<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Wejangan Sri Mulyani: Uripmu Ojo Ning Mikirke Kanggo Awakmu Dewe</title><description>Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah mendapat wejangan atau nasihat dari sang Ibunda.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/23/20/2082667/wejangan-sri-mulyani-uripmu-ojo-ning-mikirke-kanggo-awakmu-dewe</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/23/20/2082667/wejangan-sri-mulyani-uripmu-ojo-ning-mikirke-kanggo-awakmu-dewe"/><item><title>Wejangan Sri Mulyani: Uripmu Ojo Ning Mikirke Kanggo Awakmu Dewe</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/23/20/2082667/wejangan-sri-mulyani-uripmu-ojo-ning-mikirke-kanggo-awakmu-dewe</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/23/20/2082667/wejangan-sri-mulyani-uripmu-ojo-ning-mikirke-kanggo-awakmu-dewe</guid><pubDate>Selasa 23 Juli 2019 18:53 WIB</pubDate><dc:creator>Rani Hardjanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/23/20/2082667/wejangan-sri-mulyani-uripmu-ojo-ning-mikirke-kanggo-awakmu-dewe-wV3RfxJxo7.png" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Sri Mulyani dengan Ibunya (Instagram)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/23/20/2082667/wejangan-sri-mulyani-uripmu-ojo-ning-mikirke-kanggo-awakmu-dewe-wV3RfxJxo7.png</image><title>Foto: Sri Mulyani dengan Ibunya (Instagram)</title></images><description> 
JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah mendapat wejangan atau nasihat dari sang Ibunda. Wejangan tersebut hingga saat ini masih dia pegang teguh.

Hal itu diungkapkan Sri Mulyani saat memberikan Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke 38 Universitas Negeri PGRI Semarang. Dalam akun Facebook pribadinya, seperti dikutip Rabu (23/10/2019) Menkeu mengisahkannya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Sri Mulyani Pimpin Pertemuan Para Menteri OFID di Austria
 
Saat saya masih kecil, ketika pergi ke dokter gigi bersama kakak dan adik, ibu saya mewajibkan kami membawa buku untuk dibaca saat menunggu giliran periksa gigi. Kebiasaan membaca ini terus berlanjut sampai sekarang. Kemanapun saya pergi selalu ditemani oleh buku.
 
&amp;nbsp;
 
Saat ini dengan semakin mudahnya akses terhadap berita, film, musik, Anda punya banyak alasan untuk tidak baca buku. Itu adalah realita hari ini, kalau kita tidak menanamkan minat membaca dari usia dini, sangat sulit bagi Anda untuk terbiasa memiliki kemampuan membaca nantinya.
 
&amp;nbsp;Baca Juga: Dikritik Terlalu Bergantung pada Negara Lain, Ini Pembelaan Sri Mulyani
 
Saya berharap di Universitas PGRI ada suatu kultur membaca yang dibudayakan secara terstruktur, sistematis dan masif. Budaya membaca harus didapatkan, baik di rumah maupun di kampus.
 
&amp;nbsp; 
Saya juga berharap universitas akan menjadi tempat dimana  anda tidak hanya menuntut ilmu tapi Anda mulai belajar untuk memberi.  Ini adalah salah satu filosofi yang disampaikan orangtua saya dulu. Oleh  orang tua kami diberikan nasihat, &quot;Ndhuk, uripmu ojo ning mikirke  kanggo awakmu dewe&quot; yang artinya kalau kamu hidup janganlah hidup hanya  memikirkan diri sendiri. Biasakan untuk memikirkan orang lain dan  kepentingan orang lain.
 
&amp;nbsp;
 
Sehingga kemudian saya terbiasa hidup tidak selalu  memikirkan diri sendiri. Waktu saya jadi dosen, apa yang saya bisa  berikan untuk mahasiswa saya? Waktu saya menjadi menteri, &quot;Apa yang bisa  saya berikan lebih?&quot;. Waktu saya di Bank Dunia, &quot;Apa yang bisa saya  berikan lebih?&quot;. Jangan terus menerus memikirkan diri sendiri, tapi  cobalah untuk memikirkan orang lain.
 
&amp;nbsp;
 
Dan itulah sebetulnya nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.  Inilah yang membuat Indonesia bisa merebut kemerdekaannya, sementara  negara tetangga kita, dia tunggu diberi oleh penjajahnya. Indonesia  merebut, karena kita memikirkan orang lain. Para pendiri bangsa kita  memikirkan rakyat Indonesia yang menderita.
 
&amp;nbsp;
 
Pendiri bangsa ini mampu dan mau mengorbankan dirinya  untuk memperjuangkan kemerdekaan untuk memperbaiki kondisi masyarakat  yang dijajah.
 
&amp;nbsp;
 
Semarang , 23 Juli 2019
 
Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke 38 Universitas Negeri PGRI Semarang
 
&amp;nbsp;</description><content:encoded> 
JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah mendapat wejangan atau nasihat dari sang Ibunda. Wejangan tersebut hingga saat ini masih dia pegang teguh.

Hal itu diungkapkan Sri Mulyani saat memberikan Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke 38 Universitas Negeri PGRI Semarang. Dalam akun Facebook pribadinya, seperti dikutip Rabu (23/10/2019) Menkeu mengisahkannya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Sri Mulyani Pimpin Pertemuan Para Menteri OFID di Austria
 
Saat saya masih kecil, ketika pergi ke dokter gigi bersama kakak dan adik, ibu saya mewajibkan kami membawa buku untuk dibaca saat menunggu giliran periksa gigi. Kebiasaan membaca ini terus berlanjut sampai sekarang. Kemanapun saya pergi selalu ditemani oleh buku.
 
&amp;nbsp;
 
Saat ini dengan semakin mudahnya akses terhadap berita, film, musik, Anda punya banyak alasan untuk tidak baca buku. Itu adalah realita hari ini, kalau kita tidak menanamkan minat membaca dari usia dini, sangat sulit bagi Anda untuk terbiasa memiliki kemampuan membaca nantinya.
 
&amp;nbsp;Baca Juga: Dikritik Terlalu Bergantung pada Negara Lain, Ini Pembelaan Sri Mulyani
 
Saya berharap di Universitas PGRI ada suatu kultur membaca yang dibudayakan secara terstruktur, sistematis dan masif. Budaya membaca harus didapatkan, baik di rumah maupun di kampus.
 
&amp;nbsp; 
Saya juga berharap universitas akan menjadi tempat dimana  anda tidak hanya menuntut ilmu tapi Anda mulai belajar untuk memberi.  Ini adalah salah satu filosofi yang disampaikan orangtua saya dulu. Oleh  orang tua kami diberikan nasihat, &quot;Ndhuk, uripmu ojo ning mikirke  kanggo awakmu dewe&quot; yang artinya kalau kamu hidup janganlah hidup hanya  memikirkan diri sendiri. Biasakan untuk memikirkan orang lain dan  kepentingan orang lain.
 
&amp;nbsp;
 
Sehingga kemudian saya terbiasa hidup tidak selalu  memikirkan diri sendiri. Waktu saya jadi dosen, apa yang saya bisa  berikan untuk mahasiswa saya? Waktu saya menjadi menteri, &quot;Apa yang bisa  saya berikan lebih?&quot;. Waktu saya di Bank Dunia, &quot;Apa yang bisa saya  berikan lebih?&quot;. Jangan terus menerus memikirkan diri sendiri, tapi  cobalah untuk memikirkan orang lain.
 
&amp;nbsp;
 
Dan itulah sebetulnya nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.  Inilah yang membuat Indonesia bisa merebut kemerdekaannya, sementara  negara tetangga kita, dia tunggu diberi oleh penjajahnya. Indonesia  merebut, karena kita memikirkan orang lain. Para pendiri bangsa kita  memikirkan rakyat Indonesia yang menderita.
 
&amp;nbsp;
 
Pendiri bangsa ini mampu dan mau mengorbankan dirinya  untuk memperjuangkan kemerdekaan untuk memperbaiki kondisi masyarakat  yang dijajah.
 
&amp;nbsp;
 
Semarang , 23 Juli 2019
 
Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke 38 Universitas Negeri PGRI Semarang
 
&amp;nbsp;</content:encoded></item></channel></rss>
