<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Proyek Ini Bikin Krakatau Steel Rugi hingga Rp10 Triliun</title><description>Proyek blast gurnace PT Krakatau Steel (Persero) Tbk yang dimulai sejak 2011 disebut sebagai proyek yang serba salah.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/23/320/2082481/proyek-ini-bikin-krakatau-steel-rugi-hingga-rp10-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/23/320/2082481/proyek-ini-bikin-krakatau-steel-rugi-hingga-rp10-triliun"/><item><title>   Proyek Ini Bikin Krakatau Steel Rugi hingga Rp10 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/23/320/2082481/proyek-ini-bikin-krakatau-steel-rugi-hingga-rp10-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/23/320/2082481/proyek-ini-bikin-krakatau-steel-rugi-hingga-rp10-triliun</guid><pubDate>Selasa 23 Juli 2019 13:24 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/23/320/2082481/proyek-ini-bikin-krakatau-steel-rugi-hingga-rp10-triliun-kHdyi8LZMe.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/23/320/2082481/proyek-ini-bikin-krakatau-steel-rugi-hingga-rp10-triliun-kHdyi8LZMe.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Shutterstock</title></images><description>JAKARTA - Proyek blast furnace PT Krakatau Steel (Persero) Tbk yang dimulai sejak 2011 disebut sebagai proyek yang serba salah. Sebab bagaimanapun, proyek ini akan merugikan perusahaan.
Komisaris Independen Krakatau Steel Maningkas mengatakan, jika dilanjutkan proyek ini akan mengalami kerugian sekitar Rp1,3 triliun setiap tahunnya. Sedangkan jika dihentikan, maka perseroan akan kehilangan uang sekitar Rp10 triliun.
&amp;nbsp;Baca Juga: Komisaris Independen Krakatau Steel Ajukan Pengunduran Diri, Kenapa?
Pasalnya, sejak dimulai pada 2011, perseroan sudah mengeluarkan uang sekitar USD714 juta atau setara Rp10 triliun. Angka ini mengalami pembengkakan Rp3 triliun dari rencana semula yang hanya Rp7 triliun.
&amp;ldquo;Proyek ini maju kena mundur kena diterusin Rp1,3 triliun ruginya tiap tahun, enggak diterusin Rp10 triliun hilang,&amp;rdquo; ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (23/7/2019).
Menurut Roy, permasalahan tersebut sebenarnya sudah disampaikan oleh Dewan Komisaris kepada Kementerian BUMN berulang-ulang. Adapun beberapa poin yang diingatkan adalah adanya keterlambatan penyelesaian project blast furnace yang sudah mencapai 72 bulan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Bisnis Krakatau Steel Tak Sekuat Baja, Restrukturisasi Jadi Pilihan
Namun usulan ini seperti diabaikan. Mereka menyebut akan sangat sayang jika tidak dilanjutkan sebab, perseroan sudah membeli bahan baku yang banyak untuk operasi proyek ini.
&amp;ldquo;Mereka (Kementerian BUMNN) bilang 'nasi sudah menjadi bubur', yaudah sekalian aja dibikin jadi bubur ayam,&amp;rdquo; katanya.Kemudian, Dewan Komisaris Krakatau Steel juga menyampaikan jika Harga  Pokok Produksi (HPP) slab yang dihasilkan project blast furnace ini  lebih mahal USD82 juta per jika dibandingkan harga pasar. Jika  dilanjutkan untuk diproduksi, 1,1 juta ton per tahun, maka potensi  kerugian Krakatau Steel sektiar Rp1,3 triliun per tahun.
&amp;ldquo;Sejak pertama saya hitung memang HPPnya enggak masuk USD82 per ton  kalo itu berproduksi. Sekarang dengan situasi ini dengan disampling  opinion saya pemegang saham enggak perlu bereaksi seperti ini,&amp;rdquo; katanya.
Selain itu, Dewan Komisaris juga menyampaikan usulan jika proyek ini  merupakan proyek yang dipaksakan beroperasinya hanya untuk dua bulan  kemudian akan dimatikan dengan berbagai macam alasan. Dewan Komisaris  juga sudah meminta berkali-kali agar dilakukan audit bisnis maupun audit  teknologi untuk mengetahui kehandalannya, keamanannya dan efisien  project blast furnace ini.
Di sisi lain, dirinya juga mempertanyakan tidak adanya kepastian  siapa yang akan bertanggung jawa terhadap proyek ini. Baik itu tanggung  jawab secara teknis, maupun kerugian keuangan, yang sayangnya pernyataan  tanggung jawab hanya dibuat oleh level manager dari kontraktor.
&amp;ldquo;Saya enggak bisa membayangkan kerusakan tehadap Krakatau Steel ini sebesar apa dan enggak ada yang tanggung jawab,&amp;rdquo; ucapnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Proyek blast furnace PT Krakatau Steel (Persero) Tbk yang dimulai sejak 2011 disebut sebagai proyek yang serba salah. Sebab bagaimanapun, proyek ini akan merugikan perusahaan.
Komisaris Independen Krakatau Steel Maningkas mengatakan, jika dilanjutkan proyek ini akan mengalami kerugian sekitar Rp1,3 triliun setiap tahunnya. Sedangkan jika dihentikan, maka perseroan akan kehilangan uang sekitar Rp10 triliun.
&amp;nbsp;Baca Juga: Komisaris Independen Krakatau Steel Ajukan Pengunduran Diri, Kenapa?
Pasalnya, sejak dimulai pada 2011, perseroan sudah mengeluarkan uang sekitar USD714 juta atau setara Rp10 triliun. Angka ini mengalami pembengkakan Rp3 triliun dari rencana semula yang hanya Rp7 triliun.
&amp;ldquo;Proyek ini maju kena mundur kena diterusin Rp1,3 triliun ruginya tiap tahun, enggak diterusin Rp10 triliun hilang,&amp;rdquo; ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (23/7/2019).
Menurut Roy, permasalahan tersebut sebenarnya sudah disampaikan oleh Dewan Komisaris kepada Kementerian BUMN berulang-ulang. Adapun beberapa poin yang diingatkan adalah adanya keterlambatan penyelesaian project blast furnace yang sudah mencapai 72 bulan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Bisnis Krakatau Steel Tak Sekuat Baja, Restrukturisasi Jadi Pilihan
Namun usulan ini seperti diabaikan. Mereka menyebut akan sangat sayang jika tidak dilanjutkan sebab, perseroan sudah membeli bahan baku yang banyak untuk operasi proyek ini.
&amp;ldquo;Mereka (Kementerian BUMNN) bilang 'nasi sudah menjadi bubur', yaudah sekalian aja dibikin jadi bubur ayam,&amp;rdquo; katanya.Kemudian, Dewan Komisaris Krakatau Steel juga menyampaikan jika Harga  Pokok Produksi (HPP) slab yang dihasilkan project blast furnace ini  lebih mahal USD82 juta per jika dibandingkan harga pasar. Jika  dilanjutkan untuk diproduksi, 1,1 juta ton per tahun, maka potensi  kerugian Krakatau Steel sektiar Rp1,3 triliun per tahun.
&amp;ldquo;Sejak pertama saya hitung memang HPPnya enggak masuk USD82 per ton  kalo itu berproduksi. Sekarang dengan situasi ini dengan disampling  opinion saya pemegang saham enggak perlu bereaksi seperti ini,&amp;rdquo; katanya.
Selain itu, Dewan Komisaris juga menyampaikan usulan jika proyek ini  merupakan proyek yang dipaksakan beroperasinya hanya untuk dua bulan  kemudian akan dimatikan dengan berbagai macam alasan. Dewan Komisaris  juga sudah meminta berkali-kali agar dilakukan audit bisnis maupun audit  teknologi untuk mengetahui kehandalannya, keamanannya dan efisien  project blast furnace ini.
Di sisi lain, dirinya juga mempertanyakan tidak adanya kepastian  siapa yang akan bertanggung jawa terhadap proyek ini. Baik itu tanggung  jawab secara teknis, maupun kerugian keuangan, yang sayangnya pernyataan  tanggung jawab hanya dibuat oleh level manager dari kontraktor.
&amp;ldquo;Saya enggak bisa membayangkan kerusakan tehadap Krakatau Steel ini sebesar apa dan enggak ada yang tanggung jawab,&amp;rdquo; ucapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
