin produktif. Apalagi mekanisasi  yang ada mampu menghasilkan output yang semakin besar.
Meski demikian, kata dia, semua capaian ini tidak terlepas dari upaya  semua pihak dalam mendukung program terobosan dan kebijakan Kementan  yang tepat sasaran.
&quot;Saat ini kami juga terus mendorong petani untuk menerapkan inovasi  teknologi pertanian terkini, seperti penggunaan benih varietas unggul  baru, perbaikan manajemen pemupukan dan pengairan, maupun teknologi  panen dan pasca panen,&quot; pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan,  Kuntoro Boga menjelaskan, Kementan dalam 4,5 tahun terakhir secara aktif  melakukan upaya modernisasi pertanian dengan pengembangan teknologi  pertanian, mulai dari perbenihan, cara tanam, perhitungan pola tanam  berbasis IT, hingga mekanisasi.
Pertanaman dan panen komoditas utama seperti padi dan jagung secara  khusus dikembangkan pemanfaatan mekanisasi dengan alat mesin pertanian  (alsintan) modern.
Baca Juga:  Kementan Minta Bantuan Alsintan Dikelola Secara Profesional
Kuntoro menjelaskan, Mekanisasi pertanian yang telah dilakukan  dinilai telah mampu meningkatkan pendapatan petani, meskipun harga yang  diterima petani  menurun (deflasi) akibat produksi melimpah, akan tetapi  karena tambahan penghematan biaya dan kenaikan produksi akibat  mekanisasi mampu mengkonpensasi turunnya harga yang diterima petani,  sehingga tidak berdampak terhadap turunnya Nilai Tukar Petani (NTP).
Dijelaskan mekanisasi mampu menghemat penggunaan tenaga kerja dan  meningkatkan nilai tambah produksi sehingga menyebabkan produktivitas  tenaga kerja sektor pertanian meningkat.
&amp;ldquo;Selama tahun 2014-2018, produktivitas tenaga kerja sektor pertanian  meningkat 20,35%, dari sebesar Rp 23,29 juta per orang pada tahun 2014  meningkat menjadi Rp 28,03 juta per orang pada tahun 2018,&amp;rdquo; jelasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
