<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Sukses Brasil Pindahkan Ibu Kota</title><description>Pemerintah membutuhkan waktu lima tahun untuk membangun infrastruktur dasar saat pemindahan ibu kota dari Rio de Janeiro ke Brasilia</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/10/470/2077185/cerita-sukses-brasil-pindahkan-ibu-kota</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/10/470/2077185/cerita-sukses-brasil-pindahkan-ibu-kota"/><item><title>Cerita Sukses Brasil Pindahkan Ibu Kota</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/10/470/2077185/cerita-sukses-brasil-pindahkan-ibu-kota</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/10/470/2077185/cerita-sukses-brasil-pindahkan-ibu-kota</guid><pubDate>Rabu 10 Juli 2019 18:15 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/10/470/2077185/cerita-sukses-brasil-pindahkan-ibu-kota-jVBpMiLDaO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Desain Kota (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/10/470/2077185/cerita-sukses-brasil-pindahkan-ibu-kota-jVBpMiLDaO.jpg</image><title>Ilustrasi Desain Kota (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Duta Besar Brasil untuk Indonesia Rubem Barbosa mengatakan pemerintah membutuhkan waktu lima tahun untuk membangun infrastruktur dasar saat pemindahan ibu kota dari Rio de Janeiro ke Brasilia.
&quot;Amat sulit membangun wilayah demikian besar dengan cuma-cuma. Kamu tidak akan tahu apa yang menjadi keinginan kamu, namun biasanya berakhir dari lebih dari yang seharusnya. Kami membutuhkan waktu lima tahun untuk membangun infrastruktur dasar,&quot; ujar Rubem dalam Diskusi bertajuk &quot;Pindah Ibu Kota Negara: Belajar dari Pengalaman Negara Sahabat&quot;,dikutip dari Antaranews, di Gedung Beppenas, Jakarta, Rabu (10/7/2019).
Baca Juga: Pemindahan Ibu Kota RI dengan Skema KPBU Jadi Pertama di Dunia
Menurut dia, tantangan yang dihadapi pemerintah Brasil dalam lima tahun pertama pembangunan ibu kota baru di Brasilia adalah harus membangun dari nol dan tidak ada penghuninya.
Pemerintah harus memindahkan penduduk selain membangun infrastruktur awal. Penduduk awal di sana adalah para pegawai pemerintahan dan pekerja yang turut membangun Kota Brasilia.
Baca Juga: Ibu Kota Pindah, Pemerintah Studi Banding ke Malaysia hingga Brasil
&quot;Pembangunan ibu kota Brasilia dibangun dari tahun 1956 hingga tahun 1961 di era pemerintahan Presiden Juscelino Kubitschek,&quot; katanya.
Tantangan lain, biaya pembangunan yang terus membengkak membuat inflasi, sehingga memicu kenaikan harga-harga. Meski begitu, membangun kota baru tetap merupakan peluang bagi banyak orang untuk mencari solusi kehidupan yang lebih baik.Dubes Rubem menjelaskan bahwa ide utama membangun Brasilia sebagai  ibu kota negara baru didasari atas perkembangan Rio de Janeiro yang  terlalu cepat, sehingga tidak bisa mengakomodasi pemerintahan lagi.
Selain itu, menjadi kewajiban pemerintah untuk pemerataan populasi  dalam kaitannya dengan memaksimalkan wilayah yang dimiliki negara.
&quot;Berbeda dengan Indonesia, waktu itu kami harus membangun Brasilia  dari awal, sekitar 1.200 km dari Rio, di mana tidak ada apa-apa di sana  pada waktu itu, tidak ada jalan, tidak ada rel kereta, benar-benar  operasi besar-besaran yang membutuhkan waktu sekitar 3,5 tahun. Awalnya  untuk mengakomodasi 1 juta penduduk, tapi sekarang sudah 3,3 juta  penduduk,&quot; kata dia.
Saat ini, Brasilia menjadi kota terbesar keempat di Brasil setelah  Rio de Janeiro, Sao Paolo, dan Salvador, serta memiliki pendapatan per  kapita tertinggi di Brasil. Daerah sekitar atau wilayah satelit pun  turut berkembang.
&quot;Kini mereka berkembang menjadi daerah pariwisata dan industri,&quot; kata Rudem.</description><content:encoded>JAKARTA - Duta Besar Brasil untuk Indonesia Rubem Barbosa mengatakan pemerintah membutuhkan waktu lima tahun untuk membangun infrastruktur dasar saat pemindahan ibu kota dari Rio de Janeiro ke Brasilia.
&quot;Amat sulit membangun wilayah demikian besar dengan cuma-cuma. Kamu tidak akan tahu apa yang menjadi keinginan kamu, namun biasanya berakhir dari lebih dari yang seharusnya. Kami membutuhkan waktu lima tahun untuk membangun infrastruktur dasar,&quot; ujar Rubem dalam Diskusi bertajuk &quot;Pindah Ibu Kota Negara: Belajar dari Pengalaman Negara Sahabat&quot;,dikutip dari Antaranews, di Gedung Beppenas, Jakarta, Rabu (10/7/2019).
Baca Juga: Pemindahan Ibu Kota RI dengan Skema KPBU Jadi Pertama di Dunia
Menurut dia, tantangan yang dihadapi pemerintah Brasil dalam lima tahun pertama pembangunan ibu kota baru di Brasilia adalah harus membangun dari nol dan tidak ada penghuninya.
Pemerintah harus memindahkan penduduk selain membangun infrastruktur awal. Penduduk awal di sana adalah para pegawai pemerintahan dan pekerja yang turut membangun Kota Brasilia.
Baca Juga: Ibu Kota Pindah, Pemerintah Studi Banding ke Malaysia hingga Brasil
&quot;Pembangunan ibu kota Brasilia dibangun dari tahun 1956 hingga tahun 1961 di era pemerintahan Presiden Juscelino Kubitschek,&quot; katanya.
Tantangan lain, biaya pembangunan yang terus membengkak membuat inflasi, sehingga memicu kenaikan harga-harga. Meski begitu, membangun kota baru tetap merupakan peluang bagi banyak orang untuk mencari solusi kehidupan yang lebih baik.Dubes Rubem menjelaskan bahwa ide utama membangun Brasilia sebagai  ibu kota negara baru didasari atas perkembangan Rio de Janeiro yang  terlalu cepat, sehingga tidak bisa mengakomodasi pemerintahan lagi.
Selain itu, menjadi kewajiban pemerintah untuk pemerataan populasi  dalam kaitannya dengan memaksimalkan wilayah yang dimiliki negara.
&quot;Berbeda dengan Indonesia, waktu itu kami harus membangun Brasilia  dari awal, sekitar 1.200 km dari Rio, di mana tidak ada apa-apa di sana  pada waktu itu, tidak ada jalan, tidak ada rel kereta, benar-benar  operasi besar-besaran yang membutuhkan waktu sekitar 3,5 tahun. Awalnya  untuk mengakomodasi 1 juta penduduk, tapi sekarang sudah 3,3 juta  penduduk,&quot; kata dia.
Saat ini, Brasilia menjadi kota terbesar keempat di Brasil setelah  Rio de Janeiro, Sao Paolo, dan Salvador, serta memiliki pendapatan per  kapita tertinggi di Brasil. Daerah sekitar atau wilayah satelit pun  turut berkembang.
&quot;Kini mereka berkembang menjadi daerah pariwisata dan industri,&quot; kata Rudem.</content:encoded></item></channel></rss>
