<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Turunkan Suku Bunga, BI Pede Modal Asing Masuk ke Indonesia Tetap Deras</title><description>Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakini aliran modal asing akan tetap masuk dengan deras.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/18/20/2080655/turunkan-suku-bunga-bi-pede-modal-asing-masuk-ke-indonesia-tetap-deras</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/18/20/2080655/turunkan-suku-bunga-bi-pede-modal-asing-masuk-ke-indonesia-tetap-deras"/><item><title>Turunkan Suku Bunga, BI Pede Modal Asing Masuk ke Indonesia Tetap Deras</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/18/20/2080655/turunkan-suku-bunga-bi-pede-modal-asing-masuk-ke-indonesia-tetap-deras</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/18/20/2080655/turunkan-suku-bunga-bi-pede-modal-asing-masuk-ke-indonesia-tetap-deras</guid><pubDate>Kamis 18 Juli 2019 17:45 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/18/20/2080655/turunkan-suku-bunga-bi-pede-modal-asing-masuk-ke-indonesia-tetap-deras-Tu0a3jxvz4.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/18/20/2080655/turunkan-suku-bunga-bi-pede-modal-asing-masuk-ke-indonesia-tetap-deras-Tu0a3jxvz4.jpg</image><title>Ilustrasi: Shutterstock</title></images><description> 
JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakini aliran modal asing akan tetap masuk dengan deras ke pasar keuangan Indonesia meskipun per Juli 2019 pihaknya memangkas suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 0,25% menjadi 5,75%.

Perry mengklaim suku bunga di pasar keuangan Indonesia akan tetap menarik bagi investor global jika merujuk pada selisih suku bunga pasar (differential interest rate) antara Indonesia dan negara maju.

Perry membandingkan suku bunga obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun (US Treasury Yield) yang saat ini sebesar 1,9% hingga 2%, dengan Surat Berharga Negara Indonesia bertenor 10 tahun yang masih berada di kisaran 7%.
&amp;nbsp;Baca Juga: BI Catat Modal Asing Masuk Capai Rp73,28 Triliun
Dengan selisih bunga atau marjin antara kedua instrumen itu yang masih sebesar lima persen, Perry yakin investor global akan masih melirik pasar keuangan Indonesia.

&quot;Ada spread (selisih) bunga sekitar 5% lebih dan (Indonesia) masih menarik,&quot; ujar Perry seperti dikutip Antaranews, Jakarta, Kamis (18/7/2019).

Selain selisih suku bunga dengan AS, menurut Perry, risiko investasi yang terlihat dari risiko gagal bayar (credit default swap/CDS) Indonesia juga kian menurun. Dia menyebut CDS Indonesia untuk pasar keuangan bertenor lima tahun saat ini berada di kisaran 80 poin, atau terus menurun dibanding Maret 2019 yang sebesar 100 poin.

&quot;Premi risiko investasi di Indonesia semakin rendah dengan peningkatan peringkat kredit Standard and Poor's dan lembaga lainnya terhadap Indonesia yang membaik,&quot; kata dia.
&amp;nbsp;Baca Juga: Bos BI Bicara Kerangka Kerja Kebijakan IMF
Sebagai gambaran, aliran modal asing ke Indonesia sejak awal Januari 2019 hingga akhir Juni 2019 mencapai USD9,7 miliar atau sekitar Rp180 triliun.

&amp;ldquo;Meski begitu, risiko dana keluar masih ada, tapi kami meyakini bahwa investasi portofolio di Indonesia masih menarik dibanding negara lain,&amp;rdquo; kata Perry.
Parameter lainnya dalam stabilitas eksternal, yakni neraca  pembayaran, diyakini Perry juga akan terjaga karena berlanjutnya surplus  neraca modal dan finansial. Sedangkan defisit transaksi berjalan  Indonesia hingga akhir tahun diperkirakan akan berada di kisaran 2,5%-3%  terhadap PDB.

Di luar investasi portofolio, investasi asing langsung atau penanaman  modal asing, menurut Perry, juga akan tetap deras mengingat sinyalemen  kuat telah dikeluarkan Presiden Joko Widodo bahwa pemerintah hingga 2024  akan tetap menerapkan kebijakan yang probisnis dan investasi. Hal itu  diyakini akan menggairahkan aliran investasi asing langsung.

Adapun pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia ini adalah yang  pertama kali sejak delapan bulan lalu atau November 2018 ketika suku  bunga kebijakan dinaikkan ke level 6% untuk membendung keluarnya aliran  modal asing pada 2018. Secara total, pada 2018, Otoritas Moneter  menaikkan suku bunga acuan sebanyak 1,75% hingga ke level 6%.

Dengan pemangkasan suku bunga kebijakan tersebut, Bank Sentral juga  menurunkan suku bunga penyimpanan dana perbankan di BI (deposit  facility) dan bunga penyediaan dana bagi perbankan (lending facility),  masing-masing ke 5% dan 6,5%.
</description><content:encoded> 
JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakini aliran modal asing akan tetap masuk dengan deras ke pasar keuangan Indonesia meskipun per Juli 2019 pihaknya memangkas suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 0,25% menjadi 5,75%.

Perry mengklaim suku bunga di pasar keuangan Indonesia akan tetap menarik bagi investor global jika merujuk pada selisih suku bunga pasar (differential interest rate) antara Indonesia dan negara maju.

Perry membandingkan suku bunga obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun (US Treasury Yield) yang saat ini sebesar 1,9% hingga 2%, dengan Surat Berharga Negara Indonesia bertenor 10 tahun yang masih berada di kisaran 7%.
&amp;nbsp;Baca Juga: BI Catat Modal Asing Masuk Capai Rp73,28 Triliun
Dengan selisih bunga atau marjin antara kedua instrumen itu yang masih sebesar lima persen, Perry yakin investor global akan masih melirik pasar keuangan Indonesia.

&quot;Ada spread (selisih) bunga sekitar 5% lebih dan (Indonesia) masih menarik,&quot; ujar Perry seperti dikutip Antaranews, Jakarta, Kamis (18/7/2019).

Selain selisih suku bunga dengan AS, menurut Perry, risiko investasi yang terlihat dari risiko gagal bayar (credit default swap/CDS) Indonesia juga kian menurun. Dia menyebut CDS Indonesia untuk pasar keuangan bertenor lima tahun saat ini berada di kisaran 80 poin, atau terus menurun dibanding Maret 2019 yang sebesar 100 poin.

&quot;Premi risiko investasi di Indonesia semakin rendah dengan peningkatan peringkat kredit Standard and Poor's dan lembaga lainnya terhadap Indonesia yang membaik,&quot; kata dia.
&amp;nbsp;Baca Juga: Bos BI Bicara Kerangka Kerja Kebijakan IMF
Sebagai gambaran, aliran modal asing ke Indonesia sejak awal Januari 2019 hingga akhir Juni 2019 mencapai USD9,7 miliar atau sekitar Rp180 triliun.

&amp;ldquo;Meski begitu, risiko dana keluar masih ada, tapi kami meyakini bahwa investasi portofolio di Indonesia masih menarik dibanding negara lain,&amp;rdquo; kata Perry.
Parameter lainnya dalam stabilitas eksternal, yakni neraca  pembayaran, diyakini Perry juga akan terjaga karena berlanjutnya surplus  neraca modal dan finansial. Sedangkan defisit transaksi berjalan  Indonesia hingga akhir tahun diperkirakan akan berada di kisaran 2,5%-3%  terhadap PDB.

Di luar investasi portofolio, investasi asing langsung atau penanaman  modal asing, menurut Perry, juga akan tetap deras mengingat sinyalemen  kuat telah dikeluarkan Presiden Joko Widodo bahwa pemerintah hingga 2024  akan tetap menerapkan kebijakan yang probisnis dan investasi. Hal itu  diyakini akan menggairahkan aliran investasi asing langsung.

Adapun pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia ini adalah yang  pertama kali sejak delapan bulan lalu atau November 2018 ketika suku  bunga kebijakan dinaikkan ke level 6% untuk membendung keluarnya aliran  modal asing pada 2018. Secara total, pada 2018, Otoritas Moneter  menaikkan suku bunga acuan sebanyak 1,75% hingga ke level 6%.

Dengan pemangkasan suku bunga kebijakan tersebut, Bank Sentral juga  menurunkan suku bunga penyimpanan dana perbankan di BI (deposit  facility) dan bunga penyediaan dana bagi perbankan (lending facility),  masing-masing ke 5% dan 6,5%.
</content:encoded></item></channel></rss>
