<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Vietnam Untung dari Perang Dagang, Kalau Indonesia?</title><description>Sementara Vietnam menjadi negara yang paling mendapatkan keuntungan dari perang dagang. Karena Vietnam bisa masuk ke rantai pasok dunia</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/16/320/2079588/vietnam-untung-dari-perang-dagang-kalau-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/16/320/2079588/vietnam-untung-dari-perang-dagang-kalau-indonesia"/><item><title>Vietnam Untung dari Perang Dagang, Kalau Indonesia?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/16/320/2079588/vietnam-untung-dari-perang-dagang-kalau-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/16/320/2079588/vietnam-untung-dari-perang-dagang-kalau-indonesia</guid><pubDate>Selasa 16 Juli 2019 14:23 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/16/320/2079588/vietnam-untung-dari-perang-dagang-kalau-indonesia-BvUuy9gs7g.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Perang Dagang AS-China (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/16/320/2079588/vietnam-untung-dari-perang-dagang-kalau-indonesia-BvUuy9gs7g.jpg</image><title>Perang Dagang AS-China (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, dampak perang dagang terhadap perekonomian Indonesia sangat minim. Pasalnya, Indonesia tidak terletak di dalam rantai pasok perekonomian global.
Menurutnya, masing-masing negara memiliki dampak perang dagang yang berbeda. Namun Indonesia tidak berada di dalam rantai pasok perekonomian dunia.
&amp;ldquo;Semakin terkait suatu negara dalam rantai pasok dan perdagangan global, maka dampak perang dagang akan semakin besar. Bisa upsize ataupun downsize,&amp;rdquo; ujarnya dalam sebuah diskusi di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Selasa (16/7/2019).
Baca Juga: Impor China dari AS Turun 31% Imbas Perang Tarif
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia mengatakan, perang dagang berdampak karena keterkaitan Indonesia terhadap rantai pasok dan perdagangan global sangat rendah.
&amp;ldquo;Dalam gonjang-ganjing perang dagang kita less expose, tapi pada saat ada opportunity kita juga jadi kurang bisa untuk memanfaatkan,&amp;rdquo; kata Sri Mulyani.
Wanita yang kerap disapa Ani itu mencontohkan beberapa negara yang terkena dampak langsung adalah Singapura. Bahkan pertumbuhan ekonomi negara itu memiliki tren yang negatif sebab ekonominya tergantung pada ekspor dan impor.
Baca Juga: Kemendag China: Tarif AS Harus Dihapus demi Capai Kesepakatan Perdagangan
Tak jauh berbeda dengan negara China yang mengalami pelemahan ekonomi terbesar dalam 27 tahun terakhir. Dia mengatakan China mampu tumbuh konsisten mendekati double digit karena ketergantungannya pada dunia terutama Eropa dan AS.
Sementara itu untuk negara di Asia Tenggara seperti Thailand juga terkena imbasnya dari sisi perdagangannya. Sementara Vietnam menjadi negara yang paling mendapatkan keuntungan dari perang dagang ini. Pasalnya Vietnam akhirnya  bisa masuk ke dalam rantai pasok dunia dan tingginya investasi yang masuk.
&amp;ldquo;Negara yang memiliki performa terbaik itu yang paling tergantung dengan dunia global,&amp;rdquo; kata Ani.Oleh karena itu, Sri Mulyani menguraikan berdasarkan analisa perang  dagang bisa menimbulkan beberapa potensi yang bisa Indonesia manfaatkan  seandainya bisa masuk ke dalam rantai pasok global.
&amp;ldquo;Ini memiliki konsekuensi sehingga kita perlu mempersiapkan Indonesia mengambil kesempatan itu,&amp;rdquo; lanjut dia.
Sri Mulyani menegaskan agar dapat masuk ke dalam rantai pasok global,  Indonesia perlu menggenjot masuknya investasi dengan terus memperbaiki  faktor-faktor fundamental yang meningkatkan optimisme investor.
Saat ini lanjut Sri Mulyani,  Indonesia sudah berada dalam tren yang  benar. Akan tetapi membutuhkan kekuatan dan kecepatan yang lebih besar  dan cepat.
Dirinya mencontohkan beberapa faktor fundamental Indonesia yang saat  ini sudah positif seperti stabilnya pertumbuhan ekonomi di angka 5%,  serta turunnya pengangguran menjadi 5,01% dan kemiskinan menjadi 9,41%  yang menjadi level terendah dalam sejarah bangsa.
&amp;ldquo;Gini ratio juga perlahan sudah turun menjadi 0,382 dan beberapa  daerah bahkan sudah rendah.Investasi itu bukan sesuatu yang tiba-tiba  seperti ceplok telur yang jadi dalam 1 menit,&amp;rdquo;  jelasnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, dampak perang dagang terhadap perekonomian Indonesia sangat minim. Pasalnya, Indonesia tidak terletak di dalam rantai pasok perekonomian global.
Menurutnya, masing-masing negara memiliki dampak perang dagang yang berbeda. Namun Indonesia tidak berada di dalam rantai pasok perekonomian dunia.
&amp;ldquo;Semakin terkait suatu negara dalam rantai pasok dan perdagangan global, maka dampak perang dagang akan semakin besar. Bisa upsize ataupun downsize,&amp;rdquo; ujarnya dalam sebuah diskusi di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Selasa (16/7/2019).
Baca Juga: Impor China dari AS Turun 31% Imbas Perang Tarif
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia mengatakan, perang dagang berdampak karena keterkaitan Indonesia terhadap rantai pasok dan perdagangan global sangat rendah.
&amp;ldquo;Dalam gonjang-ganjing perang dagang kita less expose, tapi pada saat ada opportunity kita juga jadi kurang bisa untuk memanfaatkan,&amp;rdquo; kata Sri Mulyani.
Wanita yang kerap disapa Ani itu mencontohkan beberapa negara yang terkena dampak langsung adalah Singapura. Bahkan pertumbuhan ekonomi negara itu memiliki tren yang negatif sebab ekonominya tergantung pada ekspor dan impor.
Baca Juga: Kemendag China: Tarif AS Harus Dihapus demi Capai Kesepakatan Perdagangan
Tak jauh berbeda dengan negara China yang mengalami pelemahan ekonomi terbesar dalam 27 tahun terakhir. Dia mengatakan China mampu tumbuh konsisten mendekati double digit karena ketergantungannya pada dunia terutama Eropa dan AS.
Sementara itu untuk negara di Asia Tenggara seperti Thailand juga terkena imbasnya dari sisi perdagangannya. Sementara Vietnam menjadi negara yang paling mendapatkan keuntungan dari perang dagang ini. Pasalnya Vietnam akhirnya  bisa masuk ke dalam rantai pasok dunia dan tingginya investasi yang masuk.
&amp;ldquo;Negara yang memiliki performa terbaik itu yang paling tergantung dengan dunia global,&amp;rdquo; kata Ani.Oleh karena itu, Sri Mulyani menguraikan berdasarkan analisa perang  dagang bisa menimbulkan beberapa potensi yang bisa Indonesia manfaatkan  seandainya bisa masuk ke dalam rantai pasok global.
&amp;ldquo;Ini memiliki konsekuensi sehingga kita perlu mempersiapkan Indonesia mengambil kesempatan itu,&amp;rdquo; lanjut dia.
Sri Mulyani menegaskan agar dapat masuk ke dalam rantai pasok global,  Indonesia perlu menggenjot masuknya investasi dengan terus memperbaiki  faktor-faktor fundamental yang meningkatkan optimisme investor.
Saat ini lanjut Sri Mulyani,  Indonesia sudah berada dalam tren yang  benar. Akan tetapi membutuhkan kekuatan dan kecepatan yang lebih besar  dan cepat.
Dirinya mencontohkan beberapa faktor fundamental Indonesia yang saat  ini sudah positif seperti stabilnya pertumbuhan ekonomi di angka 5%,  serta turunnya pengangguran menjadi 5,01% dan kemiskinan menjadi 9,41%  yang menjadi level terendah dalam sejarah bangsa.
&amp;ldquo;Gini ratio juga perlahan sudah turun menjadi 0,382 dan beberapa  daerah bahkan sudah rendah.Investasi itu bukan sesuatu yang tiba-tiba  seperti ceplok telur yang jadi dalam 1 menit,&amp;rdquo;  jelasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
