<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sri Mulyani: Middle Income Trap Jadi Tantangan Pembangunan Indonesia</title><description>keluar dari jebakan masyarakat berpendapatan menengah (middle income trap) merupakan tantangan utama dari pembangunan Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/16/20/2079573/sri-mulyani-middle-income-trap-jadi-tantangan-pembangunan-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/16/20/2079573/sri-mulyani-middle-income-trap-jadi-tantangan-pembangunan-indonesia"/><item><title>Sri Mulyani: Middle Income Trap Jadi Tantangan Pembangunan Indonesia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/16/20/2079573/sri-mulyani-middle-income-trap-jadi-tantangan-pembangunan-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/16/20/2079573/sri-mulyani-middle-income-trap-jadi-tantangan-pembangunan-indonesia</guid><pubDate>Selasa 16 Juli 2019 13:56 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/16/20/2079573/sri-mulyani-middle-income-trap-jadi-tantangan-pembangunan-indonesia-hn1yEUt3ZL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sri Mulyani di Paripurna DPR RI (Foto: Yohana Artha Uly/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/16/20/2079573/sri-mulyani-middle-income-trap-jadi-tantangan-pembangunan-indonesia-hn1yEUt3ZL.jpg</image><title>Sri Mulyani di Paripurna DPR RI (Foto: Yohana Artha Uly/Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, keluar dari jebakan masyarakat berpendapatan menengah (middle income trap) merupakan tantangan utama dari pembangunan Indonesia ke depannya. Setidaknya dibutuhkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6% per tahun untuk bisa merealisasikannya.

Hal tersebut disampaikan Sri Mulyani dalam paparannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Rapat Paripurna yang membahas RUU APBN 2018.
Baca juga: Minta Regulasi Penghambat Perdagangan  Dihapus, Jokowi Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 5,4%
Bendahara Negara tersebut mengakui, jika berdasarkan perhitungan, ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh di kisaran 5%-5,5% per tahun dalam jangka pendek. Perhitungan itu didapat dari hasil estimasi output potensial yang didasarkan pada pendekatan fungsi produksi.

&quot;Oleh karena itu, upaya terobosan kebijakan reformasi struktural perlu terus dilakukan untuk meningkatkan level output potensial, agar Indonesia bisa terbebas dari middle income trap,&quot; ujarnya dalam Rapat Paripurna, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (16/7/2019).
Baca juga: Alasan Bank Dunia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI
Dia menjelaskan, reformasi struktural itu pun memberikan dampak positif pada pertumbuhan ekonomi Indonesia ditengah kondisi volatilitas perekonomian global. Di mana pada tahun lalu ekonomi Indonesia tumbuh menjadi 5,17%, setelah pada 2017 ekonomi tumbuh di angka 5,07%.

&quot;Pertumbuhan itu juga menjadi capaian tertinggi dalam 4 tahun terakhir,&quot; imbuhnya.

Selain itu, angka produk domestik bruto (PDB) 2018 juga tumbuh menjadi Rp14.834 triliun. Di mana pada tahun sebelumnya PDB sebesar Rp13.588 triliun. &quot;Perbaikan kinerja pertumbuhan ini antara lain masih ditopang oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan investasi sepanjang 2018,&quot; jelas dia.
Di sisi lain, laju inflasi dalam 4 tahun terakhir juga dapat terjaga  pada level yang relatif stabil dan sesuai sasaran APBN yang di kisaran  3,5%. Pada tahun 2018, laju inflasi tercatat sebesar 3,13%.

Menurutnya, terkedalinya inflasi menjadi salah satu kunci untuk  mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan menjaga  daya beli masyarakat.

&quot;Selain itu, terkendalinya laju inflasi juga turut berkontribusi  terhadap penurunan persentase penduduk miskin yang berhasil ditekan  hingga menyentuh level single digit pada 2018 yaitu 9,66%,&quot; kata dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, keluar dari jebakan masyarakat berpendapatan menengah (middle income trap) merupakan tantangan utama dari pembangunan Indonesia ke depannya. Setidaknya dibutuhkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6% per tahun untuk bisa merealisasikannya.

Hal tersebut disampaikan Sri Mulyani dalam paparannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Rapat Paripurna yang membahas RUU APBN 2018.
Baca juga: Minta Regulasi Penghambat Perdagangan  Dihapus, Jokowi Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 5,4%
Bendahara Negara tersebut mengakui, jika berdasarkan perhitungan, ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh di kisaran 5%-5,5% per tahun dalam jangka pendek. Perhitungan itu didapat dari hasil estimasi output potensial yang didasarkan pada pendekatan fungsi produksi.

&quot;Oleh karena itu, upaya terobosan kebijakan reformasi struktural perlu terus dilakukan untuk meningkatkan level output potensial, agar Indonesia bisa terbebas dari middle income trap,&quot; ujarnya dalam Rapat Paripurna, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (16/7/2019).
Baca juga: Alasan Bank Dunia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI
Dia menjelaskan, reformasi struktural itu pun memberikan dampak positif pada pertumbuhan ekonomi Indonesia ditengah kondisi volatilitas perekonomian global. Di mana pada tahun lalu ekonomi Indonesia tumbuh menjadi 5,17%, setelah pada 2017 ekonomi tumbuh di angka 5,07%.

&quot;Pertumbuhan itu juga menjadi capaian tertinggi dalam 4 tahun terakhir,&quot; imbuhnya.

Selain itu, angka produk domestik bruto (PDB) 2018 juga tumbuh menjadi Rp14.834 triliun. Di mana pada tahun sebelumnya PDB sebesar Rp13.588 triliun. &quot;Perbaikan kinerja pertumbuhan ini antara lain masih ditopang oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan investasi sepanjang 2018,&quot; jelas dia.
Di sisi lain, laju inflasi dalam 4 tahun terakhir juga dapat terjaga  pada level yang relatif stabil dan sesuai sasaran APBN yang di kisaran  3,5%. Pada tahun 2018, laju inflasi tercatat sebesar 3,13%.

Menurutnya, terkedalinya inflasi menjadi salah satu kunci untuk  mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan menjaga  daya beli masyarakat.

&quot;Selain itu, terkendalinya laju inflasi juga turut berkontribusi  terhadap penurunan persentase penduduk miskin yang berhasil ditekan  hingga menyentuh level single digit pada 2018 yaitu 9,66%,&quot; kata dia.</content:encoded></item></channel></rss>
