<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Diskon Pajak Besar-besaran Diyakini Tingkatkan Kualitas SDM</title><description>Aturan pemberian insentif pajak super tax deduction untuk pendidikan vokasi dalam rangka penguatan SDM bidang industri</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/12/20/2078119/diskon-pajak-besar-besaran-diyakini-tingkatkan-kualitas-sdm</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/12/20/2078119/diskon-pajak-besar-besaran-diyakini-tingkatkan-kualitas-sdm"/><item><title>Diskon Pajak Besar-besaran Diyakini Tingkatkan Kualitas SDM</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/12/20/2078119/diskon-pajak-besar-besaran-diyakini-tingkatkan-kualitas-sdm</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/12/20/2078119/diskon-pajak-besar-besaran-diyakini-tingkatkan-kualitas-sdm</guid><pubDate>Jum'at 12 Juli 2019 19:11 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/12/20/2078119/diskon-pajak-besar-besaran-diyakini-tingkatkan-kualitas-sdm-B0BlyJUhYw.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pajak (Ilustrasi: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/12/20/2078119/diskon-pajak-besar-besaran-diyakini-tingkatkan-kualitas-sdm-B0BlyJUhYw.jpg</image><title>Pajak (Ilustrasi: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Perindustrian optimistis bahwa super tax deduction atau potongan pajak super mampu mendorong sektor industri manufaktur agar terlibat aktif menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas serta meningkatkan kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang).
Komitmen itu terwujud melalui penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 45 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2010 tentang Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam Tahun Berjalan, yang ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 25 Juni 2019.
&amp;ldquo;Insentif super tax deduction diharapkan efektif mendorong para pelaku industri untuk berlomba-lomba menyediakan pendidikan dan pelatihan vokasi, sehingga daya saing SDM Indonesia di masa depan semakin meningkat,&amp;rdquo; kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Haris Munandar, dikutip dari Antaranews, di Jakarta, Jumat (12/7/2019).
Baca Juga: Bangun Pusat Pelatihan, Diskon Pajak Baru Diberi pada Pelaku Usaha
Haris menuturkan, aturan pemberian insentif pajak super tax deduction untuk pendidikan vokasi dalam rangka penguatan SDM bidang industri dituangkan dalam Pasal 29B.
Dalam beleid itu disebutkan, kepada wajib pajak badan dalam negeri yang menyelenggarakan kegiatan praktik kerja, pemagangan, atau pembelajaran dalam rangka pembinaan dan pengembangan SDM diberikan pengurangan penghasilan bruto paling tinggi 200 persen dari jumlah biaya yang dikeluarkan.
&amp;ldquo;Hingga saat ini sudah ada 855 perusahaan yang bekerja sama dalam rangka meningkatkan vokasi dengan sekitar 4.500 perjanjian yang melakukan kerja sama mendukung 2.600 SMK. Upaya tersebut merupakan pembelajaran strategis untuk mencapai efektivitas dan efisiensi tenaga kerja sebagai bagian dari investasi SDM berkompetensi,&amp;rdquo; terangnya.
Baca Juga: Insentif Besar-besaran untuk Vokasi Disambut Baik Sektor Industri
Haris menjelaskan, pemberian insentif fiskal tersebut juga dapat mendorong inovasi produk manufaktur melalui hasil kegiatan riset di sektor industri.
&amp;ldquo;Dengan super tax deduction, diharapkan investasi pada kegiatan riset dapat mencapai dua persen dari produk domestik bruto (PDB),&amp;rdquo; ujarnya.
Peningkatan jumlah investasi ini juga merupakan target dari penerapan industri 4.0 di Indonesia.
Sedangkan insentif pajak untuk industri atau usaha yang melakukan litbang, dituangkan dalam Pasal 29C ayat (2) pada PP tersebut.
Pasal tersebut menyebutkan, kepada wajib pajak badan dalam negeri yang melakukan kegiatan litbang tertentu di Indonesia, dapat diberikan pengurangan penghasilan bruto paling tinggi 300 persen dari jumlah biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan litbang tertentu di Indonesia, yang dibebankan dalam jangka waktu tertentu.Haris mengatakan, kegiatan litbang tertentu sebagaimana dimaksud  merupakan kegiatan litbang yang dilakukan di Indonesia untuk  menghasilkan invensi, menghasilkan inovasi, penguasaan teknologi baru.
&quot;Sejak awal, ini memang usulan kami karena industri itu tidak lepas  dari teknologi dan pengembangan produk ke depan yang membutuhkan SDM  berkualitas,&amp;rdquo; sebutnya.
Haris menambahkan, berdasarkan laporan indeks daya saing global atau  The Global Competitiveness Report 2018 yang diterbitkan World Economic  Forum, Indonesia menempati peringkat 45. Adapun dalam hal kemampuan  inovasi, Indonesia berada pada peringkat ke-68.
Sementara itu, pasal 29A dalam PP tersebut juga mengatur tentang  pemberian insentif kepada industri yang melakukan penanaman modal baru  atau perluasan usaha pada bidang usaha yang berbasis padat karya.
&amp;ldquo;Kepada usaha tersebut, dapat diberikan fasilitas pajak penghasilan  berupa pengurangan penghasilan neto sebesar 60% dari jumlah penanaman  modal berupa aktiva tetap berwujud termasuk tanah yang digunakan untuk  kegiatan usaha utama, yang dibebankan dalam jangka waktu tertentu,&amp;rdquo;  paparnya.
Haris berharap, jumlah perusahaan yang akan mendapat intensif ini  dapat mencapai 10% dari total industri besar sedang yang ada di  Indonesia.
Kemenperin akan terus mendorong agar semakin banyak perusahaan yang  menyediakan program pelatihan dan pendidikan demi meningkatnya kualitas  SDM di Indonesia.
&amp;ldquo;Kalau dihitung secara kasar, perusahaan industri besar sedang dari  data BPS itu ada sekitar 32 ribuan. Anggaplah 10% sudah 3.000-an,  seperti itu logikanya,&amp;rdquo; harap Haris.
PP tentang pemberian insentif pajak pada pelaku usaha yang memberikan  kontribusi terhadap perekonomian nasional tersebut, mulai berlaku pada  tanggal diundangkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna H  Laoly pada 26 Juni 2019.</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Perindustrian optimistis bahwa super tax deduction atau potongan pajak super mampu mendorong sektor industri manufaktur agar terlibat aktif menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas serta meningkatkan kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang).
Komitmen itu terwujud melalui penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 45 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2010 tentang Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam Tahun Berjalan, yang ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 25 Juni 2019.
&amp;ldquo;Insentif super tax deduction diharapkan efektif mendorong para pelaku industri untuk berlomba-lomba menyediakan pendidikan dan pelatihan vokasi, sehingga daya saing SDM Indonesia di masa depan semakin meningkat,&amp;rdquo; kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Haris Munandar, dikutip dari Antaranews, di Jakarta, Jumat (12/7/2019).
Baca Juga: Bangun Pusat Pelatihan, Diskon Pajak Baru Diberi pada Pelaku Usaha
Haris menuturkan, aturan pemberian insentif pajak super tax deduction untuk pendidikan vokasi dalam rangka penguatan SDM bidang industri dituangkan dalam Pasal 29B.
Dalam beleid itu disebutkan, kepada wajib pajak badan dalam negeri yang menyelenggarakan kegiatan praktik kerja, pemagangan, atau pembelajaran dalam rangka pembinaan dan pengembangan SDM diberikan pengurangan penghasilan bruto paling tinggi 200 persen dari jumlah biaya yang dikeluarkan.
&amp;ldquo;Hingga saat ini sudah ada 855 perusahaan yang bekerja sama dalam rangka meningkatkan vokasi dengan sekitar 4.500 perjanjian yang melakukan kerja sama mendukung 2.600 SMK. Upaya tersebut merupakan pembelajaran strategis untuk mencapai efektivitas dan efisiensi tenaga kerja sebagai bagian dari investasi SDM berkompetensi,&amp;rdquo; terangnya.
Baca Juga: Insentif Besar-besaran untuk Vokasi Disambut Baik Sektor Industri
Haris menjelaskan, pemberian insentif fiskal tersebut juga dapat mendorong inovasi produk manufaktur melalui hasil kegiatan riset di sektor industri.
&amp;ldquo;Dengan super tax deduction, diharapkan investasi pada kegiatan riset dapat mencapai dua persen dari produk domestik bruto (PDB),&amp;rdquo; ujarnya.
Peningkatan jumlah investasi ini juga merupakan target dari penerapan industri 4.0 di Indonesia.
Sedangkan insentif pajak untuk industri atau usaha yang melakukan litbang, dituangkan dalam Pasal 29C ayat (2) pada PP tersebut.
Pasal tersebut menyebutkan, kepada wajib pajak badan dalam negeri yang melakukan kegiatan litbang tertentu di Indonesia, dapat diberikan pengurangan penghasilan bruto paling tinggi 300 persen dari jumlah biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan litbang tertentu di Indonesia, yang dibebankan dalam jangka waktu tertentu.Haris mengatakan, kegiatan litbang tertentu sebagaimana dimaksud  merupakan kegiatan litbang yang dilakukan di Indonesia untuk  menghasilkan invensi, menghasilkan inovasi, penguasaan teknologi baru.
&quot;Sejak awal, ini memang usulan kami karena industri itu tidak lepas  dari teknologi dan pengembangan produk ke depan yang membutuhkan SDM  berkualitas,&amp;rdquo; sebutnya.
Haris menambahkan, berdasarkan laporan indeks daya saing global atau  The Global Competitiveness Report 2018 yang diterbitkan World Economic  Forum, Indonesia menempati peringkat 45. Adapun dalam hal kemampuan  inovasi, Indonesia berada pada peringkat ke-68.
Sementara itu, pasal 29A dalam PP tersebut juga mengatur tentang  pemberian insentif kepada industri yang melakukan penanaman modal baru  atau perluasan usaha pada bidang usaha yang berbasis padat karya.
&amp;ldquo;Kepada usaha tersebut, dapat diberikan fasilitas pajak penghasilan  berupa pengurangan penghasilan neto sebesar 60% dari jumlah penanaman  modal berupa aktiva tetap berwujud termasuk tanah yang digunakan untuk  kegiatan usaha utama, yang dibebankan dalam jangka waktu tertentu,&amp;rdquo;  paparnya.
Haris berharap, jumlah perusahaan yang akan mendapat intensif ini  dapat mencapai 10% dari total industri besar sedang yang ada di  Indonesia.
Kemenperin akan terus mendorong agar semakin banyak perusahaan yang  menyediakan program pelatihan dan pendidikan demi meningkatnya kualitas  SDM di Indonesia.
&amp;ldquo;Kalau dihitung secara kasar, perusahaan industri besar sedang dari  data BPS itu ada sekitar 32 ribuan. Anggaplah 10% sudah 3.000-an,  seperti itu logikanya,&amp;rdquo; harap Haris.
PP tentang pemberian insentif pajak pada pelaku usaha yang memberikan  kontribusi terhadap perekonomian nasional tersebut, mulai berlaku pada  tanggal diundangkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna H  Laoly pada 26 Juni 2019.</content:encoded></item></channel></rss>
