<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jokowi Kesal PLTSa Tak Ada Progres, Ternyata Ini Masalahnya</title><description>Persoalan sampah ini sudah cukup lama karena memang ada perbedaan persepsi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/16/320/2079715/jokowi-kesal-pltsa-tak-ada-progres-ternyata-ini-masalahnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/16/320/2079715/jokowi-kesal-pltsa-tak-ada-progres-ternyata-ini-masalahnya"/><item><title>Jokowi Kesal PLTSa Tak Ada Progres, Ternyata Ini Masalahnya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/16/320/2079715/jokowi-kesal-pltsa-tak-ada-progres-ternyata-ini-masalahnya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/16/320/2079715/jokowi-kesal-pltsa-tak-ada-progres-ternyata-ini-masalahnya</guid><pubDate>Selasa 16 Juli 2019 17:42 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/16/320/2079715/jokowi-kesal-pltsa-tak-ada-progres-ternyata-ini-masalahnya-6JrJ5pB4Nb.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Seskab Jelaskan soal PLTSa (Setkab)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/16/320/2079715/jokowi-kesal-pltsa-tak-ada-progres-ternyata-ini-masalahnya-6JrJ5pB4Nb.jpg</image><title>Foto: Seskab Jelaskan soal PLTSa (Setkab)</title></images><description>JAKARTA - Setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengecek langsung satu persatu dari 12 kota/kabupaten yang mengusulkan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), empat kabupaten/kota dinyatakan siap untuk melaksanakan PLTSa.

&amp;ldquo;Mudah- mudahan tahun ini ada yang bisa selesai, yaitu di antaranya adalah Surabaya, Bekasi dan Solo yang progresnya cukup baik. Kemudian yang sudah mulai adalah DKI Jakarta,&amp;rdquo; kata Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung seperti dikutip laman setkab, Jakarta, Selasa (16/7/2019).
Baca Juga: Bersihkan Sampah dengan Bangun PLTSa, RI Dapat Bonus Listrik
Daerah lain yang sebenarnya persoalannya relatif sudah tertangani dengan baik, menurut Seskab, adalah Bali. Karena itu, dalam kesempatan tersebut Seskab didampingi oleh Sekda dan juga Wakil Wali kota Denpasar.

Seskab Pramono Anung menjelaskan, persoalan sampah ini sudah cukup lama karena memang ada perbedaan persepsi, pandangan antara PLN (Perusahaan Listrik Negara) dengan daerah-daerah yang ada.

&amp;ldquo;Tadi presiden menegaskan, karena Perpresnya sudah ada.  Hitungannya sudah ada, Rp13 koma sekian per KWH, maka itulah yang dijadikan acuan. Maka diminta kepada PLN dalam hal ini perhitungannya bukan berdasarkan keuntungan tetapi sekali lagi adalah dalam rangka untuk pembersihan sampah di kota-kota yang ada,&amp;rdquo; jelas Seskab.
Baca Juga: 6 Kali Rapat, Presiden Jokowi Dibuat Kesal soal Pembangkit Listrik Tenaga Sampah
Dia menunjuk contoh misalnya, di Bekasi itu sudah hampir 1.700 ton per hari. Belum yang  8.000 ton per hari dari Bantar Gebang, dari Bekasi sendiri sudah cukup tinggi. Sehingga dengan demikian 4 kota prioritas, yaitu Surabaya, Bekasi, Solo, DKI akan dikawal secara langsung oleh Presiden untuk penyelesaiannya, kemudian yang kelima adalah Bali. Sedangkan 7 daerah lainnya diminta untuk membuat prototype sama dengan daerah-daerah yang lain.

Persoalan yang ada, lanjut Seskab selalu klasik, yaitu persoalan tipping fee, karena setiap daerah, hal yang berkaitan dengan tipping fee atau biaya pengelolaan sampah ini berbeda-beda. Jawa Timur misalnya cukup murah, hanya sekitar Rp150.


Padahal, menurut Seskab, tipping fee di dalam Perpres sudah diatur  maksimum sebesar-besarnya adalah Rp500. Sehingga sudah ada payung   hukumnya. Tetapi semuanya tidak berani mengambil posisi, mengambil  kebijakan karena takut persoalan hukum dan sebagainya.

&amp;ldquo;Maka Presiden menegaskan bahwa risalah rapat pada hari ini adalah  merupakan payung hukum, termasuk payung hukum di dalam menyelesaikan  semua persoalan yang ada di dalam penyelesaian sampah,&amp;rdquo; jelas Seskab  seraya berharap, mudah-mudahan dengan demikian 5 daerah ini segera  selesai, 7 daerah segera bisa mengikuti karena Perpresnya sudah sangat  jelas terhadap hal tersebut.

Persoalan Serius

Menjawab pertayaan wartawan, Seskab Pramono Anung mengemukakan,  masalah penanganan PLTSa ini memang berbeda-beda. Ia mengambil contoh  DKI Jakarta misalnya tentunya persoalan sampah sangat serius. Karena  itu, di DKI sendiri, hampir 2.000 yang siap untuk dijadikan pembangkit  listrik tenaga sampah, sedangkan di daerah lain rata-rata itu 1.000 ton  sudah cukup, seperti  Solo.

Nah, Bekasi karena penyangga Jakarta dan kemudian juga Tangerang  Selatandan Kota Tangerang, maka sampahnya cukup besar. Dan sampah ini  menjadi persoalan yang yang cukup serius di beberapa kota besar, maka  pembangkit listrik tenaga sampah dalam rangka menyelesaikan persoalan  itu.

&amp;ldquo;Jadi persoalan sampah harus diutamakan bukan persoalan keuntungan yang diperoleh secara pembangkit listriknya,&amp;rdquo; pungkas Seskab.</description><content:encoded>JAKARTA - Setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengecek langsung satu persatu dari 12 kota/kabupaten yang mengusulkan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), empat kabupaten/kota dinyatakan siap untuk melaksanakan PLTSa.

&amp;ldquo;Mudah- mudahan tahun ini ada yang bisa selesai, yaitu di antaranya adalah Surabaya, Bekasi dan Solo yang progresnya cukup baik. Kemudian yang sudah mulai adalah DKI Jakarta,&amp;rdquo; kata Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung seperti dikutip laman setkab, Jakarta, Selasa (16/7/2019).
Baca Juga: Bersihkan Sampah dengan Bangun PLTSa, RI Dapat Bonus Listrik
Daerah lain yang sebenarnya persoalannya relatif sudah tertangani dengan baik, menurut Seskab, adalah Bali. Karena itu, dalam kesempatan tersebut Seskab didampingi oleh Sekda dan juga Wakil Wali kota Denpasar.

Seskab Pramono Anung menjelaskan, persoalan sampah ini sudah cukup lama karena memang ada perbedaan persepsi, pandangan antara PLN (Perusahaan Listrik Negara) dengan daerah-daerah yang ada.

&amp;ldquo;Tadi presiden menegaskan, karena Perpresnya sudah ada.  Hitungannya sudah ada, Rp13 koma sekian per KWH, maka itulah yang dijadikan acuan. Maka diminta kepada PLN dalam hal ini perhitungannya bukan berdasarkan keuntungan tetapi sekali lagi adalah dalam rangka untuk pembersihan sampah di kota-kota yang ada,&amp;rdquo; jelas Seskab.
Baca Juga: 6 Kali Rapat, Presiden Jokowi Dibuat Kesal soal Pembangkit Listrik Tenaga Sampah
Dia menunjuk contoh misalnya, di Bekasi itu sudah hampir 1.700 ton per hari. Belum yang  8.000 ton per hari dari Bantar Gebang, dari Bekasi sendiri sudah cukup tinggi. Sehingga dengan demikian 4 kota prioritas, yaitu Surabaya, Bekasi, Solo, DKI akan dikawal secara langsung oleh Presiden untuk penyelesaiannya, kemudian yang kelima adalah Bali. Sedangkan 7 daerah lainnya diminta untuk membuat prototype sama dengan daerah-daerah yang lain.

Persoalan yang ada, lanjut Seskab selalu klasik, yaitu persoalan tipping fee, karena setiap daerah, hal yang berkaitan dengan tipping fee atau biaya pengelolaan sampah ini berbeda-beda. Jawa Timur misalnya cukup murah, hanya sekitar Rp150.


Padahal, menurut Seskab, tipping fee di dalam Perpres sudah diatur  maksimum sebesar-besarnya adalah Rp500. Sehingga sudah ada payung   hukumnya. Tetapi semuanya tidak berani mengambil posisi, mengambil  kebijakan karena takut persoalan hukum dan sebagainya.

&amp;ldquo;Maka Presiden menegaskan bahwa risalah rapat pada hari ini adalah  merupakan payung hukum, termasuk payung hukum di dalam menyelesaikan  semua persoalan yang ada di dalam penyelesaian sampah,&amp;rdquo; jelas Seskab  seraya berharap, mudah-mudahan dengan demikian 5 daerah ini segera  selesai, 7 daerah segera bisa mengikuti karena Perpresnya sudah sangat  jelas terhadap hal tersebut.

Persoalan Serius

Menjawab pertayaan wartawan, Seskab Pramono Anung mengemukakan,  masalah penanganan PLTSa ini memang berbeda-beda. Ia mengambil contoh  DKI Jakarta misalnya tentunya persoalan sampah sangat serius. Karena  itu, di DKI sendiri, hampir 2.000 yang siap untuk dijadikan pembangkit  listrik tenaga sampah, sedangkan di daerah lain rata-rata itu 1.000 ton  sudah cukup, seperti  Solo.

Nah, Bekasi karena penyangga Jakarta dan kemudian juga Tangerang  Selatandan Kota Tangerang, maka sampahnya cukup besar. Dan sampah ini  menjadi persoalan yang yang cukup serius di beberapa kota besar, maka  pembangkit listrik tenaga sampah dalam rangka menyelesaikan persoalan  itu.

&amp;ldquo;Jadi persoalan sampah harus diutamakan bukan persoalan keuntungan yang diperoleh secara pembangkit listriknya,&amp;rdquo; pungkas Seskab.</content:encoded></item></channel></rss>
