<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menteri Jonan: Tidak Semua Eksplorasi Migas Bisa Diprediksi   </title><description>Banyu Urip Cepu 30 sampai 40 tahun lalu Pertamina mencari cadangan migas, tapi tidak ketemu. Cadangan etemu saat Exxonmobile diberi izin</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/22/320/2082199/menteri-jonan-tidak-semua-eksplorasi-migas-bisa-diprediksi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/22/320/2082199/menteri-jonan-tidak-semua-eksplorasi-migas-bisa-diprediksi"/><item><title>Menteri Jonan: Tidak Semua Eksplorasi Migas Bisa Diprediksi   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/22/320/2082199/menteri-jonan-tidak-semua-eksplorasi-migas-bisa-diprediksi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/22/320/2082199/menteri-jonan-tidak-semua-eksplorasi-migas-bisa-diprediksi</guid><pubDate>Senin 22 Juli 2019 19:40 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/22/320/2082199/menteri-jonan-tidak-semua-eksplorasi-migas-bisa-diprediksi-0iRLkBcxdE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri ESDM Ignasius Jonan. Foto: Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/22/320/2082199/menteri-jonan-tidak-semua-eksplorasi-migas-bisa-diprediksi-0iRLkBcxdE.jpg</image><title>Menteri ESDM Ignasius Jonan. Foto: Okezone</title></images><description> 
JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan sektor industri minyak dan gas yang berada di hulu ketidakpastiannya sangat tinggi.
Baca Juga: Lewat Sistem Online, Kementerian ESDM Ingin Pangkas Izin Menjadi 3 Hari
&quot;Tidak semua bisa diprediksi dengan pas. Kegagalan eksplorasi maupun kegagalan eksploitasi itu pasti ada,&quot; ujar Jonan sebagai pembicara dalam Seminar Nasional Memetakan Makna Risiko Bisnis dan Risiko Kerugian Keuangan Negara di Sektor Minyak dan Gas Bumi, dikutip dari Antaranews, di Jakarta, Senin (22/7/2019).
Menurut Jonan, pembuktian keberhasilan pertambangan di sektor industri migas hanya bisa dilihat dari aspek untung dan rugi.
Baca Juga: Sri Mulyani: Rezim Otoriter Bisa Mengontrol, Investasi Mudah Datang
Dia mencontohkan Lapangan Banyu Urip di Cepu. Jonan mengatakan sekitar 30 sampai 40 tahun lalu Pertamina dan Humpuss mencari cadangan migas, tapi tidak ketemu. Cadangan tersebut baru ketemu saat Exxonmobile diberi izin berproduksi dan mengelola blok tersebut.&amp;nbsp;
Blok Cepu itu kini menjadi blok paling produktif dengan memproduksi  minyak dan 216.000 sampai 225.000 barel minyak per hari, lebih tinggi  dari Blok Rokan.
&quot;Jadi sebenarnya barangnya di bawah (perut bumi) ada, cuma kita saja  enggak nemu. Kalau mau refreshing ke Cepu, lihat sejarah di sana.  Dulunya enggak ketemu. Mungkin dulu sekolahnya Pertamina dan Exxon  beda,&quot; kata dia.
Berkaca pada sejarah eksplorasi Blok Cepu, Jonan melihat teknologi sangat mempengaruhi potensi pertambangan migas di Indonesia.
Dia pun mendorong pentingnya penggunaan teknologi mutakhir, mengingat  hal itu yang menjadi salah satu kelemahan dari proses eksplorasi di  Tanah Air.Sementara itu, pernyataan yang seringkali beredar di media massa soal   cadangan sumber daya alam semakin lama semakin berkurang dinilai Jonan   agak kurang tepat.
&quot;Secara bahasa itu betul karena memang ada yang diambil. Tapi kalau   dibilang total berkurang cadangannya itu banyak atau tidak, enggak ada   yang tahu,&quot; kata Jonan.
Jonan mencontohkan Blok Masela yang memiliki cadangan gas hingga 18,5   Trillion Cubic Feet (TCF) di Lapangan Abadi, Maluku. Jonan mengatakan   produksi per tahunnya diperkirakan 9,5 juta ton gas setara minyak.
Meski baru disetujui proposalnya setelah digantung 20 tahun, bukan   tidak mungkin sumber gas di perut Maluku sudah ada miliaran tahun   lamanya.</description><content:encoded> 
JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan sektor industri minyak dan gas yang berada di hulu ketidakpastiannya sangat tinggi.
Baca Juga: Lewat Sistem Online, Kementerian ESDM Ingin Pangkas Izin Menjadi 3 Hari
&quot;Tidak semua bisa diprediksi dengan pas. Kegagalan eksplorasi maupun kegagalan eksploitasi itu pasti ada,&quot; ujar Jonan sebagai pembicara dalam Seminar Nasional Memetakan Makna Risiko Bisnis dan Risiko Kerugian Keuangan Negara di Sektor Minyak dan Gas Bumi, dikutip dari Antaranews, di Jakarta, Senin (22/7/2019).
Menurut Jonan, pembuktian keberhasilan pertambangan di sektor industri migas hanya bisa dilihat dari aspek untung dan rugi.
Baca Juga: Sri Mulyani: Rezim Otoriter Bisa Mengontrol, Investasi Mudah Datang
Dia mencontohkan Lapangan Banyu Urip di Cepu. Jonan mengatakan sekitar 30 sampai 40 tahun lalu Pertamina dan Humpuss mencari cadangan migas, tapi tidak ketemu. Cadangan tersebut baru ketemu saat Exxonmobile diberi izin berproduksi dan mengelola blok tersebut.&amp;nbsp;
Blok Cepu itu kini menjadi blok paling produktif dengan memproduksi  minyak dan 216.000 sampai 225.000 barel minyak per hari, lebih tinggi  dari Blok Rokan.
&quot;Jadi sebenarnya barangnya di bawah (perut bumi) ada, cuma kita saja  enggak nemu. Kalau mau refreshing ke Cepu, lihat sejarah di sana.  Dulunya enggak ketemu. Mungkin dulu sekolahnya Pertamina dan Exxon  beda,&quot; kata dia.
Berkaca pada sejarah eksplorasi Blok Cepu, Jonan melihat teknologi sangat mempengaruhi potensi pertambangan migas di Indonesia.
Dia pun mendorong pentingnya penggunaan teknologi mutakhir, mengingat  hal itu yang menjadi salah satu kelemahan dari proses eksplorasi di  Tanah Air.Sementara itu, pernyataan yang seringkali beredar di media massa soal   cadangan sumber daya alam semakin lama semakin berkurang dinilai Jonan   agak kurang tepat.
&quot;Secara bahasa itu betul karena memang ada yang diambil. Tapi kalau   dibilang total berkurang cadangannya itu banyak atau tidak, enggak ada   yang tahu,&quot; kata Jonan.
Jonan mencontohkan Blok Masela yang memiliki cadangan gas hingga 18,5   Trillion Cubic Feet (TCF) di Lapangan Abadi, Maluku. Jonan mengatakan   produksi per tahunnya diperkirakan 9,5 juta ton gas setara minyak.
Meski baru disetujui proposalnya setelah digantung 20 tahun, bukan   tidak mungkin sumber gas di perut Maluku sudah ada miliaran tahun   lamanya.</content:encoded></item></channel></rss>
