<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Nadiem: Dulu Go-Jek Susah Cari Pinjaman, Kini Jadi Rebutan Investor Asing</title><description>Presiden Direktur Go-Jek Andre Soelisty menyebut bahwa Go-Jek saat ini telah didanai oleh berbagai investor asing yang berkapasitas besar.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/22/320/2082129/nadiem-dulu-go-jek-susah-cari-pinjaman-kini-jadi-rebutan-investor-asing</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/22/320/2082129/nadiem-dulu-go-jek-susah-cari-pinjaman-kini-jadi-rebutan-investor-asing"/><item><title>Nadiem: Dulu Go-Jek Susah Cari Pinjaman, Kini Jadi Rebutan Investor Asing</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/22/320/2082129/nadiem-dulu-go-jek-susah-cari-pinjaman-kini-jadi-rebutan-investor-asing</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/22/320/2082129/nadiem-dulu-go-jek-susah-cari-pinjaman-kini-jadi-rebutan-investor-asing</guid><pubDate>Senin 22 Juli 2019 17:17 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/22/320/2082129/nadiem-dulu-go-jek-susah-cari-pinjaman-kini-jadi-rebutan-investor-asing-DG8j4LYPKS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Kisah Go-Jek (Heru/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/22/320/2082129/nadiem-dulu-go-jek-susah-cari-pinjaman-kini-jadi-rebutan-investor-asing-DG8j4LYPKS.jpg</image><title>Foto: Kisah Go-Jek (Heru/Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Presiden Direktur Go-Jek Andre Soelisty menyebut bahwa Go-Jek saat ini telah didanai oleh berbagai investor asing yang berkapasitas besar. Di mana platform teknologi on demand ini telah menambah daftar investornya dengan Visa dan Mitsubishi. Tapi dirinya enggan memberitahukan nominal dan di bidang apa kedua investor tersebut mengucurkan dananya.

&quot;Investor baru Go-Jek itu seperti Mitsubishi dan Visa. Dengan kerja sama ini ada yang dukung kita jadinya payment menjadi tonggak financial inclusion,&quot; ujar dia saat konferensi pers di kantor Go-Jek, Jakarta, Senin (22/7/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Kini Go-Jek Menjelma Jadi Decacorn
Untuk diketahui, Go-Jek sudah menyandang status decacorn dengan valuasi USD10 miliar atau Rp140 triliun.

Dia menuturkan, banyaknya investasi masuk ke Go-Jek merupakan bentuk apresiasi dan kepercayaan dari para pemain global. Terutama bagi investor asing yang tahu betul bahwa start up di negara emerging market perlu mitra yang kuat agar tetap bisa berkembang.

&quot;Kita ambil contoh Google, perusahaan teknologi yang dipakai semua orang. Kita tahu Google salah satu perusahaan terbesar dunia. Maka itu mereka percayakan Go-Jek untuk berdayakan negara emerging, untuk bantu secara real,&quot; tutur dia.
&amp;nbsp;Baca Juga: Go-Jek Ganti Logo, Nadiem Makarim: Kami Hadir untuk Pecahkan Masalah Teknologi
Dia menjelaskan mayoritas investor asing ini melakukan pendanaan seri F yang membuat pendiri perusahaan dapat menjadi pengelola utama perusahaan. Artinya, investor mempercayai pendiri untuk mengendalikan bisnisnya. &quot;Astra juga percayakan adanya perubahan dari kami. Kami senang dalam pendanaan seri F yang kami jalankan kebanyakan dari existing shareholder,&quot; ungkap dia.


Dia menambahkan pendanaan Seri F yang telah dilakukan Go-Jek dipimpin  oleh Google, JD.com, dan Tencent, serta beberapa investor lainnya  termasuk Mitsubishi Corporation dan Provident Capital.

&quot;Setelah itu, para pendiri Go-Jek tetap memiliki kontrol terhadap  pengambilan keputusan dan penentuan arah kebijakan perusahaan,&quot; kata  dia.

Dia juga menceritakan pada tiga tahun awal Go-Jek berdiri di mana  tidak ada satupun yang bersedia mendanai Go-Jek. Hal tersebut membuat  Founder sekaligus CEO Go-Jek, Nadiem Makarim mencari sumber pendanaan  secara pribadi.

&quot;3-4 tahun tidak ada yang danai jadi bersusah-susah pinjam uang dari  teman, keluarga. Bahkan saya kerja di tempat lain untuk cari mencari  nafkah dan danai Go-Jek,&quot; ujar Nadiem.

Dia mengaku tidak pernah menyangka start up besutannya ini akan  menjadi sebesar sekarang di mana banyak investor bersedia mengucurkan  dananya. Semua bermula sejak tahun 2015 Go-Jek mulai menerapkan  teknologi di aplikasinya.

&quot;Jadi, apabila ditanya apa Gojek akan jadi sebesar sekarang jawaban  saya pasti tidak ada dugaan sama sekali. Go-Jek bergerak sendiri  berevolusi di bidang teknologi dan kemanusiaan,&quot; pungkas dia.
</description><content:encoded>JAKARTA - Presiden Direktur Go-Jek Andre Soelisty menyebut bahwa Go-Jek saat ini telah didanai oleh berbagai investor asing yang berkapasitas besar. Di mana platform teknologi on demand ini telah menambah daftar investornya dengan Visa dan Mitsubishi. Tapi dirinya enggan memberitahukan nominal dan di bidang apa kedua investor tersebut mengucurkan dananya.

&quot;Investor baru Go-Jek itu seperti Mitsubishi dan Visa. Dengan kerja sama ini ada yang dukung kita jadinya payment menjadi tonggak financial inclusion,&quot; ujar dia saat konferensi pers di kantor Go-Jek, Jakarta, Senin (22/7/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Kini Go-Jek Menjelma Jadi Decacorn
Untuk diketahui, Go-Jek sudah menyandang status decacorn dengan valuasi USD10 miliar atau Rp140 triliun.

Dia menuturkan, banyaknya investasi masuk ke Go-Jek merupakan bentuk apresiasi dan kepercayaan dari para pemain global. Terutama bagi investor asing yang tahu betul bahwa start up di negara emerging market perlu mitra yang kuat agar tetap bisa berkembang.

&quot;Kita ambil contoh Google, perusahaan teknologi yang dipakai semua orang. Kita tahu Google salah satu perusahaan terbesar dunia. Maka itu mereka percayakan Go-Jek untuk berdayakan negara emerging, untuk bantu secara real,&quot; tutur dia.
&amp;nbsp;Baca Juga: Go-Jek Ganti Logo, Nadiem Makarim: Kami Hadir untuk Pecahkan Masalah Teknologi
Dia menjelaskan mayoritas investor asing ini melakukan pendanaan seri F yang membuat pendiri perusahaan dapat menjadi pengelola utama perusahaan. Artinya, investor mempercayai pendiri untuk mengendalikan bisnisnya. &quot;Astra juga percayakan adanya perubahan dari kami. Kami senang dalam pendanaan seri F yang kami jalankan kebanyakan dari existing shareholder,&quot; ungkap dia.


Dia menambahkan pendanaan Seri F yang telah dilakukan Go-Jek dipimpin  oleh Google, JD.com, dan Tencent, serta beberapa investor lainnya  termasuk Mitsubishi Corporation dan Provident Capital.

&quot;Setelah itu, para pendiri Go-Jek tetap memiliki kontrol terhadap  pengambilan keputusan dan penentuan arah kebijakan perusahaan,&quot; kata  dia.

Dia juga menceritakan pada tiga tahun awal Go-Jek berdiri di mana  tidak ada satupun yang bersedia mendanai Go-Jek. Hal tersebut membuat  Founder sekaligus CEO Go-Jek, Nadiem Makarim mencari sumber pendanaan  secara pribadi.

&quot;3-4 tahun tidak ada yang danai jadi bersusah-susah pinjam uang dari  teman, keluarga. Bahkan saya kerja di tempat lain untuk cari mencari  nafkah dan danai Go-Jek,&quot; ujar Nadiem.

Dia mengaku tidak pernah menyangka start up besutannya ini akan  menjadi sebesar sekarang di mana banyak investor bersedia mengucurkan  dananya. Semua bermula sejak tahun 2015 Go-Jek mulai menerapkan  teknologi di aplikasinya.

&quot;Jadi, apabila ditanya apa Gojek akan jadi sebesar sekarang jawaban  saya pasti tidak ada dugaan sama sekali. Go-Jek bergerak sendiri  berevolusi di bidang teknologi dan kemanusiaan,&quot; pungkas dia.
</content:encoded></item></channel></rss>
