<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Inflasi akibat Kemarau Panjang Masuk 'Radar' Pemerintah</title><description>Pemerintah memberikan perhatian terhadap musim kemarau berkepanjangan yang tengah terjadi di Indonesia</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/10/320/2077197/inflasi-akibat-kemarau-panjang-masuk-radar-pemerintah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/10/320/2077197/inflasi-akibat-kemarau-panjang-masuk-radar-pemerintah"/><item><title>Inflasi akibat Kemarau Panjang Masuk 'Radar' Pemerintah</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/10/320/2077197/inflasi-akibat-kemarau-panjang-masuk-radar-pemerintah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/10/320/2077197/inflasi-akibat-kemarau-panjang-masuk-radar-pemerintah</guid><pubDate>Rabu 10 Juli 2019 18:28 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/10/320/2077197/inflasi-akibat-kemarau-panjang-masuk-radar-pemerintah-8He3DKJ1lw.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Kemarau (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/10/320/2077197/inflasi-akibat-kemarau-panjang-masuk-radar-pemerintah-8He3DKJ1lw.jpg</image><title>Ilustrasi Kemarau (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Pemerintah memberikan perhatian terhadap musim kemarau berkepanjangan yang tengah terjadi di Indonesia. Sebab, hal ini membuat adanya potensi kekeringan yang bakal berdampak pada pasokan komoditas pangan.
Hal itu disampaikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro, usai menghadiri rapat tingkat tinggi (High Level Meeting/HLM) Tim Pengendali Inflasi di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (10/7/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Hadapi Kemarau Panjang, Kementan Perkuat Koordinasi dengan Daerah
Dalam rapat yang dipimpin Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution tersebut hadir juga Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto, serta Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.
&quot;Jadi lakukan rapat antisipasi kemarau panjang. Kalau kemarau panjang kan larinya ke produksi pangan,&quot; ujar Bambang.
&amp;nbsp;Baca Juga: BPBD DKI Siap Pasok Air Bersih Kala Kekeringan Melanda
Dia menjelaskan, potensi kekeringan yang berkepanjangan tersebut dapat mempengaruhi tingkat inflasi secara signifikan. Sebab, tanaman pangan bakal tidak berproduksi dengan baik, sehingga mempengaruhi besaran pasokan yang kemungkinan belum bisa memenuhi permintaan.
&quot;Padahal komponen inflasi kita kan yang paling besar pangan bergejolak,&quot; katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statsitik (BPS), kelompok pangan  bergejolak (volatile food) menjadi komponen penyumbang inflasi terbesar.  Pada Juni 2019, andil volatile food terhadap inflasi sebesar 0,35%,  jauh diatas komponen inflasi inti yang sebesar 0,22%  dan komponen harga  diatur pemerintah yang bahkan deflasi sebesar 0,02%.
&quot;Jadi kita harus benar-benar antisipasi musim kekeringan yang mungkin agak di luar kebiasaan ini,&quot; tutup Bambang.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)  menyampaikan adanya potensi kekeringan meteorologis yang tersebar di  sejumlah wilayah di Indonesia. Wilayah itu memasuki status awas yang  telah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 61 hari dan prakiraan  curah hujan rendah kurang  20 mm dalam 10 hari mendatang dengan peluang  lebih dari 70%.
Wilayah yang memasuki status awas yakni Jawa Barat yaitu Bekasi,  Karawang dan Indramayu, lalu Jawa Tengah terdiri dari Karanganyar,  Klaten, Magelang, Purworejo, Rembang, Semarang, Semarang, dan Wonogiri,  dan sebagian besar Jawa Timur.
Kemudian di D.I. Yogyakarta terdiri Bantul, Gunung Kidul, Kulonprogo,  dan Sleman. Lalu Bali yakni Buleleng, Nusa Tenggara Timur (NTT) terdiri  dari Sikka, Lembata, Sumba Timur, Rote Ndao, Kota Kupang, dan Belu.  Serta Nusa Tenggara Barat (NTB) terdiri dari Bima, Kota Bima, Lombok  Timur, Sumbawa, dan Sumbawa Timur.
</description><content:encoded>JAKARTA - Pemerintah memberikan perhatian terhadap musim kemarau berkepanjangan yang tengah terjadi di Indonesia. Sebab, hal ini membuat adanya potensi kekeringan yang bakal berdampak pada pasokan komoditas pangan.
Hal itu disampaikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro, usai menghadiri rapat tingkat tinggi (High Level Meeting/HLM) Tim Pengendali Inflasi di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (10/7/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Hadapi Kemarau Panjang, Kementan Perkuat Koordinasi dengan Daerah
Dalam rapat yang dipimpin Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution tersebut hadir juga Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto, serta Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.
&quot;Jadi lakukan rapat antisipasi kemarau panjang. Kalau kemarau panjang kan larinya ke produksi pangan,&quot; ujar Bambang.
&amp;nbsp;Baca Juga: BPBD DKI Siap Pasok Air Bersih Kala Kekeringan Melanda
Dia menjelaskan, potensi kekeringan yang berkepanjangan tersebut dapat mempengaruhi tingkat inflasi secara signifikan. Sebab, tanaman pangan bakal tidak berproduksi dengan baik, sehingga mempengaruhi besaran pasokan yang kemungkinan belum bisa memenuhi permintaan.
&quot;Padahal komponen inflasi kita kan yang paling besar pangan bergejolak,&quot; katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statsitik (BPS), kelompok pangan  bergejolak (volatile food) menjadi komponen penyumbang inflasi terbesar.  Pada Juni 2019, andil volatile food terhadap inflasi sebesar 0,35%,  jauh diatas komponen inflasi inti yang sebesar 0,22%  dan komponen harga  diatur pemerintah yang bahkan deflasi sebesar 0,02%.
&quot;Jadi kita harus benar-benar antisipasi musim kekeringan yang mungkin agak di luar kebiasaan ini,&quot; tutup Bambang.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)  menyampaikan adanya potensi kekeringan meteorologis yang tersebar di  sejumlah wilayah di Indonesia. Wilayah itu memasuki status awas yang  telah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 61 hari dan prakiraan  curah hujan rendah kurang  20 mm dalam 10 hari mendatang dengan peluang  lebih dari 70%.
Wilayah yang memasuki status awas yakni Jawa Barat yaitu Bekasi,  Karawang dan Indramayu, lalu Jawa Tengah terdiri dari Karanganyar,  Klaten, Magelang, Purworejo, Rembang, Semarang, Semarang, dan Wonogiri,  dan sebagian besar Jawa Timur.
Kemudian di D.I. Yogyakarta terdiri Bantul, Gunung Kidul, Kulonprogo,  dan Sleman. Lalu Bali yakni Buleleng, Nusa Tenggara Timur (NTT) terdiri  dari Sikka, Lembata, Sumba Timur, Rote Ndao, Kota Kupang, dan Belu.  Serta Nusa Tenggara Barat (NTB) terdiri dari Bima, Kota Bima, Lombok  Timur, Sumbawa, dan Sumbawa Timur.
</content:encoded></item></channel></rss>
