<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Tekan Defisit Neraca Perdagangan, APHI Genjot Ekspor Hasil Hutan</title><description>APHI menyampaikan solusi jangka pendek untuk menekan defisit neraca berjalan perdagangan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/18/320/2080677/tekan-defisit-neraca-perdagangan-aphi-genjot-ekspor-hasil-hutan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/18/320/2080677/tekan-defisit-neraca-perdagangan-aphi-genjot-ekspor-hasil-hutan"/><item><title>   Tekan Defisit Neraca Perdagangan, APHI Genjot Ekspor Hasil Hutan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/18/320/2080677/tekan-defisit-neraca-perdagangan-aphi-genjot-ekspor-hasil-hutan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/18/320/2080677/tekan-defisit-neraca-perdagangan-aphi-genjot-ekspor-hasil-hutan</guid><pubDate>Kamis 18 Juli 2019 18:38 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/18/320/2080677/tekan-defisit-neraca-perdagangan-aphi-genjot-ekspor-hasil-hutan-IZFYL9QaBt.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/18/320/2080677/tekan-defisit-neraca-perdagangan-aphi-genjot-ekspor-hasil-hutan-IZFYL9QaBt.jpg</image><title>Ilustrasi: (Foto: Okezone)</title></images><description> 
JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) menyampaikan solusi jangka pendek untuk menekan defisit neraca berjalan perdagangan Indonesia sepanjang semester I (Januari-Juni) 2019 dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam serta menggenjot ekspor.

&quot;Khususnya dari hasil hutan kayu karena bahan baku seluruhnya tersedia di dalam negeri, kandungan lokal 100% dan tidak perlu impor barang modal,&quot; ujar Ketua Umum APHI Indroyono Soesilo seperti dikutip Antaranews, Jakarta, Kamis (18/7/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Seimbangkan Neraca Perdagangan, Kemendag Ajak Pelaku Usaha Sasar Pasar China
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, defisit neraca berjalan perdagangan Indonesia pada semester I mencapai USD1,93 miliar.

Dia menjelaskan bahwa kinerja pengusahaan hutan sektor hulu semester pertama 2019 menunjukkan adanya kenaikan produksi kayu dari hutan alam sebesar 7,65% dibanding periode yang sama tahun Ialu, kendati untuk hutan tanaman terjadi penurunan tipis sebesar 7,94%.
&amp;nbsp;Baca Juga: Jokowi Ingatkan Defisit Neraca Dagang, Ini Komentar Sri Mulyani
Permintaan kayu hutan tanaman industri (HTI) untuk industri bubur kertas juga diperkirakan akan terus meningkat hingga akhir musim, sehingga menggairahkan kembali industri hulu kehutanan.


Sementara itu, terjadi penurunan permintaan kayu olahan dunia,  terutama jenis plywood dan woodworking, mempengaruhi penurunan nilai  ekspor panel sebesar 16,32% dan woodworking 18,42%.

&quot;Menurunnya produksi plywood dan woodworking ini berpengaruh terhadap  menurunnya permintaan kayu bulat di pasar domestik,&quot; ujar Indroyono.

Indroyono mengatakan menurunnya permintaan kayu bulat itu berdampak  pada harga kayu bulat di dalam negeri yang merosot, mengakibatkan Izin  Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Dalam Hutan Alam (IUPHHK-HA)  mengalami kesulitan pemasaran dan stok kayu bulat hutan alam menumpuk di  tempat penimbunan kayu di hutan.

Dia melanjutkan, untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan  insentif dan deregulasi khusus yang pada akhirnya dapat mendorong  kinerja IUPHHK-HA.

&quot;Diperlukan paket kebijakan untuk memperbaiki perdagangan hasil hutan  melalui ekspor kayu gergajian dari Papua dan Papua Barat dari jenis  selain Merbau yang selama ini belum dikenal pasar,&quot; ucap Indroyono.

&quot;Hal itu untuk mendorong industrialisasi dan penciptaan peluang kerja  melalui implementasi undang-undang Otonomi khusus Papua, dan juga  diperlukan perluasan penampang ekspor kayu olahan,&quot; sambung dia.Menurut Indroyono, melalui paket kebijakan itu, akan diperoleh  tambahan bahan baku dari hutan alam sebesar 2 juta m3, berasal dari  jenis-jenis baru yang belum dikenal pasar. Selain itu diperoleh juga  tambahan kayu bulat dari HTI yang tidak terintegrasi industri bubur  kertas sebesar 6,6 juta m3 per tahun.

Jika dihitung nilai tambahnya, lanjut dia, akan diperoleh tambahan  devisa sebesar 1,6 miliar dolar AS. Tambahan itu berasal dari ekspor  kayu gergajian berbasis kayu alam dari Papua dan Papua Barat sebesar 175  juta dolar AS, ekspor kayu olahan yang diperluas penampangnya berbasis  kayu alam sebesar 682,5 juta dolar AS.

Selanjutnya, ekspor panel kayu berbasis kayu alam 240 juta dolar AS,  serta ekspor kayu olahan berbasis kayu tanaman sebesar 495 juta dolar  AS.

&quot;Nilainya cukup besar untuk dapat mengurangi defisit perdagangan dan juga meningkatkan income masyarakat,&quot; ujar Indroyono.

Indroyono memastikan, tambahan ekspor dari produk gergajian dan kayu  olahan tersebut tidak akan mengganggu pasokan untuk industri kayu saat  ini, karena akan diperoleh dari HTI non industri bubur kertas dan dari  jenis-jenis kayu hutan alam yang belum dikenal pasar.
</description><content:encoded> 
JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) menyampaikan solusi jangka pendek untuk menekan defisit neraca berjalan perdagangan Indonesia sepanjang semester I (Januari-Juni) 2019 dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam serta menggenjot ekspor.

&quot;Khususnya dari hasil hutan kayu karena bahan baku seluruhnya tersedia di dalam negeri, kandungan lokal 100% dan tidak perlu impor barang modal,&quot; ujar Ketua Umum APHI Indroyono Soesilo seperti dikutip Antaranews, Jakarta, Kamis (18/7/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Seimbangkan Neraca Perdagangan, Kemendag Ajak Pelaku Usaha Sasar Pasar China
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, defisit neraca berjalan perdagangan Indonesia pada semester I mencapai USD1,93 miliar.

Dia menjelaskan bahwa kinerja pengusahaan hutan sektor hulu semester pertama 2019 menunjukkan adanya kenaikan produksi kayu dari hutan alam sebesar 7,65% dibanding periode yang sama tahun Ialu, kendati untuk hutan tanaman terjadi penurunan tipis sebesar 7,94%.
&amp;nbsp;Baca Juga: Jokowi Ingatkan Defisit Neraca Dagang, Ini Komentar Sri Mulyani
Permintaan kayu hutan tanaman industri (HTI) untuk industri bubur kertas juga diperkirakan akan terus meningkat hingga akhir musim, sehingga menggairahkan kembali industri hulu kehutanan.


Sementara itu, terjadi penurunan permintaan kayu olahan dunia,  terutama jenis plywood dan woodworking, mempengaruhi penurunan nilai  ekspor panel sebesar 16,32% dan woodworking 18,42%.

&quot;Menurunnya produksi plywood dan woodworking ini berpengaruh terhadap  menurunnya permintaan kayu bulat di pasar domestik,&quot; ujar Indroyono.

Indroyono mengatakan menurunnya permintaan kayu bulat itu berdampak  pada harga kayu bulat di dalam negeri yang merosot, mengakibatkan Izin  Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Dalam Hutan Alam (IUPHHK-HA)  mengalami kesulitan pemasaran dan stok kayu bulat hutan alam menumpuk di  tempat penimbunan kayu di hutan.

Dia melanjutkan, untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan  insentif dan deregulasi khusus yang pada akhirnya dapat mendorong  kinerja IUPHHK-HA.

&quot;Diperlukan paket kebijakan untuk memperbaiki perdagangan hasil hutan  melalui ekspor kayu gergajian dari Papua dan Papua Barat dari jenis  selain Merbau yang selama ini belum dikenal pasar,&quot; ucap Indroyono.

&quot;Hal itu untuk mendorong industrialisasi dan penciptaan peluang kerja  melalui implementasi undang-undang Otonomi khusus Papua, dan juga  diperlukan perluasan penampang ekspor kayu olahan,&quot; sambung dia.Menurut Indroyono, melalui paket kebijakan itu, akan diperoleh  tambahan bahan baku dari hutan alam sebesar 2 juta m3, berasal dari  jenis-jenis baru yang belum dikenal pasar. Selain itu diperoleh juga  tambahan kayu bulat dari HTI yang tidak terintegrasi industri bubur  kertas sebesar 6,6 juta m3 per tahun.

Jika dihitung nilai tambahnya, lanjut dia, akan diperoleh tambahan  devisa sebesar 1,6 miliar dolar AS. Tambahan itu berasal dari ekspor  kayu gergajian berbasis kayu alam dari Papua dan Papua Barat sebesar 175  juta dolar AS, ekspor kayu olahan yang diperluas penampangnya berbasis  kayu alam sebesar 682,5 juta dolar AS.

Selanjutnya, ekspor panel kayu berbasis kayu alam 240 juta dolar AS,  serta ekspor kayu olahan berbasis kayu tanaman sebesar 495 juta dolar  AS.

&quot;Nilainya cukup besar untuk dapat mengurangi defisit perdagangan dan juga meningkatkan income masyarakat,&quot; ujar Indroyono.

Indroyono memastikan, tambahan ekspor dari produk gergajian dan kayu  olahan tersebut tidak akan mengganggu pasokan untuk industri kayu saat  ini, karena akan diperoleh dari HTI non industri bubur kertas dan dari  jenis-jenis kayu hutan alam yang belum dikenal pasar.
</content:encoded></item></channel></rss>
