<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Startup Jadi Magnet Tarik Investasi Asing</title><description>Peran industri rintisan karya anak bangsa seperti Gojek sangat besar dalam memimpin transformasi revolusi industri 4.0.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/23/320/2082436/startup-jadi-magnet-tarik-investasi-asing</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/23/320/2082436/startup-jadi-magnet-tarik-investasi-asing"/><item><title>   Startup Jadi Magnet Tarik Investasi Asing</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/23/320/2082436/startup-jadi-magnet-tarik-investasi-asing</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/23/320/2082436/startup-jadi-magnet-tarik-investasi-asing</guid><pubDate>Selasa 23 Juli 2019 11:53 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/23/320/2082436/startup-jadi-magnet-tarik-investasi-asing-rDGKPFqWOX.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/23/320/2082436/startup-jadi-magnet-tarik-investasi-asing-rDGKPFqWOX.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Shutterstock</title></images><description> 
JAKARTA - Peran industri rintisan karya anak bangsa seperti Gojek sangat besar dalam memimpin transformasi revolusi industri 4.0. Lewat  perusahaan rintisan yang digagas anak bangsa tersebut, nilai lebih ekonomi maupun aliran investasi semakin besar buat masyarakat Indonesia.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro mengungkapkan menjamurnya startup di Indonesia dinilai membawa dampak positif bagi perekonomian. Apalagi, apabila rintisan itu berkembang pesat dan menjadi unicorn ataupun decacorn, seperti Gojek.
&amp;nbsp;Baca Juga: Buka Lapangan Kerja, Generasi Milenial Antusias Dirikan Startup
Dia mengatakan keberadaan perusahaan sekelas Gojek yang lahir dari Indonesia, semakin penting dalam perekonomian. Bahkan, kehadiran mereka selama ini mampu menarik aliran modal asing ke RI.

&quot;Market value yang besar pasti akan mengundang modal masuk dan kita harapkan juga kalau makin besar, dia menjadi pelaku yang semakin global,&quot; ujar Bambang di Jakarta, Selasa (23/7/2019).

Bambang menampik jika investasi asing yang masuk ke unicorn akan merugikan Indonesia. Pasalnya, investasi yang masuk dikategorikan sebagai foreign direct investment (FDI). Dia menyebut, dividen yang nantinya dihasilkan juga tidak akan lebih besar dari FDI yang masuk.

&quot;Tapi kan, jauh lebih besar inflow-nya daripada dividen outflow-nya. Dan kita juga melihat kalau unicorn ini berkembang, sebagian dividen dipakai untuk investment lagi,&quot; ucap dia.
&amp;nbsp;Baca Juga: Soal Investasi Asing ke StartUp, Kepala BKPM: Sejauh Ini Dampaknya Positif
Dia berharap unicorn dapat berperan lebih besar lagi dalam mendorong Indonesia menuju era transformasi digital dan Revolusi Industri 4.0. Pasalnya, unicorn memiliki ciri khas yang lekat dengan penggunaan teknologi.

&quot;Kita fokus antisipasi dari ekonomi digital dari Revolusi Industri 4.0, di mana, unicorn kita harapkan menjadi salah satu pelaku yang membawa transformasi itu sendiri,&quot; ujar Bambang.
Lebih jauh, pada kesempatan berbeda, Kepala Badan Ekonomi Kreatif  (Bekraf) Triawan Munaf mengapresiasi kiprah Gojek, yang juga menandai  perkembangan baru bagi industri kreatif. Menurutnya, Gojek merupakan  salah satu usaha rintisan yang memberikan nilai social solutions.

&amp;ldquo;Untuk mendukung kehadiran usaha rintisan tersebut, pemerintah selalu  berupaya agar tak menghalangi unit bisnis kreatif milik anak bangsa  yang dalam perkembangan untuk tidak membebaninya aturan yang tidak  relevan,&amp;rdquo; ucap Triawan.

Untuk menyingkirkan halangan yang memberatkan usaha rintisan karya  anak bangsa seperti Gojek itu, Triawan mengaku pemerintah kerapkali  diharuskan mengkoordinasikan kebijakan antar lembaga. &amp;ldquo;Terkadang bahkan  memerklukan pertimbangan dan keputusan dari presiden apabila ditemukan  kendala birokrasi maupun aturan yang lebih banyak merugikan atau yang  relevansinya sudah kadaluarsa,&amp;rdquo; tegas Triawan.

CEO Alvara Research Hasanuddin Ali membenarkan bahwa aplikasi digital  karya anak bangsa seperti Gojek dan Traveloka, ternyata mampu jadi  acuan memenangkan persaingan dengan aplikasi sejenis milik asing.  Bahkan, di kalangan generasi milenial, Gojek mampu mengungguli Grab yang  merupakan aplikasi asing dengan sokongan modal jumbo Softbank.

&amp;ldquo;Generasi milenial lebih memilih Gojek, dan lebih merekomendasikan aplikasi tersebut dibandingkan Grab,&amp;rdquo; ujar Hasanuddin.

Dia mengatakan walau Grab lebih dikenal dengan promo jor joran,  generasi milenial masih lebih banyak memilih Gojek karena kualitas  layanan. Selain itu, tambah Hasanuddin, terdapat benefit emosional yang  jadi keputusan generasi tersebut menggunakan produk.

&amp;ldquo;Seperti misal, sentimen terkait produk anak bangsa. Itu berbau  emosional, tapi yang jelas sejauh ini Gojek unggul karena layanan,&amp;rdquo;  ungkapnya.
</description><content:encoded> 
JAKARTA - Peran industri rintisan karya anak bangsa seperti Gojek sangat besar dalam memimpin transformasi revolusi industri 4.0. Lewat  perusahaan rintisan yang digagas anak bangsa tersebut, nilai lebih ekonomi maupun aliran investasi semakin besar buat masyarakat Indonesia.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro mengungkapkan menjamurnya startup di Indonesia dinilai membawa dampak positif bagi perekonomian. Apalagi, apabila rintisan itu berkembang pesat dan menjadi unicorn ataupun decacorn, seperti Gojek.
&amp;nbsp;Baca Juga: Buka Lapangan Kerja, Generasi Milenial Antusias Dirikan Startup
Dia mengatakan keberadaan perusahaan sekelas Gojek yang lahir dari Indonesia, semakin penting dalam perekonomian. Bahkan, kehadiran mereka selama ini mampu menarik aliran modal asing ke RI.

&quot;Market value yang besar pasti akan mengundang modal masuk dan kita harapkan juga kalau makin besar, dia menjadi pelaku yang semakin global,&quot; ujar Bambang di Jakarta, Selasa (23/7/2019).

Bambang menampik jika investasi asing yang masuk ke unicorn akan merugikan Indonesia. Pasalnya, investasi yang masuk dikategorikan sebagai foreign direct investment (FDI). Dia menyebut, dividen yang nantinya dihasilkan juga tidak akan lebih besar dari FDI yang masuk.

&quot;Tapi kan, jauh lebih besar inflow-nya daripada dividen outflow-nya. Dan kita juga melihat kalau unicorn ini berkembang, sebagian dividen dipakai untuk investment lagi,&quot; ucap dia.
&amp;nbsp;Baca Juga: Soal Investasi Asing ke StartUp, Kepala BKPM: Sejauh Ini Dampaknya Positif
Dia berharap unicorn dapat berperan lebih besar lagi dalam mendorong Indonesia menuju era transformasi digital dan Revolusi Industri 4.0. Pasalnya, unicorn memiliki ciri khas yang lekat dengan penggunaan teknologi.

&quot;Kita fokus antisipasi dari ekonomi digital dari Revolusi Industri 4.0, di mana, unicorn kita harapkan menjadi salah satu pelaku yang membawa transformasi itu sendiri,&quot; ujar Bambang.
Lebih jauh, pada kesempatan berbeda, Kepala Badan Ekonomi Kreatif  (Bekraf) Triawan Munaf mengapresiasi kiprah Gojek, yang juga menandai  perkembangan baru bagi industri kreatif. Menurutnya, Gojek merupakan  salah satu usaha rintisan yang memberikan nilai social solutions.

&amp;ldquo;Untuk mendukung kehadiran usaha rintisan tersebut, pemerintah selalu  berupaya agar tak menghalangi unit bisnis kreatif milik anak bangsa  yang dalam perkembangan untuk tidak membebaninya aturan yang tidak  relevan,&amp;rdquo; ucap Triawan.

Untuk menyingkirkan halangan yang memberatkan usaha rintisan karya  anak bangsa seperti Gojek itu, Triawan mengaku pemerintah kerapkali  diharuskan mengkoordinasikan kebijakan antar lembaga. &amp;ldquo;Terkadang bahkan  memerklukan pertimbangan dan keputusan dari presiden apabila ditemukan  kendala birokrasi maupun aturan yang lebih banyak merugikan atau yang  relevansinya sudah kadaluarsa,&amp;rdquo; tegas Triawan.

CEO Alvara Research Hasanuddin Ali membenarkan bahwa aplikasi digital  karya anak bangsa seperti Gojek dan Traveloka, ternyata mampu jadi  acuan memenangkan persaingan dengan aplikasi sejenis milik asing.  Bahkan, di kalangan generasi milenial, Gojek mampu mengungguli Grab yang  merupakan aplikasi asing dengan sokongan modal jumbo Softbank.

&amp;ldquo;Generasi milenial lebih memilih Gojek, dan lebih merekomendasikan aplikasi tersebut dibandingkan Grab,&amp;rdquo; ujar Hasanuddin.

Dia mengatakan walau Grab lebih dikenal dengan promo jor joran,  generasi milenial masih lebih banyak memilih Gojek karena kualitas  layanan. Selain itu, tambah Hasanuddin, terdapat benefit emosional yang  jadi keputusan generasi tersebut menggunakan produk.

&amp;ldquo;Seperti misal, sentimen terkait produk anak bangsa. Itu berbau  emosional, tapi yang jelas sejauh ini Gojek unggul karena layanan,&amp;rdquo;  ungkapnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
