<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Awas, Karyawan Berpotensi Dimata-matai Atasan bak 'Dipenjara'!</title><description>Apa jadinya jika pengawasan ketat untuk memata-matai karyawan menjadi suatu kewajaran?
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/23/320/2082630/awas-karyawan-berpotensi-dimata-matai-atasan-bak-dipenjara</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/23/320/2082630/awas-karyawan-berpotensi-dimata-matai-atasan-bak-dipenjara"/><item><title>   Awas, Karyawan Berpotensi Dimata-matai Atasan bak 'Dipenjara'!</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/23/320/2082630/awas-karyawan-berpotensi-dimata-matai-atasan-bak-dipenjara</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/23/320/2082630/awas-karyawan-berpotensi-dimata-matai-atasan-bak-dipenjara</guid><pubDate>Selasa 23 Juli 2019 17:38 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/23/320/2082630/awas-karyawan-berpotensi-dimata-matai-atasan-bak-dipenjara-w4StgRyE05.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Ist</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/23/320/2082630/awas-karyawan-berpotensi-dimata-matai-atasan-bak-dipenjara-w4StgRyE05.jpg</image><title>Foto: Ist</title></images><description>JAKARTA - Apa jadinya jika pengawasan ketat untuk memata-matai karyawan menjadi suatu kewajaran?
Konsep &quot;pekerjaan seumur hidup&quot; tampaknya menjadi impian yang sulit dicapai bagi kebanyakan orang pada tahun 2019.
Faktanya, sistem kerja kontrak sedang menjamur dengan tingkat pertumbuhan yang mencengangkan; diperkirakan 57 juta orang di AS dan 1,1 juta orang di Inggris bergantung pada pekerjaan jangka pendek yang fleksibel demi membiayai hidup mereka.
&amp;nbsp;Baca Juga: Astaga! 200 Juta Pengguna Android Dimata-Matai Aplikasi Keyboard Ini
Angka ini akan semakin meningkat. Pada tahun 2035, kebanyakan dari kita diperkirakan akan bekerja tanpa adanya jaminan kontrak jangka panjang, dan setiap gerak-gerik kita di tempat kerja akan dipantau, berkat miliaran perangkat Internet of Things (IoT).

Inilah bayangan suram dari laporan Royal Society for the Encouragement of Arts, Manufacturers and Commerce (RSA), yang disusun untuk menyoroti tantangan dan peluang di masa depan kita. Dan kini sudah menjadi kenyataan.
&quot;Saya harus mendaftarkan diri [ke perangkat lunak] pada awal dan akhir jam kerja saya dan melaporkan setiap waktu istirahat yang saya ambil, termasuk saat pergi ke toilet,&quot; ujar Sara McIntosh, mantan karyawan di salah satu toko ritel daring.
&quot;Mereka akan menghitung berapa banyak sidik jari yang saya pindai dalam satu hari pada sistem mereka, kemudian membaginya berdasarkan jam kerja lalu dikurangi waktu istirahat, untuk memeriksa apakah saya telah mencapai target harian saya.&quot;
Menurut laporan Trades Union Congress (TUC), sebagian besar pekerja di Inggris (56%) yakin bahwa mereka saat ini dipantau di tempat kerja mereka.
Pengawasan ini dimulai dari penggunaan internet, ketikan pada papan ketik, kamera komputer yang dipantau, hingga lokasi dan identitas mereka yang diperiksa menggunakan perangkat yang dikenakan di tubuh dan teknologi pengenalan wajah.

Laporan TUC mengambil contoh seorang pekerja konstruksi bernama Barry, yang &quot;bekerja di tempat di mana kami tidak menggunakan daftar presensi. Sebaliknya, mereka mengambil sidik jari kami. Meskipun mempermudah proses, saya merasa ini adalah pelanggaran privasi.&quot;
&amp;nbsp;Baca Juga: Malaysia Kirim Petugas Mata-Matai Muslim yang Tak Berpuasa
Laporan RSA menggambarkan empat skenario pada 2035, salah satunya disebut &quot;ekonomi presisi&quot;. Para penulis memilih tahun 2035 karena dirasa cukup jauh untuk memperluas imajinasi orang, tetapi cukup dekat untuk memperkirakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
&quot;2035 akan terasa familiar, namun berbeda,&quot; kata Asheem Singh, direktur ekonomi di RSA.
Menurut Singh, keempat skenario di laporan itu dirancang dengan tujuan memberi pedoman untuk melihat dan juga menghindari bayangan buruk di masa depan. Skenario ekonomi presisi ini tidak lebih mungkin terjadi dari tiga skenario lainnya, tapi menjadi yang paling meresahkan.Sistem Kerja Kontrak 2035
Dalam skenario ekonomi presisi, saat itu juga perusahaan bakal  menggunakan data yang dikumpulkan oleh sensor untuk mengalokasikan  sumber daya secara efisien.
Ini memungkinkan mereka untuk membuat strategi tenaga kerja yang  sesuai dengan permintaan, dengan model kerja kontrak yang menjadi  standar di sektor kesehatan dan ritel pada tahun 2035. Sensor yang  semakin banyak juga akan memungkinkan perusahaan menganalisis setiap  gerakan pekerja kontraknya.
Di ritel, sensor di dalam toko akan digunakan untuk mengumpulkan  informasi tentang langkah kaki, sementara perangkat yang dikenakan di  tubuh akan digunakan untuk melacak aktivitas staf, termasuk waktu saat  tidak aktif dan tingkat penjualan.
Data ini akan digunakan para manajer untuk memberi penghargaan atau  menghukum pekerja, yang diberi peringkat bintang berdasarkan data dan  penilaian.

Singh mengatakan, skenario mengerikan ini sudah terjadi dalam bentuk  daftar presensi dan perangkat pengawasan yang memantau pekerja di gudang  dan pusat panggilan.
Bethia Stone bekerja di agensi kehumasan yang menggunakan perangkat  lunak daftar presensi yang mencatat aktivitas dalam kurun waktu 15  menit, 30 menit atau 1 jam, yang menyebabkan karyawan bekerja lembur dan  berada dalam atmosfer &quot;penuh tekanan dan kecemasan&quot;.
Saat masih menjadi pelajar, ia juga pernah diawasi ketika bekerja di  sebuah swalayan yang memiliki tolak ukur produktivitas di pasaran.
&quot;Aku harus memindai sejumlah item tertentu dalam satu menit, dan jika  tidak sesuai target, saya dianggap berkinerja buruk dan bisa dikenakan  tindakan disiplin.&quot;
Singh berkata, jenis pengawasan ini semakin meningkat jumlahnya.  &quot;Ketika pekerjaan menjadi lebih bervariasi, dan pekerja berpindah dari  satu tempat ke tempat lainnya, perusahaan menuntut lebih banyak dari  mereka.&quot;
&quot;Ini bukan sekadar urusan memasukkan data presensi, ini merupakan  masalah serius yang menyentuh privasi, kesejahteraan, otonomi dan  tantangan untuk diperlakukan secara manusiawi di tengah dunia yang  semakin mekanis.&quot;Laporan itu menyebut sistem pengawasan seperti ini mungkin didukung   sebagian kecil karyawan yang setuju dengan sistem penggajian berdasarkan   prestasi kerja, peningkatan kesempatan untuk kenaikan jenjang karir,   dan &quot;tindakan tegas bagi rekan kerja yang suka mendompleng prestasi   kerja&quot;.
&quot;Skenario novel 1984 (karya George Orwell) kurang lebih merupakan   akhir logis sesungguhnya dari ekonomi presisi: sebuah dunia di mana   dunia kerja, dunia politik dan pribadi dikalibrasi dan dikontrol,&quot; ujar   Singh.
Ia percaya, teknologi mampu mengakselerasi proses ini jika kita membiarkannya.
Pemenang dan pengecut
 
&amp;nbsp;
Sistem kerja kontrak dirancang untuk memungkinkan pemberi kerja   menyesuaikan ketersediaan tenaga kerjanya dengan permintaan produksi,   dan agar bisa memilih jenis pekerjaan yang dapat mereka lakukan secara   fleksibel.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/05/11/57194/291113_medium.jpg&quot; alt=&quot;Ini Dia CCTV Pendeteksi Perubahan Siang dan Malam&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

Akan tetapi, meski terdengar bagus secara teori, ada beberapa   kelemahan. Perusahaan akan gampang kehilangan loyalitas karyawannya   ketika mungkin mereka terpaksa tidak bekerja tanpa &quot;kepastian kontrak   kerja&quot; ketika tidak ada proyek, ungkap Keith Bender, profesor ekonomi   Universitas Aberdeen.
Meski kontrak kerja tanpa durasi minimun saat ini menjanjikan gaji   yang kecil, platform kerja eksklusif diperkirakan akan muncul di masa   depan, menurut laporan itu.
Hal itu dapat mempolarisasi sistem kerja kontrak menjadi, di satu   sisi, suatu pekerjaan yang diinginkan mereka yang punya tingkat empati   sekaligus prestasi kerja yang tinggi, sementara di sisi satunya,   karyawan yang putus asa akan disalurkan ke jenis-jenis pekerjaan yang   kurang menggairahkan, seperti menjadi moderator konten media sosial.
Profesi yang dibutuhkan banyak orang - seperti suster dan dokter -   akan diuntungkan dengan adanya keseimbangan antara kehidupan pekerjaan   dengan kehidupan pribadi, karena mereka bisa mendapat penghasilan   tambahan saat bekerja di luar waktu.
Sementara pekerja dari profesi lainnya akan mengonsumsi obat   peningkat kemampuan kognitif untuk meningkatkan penampilan kerja mereka   di bawah pengawasan ketat para pemberi kerja.
Dalam skenario ekonomi presisi, karyawan yang lebih muda akan lebih   mudah menavigasi situasi dan jenis lingkungan itu dan kadang dapat   menapaki kenaikan jenjang karir dengan lebih cepat. Tapi skenario ini   punya kelemahan, yaitu akan adanya kelebihan jumlah pekerja yang lebih   tua dan pekerja yang kurang fleksibel.Bender mempertanyakan apakah orang-orang yang lebih tua akan kalah    saing. &quot;Stereotipnya adalah generasi tua tidak mengikuti teknologi    sebaik mereka yang lebih muda, tapi ada anggapan bahwa orang-orang yang    lebih muda tidak menghargai privasi layaknya generasi tua, jadi  mungkin   mereka yang lebih muda punya risiko lebih besar,&quot; ujarnya.
Baik tua maupun muda, Bender yakin bahwa orang yang lebih makmur bisa    lebih baik menjaga diri mereka dari situasi kerja yang tidak stabil,    karena mereka punya lebih banyak uang.
Singh setuju. Ia mengatakan bahwa sistem &quot;ketidaksetaraan pengawasan&quot;    dua-jalur berisiko membuat mereka yang punya harta dan memiliki    dukungan perusahaan bisa menuntut diberi kondisi yang lebih baik,    sementara yang tidak punya itu semua akan berakhir menderita.
Untuk itu, kemungkinan besar akan ada banyak karyawan yang bekerja keras dalam pekerjaan dengan bayaran rendah.
Kekeringan otak
&quot;Jika kita mengikuti sistem kerja kontrak yang tengah merebak, kita    harus melakukan perubahan pola pikir yang mendasar,&quot; ujar Bender.
Contohnya, sistem jaminan kesehatan masyarakat Inggris (NHS) dan    penyedia jaminan kesehatan lainnya kemungkinan harus mengalokasikan    lebih banyak tengaga kerja untuk membantu orang-orang dengan masalah    kesehatan jiwa, karena akan banyak orang yang stres akibat tidak punya    kepastian kerja.
Karyawan agensi kehumasan, Stone, mengatakan meskipun tidak ada orang    yang pernah mengkritisi jam kerjanya, fakta bahwa ia mengetahui    atasannya sangat mengawasi performa kerjanya membuatnya tertekan.
&quot;Di tengah banyaknya tekanan, itu menjadi satu hal lagi yang harus    saya cemaskan. Di kepala Anda, Anda terus berpikir bahwa mungkin atasan    Anda menganggap hasil kerja Anda tidak memuaskan.&quot;
Pengawasan ketat juga bisa menghancurkan rasa saling percaya di    lingkungan kerja. Email dan pesan milik Carly Thompsett yang bekerja    sebagai asisten admin pada sebuah tim penjualan dibaca oleh atasannya.
&quot;Kejadian itu menciptakan kerenggangan antara kami dan manajer karena kami merasa diperlakukan seperti anak-anak.&quot;
&quot;Pengawasan itu juga terus berlanjut di kehidupan nyata. Jika kami    mempertahankan diri atau mengatakan pada satu sama lain bahwa kami terus    menerus diawasi, rasanya kami seperti ada di dalam penjara,&quot; ujarnya.
&quot;Ada aspek Orwellian yang membingungkan dalam jenis pengawasan    seperti ini karena kemungkinan setiap pergerakan karyawan dapat    dimonitor dan diamati tanpa perlu dikontrol, dan mereka tidak tahu bahwa    informasi yang diperoleh bisa digunakan tanpa batas oleh bos mereka,&quot;    ungkap Theodossiou.Ia memperingatkan, pengawasan secara terus menerus dapat memutus     kemampuan karyawan untuk mengontrol kehidupan mereka di lingkungan     kerja, dan hal itu dapat menyebabkan performa yang rendah dan tingkat     stres tinggi.
Kondisi kerja seperti itu dapat secara signifikan merugikan populasi kerja, baik secara mental maupin fisik.
&quot;Meski ada gagasan positif di balik pengawasan karyawan, seperti     keamanan dan pengakuan prestasi kerja, tampaknya hal ini kerap     diterapkan dengan cara yang menambah stres sekaligus mengurangi     keleluasaan dan martabat karyawan itu sendiri,&quot; kata Naomi Climer, wakil     presiden Royal Academy of Engineering.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/05/27/57474/292785_medium.jpg&quot; alt=&quot;Geliat Transaksi Nontunai dengan Alat Pembayaran Digital di Pasar Mayestik&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Sebuah kontrak sosial
 
&amp;nbsp;
Sistem kerja kontrak dipersalahkan karena menyebabkan masyarakat     miskin menjadi semakin rentan. Dengan penerapan teknologi pengawasan     tingkat tinggi, nasib mereka tergantung pada upaya pemerintah,     organisasi dan serikat buruh untuk menciptakan kerangka peraturan untuk     melindungi mereka yang rentan terhadap risiko.
Singh berkata, kita memerlukan sebuah kontrak sosial yang baru, atau     jejaring pengaman Abad ke-21, untuk memungkinkan setiap orang   sejahtera   dan sukses. &quot;Dan kesejahteraan 2.0 harus bisa sebesar dan   sekuat visi   Beveridge yang menciptakan negara sejahtera lebih dari   tujuh dekade   lalu.&quot;
Seperti Winston Smith yang melawan Big Brother dalam novel 1984,     David Spencer, kepala jurusan ekonomi di Leeds University Business     School, yakin bahwa akan ada penolakan terhadap sistem pengawasan     berlebihan, dan hal itu akan menghentikan dampak yang timbul.
&quot;Pada akhirnya, kita punya pilihan bagaimana teknologi ini akan berkembang,&quot; kata Spencer.
Singh mencontohkan beberapa hal terkait pilihan-pilihan itu: &quot;Kita     perlu memberitahu atasan kita, secara bersama-sama, bahwa memberi label     para buruh pabrik itu tidak baik. Kita harus mendorong agar  legislasi    tentang HAM dipikirkan ulang di tengah era pengawasan super  ketat,&quot;    ujarnya.
&quot;Kita perlu berserikat dengan cara-cara yang lebih inovatif untuk     memastikan suara kita didengar. Kita perlu forum untuk mendiskusikan     etika praktik otomatisasi dan sistem kecerdasan buatan, dan kita perlu     menceritakan juga menyampaikan praktik buruk (pekerjaan) dan membujuk     pemerintah serta pelaku industri ke pihak kita.&quot;
Sehingga kebebasan tidak harus berujung pada perbudakan, dan kita     mungkin bisa menghentikan aksi Big Brother yang terlalu mengawasi kita     jika kita melakukannya dengan hati-hati.</description><content:encoded>JAKARTA - Apa jadinya jika pengawasan ketat untuk memata-matai karyawan menjadi suatu kewajaran?
Konsep &quot;pekerjaan seumur hidup&quot; tampaknya menjadi impian yang sulit dicapai bagi kebanyakan orang pada tahun 2019.
Faktanya, sistem kerja kontrak sedang menjamur dengan tingkat pertumbuhan yang mencengangkan; diperkirakan 57 juta orang di AS dan 1,1 juta orang di Inggris bergantung pada pekerjaan jangka pendek yang fleksibel demi membiayai hidup mereka.
&amp;nbsp;Baca Juga: Astaga! 200 Juta Pengguna Android Dimata-Matai Aplikasi Keyboard Ini
Angka ini akan semakin meningkat. Pada tahun 2035, kebanyakan dari kita diperkirakan akan bekerja tanpa adanya jaminan kontrak jangka panjang, dan setiap gerak-gerik kita di tempat kerja akan dipantau, berkat miliaran perangkat Internet of Things (IoT).

Inilah bayangan suram dari laporan Royal Society for the Encouragement of Arts, Manufacturers and Commerce (RSA), yang disusun untuk menyoroti tantangan dan peluang di masa depan kita. Dan kini sudah menjadi kenyataan.
&quot;Saya harus mendaftarkan diri [ke perangkat lunak] pada awal dan akhir jam kerja saya dan melaporkan setiap waktu istirahat yang saya ambil, termasuk saat pergi ke toilet,&quot; ujar Sara McIntosh, mantan karyawan di salah satu toko ritel daring.
&quot;Mereka akan menghitung berapa banyak sidik jari yang saya pindai dalam satu hari pada sistem mereka, kemudian membaginya berdasarkan jam kerja lalu dikurangi waktu istirahat, untuk memeriksa apakah saya telah mencapai target harian saya.&quot;
Menurut laporan Trades Union Congress (TUC), sebagian besar pekerja di Inggris (56%) yakin bahwa mereka saat ini dipantau di tempat kerja mereka.
Pengawasan ini dimulai dari penggunaan internet, ketikan pada papan ketik, kamera komputer yang dipantau, hingga lokasi dan identitas mereka yang diperiksa menggunakan perangkat yang dikenakan di tubuh dan teknologi pengenalan wajah.

Laporan TUC mengambil contoh seorang pekerja konstruksi bernama Barry, yang &quot;bekerja di tempat di mana kami tidak menggunakan daftar presensi. Sebaliknya, mereka mengambil sidik jari kami. Meskipun mempermudah proses, saya merasa ini adalah pelanggaran privasi.&quot;
&amp;nbsp;Baca Juga: Malaysia Kirim Petugas Mata-Matai Muslim yang Tak Berpuasa
Laporan RSA menggambarkan empat skenario pada 2035, salah satunya disebut &quot;ekonomi presisi&quot;. Para penulis memilih tahun 2035 karena dirasa cukup jauh untuk memperluas imajinasi orang, tetapi cukup dekat untuk memperkirakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
&quot;2035 akan terasa familiar, namun berbeda,&quot; kata Asheem Singh, direktur ekonomi di RSA.
Menurut Singh, keempat skenario di laporan itu dirancang dengan tujuan memberi pedoman untuk melihat dan juga menghindari bayangan buruk di masa depan. Skenario ekonomi presisi ini tidak lebih mungkin terjadi dari tiga skenario lainnya, tapi menjadi yang paling meresahkan.Sistem Kerja Kontrak 2035
Dalam skenario ekonomi presisi, saat itu juga perusahaan bakal  menggunakan data yang dikumpulkan oleh sensor untuk mengalokasikan  sumber daya secara efisien.
Ini memungkinkan mereka untuk membuat strategi tenaga kerja yang  sesuai dengan permintaan, dengan model kerja kontrak yang menjadi  standar di sektor kesehatan dan ritel pada tahun 2035. Sensor yang  semakin banyak juga akan memungkinkan perusahaan menganalisis setiap  gerakan pekerja kontraknya.
Di ritel, sensor di dalam toko akan digunakan untuk mengumpulkan  informasi tentang langkah kaki, sementara perangkat yang dikenakan di  tubuh akan digunakan untuk melacak aktivitas staf, termasuk waktu saat  tidak aktif dan tingkat penjualan.
Data ini akan digunakan para manajer untuk memberi penghargaan atau  menghukum pekerja, yang diberi peringkat bintang berdasarkan data dan  penilaian.

Singh mengatakan, skenario mengerikan ini sudah terjadi dalam bentuk  daftar presensi dan perangkat pengawasan yang memantau pekerja di gudang  dan pusat panggilan.
Bethia Stone bekerja di agensi kehumasan yang menggunakan perangkat  lunak daftar presensi yang mencatat aktivitas dalam kurun waktu 15  menit, 30 menit atau 1 jam, yang menyebabkan karyawan bekerja lembur dan  berada dalam atmosfer &quot;penuh tekanan dan kecemasan&quot;.
Saat masih menjadi pelajar, ia juga pernah diawasi ketika bekerja di  sebuah swalayan yang memiliki tolak ukur produktivitas di pasaran.
&quot;Aku harus memindai sejumlah item tertentu dalam satu menit, dan jika  tidak sesuai target, saya dianggap berkinerja buruk dan bisa dikenakan  tindakan disiplin.&quot;
Singh berkata, jenis pengawasan ini semakin meningkat jumlahnya.  &quot;Ketika pekerjaan menjadi lebih bervariasi, dan pekerja berpindah dari  satu tempat ke tempat lainnya, perusahaan menuntut lebih banyak dari  mereka.&quot;
&quot;Ini bukan sekadar urusan memasukkan data presensi, ini merupakan  masalah serius yang menyentuh privasi, kesejahteraan, otonomi dan  tantangan untuk diperlakukan secara manusiawi di tengah dunia yang  semakin mekanis.&quot;Laporan itu menyebut sistem pengawasan seperti ini mungkin didukung   sebagian kecil karyawan yang setuju dengan sistem penggajian berdasarkan   prestasi kerja, peningkatan kesempatan untuk kenaikan jenjang karir,   dan &quot;tindakan tegas bagi rekan kerja yang suka mendompleng prestasi   kerja&quot;.
&quot;Skenario novel 1984 (karya George Orwell) kurang lebih merupakan   akhir logis sesungguhnya dari ekonomi presisi: sebuah dunia di mana   dunia kerja, dunia politik dan pribadi dikalibrasi dan dikontrol,&quot; ujar   Singh.
Ia percaya, teknologi mampu mengakselerasi proses ini jika kita membiarkannya.
Pemenang dan pengecut
 
&amp;nbsp;
Sistem kerja kontrak dirancang untuk memungkinkan pemberi kerja   menyesuaikan ketersediaan tenaga kerjanya dengan permintaan produksi,   dan agar bisa memilih jenis pekerjaan yang dapat mereka lakukan secara   fleksibel.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/05/11/57194/291113_medium.jpg&quot; alt=&quot;Ini Dia CCTV Pendeteksi Perubahan Siang dan Malam&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

Akan tetapi, meski terdengar bagus secara teori, ada beberapa   kelemahan. Perusahaan akan gampang kehilangan loyalitas karyawannya   ketika mungkin mereka terpaksa tidak bekerja tanpa &quot;kepastian kontrak   kerja&quot; ketika tidak ada proyek, ungkap Keith Bender, profesor ekonomi   Universitas Aberdeen.
Meski kontrak kerja tanpa durasi minimun saat ini menjanjikan gaji   yang kecil, platform kerja eksklusif diperkirakan akan muncul di masa   depan, menurut laporan itu.
Hal itu dapat mempolarisasi sistem kerja kontrak menjadi, di satu   sisi, suatu pekerjaan yang diinginkan mereka yang punya tingkat empati   sekaligus prestasi kerja yang tinggi, sementara di sisi satunya,   karyawan yang putus asa akan disalurkan ke jenis-jenis pekerjaan yang   kurang menggairahkan, seperti menjadi moderator konten media sosial.
Profesi yang dibutuhkan banyak orang - seperti suster dan dokter -   akan diuntungkan dengan adanya keseimbangan antara kehidupan pekerjaan   dengan kehidupan pribadi, karena mereka bisa mendapat penghasilan   tambahan saat bekerja di luar waktu.
Sementara pekerja dari profesi lainnya akan mengonsumsi obat   peningkat kemampuan kognitif untuk meningkatkan penampilan kerja mereka   di bawah pengawasan ketat para pemberi kerja.
Dalam skenario ekonomi presisi, karyawan yang lebih muda akan lebih   mudah menavigasi situasi dan jenis lingkungan itu dan kadang dapat   menapaki kenaikan jenjang karir dengan lebih cepat. Tapi skenario ini   punya kelemahan, yaitu akan adanya kelebihan jumlah pekerja yang lebih   tua dan pekerja yang kurang fleksibel.Bender mempertanyakan apakah orang-orang yang lebih tua akan kalah    saing. &quot;Stereotipnya adalah generasi tua tidak mengikuti teknologi    sebaik mereka yang lebih muda, tapi ada anggapan bahwa orang-orang yang    lebih muda tidak menghargai privasi layaknya generasi tua, jadi  mungkin   mereka yang lebih muda punya risiko lebih besar,&quot; ujarnya.
Baik tua maupun muda, Bender yakin bahwa orang yang lebih makmur bisa    lebih baik menjaga diri mereka dari situasi kerja yang tidak stabil,    karena mereka punya lebih banyak uang.
Singh setuju. Ia mengatakan bahwa sistem &quot;ketidaksetaraan pengawasan&quot;    dua-jalur berisiko membuat mereka yang punya harta dan memiliki    dukungan perusahaan bisa menuntut diberi kondisi yang lebih baik,    sementara yang tidak punya itu semua akan berakhir menderita.
Untuk itu, kemungkinan besar akan ada banyak karyawan yang bekerja keras dalam pekerjaan dengan bayaran rendah.
Kekeringan otak
&quot;Jika kita mengikuti sistem kerja kontrak yang tengah merebak, kita    harus melakukan perubahan pola pikir yang mendasar,&quot; ujar Bender.
Contohnya, sistem jaminan kesehatan masyarakat Inggris (NHS) dan    penyedia jaminan kesehatan lainnya kemungkinan harus mengalokasikan    lebih banyak tengaga kerja untuk membantu orang-orang dengan masalah    kesehatan jiwa, karena akan banyak orang yang stres akibat tidak punya    kepastian kerja.
Karyawan agensi kehumasan, Stone, mengatakan meskipun tidak ada orang    yang pernah mengkritisi jam kerjanya, fakta bahwa ia mengetahui    atasannya sangat mengawasi performa kerjanya membuatnya tertekan.
&quot;Di tengah banyaknya tekanan, itu menjadi satu hal lagi yang harus    saya cemaskan. Di kepala Anda, Anda terus berpikir bahwa mungkin atasan    Anda menganggap hasil kerja Anda tidak memuaskan.&quot;
Pengawasan ketat juga bisa menghancurkan rasa saling percaya di    lingkungan kerja. Email dan pesan milik Carly Thompsett yang bekerja    sebagai asisten admin pada sebuah tim penjualan dibaca oleh atasannya.
&quot;Kejadian itu menciptakan kerenggangan antara kami dan manajer karena kami merasa diperlakukan seperti anak-anak.&quot;
&quot;Pengawasan itu juga terus berlanjut di kehidupan nyata. Jika kami    mempertahankan diri atau mengatakan pada satu sama lain bahwa kami terus    menerus diawasi, rasanya kami seperti ada di dalam penjara,&quot; ujarnya.
&quot;Ada aspek Orwellian yang membingungkan dalam jenis pengawasan    seperti ini karena kemungkinan setiap pergerakan karyawan dapat    dimonitor dan diamati tanpa perlu dikontrol, dan mereka tidak tahu bahwa    informasi yang diperoleh bisa digunakan tanpa batas oleh bos mereka,&quot;    ungkap Theodossiou.Ia memperingatkan, pengawasan secara terus menerus dapat memutus     kemampuan karyawan untuk mengontrol kehidupan mereka di lingkungan     kerja, dan hal itu dapat menyebabkan performa yang rendah dan tingkat     stres tinggi.
Kondisi kerja seperti itu dapat secara signifikan merugikan populasi kerja, baik secara mental maupin fisik.
&quot;Meski ada gagasan positif di balik pengawasan karyawan, seperti     keamanan dan pengakuan prestasi kerja, tampaknya hal ini kerap     diterapkan dengan cara yang menambah stres sekaligus mengurangi     keleluasaan dan martabat karyawan itu sendiri,&quot; kata Naomi Climer, wakil     presiden Royal Academy of Engineering.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/05/27/57474/292785_medium.jpg&quot; alt=&quot;Geliat Transaksi Nontunai dengan Alat Pembayaran Digital di Pasar Mayestik&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Sebuah kontrak sosial
 
&amp;nbsp;
Sistem kerja kontrak dipersalahkan karena menyebabkan masyarakat     miskin menjadi semakin rentan. Dengan penerapan teknologi pengawasan     tingkat tinggi, nasib mereka tergantung pada upaya pemerintah,     organisasi dan serikat buruh untuk menciptakan kerangka peraturan untuk     melindungi mereka yang rentan terhadap risiko.
Singh berkata, kita memerlukan sebuah kontrak sosial yang baru, atau     jejaring pengaman Abad ke-21, untuk memungkinkan setiap orang   sejahtera   dan sukses. &quot;Dan kesejahteraan 2.0 harus bisa sebesar dan   sekuat visi   Beveridge yang menciptakan negara sejahtera lebih dari   tujuh dekade   lalu.&quot;
Seperti Winston Smith yang melawan Big Brother dalam novel 1984,     David Spencer, kepala jurusan ekonomi di Leeds University Business     School, yakin bahwa akan ada penolakan terhadap sistem pengawasan     berlebihan, dan hal itu akan menghentikan dampak yang timbul.
&quot;Pada akhirnya, kita punya pilihan bagaimana teknologi ini akan berkembang,&quot; kata Spencer.
Singh mencontohkan beberapa hal terkait pilihan-pilihan itu: &quot;Kita     perlu memberitahu atasan kita, secara bersama-sama, bahwa memberi label     para buruh pabrik itu tidak baik. Kita harus mendorong agar  legislasi    tentang HAM dipikirkan ulang di tengah era pengawasan super  ketat,&quot;    ujarnya.
&quot;Kita perlu berserikat dengan cara-cara yang lebih inovatif untuk     memastikan suara kita didengar. Kita perlu forum untuk mendiskusikan     etika praktik otomatisasi dan sistem kecerdasan buatan, dan kita perlu     menceritakan juga menyampaikan praktik buruk (pekerjaan) dan membujuk     pemerintah serta pelaku industri ke pihak kita.&quot;
Sehingga kebebasan tidak harus berujung pada perbudakan, dan kita     mungkin bisa menghentikan aksi Big Brother yang terlalu mengawasi kita     jika kita melakukannya dengan hati-hati.</content:encoded></item></channel></rss>
