<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Realisasi Lifting Migas Baru 89% dari Target APBN   </title><description>Realisasi produksi siap jual atau lifting minyak dan gas bumi (migas) hingga Juni 2019 mencapai 1,8 juta barel</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/09/320/2076612/realisasi-lifting-migas-baru-89-dari-target-apbn</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/09/320/2076612/realisasi-lifting-migas-baru-89-dari-target-apbn"/><item><title>Realisasi Lifting Migas Baru 89% dari Target APBN   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/09/320/2076612/realisasi-lifting-migas-baru-89-dari-target-apbn</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/09/320/2076612/realisasi-lifting-migas-baru-89-dari-target-apbn</guid><pubDate>Selasa 09 Juli 2019 15:33 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/09/320/2076612/realisasi-lifting-migas-baru-89-dari-target-apbn-5zWiPVO5Qm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Produksi migas (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/09/320/2076612/realisasi-lifting-migas-baru-89-dari-target-apbn-5zWiPVO5Qm.jpg</image><title>Produksi migas (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Realisasi produksi siap jual atau lifting minyak dan gas bumi (migas) hingga Juni 2019 mencapai 1,8 juta barel setara minyak per hari (boepd) atau 89% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 2 juta boepd.
&quot;Total lifting migas tersebut terdiri dari lifting minyak 752 ribu barel per hari (bopd) dan lifting gas 1,06 juta boepd,&quot; kata Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto, dikutip dari Antaranews, di Jakarta, Selasa (9/7/2019).
Baca Juga: Lifting Migas Baru 89% dari Target APBN
SKK Migas memproyeksikan target lifting migas 2019 bisa tercapai di semester dua tahun 2019 mengingat 8 dari 11 proyek akan mulai beroperasi (onstream) di semester dua tahun 2019.
&quot;Di tengah perkembangan dunia yang sangat pesat serta kebutuhan atas energi minyak dan gas yang semakin meningkat, penggunaan teknologi dalam usaha hulu merupakan sebuah keharusan di mana kerumitan area operasi dan eksplorasi juga semakin menantang,&quot; ungkap Dwi Soetjipto saat berbicara dalam pembukaan Forum Fasilitas Produksi Migas (FFPM) 2019 di Semarang.
FFPM merupakan acara tahunan yang diselenggarakan Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi (Iafmi) bersama SKK Migas. Mengangkat tema &quot;Inovasi dan Transformasi Fasilitas Produksi Migas Menyongsong Era Industri 4.0&quot;, Dwi menambahkan industri hulu migas membutuhkan sebuah transformasi dan diversifikasi usaha. Bukan hanya sekedar mencari dan memproduksikan migas saja, namun harus memperhatikan hal-hal yang menjadi kebutuhan dari pasar energi, tuntutan terhadap penggunaan energi yang lebih bersih, dan lain sebagainya.
Baca Juga: SKK Migas Ungkap Alasan Lifting Migas Hanya 1,8 Juta Barel
Transformasi dalam kegiatan operasi hulu migas yang akan diaplikasikan pada tahun ini diantaranya adalah Integrated Operation Center (IOC). IOC merupakan sebuah sistem integrasi data yang mencakup beberapa aplikasi/layanan pengelolaan kinerja operasi Kontraktor Kontrak Kerja Sama.
Salah satu manfaat IOC adalah optimalisasi perencanaan pemeliharaan fasilitas karena terbukanya data secara terintegrasi. Dengan optimasi perencanaan di awal tahun kegiatan operasi pemeliharaan fasilitas, berpotensi mengefisiensi anggaran pemeliharaan fasilitas sebesar 84 juta dolar AS di tahun 2019.FFPM 2019 diselenggarakan selama tiga hari pada 9-11 Juli 2019 dalam  bentuk konferensi, focus group discussion (FGD), forum bisnis, dan  pameran. FFPM tahun ini menghadirkan pembicara utama Sekretaris Jenderal  Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ego Syahrial dan  Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar. Konferensi  pada hari pertama menghadirkan narasumber tamu seperti Purnomo  Yusgiantoro, serta pembicara dari Pertamina, Petronas, BP Global, dan  para praktisi migas lainnya.
Pada hari kedua akan dilakukan serangkaian diskusi paralel dalam tiga  ruangan yang membahas: Project, Design &amp;amp; Technology, serta  Maintenance 4.0. Para pembicara pelaku industri kelas dunia siap berbagi  kisah sukses dan implementasi teknologi 4.0 di bidangnya masing-masing,  termasuk di antaranya Digitalisation Transformation, System and  Collaboration Tools for Project, Unified Design Engineering, Real  Equipment Trouble Shooting, dan Engine Health Management.
Hari terakhir akan diisi dengan Business Forum yang menampilkan  pembicara dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Komunikasi dan  Informatika, dan Kementerian ESDM dengan tema &amp;ldquo;Strategi Kebijakan  Nasional dan Repositioning Industri Migas Indonesia Menghadapi Industri  4.0&amp;rdquo;.
Selain forum diskusi, FFPM juga akan menggelar pameran perkembangan  aplikasi keilmuan dan teknologi fasilitas produksi migas termasuk di  dalamnya teknologi penunjang fasilitas produksi berbasis internet of  things (IoT), big data, artificial intelligence, dan sebagainya dari  para penyedia barang dan jasa migas.
Peserta Pameran yang juga merupakan pendukung utama acara FFPM di  antaranya PT Pertamina EP Cepu, PT MIPCON Prima Industri, PT. Navita  Origo Solutions, BP Indonesia, dan Indoturbine. Selain aplikasi  teknologi baru juga diutamakan material dan peralatan pabrikan lokal  dengan semangat untuk turut mendukung pengutamaan produk dalam negeri  melalui pemberian kesempatan industri dalam negeri untuk berpartisipasi  lebih banyak dalam proyek-proyek migas.</description><content:encoded>JAKARTA - Realisasi produksi siap jual atau lifting minyak dan gas bumi (migas) hingga Juni 2019 mencapai 1,8 juta barel setara minyak per hari (boepd) atau 89% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 2 juta boepd.
&quot;Total lifting migas tersebut terdiri dari lifting minyak 752 ribu barel per hari (bopd) dan lifting gas 1,06 juta boepd,&quot; kata Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto, dikutip dari Antaranews, di Jakarta, Selasa (9/7/2019).
Baca Juga: Lifting Migas Baru 89% dari Target APBN
SKK Migas memproyeksikan target lifting migas 2019 bisa tercapai di semester dua tahun 2019 mengingat 8 dari 11 proyek akan mulai beroperasi (onstream) di semester dua tahun 2019.
&quot;Di tengah perkembangan dunia yang sangat pesat serta kebutuhan atas energi minyak dan gas yang semakin meningkat, penggunaan teknologi dalam usaha hulu merupakan sebuah keharusan di mana kerumitan area operasi dan eksplorasi juga semakin menantang,&quot; ungkap Dwi Soetjipto saat berbicara dalam pembukaan Forum Fasilitas Produksi Migas (FFPM) 2019 di Semarang.
FFPM merupakan acara tahunan yang diselenggarakan Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi (Iafmi) bersama SKK Migas. Mengangkat tema &quot;Inovasi dan Transformasi Fasilitas Produksi Migas Menyongsong Era Industri 4.0&quot;, Dwi menambahkan industri hulu migas membutuhkan sebuah transformasi dan diversifikasi usaha. Bukan hanya sekedar mencari dan memproduksikan migas saja, namun harus memperhatikan hal-hal yang menjadi kebutuhan dari pasar energi, tuntutan terhadap penggunaan energi yang lebih bersih, dan lain sebagainya.
Baca Juga: SKK Migas Ungkap Alasan Lifting Migas Hanya 1,8 Juta Barel
Transformasi dalam kegiatan operasi hulu migas yang akan diaplikasikan pada tahun ini diantaranya adalah Integrated Operation Center (IOC). IOC merupakan sebuah sistem integrasi data yang mencakup beberapa aplikasi/layanan pengelolaan kinerja operasi Kontraktor Kontrak Kerja Sama.
Salah satu manfaat IOC adalah optimalisasi perencanaan pemeliharaan fasilitas karena terbukanya data secara terintegrasi. Dengan optimasi perencanaan di awal tahun kegiatan operasi pemeliharaan fasilitas, berpotensi mengefisiensi anggaran pemeliharaan fasilitas sebesar 84 juta dolar AS di tahun 2019.FFPM 2019 diselenggarakan selama tiga hari pada 9-11 Juli 2019 dalam  bentuk konferensi, focus group discussion (FGD), forum bisnis, dan  pameran. FFPM tahun ini menghadirkan pembicara utama Sekretaris Jenderal  Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ego Syahrial dan  Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar. Konferensi  pada hari pertama menghadirkan narasumber tamu seperti Purnomo  Yusgiantoro, serta pembicara dari Pertamina, Petronas, BP Global, dan  para praktisi migas lainnya.
Pada hari kedua akan dilakukan serangkaian diskusi paralel dalam tiga  ruangan yang membahas: Project, Design &amp;amp; Technology, serta  Maintenance 4.0. Para pembicara pelaku industri kelas dunia siap berbagi  kisah sukses dan implementasi teknologi 4.0 di bidangnya masing-masing,  termasuk di antaranya Digitalisation Transformation, System and  Collaboration Tools for Project, Unified Design Engineering, Real  Equipment Trouble Shooting, dan Engine Health Management.
Hari terakhir akan diisi dengan Business Forum yang menampilkan  pembicara dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Komunikasi dan  Informatika, dan Kementerian ESDM dengan tema &amp;ldquo;Strategi Kebijakan  Nasional dan Repositioning Industri Migas Indonesia Menghadapi Industri  4.0&amp;rdquo;.
Selain forum diskusi, FFPM juga akan menggelar pameran perkembangan  aplikasi keilmuan dan teknologi fasilitas produksi migas termasuk di  dalamnya teknologi penunjang fasilitas produksi berbasis internet of  things (IoT), big data, artificial intelligence, dan sebagainya dari  para penyedia barang dan jasa migas.
Peserta Pameran yang juga merupakan pendukung utama acara FFPM di  antaranya PT Pertamina EP Cepu, PT MIPCON Prima Industri, PT. Navita  Origo Solutions, BP Indonesia, dan Indoturbine. Selain aplikasi  teknologi baru juga diutamakan material dan peralatan pabrikan lokal  dengan semangat untuk turut mendukung pengutamaan produk dalam negeri  melalui pemberian kesempatan industri dalam negeri untuk berpartisipasi  lebih banyak dalam proyek-proyek migas.</content:encoded></item></channel></rss>
