<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kresna Graha dan Pakuwon Jati Masuk 200 Perusahaan Terbaik Asia</title><description>Dua perusahaan Tanah Air tersebut berhasil masuk dalam daftar 200 perusahaan terbaik Asia dengan pendapatan di bawah USD1 miliar</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/13/320/2078354/kresna-graha-dan-pakuwon-jati-masuk-200-perusahaan-terbaik-asia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/13/320/2078354/kresna-graha-dan-pakuwon-jati-masuk-200-perusahaan-terbaik-asia"/><item><title>Kresna Graha dan Pakuwon Jati Masuk 200 Perusahaan Terbaik Asia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/13/320/2078354/kresna-graha-dan-pakuwon-jati-masuk-200-perusahaan-terbaik-asia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/13/320/2078354/kresna-graha-dan-pakuwon-jati-masuk-200-perusahaan-terbaik-asia</guid><pubDate>Sabtu 13 Juli 2019 12:10 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/13/320/2078354/kresna-graha-dan-pakuwon-jati-masuk-200-perusahaan-terbaik-asia-pvFcwfHV9H.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Laporan Keuangan (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/13/320/2078354/kresna-graha-dan-pakuwon-jati-masuk-200-perusahaan-terbaik-asia-pvFcwfHV9H.jpg</image><title>Ilustrasi Laporan Keuangan (Foto: Shutterstock)</title></images><description>NEW YORK - Apresiasi patut diberikan terhadap kinerja PT Kresna Graha Investama Tbk dan PT Pakuwon Jati Tbk. Dua perusahaan Tanah Air tersebut berhasil masuk dalam daftar 200 perusahaan terbaik Asia dengan pendapatan di bawah USD1 miliar (Rp14 triliun) yang dirilis Forbes baru-baru ini.
Kedua perusahaan masing-masing meraih pendapatan USD508 juta dan USD498 juta. Dari 200 perusahaan terbaik, 122 perusahaan di antaranya berasal dari China.
Berdasarkan data Forbes, Kresna memiliki kapitalisasi pasar sebesar USD673 juta, sedangkan Pakuwon USD2,1 miliar. Kresna digambarkan Forbes sebagai perusahaan teknologi digital dan layanan keuangan. Adapun Pakuwon di sebut memiliki bisnis dalam bidang perbelanjaan, perkantoran, real estate, industri, dan perhotelan.
&amp;ldquo;Perusahaan dengan performa terbaik datang dari Indonesia,&amp;rdquo; ungkap Forbes di situs resmi. Forbes menyebut Kresna Graha Investama merupakan pendatang baru dalam daftar 200 Forbes Asia.
Baca Juga: 10 Perusahaan Tbk Skala Menengah Terbaik di Asia, Nomor 6 dari Indonesia
Penjualannya melambung sebesar 375% dalam tiga tahun terakhir, mengingat industri e-commerce sedang berkembang pesat di Indonesia. Berdasarkan penelusuran, PT Kresna Graha Investama Tbk fokus bergerak secara terintegrasi di dua sektor utama, yakni teknologi dan digital serta keuangan dan investasi.
Sejak awal berdiri, perusahaan ini sudah menangkap perkembangan teknologi informasi yang mengarah pada gaya hidup digital. Dengan filosofi &amp;ldquo;Moment of Genius&amp;rdquo;, perseroan konsisten memperkuat posisinya sebagai integrator bisnis digital, dengan keunggulan bersaing yang membuatnya unggul di pasar melalui keberadaan infrastruktur dan jaringan distribusi digital yang lengkap dan mengakar di seluruh Indonesia.
Jalur distribusi digital perseroan mencakup titik distribusi digital, kios digital, aplikasi, dan chat bot yang diterapkan pada toko tradisional maupun berbagai titik distribusi offline seperti pasar tradisional dan modern. Adapun PT Pakuwon Jati Tbk merupakan pemain real estate yang bermarkas di Surabaya.
Beberapa proyek yang dimiliki antaranya Supermall Mansion di Pakuwon Indah, pembangunan TP 5, TP 6, dan The Peak Residence di Surabaya Pusat. Beberapa proyek baru yang tengah dikembangkan antara lain Grand Pakuwon yang berada di Margomulyo dan Tandes, Surabaya.
Baca Juga: 10 Perusahaan Kuasai Restoran Ternama di Dunia
Editor Forbes Asia , Jonathan Burgos, mengungkapkan adanya tren pertumbuhan pertumbuhan revenue perusahaan Asia. Perusahaan-perusahaan di benua ini rata-rata mengalami pertumbuhan keuntungan bersih tahunan dan penjualan di atas 50% pada tahun keuangan sebelumnya, yakni USD10 miliar dan USD54 miliar.
Namun, total kapitalisasi pasarnya turun sebesar 10% menjadi USD228 miliar dibandingkan tahun lalu menyusul meningkatnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang menyebabkan investor menjadi cemas. Di antara perusahaan yang menunjukkan capaian mengesan kan adalah AEM Holdings.
Perusahaan pemasok peralatan semikonduktor itu menghasilkan revenue sebanyak 90% dari Intel. AEM kini juga mendiversifikasi bisnisnya. Dalam dua tahun terakhir, perusahaan itu menghabiskan USD13 juta untuk akuisisi.
&amp;ldquo;AEM sangat gencar melakukan akuisisi, mulai IRIS Solution di Singapura hingga Afore di Finlandia,&amp;rdquo; kata Forbes ..AEM juga mengakuisisi InspiRain Tech nologies, sebuah perusahaan pemasok  kabel untuk Huawei 5G di China. Namun, dengan adanya sanksi AS terhadap  Huawei, AEM agak berhati-hati dengan kontraknya
Chairman Executive Officer (CEO) AEM Loke Wai mengaku tidak cemas  dengan situasi ekonomi saat ini di Asia. Faktanya, proyek 5G bukanlah  bisnis utama perusahaannya.
Meski demikian, dengan adanya ketegangan politik antara AS dan China,  pendapatan AEM yang mencapai USD195 juta tahun ini akan turun. Tidak  seperti AEM, Appen berhasil melakukan performa yang lebih stabil.
Perusahaan teknologi yang digerakkan satu juta kontributor freelancer  itu sukses menjalankan bisnis kecerdasan buatan (AI). Keuntungan bersih  Appen naik tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu menjadi AUD42 juta  dengan revenue AUD364 juta.
Sebagian besar pertumbuhan itu terjadi secara terorganisasi. Meski  demikian, keputusan Appen untuk melakukan akui sisi juga memberikan  kontribusi signifikan. Perusahaan berusia 23 tahun itu membeli  perusahaan otomatisasi Leapforce akhir 2017 dan perusahaan  machine-learning Figure Eight pada Maret lalu.
Pertumbuhan pendapatan Dat Xanh Group juga menjanjikan. Perusahaan  yang didirikan Luong Tri Thin pada 2003 itu sedang menggarap 28 proyek  raksasa dengan lahan konstruksi seluas 652 hektare di Vietnam, menyusul  meningkatnya jumlah kelas menengah.
Dat Xanh Group menanamkan modal sekitar USD2 miliar. &amp;ldquo;Pendapatan  perusahaan me lonjak naik sekitar 61% menjadi 5 triliun dong pada 2018,  sedangkan keuntungan bersihnya naik sebesar 57% menjadi 1,2 triliun  dong,&amp;rdquo; ungkap Forbes.
Mereka berhasil menjual 28.000 unit rumah tahun lalu, naik sebesar  27%, dan berencana menjual 32.000 unit tahun ini. En-Japan juga  menjalani performa yang memukau. Di tengah penuaan dan penurunan jumlah  populasi yang menghantam pasar buruh di Jepang, En-Japan berhasil  meningkatkan keuntungan bersih hampir sebesar 28% menjadi 8,1 miliar yen  dengan revenue 48,7 miliar yen.
Bisnis En-Japan diyakini akan tetap menguat. &amp;ldquo;Pendapatan dari pasar  pencarian kerja dan rekrutmen di Jepang diperkirakan akan naik sebesar  27% atau hampir USD4,7 miliar dalam tiga tahun men datang,&amp;rdquo; ungkap  Institut Penelitian Yano.
Pada periode yang sama, En-Japan juga diperkirakan akan mengalami  penjualan dan keuntungan operasi yang berlipat ganda. Performa yang sama  juga ditunjukkan Eve Energy.
Eve Energy menjadi satu dari tiga firma pemasok baterai mobil  terbesar di dunia bersama BYD dan Contemporary Amperex Technology.  Didirikan pada 2001, revenue perusahaan China itu kini mencapai 4,3  miliar yuan atau naik 46% dengan laba bersih 571 juta yuan.</description><content:encoded>NEW YORK - Apresiasi patut diberikan terhadap kinerja PT Kresna Graha Investama Tbk dan PT Pakuwon Jati Tbk. Dua perusahaan Tanah Air tersebut berhasil masuk dalam daftar 200 perusahaan terbaik Asia dengan pendapatan di bawah USD1 miliar (Rp14 triliun) yang dirilis Forbes baru-baru ini.
Kedua perusahaan masing-masing meraih pendapatan USD508 juta dan USD498 juta. Dari 200 perusahaan terbaik, 122 perusahaan di antaranya berasal dari China.
Berdasarkan data Forbes, Kresna memiliki kapitalisasi pasar sebesar USD673 juta, sedangkan Pakuwon USD2,1 miliar. Kresna digambarkan Forbes sebagai perusahaan teknologi digital dan layanan keuangan. Adapun Pakuwon di sebut memiliki bisnis dalam bidang perbelanjaan, perkantoran, real estate, industri, dan perhotelan.
&amp;ldquo;Perusahaan dengan performa terbaik datang dari Indonesia,&amp;rdquo; ungkap Forbes di situs resmi. Forbes menyebut Kresna Graha Investama merupakan pendatang baru dalam daftar 200 Forbes Asia.
Baca Juga: 10 Perusahaan Tbk Skala Menengah Terbaik di Asia, Nomor 6 dari Indonesia
Penjualannya melambung sebesar 375% dalam tiga tahun terakhir, mengingat industri e-commerce sedang berkembang pesat di Indonesia. Berdasarkan penelusuran, PT Kresna Graha Investama Tbk fokus bergerak secara terintegrasi di dua sektor utama, yakni teknologi dan digital serta keuangan dan investasi.
Sejak awal berdiri, perusahaan ini sudah menangkap perkembangan teknologi informasi yang mengarah pada gaya hidup digital. Dengan filosofi &amp;ldquo;Moment of Genius&amp;rdquo;, perseroan konsisten memperkuat posisinya sebagai integrator bisnis digital, dengan keunggulan bersaing yang membuatnya unggul di pasar melalui keberadaan infrastruktur dan jaringan distribusi digital yang lengkap dan mengakar di seluruh Indonesia.
Jalur distribusi digital perseroan mencakup titik distribusi digital, kios digital, aplikasi, dan chat bot yang diterapkan pada toko tradisional maupun berbagai titik distribusi offline seperti pasar tradisional dan modern. Adapun PT Pakuwon Jati Tbk merupakan pemain real estate yang bermarkas di Surabaya.
Beberapa proyek yang dimiliki antaranya Supermall Mansion di Pakuwon Indah, pembangunan TP 5, TP 6, dan The Peak Residence di Surabaya Pusat. Beberapa proyek baru yang tengah dikembangkan antara lain Grand Pakuwon yang berada di Margomulyo dan Tandes, Surabaya.
Baca Juga: 10 Perusahaan Kuasai Restoran Ternama di Dunia
Editor Forbes Asia , Jonathan Burgos, mengungkapkan adanya tren pertumbuhan pertumbuhan revenue perusahaan Asia. Perusahaan-perusahaan di benua ini rata-rata mengalami pertumbuhan keuntungan bersih tahunan dan penjualan di atas 50% pada tahun keuangan sebelumnya, yakni USD10 miliar dan USD54 miliar.
Namun, total kapitalisasi pasarnya turun sebesar 10% menjadi USD228 miliar dibandingkan tahun lalu menyusul meningkatnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang menyebabkan investor menjadi cemas. Di antara perusahaan yang menunjukkan capaian mengesan kan adalah AEM Holdings.
Perusahaan pemasok peralatan semikonduktor itu menghasilkan revenue sebanyak 90% dari Intel. AEM kini juga mendiversifikasi bisnisnya. Dalam dua tahun terakhir, perusahaan itu menghabiskan USD13 juta untuk akuisisi.
&amp;ldquo;AEM sangat gencar melakukan akuisisi, mulai IRIS Solution di Singapura hingga Afore di Finlandia,&amp;rdquo; kata Forbes ..AEM juga mengakuisisi InspiRain Tech nologies, sebuah perusahaan pemasok  kabel untuk Huawei 5G di China. Namun, dengan adanya sanksi AS terhadap  Huawei, AEM agak berhati-hati dengan kontraknya
Chairman Executive Officer (CEO) AEM Loke Wai mengaku tidak cemas  dengan situasi ekonomi saat ini di Asia. Faktanya, proyek 5G bukanlah  bisnis utama perusahaannya.
Meski demikian, dengan adanya ketegangan politik antara AS dan China,  pendapatan AEM yang mencapai USD195 juta tahun ini akan turun. Tidak  seperti AEM, Appen berhasil melakukan performa yang lebih stabil.
Perusahaan teknologi yang digerakkan satu juta kontributor freelancer  itu sukses menjalankan bisnis kecerdasan buatan (AI). Keuntungan bersih  Appen naik tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu menjadi AUD42 juta  dengan revenue AUD364 juta.
Sebagian besar pertumbuhan itu terjadi secara terorganisasi. Meski  demikian, keputusan Appen untuk melakukan akui sisi juga memberikan  kontribusi signifikan. Perusahaan berusia 23 tahun itu membeli  perusahaan otomatisasi Leapforce akhir 2017 dan perusahaan  machine-learning Figure Eight pada Maret lalu.
Pertumbuhan pendapatan Dat Xanh Group juga menjanjikan. Perusahaan  yang didirikan Luong Tri Thin pada 2003 itu sedang menggarap 28 proyek  raksasa dengan lahan konstruksi seluas 652 hektare di Vietnam, menyusul  meningkatnya jumlah kelas menengah.
Dat Xanh Group menanamkan modal sekitar USD2 miliar. &amp;ldquo;Pendapatan  perusahaan me lonjak naik sekitar 61% menjadi 5 triliun dong pada 2018,  sedangkan keuntungan bersihnya naik sebesar 57% menjadi 1,2 triliun  dong,&amp;rdquo; ungkap Forbes.
Mereka berhasil menjual 28.000 unit rumah tahun lalu, naik sebesar  27%, dan berencana menjual 32.000 unit tahun ini. En-Japan juga  menjalani performa yang memukau. Di tengah penuaan dan penurunan jumlah  populasi yang menghantam pasar buruh di Jepang, En-Japan berhasil  meningkatkan keuntungan bersih hampir sebesar 28% menjadi 8,1 miliar yen  dengan revenue 48,7 miliar yen.
Bisnis En-Japan diyakini akan tetap menguat. &amp;ldquo;Pendapatan dari pasar  pencarian kerja dan rekrutmen di Jepang diperkirakan akan naik sebesar  27% atau hampir USD4,7 miliar dalam tiga tahun men datang,&amp;rdquo; ungkap  Institut Penelitian Yano.
Pada periode yang sama, En-Japan juga diperkirakan akan mengalami  penjualan dan keuntungan operasi yang berlipat ganda. Performa yang sama  juga ditunjukkan Eve Energy.
Eve Energy menjadi satu dari tiga firma pemasok baterai mobil  terbesar di dunia bersama BYD dan Contemporary Amperex Technology.  Didirikan pada 2001, revenue perusahaan China itu kini mencapai 4,3  miliar yuan atau naik 46% dengan laba bersih 571 juta yuan.</content:encoded></item></channel></rss>
