<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Fakta di Balik Kemiskinan Indonesia, Nomor 4 Bak Angin Segar</title><description>Kemiskinan di Indonesia masuk babak baru di mana semakin menjauhi angka 10%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/22/320/2081231/fakta-di-balik-kemiskinan-indonesia-nomor-4-bak-angin-segar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/22/320/2081231/fakta-di-balik-kemiskinan-indonesia-nomor-4-bak-angin-segar"/><item><title>Fakta di Balik Kemiskinan Indonesia, Nomor 4 Bak Angin Segar</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/22/320/2081231/fakta-di-balik-kemiskinan-indonesia-nomor-4-bak-angin-segar</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/22/320/2081231/fakta-di-balik-kemiskinan-indonesia-nomor-4-bak-angin-segar</guid><pubDate>Senin 22 Juli 2019 06:12 WIB</pubDate><dc:creator>Fakhri Rezy</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/19/320/2081231/fakta-di-balik-kemiskinan-indonesia-nomor-4-bak-angin-segar-492B7hbiWL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kemiskinan (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/19/320/2081231/fakta-di-balik-kemiskinan-indonesia-nomor-4-bak-angin-segar-492B7hbiWL.jpg</image><title>Kemiskinan (Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kemiskinan di Indonesia masuk babak baru di mana semakin menjauhi angka 10%. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penduduk miskin Indonesia 9,41% di Maret 2019.

Posisi itu mengalami penurunan 0,25% atau 530 ribu orang dari posisi September 2018 yang sebesar 9,66% atau 25,67 juta orang.

Oleh sebab itu, Senin (22/7/2019), Okezone akan merangkum fakta-fakta mengenai kemiskinan yang terus turun.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ketimpangan si Kaya dan si Miskin Turun, Menko Darmin: Itu Prestasi
 
Fakta 1. Dalam 6 bulan, Warga miskin di Indonesia turun hingga 530.000 orang

Pada Maret 2019 angka kemiskinan turun kembali jadi 9,41% atau setara 24,14 juta orang. Turun 530 ribu orang dari data September 2018.
&amp;nbsp;
Dibandingkan dengan posisi Maret 2018 maka tingkat kemiskinan mengalami penurunan 0,41% dari 25,95 juta orang.

Tren penurunan angka kemiskinan ini merupakan dampak dari berbagai kebijakan pemerintah dalam memberikan bantuan sosial, baik dalam hal pangan, pendidikan, maupun kesehatan. Di antaranya melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS), Beras Sejahtera (Rastra), dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Pendapatan Rp1,9 Juta/Bulan, Masuk dalam Kategori Miskin
 
Fakta 2. Pendapatan Rp1,9 Juta/Bulan, Masuk dalam Kategori Miskin

BPS mencatat garis kemiskinan Indonesia kembali naik, seiring dengan turunnya angka kemiskinan. Pada Maret 2019, garis kemiskinan menjadi sebesar Rp425.250 per kapita per bulan.

Posisi itu mengalami peningkatan 3,55% dari garis kemiskinan September 2018 yang sebesar Rp410.670, juga naik sebesar 5,99% dibanding Maret 2018 yang sebesar Rp401.220.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, jika rata-rata satu rumah tangga di Indonesia memiliki 4 hingga 5 anggota keluarga, maka garis kemiskinan rata-rata secara nasional menjadi sebesar Rp1.990.170 per rumah tangga. Dengan demikian, jika terdapat rumah tangga yang memiliki pendapatan di bawah nominal tersebut, artinya masuk ke dalam kategori miskin.

&quot;Jadi orang akan dikategorikan miskin kalau pendapatannya di bawah Rp1,99 juta. Untuk mencari uang sebesar hampir Rp2 juta bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi garis kemiskinan di tiap daerah berbeda,&quot; ujarnya.
Fakta 3. Beras dan rokok jadi penyebab utama kemiskinan Indonesia
 
&amp;nbsp;
Kepala BPS Suhariyanto menyatakan, salah satu komoditas yang memberi  sumbangan besar terhadap garis kemiskinan yakni rokok kretek filter,  lantaran setiap bulan menyumbang inflasi. Harga rokok memiliki andil  terhadap kemiskinan sebesar 11,38% di pedesaan dan sebesar12,22% di  perkotaan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Penyebab Utama Kemiskinan Indonesia: Beras dan Rokok
&quot;Rokok kontribusinya pelan-pelan naik. Karena setiap bulan inflasinya  0,01%. Tapi kalau rokok naik tetap enggak ada yang komplain,&quot; kata  Kepala BPS.

Pria yang akrab dipanggil Kecuk itu menyatakan, beras sebagai bahan  pangan pokok, juga turut menjadi komoditas penyumbang pada kemiskinan.  Konstribusinya terhadap kemiskinan di perkotaan sebesar 20,59% dan  25,97% di perdesaan.

 
Fakta 4. Ketimpangan si Kaya dan si Miskin di Indonesia Turun

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan, tingkat ketimpangan atau  gini ratio yang diukur berdasarkan pengeluaran penduduk Indonesia,  kembali mengalami penurunan. Pada Maret 2019 gini ratio tercatat sebesar  0,382, lebih rendah dari posisi September 2018 yang sebesar 0,384.

Begitu pula bila dibandingkan dengan Maret 2018 yang sebesar 0,389,  turut mengalami penurunan. Dengan demikian, jarak antara penduduk kaya  dan miskin semakin mengecil.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, gini ratio di perkotaan pada  Maret 2019 tercatat sebesar 0,392, naik dibanding gini ratio September  2018 yang sebesar 0,391. Namun, jika dibandingkan dengan Maret 2018 yang  sebesar 0,401, maka gini ratio mengalami penurunan.

Sementara, gini ratio di perdesaan pada Maret 2019 tercatat sebesar  0,317. Angka itu tersebut mengalami penurunan dibanding gini ratio di  September 2018 yang sebesar 0,319 dan Maret 2018 yang sebesar 0,324.</description><content:encoded>JAKARTA - Kemiskinan di Indonesia masuk babak baru di mana semakin menjauhi angka 10%. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penduduk miskin Indonesia 9,41% di Maret 2019.

Posisi itu mengalami penurunan 0,25% atau 530 ribu orang dari posisi September 2018 yang sebesar 9,66% atau 25,67 juta orang.

Oleh sebab itu, Senin (22/7/2019), Okezone akan merangkum fakta-fakta mengenai kemiskinan yang terus turun.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ketimpangan si Kaya dan si Miskin Turun, Menko Darmin: Itu Prestasi
 
Fakta 1. Dalam 6 bulan, Warga miskin di Indonesia turun hingga 530.000 orang

Pada Maret 2019 angka kemiskinan turun kembali jadi 9,41% atau setara 24,14 juta orang. Turun 530 ribu orang dari data September 2018.
&amp;nbsp;
Dibandingkan dengan posisi Maret 2018 maka tingkat kemiskinan mengalami penurunan 0,41% dari 25,95 juta orang.

Tren penurunan angka kemiskinan ini merupakan dampak dari berbagai kebijakan pemerintah dalam memberikan bantuan sosial, baik dalam hal pangan, pendidikan, maupun kesehatan. Di antaranya melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS), Beras Sejahtera (Rastra), dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Pendapatan Rp1,9 Juta/Bulan, Masuk dalam Kategori Miskin
 
Fakta 2. Pendapatan Rp1,9 Juta/Bulan, Masuk dalam Kategori Miskin

BPS mencatat garis kemiskinan Indonesia kembali naik, seiring dengan turunnya angka kemiskinan. Pada Maret 2019, garis kemiskinan menjadi sebesar Rp425.250 per kapita per bulan.

Posisi itu mengalami peningkatan 3,55% dari garis kemiskinan September 2018 yang sebesar Rp410.670, juga naik sebesar 5,99% dibanding Maret 2018 yang sebesar Rp401.220.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, jika rata-rata satu rumah tangga di Indonesia memiliki 4 hingga 5 anggota keluarga, maka garis kemiskinan rata-rata secara nasional menjadi sebesar Rp1.990.170 per rumah tangga. Dengan demikian, jika terdapat rumah tangga yang memiliki pendapatan di bawah nominal tersebut, artinya masuk ke dalam kategori miskin.

&quot;Jadi orang akan dikategorikan miskin kalau pendapatannya di bawah Rp1,99 juta. Untuk mencari uang sebesar hampir Rp2 juta bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi garis kemiskinan di tiap daerah berbeda,&quot; ujarnya.
Fakta 3. Beras dan rokok jadi penyebab utama kemiskinan Indonesia
 
&amp;nbsp;
Kepala BPS Suhariyanto menyatakan, salah satu komoditas yang memberi  sumbangan besar terhadap garis kemiskinan yakni rokok kretek filter,  lantaran setiap bulan menyumbang inflasi. Harga rokok memiliki andil  terhadap kemiskinan sebesar 11,38% di pedesaan dan sebesar12,22% di  perkotaan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Penyebab Utama Kemiskinan Indonesia: Beras dan Rokok
&quot;Rokok kontribusinya pelan-pelan naik. Karena setiap bulan inflasinya  0,01%. Tapi kalau rokok naik tetap enggak ada yang komplain,&quot; kata  Kepala BPS.

Pria yang akrab dipanggil Kecuk itu menyatakan, beras sebagai bahan  pangan pokok, juga turut menjadi komoditas penyumbang pada kemiskinan.  Konstribusinya terhadap kemiskinan di perkotaan sebesar 20,59% dan  25,97% di perdesaan.

 
Fakta 4. Ketimpangan si Kaya dan si Miskin di Indonesia Turun

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan, tingkat ketimpangan atau  gini ratio yang diukur berdasarkan pengeluaran penduduk Indonesia,  kembali mengalami penurunan. Pada Maret 2019 gini ratio tercatat sebesar  0,382, lebih rendah dari posisi September 2018 yang sebesar 0,384.

Begitu pula bila dibandingkan dengan Maret 2018 yang sebesar 0,389,  turut mengalami penurunan. Dengan demikian, jarak antara penduduk kaya  dan miskin semakin mengecil.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, gini ratio di perkotaan pada  Maret 2019 tercatat sebesar 0,392, naik dibanding gini ratio September  2018 yang sebesar 0,391. Namun, jika dibandingkan dengan Maret 2018 yang  sebesar 0,401, maka gini ratio mengalami penurunan.

Sementara, gini ratio di perdesaan pada Maret 2019 tercatat sebesar  0,317. Angka itu tersebut mengalami penurunan dibanding gini ratio di  September 2018 yang sebesar 0,319 dan Maret 2018 yang sebesar 0,324.</content:encoded></item></channel></rss>
