<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Peluang Ekspor Mobil Masih Besar, RI Bisa Kalahkan Thailand?   </title><description>Gaikindo juga menargetkan peningkatan ekspor kendaraan bisa mencapai 1 juta unit pada 2025.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/19/320/2080858/peluang-ekspor-mobil-masih-besar-ri-bisa-kalahkan-thailand</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/19/320/2080858/peluang-ekspor-mobil-masih-besar-ri-bisa-kalahkan-thailand"/><item><title>Peluang Ekspor Mobil Masih Besar, RI Bisa Kalahkan Thailand?   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/19/320/2080858/peluang-ekspor-mobil-masih-besar-ri-bisa-kalahkan-thailand</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/19/320/2080858/peluang-ekspor-mobil-masih-besar-ri-bisa-kalahkan-thailand</guid><pubDate>Jum'at 19 Juli 2019 10:19 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/19/320/2080858/peluang-ekspor-mobil-masih-besar-ri-bisa-kalahkan-thailand-8GUtAATwFp.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/19/320/2080858/peluang-ekspor-mobil-masih-besar-ri-bisa-kalahkan-thailand-8GUtAATwFp.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Okezone</title></images><description>
TANGERANG - Target ekspor mobil yang dipatok Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sebanyak 300.000 unit pada tahun ini diyakini masih bisa ditingkatkan.

Pemerintah bahkan menantang Gaikindo bisa menggenjot ekspor mobil hingga 350.000 unit sepanjang 2019. Hal ini karena sejumlah faktor dinilai cukup mendukung aktivitas ekspor, termasuk adanya perjanjian perdagangan bebas seperti yang dilakukan dengan Australia.

Besarnya potensi ekspor automotif juga terlihat dari kapasitas produksi mobil yang telah mencapai 2 juta unit. Selain itu tren ekspor juga cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Data Gaikindo menyebutkan pada tahun lalu ekspor mobil utuh (completely built unit/CBU) mencapai 264.500 unit atau tumbuh 14,4% bila dibandingkan dengan 2017 yang hanya 245.553 unit.
&amp;nbsp;Baca Juga: Ekspor Automotif Indonesia Kalah dari Thailand, Wapres JK: Kita Terlambat
Seluruh produk ekspor itu dikirim ke 80 negara, termasuk negara-negara ASE AN, Asia, Afrika, Jepang, dan Amerika. &amp;ldquo;Saat ini ekspor auto motif masuk dalam posisi kedelapan kategori komoditas ekspor non migas unggulan dengan nilai USD7,1 miliar. &amp;rdquo;

&amp;ldquo;Capaian 2018 tertinggi bila diban ding kan dengan tahun-tahun sebelumnya,&amp;rdquo; ujar Ketua Umum Gaikindo Johannes Nangoi saat pembukaan pameran automotif Gaikindo Indonesia International Auto Show(GIIAS) 2019 di ICE BSD, Tangerang, Banten, kemarin.
&amp;nbsp;Baca Juga: Impor Turun, Gaikindo Sebut Industri Automotif RI Sudah Mandiri
Dia menambahkan, Gaikindo juga menargetkan peningkatan ekspor kendaraan bisa mencapai 1 juta unit pada 2025. Menurutnya, saat ini industri automotif Indonesia telah berhasil mandiri memenuhi kebutuhan domestik. Ini ditunjukkan dengan angka impor mobil ke Indonesia yang terus menurun setiap tahunnya.

&amp;ldquo;Impor pada 2018 tercatat hanya 90.000 unit dan ini terus menurun dari catatan tahun sebelumnya,&amp;rdquo; ujar Nangoi.

Dia melanjutkan, dengan adanya tren peningkatan ekspor, Gaikindo optimistis tahun ini angka ekspor yang ditetapkan 300.000 unit bakal tercapai. Ajang GIIAS 2019, menurut Nangoi, menjadi bukti kemampuan Indonesia dalam mengekspor produk automotif.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2019/07/02/57901/295409_medium.jpg&quot; alt=&quot;GIIAS 2019 Angkat Tema Future in Motion&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;Pada acara pameran tahunan itu berbagai mobil produksi Indonesia yang  telah diekspor ke banyak negara di dunia ditampilkan. Sebut saja  Mitsubishi Xpander, Toyota Avanza, Toyota Kijang Innova, Suzuki, dan  sejumlah merek lainnya. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto  mengapresiasi target Gaikindo untuk mengekspor 1 juta unit mobil pada  2025.

Menurutnya, dalam rangka menggenjot ekspor, pemerintah telah  melakukan sejumlah upaya, termasuk kerja sama free trade area (FTA) atau  perdagangan bebas dengan Australia.

&amp;ldquo;Kalau saya lihat target ekspor 300.000 unit justru masih terasa  kurang karena hanya naik 10% dari capaian 2018. Kami targetkan, kalau  prinsipal para agen pemegang merek (APM) mendukung, angka 350.000 unit  itu gampang karena kapasitas sudah ada,&amp;rdquo; tegas Airlangga.

Mengenai FTA, Airlangga menyebutkan, ada kriteria kendaraan listrik  harus memiliki kandungan lokal 40% dan hal itu sangat mudah dicapai.  &amp;ldquo;Kita mengharapkan dalam pameran ini ada launching roadmap 1 juta unit  mobil di tahun 2025,&amp;rdquo; kata Airlangga.

Masih Ketinggalan

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, saat ini ekspor kendaraan   dari Indonesia masih ketinggalan bila dibandingkan dengan Thailand   kendati pemerintah sudah melakukan berbagai upaya kerjasama untuk   meningkatkannya. Menurut JK, pemerintah akan terus mendukung rencana   Gaikindo untuk meningkatkan ekspor.

Termasuk di antaranya dengan penambahan infrastruktur pendukung   ekspor seperti membuka pelabuhan baru Patimban di Subang, Jawa Barat.   Sekadar informasi, ekspor kendaraan Thailand pada 2018 mencapai angka   1,14 juta unit. Adapun produksinya mencapai 2,16 juta dengan penjualan   domestik sebanyak 1,03 juta unit.

JK melanjutkan, proyek pelabuhan Patimban ditargetkan rampung pada   2020. Pemerintah berharap beroperasinya Pelabuhan Patimban dapat meng   efisienkan biaya ekspor produk Indonesia keluar negeri, salah satunya   produk automotif.

Pelabuhan ini juga diharapkan mengurangi tingkat kepadatan lalu   lintas di Jakarta dengan pembagian arus lalu lintas kendaraan serta   menjamin keselamatan pelayaran, termasuk area eksplorasi migas. Saat ini   pembangunan Pelabuhan Patimban dilaksanakan dalam tiga tahap.

Tahap pertama, Pelabuhan Patimban direncanakan akan dapat melayani   3,5 juta peti kemas (TEUS) dan 600.000 kendaraan bermotor (CBU). Lalu tahap kedua , kapasitas pelayanan akan di tingkatkan menjadi 5,5 juta TEUS. Terakhir pada tahap ketiga , kapasitas akan dimaksimalkan hingga 7.5 juta TEUS.

&amp;ldquo;Pemerintah mendukung dengan infrastruktur yang berkembang, baik   sistemnya maupun logistik. Semua ini suatu sindikasi di mana kita harus   saling mendukung baik swasta maupun pemerintah. Karena itulah pameran   GIIAS ini akan jadi indikasi kemajuan-kemajuan yang dicapai industri   automotif,&amp;rdquo; jelasnya.Sementara itu Wakil Direktur Institute for Development of Economics  and Finance (Indef) Eko Listyanto menilai, target ekspor mobil CBU yang  diinginkan pemerintah sebanyak 350.000 unit cukup realistis. Meski  begitu dia menilai industri harus mendapat dukungan dari sisi  infrastruktur.

&amp;ldquo;Kalau dilihat dari kesiapan industri automotif captive market- nya  sudah besar, bahkan menjadi andalan di tengah perang dagang dan lesunya  penjualan kendaraan di dalam negeri bila dibandingkan tahuntahun  sebelumnya. Untuk itu perlu kesiapan infrastruktur penghubung supaya  ekspor dapat terus didorong,&amp;rdquo; ujar dia.

Menurut Eko, kesiapan infrastruktur pelabuhan menjadi prasyarat utama  meningkatkan ekspor mobil. Tanpa adanya dukungan infrastruktur,  targettarget penjualan ke luar negeri sulit tercapai. Sebab itu pihaknya  mendorong Kementerian Perhubungan segera menyelesaikan Pelabuhan  Patimban.

&amp;ldquo;Prasyarat infrastruktur jelas dibutuhkan oleh industri automotif,  sementara instrumen Kementerian Perindustrian hanya bisa menyiapkan dari  sisi industrinya. Sebab itu perlu dukungan dari kementerian lain,&amp;rdquo;  sebutnya.

Produsen Siap

Presdir PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang  Tjahjono menilai situasi ekspor tidak lepas dari kondisi ekonomi negara  lain. Dia mencontohkan, untuk pasar di kawasan di Timur Tengah, produsen  harus membuat produk yang kom petitif.

Dia menambahkan, di samping itu perlu dipikirkan juga peluang ekspor  mobil listrik (EV). Untuk itu, harus ada penguatan struktur industrinya  termasuk di sektor hulu. &amp;ldquo;Indonesia memiliki sumber daya alam yang  bagus. Kita harus jadi salah satu bagian dari rantai pasok global di  dunia,&quot; paparnya.

Produsen lainnya yakni Mitsubishi Motors, menyatakan akan  meningkatkan kapasitas produksi tahunan dari mobil Mitsubishi Xpander  yang dibuat di pabrik Mitsubishi Motors di Bekasi, Jawa Barat.

Chairman Mitsubishi Motors Corporation (MMC) Osamu Masuko  menyampaikan, Xpander telah diterima dengan baik bukan hanya di  Indonesia, melainkan juga di banyak negara sejak memulai ekspornya pada  April 2018.

Menurutnya, Xpander berhasil mendongkrak MMC ke posisi tiga dalam  volume ekspor dari Indonesia di tahun fiskal 2018 dengan total 42.000  unit. Saat ini Xpander telah diekspor ke 12 negara, dan rencananya akan  diperluas menjadi lebih dari 20 negara dalam waktu dekat.

&amp;ldquo;Dengan sukses yang luar biasa ini, kami akan meningkatkan kapasitas  produksi tahunan di pabrik MMKI (Mitsubishi Motors Krama Yudha  Indonesia), dari 160.000 unit menjadi 220.000 unit per tahun pada tahun  fiskal 2020,&amp;rdquo; kata Osamu.</description><content:encoded>
TANGERANG - Target ekspor mobil yang dipatok Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sebanyak 300.000 unit pada tahun ini diyakini masih bisa ditingkatkan.

Pemerintah bahkan menantang Gaikindo bisa menggenjot ekspor mobil hingga 350.000 unit sepanjang 2019. Hal ini karena sejumlah faktor dinilai cukup mendukung aktivitas ekspor, termasuk adanya perjanjian perdagangan bebas seperti yang dilakukan dengan Australia.

Besarnya potensi ekspor automotif juga terlihat dari kapasitas produksi mobil yang telah mencapai 2 juta unit. Selain itu tren ekspor juga cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Data Gaikindo menyebutkan pada tahun lalu ekspor mobil utuh (completely built unit/CBU) mencapai 264.500 unit atau tumbuh 14,4% bila dibandingkan dengan 2017 yang hanya 245.553 unit.
&amp;nbsp;Baca Juga: Ekspor Automotif Indonesia Kalah dari Thailand, Wapres JK: Kita Terlambat
Seluruh produk ekspor itu dikirim ke 80 negara, termasuk negara-negara ASE AN, Asia, Afrika, Jepang, dan Amerika. &amp;ldquo;Saat ini ekspor auto motif masuk dalam posisi kedelapan kategori komoditas ekspor non migas unggulan dengan nilai USD7,1 miliar. &amp;rdquo;

&amp;ldquo;Capaian 2018 tertinggi bila diban ding kan dengan tahun-tahun sebelumnya,&amp;rdquo; ujar Ketua Umum Gaikindo Johannes Nangoi saat pembukaan pameran automotif Gaikindo Indonesia International Auto Show(GIIAS) 2019 di ICE BSD, Tangerang, Banten, kemarin.
&amp;nbsp;Baca Juga: Impor Turun, Gaikindo Sebut Industri Automotif RI Sudah Mandiri
Dia menambahkan, Gaikindo juga menargetkan peningkatan ekspor kendaraan bisa mencapai 1 juta unit pada 2025. Menurutnya, saat ini industri automotif Indonesia telah berhasil mandiri memenuhi kebutuhan domestik. Ini ditunjukkan dengan angka impor mobil ke Indonesia yang terus menurun setiap tahunnya.

&amp;ldquo;Impor pada 2018 tercatat hanya 90.000 unit dan ini terus menurun dari catatan tahun sebelumnya,&amp;rdquo; ujar Nangoi.

Dia melanjutkan, dengan adanya tren peningkatan ekspor, Gaikindo optimistis tahun ini angka ekspor yang ditetapkan 300.000 unit bakal tercapai. Ajang GIIAS 2019, menurut Nangoi, menjadi bukti kemampuan Indonesia dalam mengekspor produk automotif.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2019/07/02/57901/295409_medium.jpg&quot; alt=&quot;GIIAS 2019 Angkat Tema Future in Motion&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;Pada acara pameran tahunan itu berbagai mobil produksi Indonesia yang  telah diekspor ke banyak negara di dunia ditampilkan. Sebut saja  Mitsubishi Xpander, Toyota Avanza, Toyota Kijang Innova, Suzuki, dan  sejumlah merek lainnya. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto  mengapresiasi target Gaikindo untuk mengekspor 1 juta unit mobil pada  2025.

Menurutnya, dalam rangka menggenjot ekspor, pemerintah telah  melakukan sejumlah upaya, termasuk kerja sama free trade area (FTA) atau  perdagangan bebas dengan Australia.

&amp;ldquo;Kalau saya lihat target ekspor 300.000 unit justru masih terasa  kurang karena hanya naik 10% dari capaian 2018. Kami targetkan, kalau  prinsipal para agen pemegang merek (APM) mendukung, angka 350.000 unit  itu gampang karena kapasitas sudah ada,&amp;rdquo; tegas Airlangga.

Mengenai FTA, Airlangga menyebutkan, ada kriteria kendaraan listrik  harus memiliki kandungan lokal 40% dan hal itu sangat mudah dicapai.  &amp;ldquo;Kita mengharapkan dalam pameran ini ada launching roadmap 1 juta unit  mobil di tahun 2025,&amp;rdquo; kata Airlangga.

Masih Ketinggalan

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, saat ini ekspor kendaraan   dari Indonesia masih ketinggalan bila dibandingkan dengan Thailand   kendati pemerintah sudah melakukan berbagai upaya kerjasama untuk   meningkatkannya. Menurut JK, pemerintah akan terus mendukung rencana   Gaikindo untuk meningkatkan ekspor.

Termasuk di antaranya dengan penambahan infrastruktur pendukung   ekspor seperti membuka pelabuhan baru Patimban di Subang, Jawa Barat.   Sekadar informasi, ekspor kendaraan Thailand pada 2018 mencapai angka   1,14 juta unit. Adapun produksinya mencapai 2,16 juta dengan penjualan   domestik sebanyak 1,03 juta unit.

JK melanjutkan, proyek pelabuhan Patimban ditargetkan rampung pada   2020. Pemerintah berharap beroperasinya Pelabuhan Patimban dapat meng   efisienkan biaya ekspor produk Indonesia keluar negeri, salah satunya   produk automotif.

Pelabuhan ini juga diharapkan mengurangi tingkat kepadatan lalu   lintas di Jakarta dengan pembagian arus lalu lintas kendaraan serta   menjamin keselamatan pelayaran, termasuk area eksplorasi migas. Saat ini   pembangunan Pelabuhan Patimban dilaksanakan dalam tiga tahap.

Tahap pertama, Pelabuhan Patimban direncanakan akan dapat melayani   3,5 juta peti kemas (TEUS) dan 600.000 kendaraan bermotor (CBU). Lalu tahap kedua , kapasitas pelayanan akan di tingkatkan menjadi 5,5 juta TEUS. Terakhir pada tahap ketiga , kapasitas akan dimaksimalkan hingga 7.5 juta TEUS.

&amp;ldquo;Pemerintah mendukung dengan infrastruktur yang berkembang, baik   sistemnya maupun logistik. Semua ini suatu sindikasi di mana kita harus   saling mendukung baik swasta maupun pemerintah. Karena itulah pameran   GIIAS ini akan jadi indikasi kemajuan-kemajuan yang dicapai industri   automotif,&amp;rdquo; jelasnya.Sementara itu Wakil Direktur Institute for Development of Economics  and Finance (Indef) Eko Listyanto menilai, target ekspor mobil CBU yang  diinginkan pemerintah sebanyak 350.000 unit cukup realistis. Meski  begitu dia menilai industri harus mendapat dukungan dari sisi  infrastruktur.

&amp;ldquo;Kalau dilihat dari kesiapan industri automotif captive market- nya  sudah besar, bahkan menjadi andalan di tengah perang dagang dan lesunya  penjualan kendaraan di dalam negeri bila dibandingkan tahuntahun  sebelumnya. Untuk itu perlu kesiapan infrastruktur penghubung supaya  ekspor dapat terus didorong,&amp;rdquo; ujar dia.

Menurut Eko, kesiapan infrastruktur pelabuhan menjadi prasyarat utama  meningkatkan ekspor mobil. Tanpa adanya dukungan infrastruktur,  targettarget penjualan ke luar negeri sulit tercapai. Sebab itu pihaknya  mendorong Kementerian Perhubungan segera menyelesaikan Pelabuhan  Patimban.

&amp;ldquo;Prasyarat infrastruktur jelas dibutuhkan oleh industri automotif,  sementara instrumen Kementerian Perindustrian hanya bisa menyiapkan dari  sisi industrinya. Sebab itu perlu dukungan dari kementerian lain,&amp;rdquo;  sebutnya.

Produsen Siap

Presdir PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang  Tjahjono menilai situasi ekspor tidak lepas dari kondisi ekonomi negara  lain. Dia mencontohkan, untuk pasar di kawasan di Timur Tengah, produsen  harus membuat produk yang kom petitif.

Dia menambahkan, di samping itu perlu dipikirkan juga peluang ekspor  mobil listrik (EV). Untuk itu, harus ada penguatan struktur industrinya  termasuk di sektor hulu. &amp;ldquo;Indonesia memiliki sumber daya alam yang  bagus. Kita harus jadi salah satu bagian dari rantai pasok global di  dunia,&quot; paparnya.

Produsen lainnya yakni Mitsubishi Motors, menyatakan akan  meningkatkan kapasitas produksi tahunan dari mobil Mitsubishi Xpander  yang dibuat di pabrik Mitsubishi Motors di Bekasi, Jawa Barat.

Chairman Mitsubishi Motors Corporation (MMC) Osamu Masuko  menyampaikan, Xpander telah diterima dengan baik bukan hanya di  Indonesia, melainkan juga di banyak negara sejak memulai ekspornya pada  April 2018.

Menurutnya, Xpander berhasil mendongkrak MMC ke posisi tiga dalam  volume ekspor dari Indonesia di tahun fiskal 2018 dengan total 42.000  unit. Saat ini Xpander telah diekspor ke 12 negara, dan rencananya akan  diperluas menjadi lebih dari 20 negara dalam waktu dekat.

&amp;ldquo;Dengan sukses yang luar biasa ini, kami akan meningkatkan kapasitas  produksi tahunan di pabrik MMKI (Mitsubishi Motors Krama Yudha  Indonesia), dari 160.000 unit menjadi 220.000 unit per tahun pada tahun  fiskal 2020,&amp;rdquo; kata Osamu.</content:encoded></item></channel></rss>
