<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tak Miliki Properti? Coba Rentvesting yang Sedang Populer di Australia   </title><description>Di Australia kini semakin banyak warga yang melakukan rentvesting dan memungkinkan untuk memuaskan dua keinginan mereka.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/23/470/2082607/tak-miliki-properti-coba-rentvesting-yang-sedang-populer-di-australia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/23/470/2082607/tak-miliki-properti-coba-rentvesting-yang-sedang-populer-di-australia"/><item><title>Tak Miliki Properti? Coba Rentvesting yang Sedang Populer di Australia   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/23/470/2082607/tak-miliki-properti-coba-rentvesting-yang-sedang-populer-di-australia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/23/470/2082607/tak-miliki-properti-coba-rentvesting-yang-sedang-populer-di-australia</guid><pubDate>Selasa 23 Juli 2019 17:04 WIB</pubDate><dc:creator>ABC News</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/23/470/2082607/tak-miliki-properti-coba-rentvesting-yang-sedang-populer-di-australia-PQktZISGnn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/23/470/2082607/tak-miliki-properti-coba-rentvesting-yang-sedang-populer-di-australia-PQktZISGnn.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Shutterstock</title></images><description>JAKARTA - Sudah berapa lama Anda menyewa properti? Tapi juga merasa membeli rumah semakin tidak mungkin karena harganya yang terus meroket?

Di Australia kini semakin banyak warga yang melakukan rentvesting dan memungkinkan untuk memuaskan dua keinginan mereka, yakni menyewa properti di lokasi yang sesuai keinginan dan membeli properti sesuai kemampuan finansial.

Berdasarkan data terbaru Biro Statistik Australia, ABS, ada 340 ribu warga yang kini melakukan rentvesting, atau hampir 15% dari penyewa properti saat ini.
&amp;nbsp;Baca Juga: Kebijakan Pemerintah Bawa Angin ke Pasar Properti
Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak muda, yang menggunakan strategi ini untuk bisa memasuki pasar properti, seperti yang disebutkan Professor Hal Pawson dari University of New South Wales.

&quot;Rentvesting menarik terutama karena memberikan keuntungan pajak dari kepemilikan properti residensial dan sama-sama diuntungkan dari meningkatnya harga properti,&quot; ujarnya.

&quot;Bahkan di kawasan dimana Anda ingin tinggal karena alasan pekerjaan atau gaya hidup, meski hanya bisa terjangkau kalau menjadi penyewa,&quot; ujarnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Gairahkan Investasi, Ini 5 Paket Kebijakan Sektor Properti
Salah satu rentvenstor adalah Cayla Owins yang tinggal di Melbourne, tapi tidak mampu membeli properti kota yang pernah dijuluki paling nyaman di dunia.

Perempuan berusia 33 tahun ini kemudian menabung untuk bisa mengumpulkan uang muka sebesar USD35.000, atau kurang lebih Rp350 juta dan membeli properti di kawasan Bendigo, sekitar 150 km dari kota Melbourne.
Dia membeli sebuah rumah dengan harga USD355.000 atau lebih dari  Rp3,5 miliar di tahun 2014 dengan melakukannya sendiri tanpa bantuan  orang tuanya.

Namun Cayla tidak membelinya untuk ditinggali, karena ia masih menyewa sebuah apartemen di sebelah timur kota Melbourne.

Butuh setidaknya dua bulan bagi Cayla untuk mencari penyewa rumah  miliknya di Bendigo dan dia merasa beruntung karena mendapatkan penyewa  untuk jangka panjang.

&quot;Harga sewanya hampir mencapai uang cicilan, saya hanya menambahkannya sedikit,&quot; kata Cayla.

&quot;Fokus saya pertama ada cicilan, saya membayarnya dan hasil uang sewa untuk mensubsidi penghasilan saya.&quot;

Di Australia, jumlah warga yang menyewa properti dalam jangka panjang  atau lebih dari 10 tahun telah meningkat dua kali lipat sejak harganya  di kota-kota besar meroket dimulai di tahun 1990-an.

Ditambah lagi penghasilan yang tidak meningkat, dimana harga properti  tujuh kali lebih mahal dari rata-rata jumlah gaji per tahun, ujar  Marion May dari Thalia Stanley Group.

&quot;Biaya hidup dan pertumbuhan upah tidak seimbang dengan harga rumah,&quot; ujarnya.

&quot;Secara budaya juga kita lihat tren di kalangan Generasi Y dan  millenials, dimana mereka lebih ingin memiliki gaya hidup fleksibel.&quot;

Pasangan Vibhav dan Shivani Sharma dari Sydney adalah juga diantara 'rentvenstor' yang jumlahnya terus meningkat.

Kedua pasangan yang berusia di awal 40 tahunan ini pindah ke  Australia dari India sepuluh tahun lalu dan bekerja di bidang informasi  dan teknologi.
Mereka masih menyewa di Sydney, tapi memiliki investasi di delapan properti di seluruh Australia.

Properti yang pertama kali mereka beli adalah di kawasan Mangoo Hill,   di pinggiran kota Brisbane dengan harga USD360.000, atau sekitar Rp3,6   miliar, lima tahun lalu.

&quot;Rata-rata kami beli dua rumah setiap tahunnya dan harganya pun lumayan meningkat juga,&quot; ujar Vibhav.

Pasangan muda dengan satu anak perempuan ini telah memiliki tiga   properti di negara bagian Queensland, tiga di Victoria, dan dua di New   South Wales.

Saat ini kondisi mereka 'positive gearing', artinya harga sewa menutup biaya bunga dan lainnya.

Kunci yang membuat pasangan Vibhav dan Shivani bisa memiliki sejumlah   properti untuk investasi adalah membuat anggaran keuangan dengan  sangat  serius.

&quot;Bahkan jika saya belanja senilai USD99 (hampir Rp1 juta) untuk alarm kebakaran di rumah saya catat,&quot; ujar Vibhav.

Sebelum menentukan properti yang hendak dibeli, mereka melihat kawasan yang semi perkotaan dengan melihat potensi yang baik.

Misalnya, proyek infrastruktur yang sedang dibuat pemerintah, atau   pembangunan rumah sakit, atau investasi pemerintah lainnya yang akan   membuat daerah berkembang dan butuh perumahan.

Hal lain yang paling penting untuk diketahui adalah mengetahui   bagaimana tingkat sewa di daerah itu, apakah akan mudah disewakan atau   tidak.</description><content:encoded>JAKARTA - Sudah berapa lama Anda menyewa properti? Tapi juga merasa membeli rumah semakin tidak mungkin karena harganya yang terus meroket?

Di Australia kini semakin banyak warga yang melakukan rentvesting dan memungkinkan untuk memuaskan dua keinginan mereka, yakni menyewa properti di lokasi yang sesuai keinginan dan membeli properti sesuai kemampuan finansial.

Berdasarkan data terbaru Biro Statistik Australia, ABS, ada 340 ribu warga yang kini melakukan rentvesting, atau hampir 15% dari penyewa properti saat ini.
&amp;nbsp;Baca Juga: Kebijakan Pemerintah Bawa Angin ke Pasar Properti
Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak muda, yang menggunakan strategi ini untuk bisa memasuki pasar properti, seperti yang disebutkan Professor Hal Pawson dari University of New South Wales.

&quot;Rentvesting menarik terutama karena memberikan keuntungan pajak dari kepemilikan properti residensial dan sama-sama diuntungkan dari meningkatnya harga properti,&quot; ujarnya.

&quot;Bahkan di kawasan dimana Anda ingin tinggal karena alasan pekerjaan atau gaya hidup, meski hanya bisa terjangkau kalau menjadi penyewa,&quot; ujarnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Gairahkan Investasi, Ini 5 Paket Kebijakan Sektor Properti
Salah satu rentvenstor adalah Cayla Owins yang tinggal di Melbourne, tapi tidak mampu membeli properti kota yang pernah dijuluki paling nyaman di dunia.

Perempuan berusia 33 tahun ini kemudian menabung untuk bisa mengumpulkan uang muka sebesar USD35.000, atau kurang lebih Rp350 juta dan membeli properti di kawasan Bendigo, sekitar 150 km dari kota Melbourne.
Dia membeli sebuah rumah dengan harga USD355.000 atau lebih dari  Rp3,5 miliar di tahun 2014 dengan melakukannya sendiri tanpa bantuan  orang tuanya.

Namun Cayla tidak membelinya untuk ditinggali, karena ia masih menyewa sebuah apartemen di sebelah timur kota Melbourne.

Butuh setidaknya dua bulan bagi Cayla untuk mencari penyewa rumah  miliknya di Bendigo dan dia merasa beruntung karena mendapatkan penyewa  untuk jangka panjang.

&quot;Harga sewanya hampir mencapai uang cicilan, saya hanya menambahkannya sedikit,&quot; kata Cayla.

&quot;Fokus saya pertama ada cicilan, saya membayarnya dan hasil uang sewa untuk mensubsidi penghasilan saya.&quot;

Di Australia, jumlah warga yang menyewa properti dalam jangka panjang  atau lebih dari 10 tahun telah meningkat dua kali lipat sejak harganya  di kota-kota besar meroket dimulai di tahun 1990-an.

Ditambah lagi penghasilan yang tidak meningkat, dimana harga properti  tujuh kali lebih mahal dari rata-rata jumlah gaji per tahun, ujar  Marion May dari Thalia Stanley Group.

&quot;Biaya hidup dan pertumbuhan upah tidak seimbang dengan harga rumah,&quot; ujarnya.

&quot;Secara budaya juga kita lihat tren di kalangan Generasi Y dan  millenials, dimana mereka lebih ingin memiliki gaya hidup fleksibel.&quot;

Pasangan Vibhav dan Shivani Sharma dari Sydney adalah juga diantara 'rentvenstor' yang jumlahnya terus meningkat.

Kedua pasangan yang berusia di awal 40 tahunan ini pindah ke  Australia dari India sepuluh tahun lalu dan bekerja di bidang informasi  dan teknologi.
Mereka masih menyewa di Sydney, tapi memiliki investasi di delapan properti di seluruh Australia.

Properti yang pertama kali mereka beli adalah di kawasan Mangoo Hill,   di pinggiran kota Brisbane dengan harga USD360.000, atau sekitar Rp3,6   miliar, lima tahun lalu.

&quot;Rata-rata kami beli dua rumah setiap tahunnya dan harganya pun lumayan meningkat juga,&quot; ujar Vibhav.

Pasangan muda dengan satu anak perempuan ini telah memiliki tiga   properti di negara bagian Queensland, tiga di Victoria, dan dua di New   South Wales.

Saat ini kondisi mereka 'positive gearing', artinya harga sewa menutup biaya bunga dan lainnya.

Kunci yang membuat pasangan Vibhav dan Shivani bisa memiliki sejumlah   properti untuk investasi adalah membuat anggaran keuangan dengan  sangat  serius.

&quot;Bahkan jika saya belanja senilai USD99 (hampir Rp1 juta) untuk alarm kebakaran di rumah saya catat,&quot; ujar Vibhav.

Sebelum menentukan properti yang hendak dibeli, mereka melihat kawasan yang semi perkotaan dengan melihat potensi yang baik.

Misalnya, proyek infrastruktur yang sedang dibuat pemerintah, atau   pembangunan rumah sakit, atau investasi pemerintah lainnya yang akan   membuat daerah berkembang dan butuh perumahan.

Hal lain yang paling penting untuk diketahui adalah mengetahui   bagaimana tingkat sewa di daerah itu, apakah akan mudah disewakan atau   tidak.</content:encoded></item></channel></rss>
