<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jadi Negara Maju, RI Wajib Genjot Investasi Double Digit</title><description>Investasi seperti dikatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi salah satu instrumen pertumbuhan ekonomi</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/16/320/2079535/jadi-negara-maju-ri-wajib-genjot-investasi-double-digit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/16/320/2079535/jadi-negara-maju-ri-wajib-genjot-investasi-double-digit"/><item><title>Jadi Negara Maju, RI Wajib Genjot Investasi Double Digit</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/16/320/2079535/jadi-negara-maju-ri-wajib-genjot-investasi-double-digit</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/16/320/2079535/jadi-negara-maju-ri-wajib-genjot-investasi-double-digit</guid><pubDate>Selasa 16 Juli 2019 12:47 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/16/320/2079535/jadi-negara-maju-ri-wajib-genjot-investasi-double-digit-6DNofFMXWn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto Investasi (Ilustrasi: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/16/320/2079535/jadi-negara-maju-ri-wajib-genjot-investasi-double-digit-6DNofFMXWn.jpg</image><title>Foto Investasi (Ilustrasi: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Institut for Development of Economics (Indef) mengkritisi rendahnya angka investasi Indonesia, karena masih berada di kisaran 5%. Investasi seperti dikatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi salah satu instrumen pertumbuhan ekonomi karena bisa membuka peluang kerja yang seluas-luasnya.
&amp;ldquo;Salah satu yang kita kritik adalah realisasi investasi,&amp;rdquo; ujarnya Ekonom Senior Indef Didik J Rachbini dalam sebuah diskusi di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (16/7/2019).
Baca Juga: Investasi dan Permintaan Pasar Domestik Diprediksi Landai di Semester II-2019
Sebagai informasi, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi sepanjang triwulan pertama 2019 mencapai Rp195,1 triliun. Angka tersebut naik 5,3% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp185,3 triliun.
Capaian tersebut terdiri atas realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp87,2 triliun. Sementara  penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp107,9 triliun.
Baca Juga: Pertemuan Jokowi-Prabowo Beri Signal Positif bagi Pelaku Pasar
Pertumbuhan PMDN pada triwulan pertama 2019 meningkat 14,1% dari Rp76,4 triliun pada triwulan pertama 2018 menjadi Rp87,2 triliun. Sedangkan realisasi PMA pada triwulan pertama 2019 turun 0,9% menjadi Rp107,9 triliun dibanding triwulan pertama 2018 sebesar Rp108,9 triliun.BKPM mencatat realisasi investasi tersebar berdasarkan lima lokasi  teratas, yakni Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan  Banten. Sementara lima besar negara asal investasi asing sepanjang  periode Januari-Maret 2019 yakni Singapura dengan USD1,7 miliar,  Tiongkok sebesar USD1,2 miliar, Jepang USD1,1 miliar, Malaysia USD0,7  miliar, dan Hong Kong USD0,6 miliar.
Adapun lima besar sektor usaha yaitu transportasi, gudang dan  telekomunikasi, listrik, gas dan air; konstruksi, perumahan, kawasan  industri dan perkantoran; serta pertambangan. Sepanjang triwulan pertama  2019, realisasi investasi sebesar Rp195,1 triliun itu berhasil menyerap  235.401 tenaga kerja Indonesia.
Menurut Didik, pemerintah harus bisa menggenjot investasi hingga  double digit jika ingin menjadi negara maju. Karena jika masih satu  digit, maka Indonesia akan terus terjebak sebagai negara berpenghasilan  menengah.
&amp;ldquo;Kalau hanya tumbuh 4% akan masuk middle income trap harus tumbuh double digit,&amp;rdquo; ucapnya.

</description><content:encoded>JAKARTA - Institut for Development of Economics (Indef) mengkritisi rendahnya angka investasi Indonesia, karena masih berada di kisaran 5%. Investasi seperti dikatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi salah satu instrumen pertumbuhan ekonomi karena bisa membuka peluang kerja yang seluas-luasnya.
&amp;ldquo;Salah satu yang kita kritik adalah realisasi investasi,&amp;rdquo; ujarnya Ekonom Senior Indef Didik J Rachbini dalam sebuah diskusi di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (16/7/2019).
Baca Juga: Investasi dan Permintaan Pasar Domestik Diprediksi Landai di Semester II-2019
Sebagai informasi, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi sepanjang triwulan pertama 2019 mencapai Rp195,1 triliun. Angka tersebut naik 5,3% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp185,3 triliun.
Capaian tersebut terdiri atas realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp87,2 triliun. Sementara  penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp107,9 triliun.
Baca Juga: Pertemuan Jokowi-Prabowo Beri Signal Positif bagi Pelaku Pasar
Pertumbuhan PMDN pada triwulan pertama 2019 meningkat 14,1% dari Rp76,4 triliun pada triwulan pertama 2018 menjadi Rp87,2 triliun. Sedangkan realisasi PMA pada triwulan pertama 2019 turun 0,9% menjadi Rp107,9 triliun dibanding triwulan pertama 2018 sebesar Rp108,9 triliun.BKPM mencatat realisasi investasi tersebar berdasarkan lima lokasi  teratas, yakni Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan  Banten. Sementara lima besar negara asal investasi asing sepanjang  periode Januari-Maret 2019 yakni Singapura dengan USD1,7 miliar,  Tiongkok sebesar USD1,2 miliar, Jepang USD1,1 miliar, Malaysia USD0,7  miliar, dan Hong Kong USD0,6 miliar.
Adapun lima besar sektor usaha yaitu transportasi, gudang dan  telekomunikasi, listrik, gas dan air; konstruksi, perumahan, kawasan  industri dan perkantoran; serta pertambangan. Sepanjang triwulan pertama  2019, realisasi investasi sebesar Rp195,1 triliun itu berhasil menyerap  235.401 tenaga kerja Indonesia.
Menurut Didik, pemerintah harus bisa menggenjot investasi hingga  double digit jika ingin menjadi negara maju. Karena jika masih satu  digit, maka Indonesia akan terus terjebak sebagai negara berpenghasilan  menengah.
&amp;ldquo;Kalau hanya tumbuh 4% akan masuk middle income trap harus tumbuh double digit,&amp;rdquo; ucapnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
