<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bos BCA Ingin Tren Penurunan Suku Bunga BI Berlanjut   </title><description>Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menyatakan, pelonggaran kebijakan moneter ini pun memberikan angin segar bagi perbankan</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/24/20/2083173/bos-bca-ingin-tren-penurunan-suku-bunga-bi-berlanjut</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/24/20/2083173/bos-bca-ingin-tren-penurunan-suku-bunga-bi-berlanjut"/><item><title>Bos BCA Ingin Tren Penurunan Suku Bunga BI Berlanjut   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/24/20/2083173/bos-bca-ingin-tren-penurunan-suku-bunga-bi-berlanjut</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/24/20/2083173/bos-bca-ingin-tren-penurunan-suku-bunga-bi-berlanjut</guid><pubDate>Rabu 24 Juli 2019 19:43 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/24/20/2083173/bos-bca-ingin-tren-penurunan-suku-bunga-bi-berlanjut-UqegDYYXBZ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dirut BCA Jahja Setiaatmadja (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/24/20/2083173/bos-bca-ingin-tren-penurunan-suku-bunga-bi-berlanjut-UqegDYYXBZ.jpg</image><title>Dirut BCA Jahja Setiaatmadja (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2019. Kini suku bunga acuan BI menjadi 5,75% dari level 6%.
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menyatakan, pelonggaran kebijakan moneter ini pun memberikan angin segar bagi perbankan. Dirinya berharap tren penurunan suku bunga masih bisa berlanjut ke depannya.
&quot;Kita gembira BI sudah menurunkan bunga 25 bps, tapi memang bunga deposito BCA sudah diturunkan 25% sejak 1 Juli. Kita harap The Fed juga menurunkan bunga, dan ke depannya diharapkan bunga bisa turun lagi,&quot; ujarnya dalam konferensi pers di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (24/7/2019).
Baca Juga: Sinyal Kuat BI Kembali Turunkan Suku Bunga pada Semester II
Menurutnya, penurunan suku bunga ini menjadi sinyal positif di tengah tantangan perbankan menghadapi likuiditas yang ketat. Kata Jahja, saat ini perbankan harus sangat berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Sebab, menengok loan to deposits ratio (LDR) industri yang terus bergerak naik ke level 96% (year on year/yoy) per Mei 2019.
&quot;Ini harus hati-hati melepas kredit harus optimal, karena likuiditas ketat. Dengan LDR industri terus bergerak dari 94% kini 96%, ini pas kalau pertumbuhan kredit pas-pasan. Kalau agresif tapi sumber dananya kecil, ya susah,&quot; ujarnya.
Baca Juga: Sri Mulyani Sebut Kenaikan Suku Bunga Acuan BI Sempat Tekan Investasi
Jahja mengaku masalah likuiditas bukan hal sepele sehingga harus jadi fokus perbankan. Pertumbuhan kredit industri hingga Mei 2019 mencapai 11,2%, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) secara industri hampir tidak ada pertumbuhan alias flat yakni 0,7% yoy.
&amp;ldquo;Jadi ini menggambarkan betapa ketatnya likuiditas di pasar, kalau kredit terus digenjot. Ya seharusnya santai saja, kredit sesuai permintaan pasar, disalurkan secara prudent (hati-hati), yang bagus dan prospektif, enggak usah digenjot-genjot,&quot; ujarnya.Untuk diketahui, sepanjang semester I-2019 BCA telah menyalurkan  kredit sebesar Rp565,2, tumbuh 11,5% yoy dari periode yang sama di tahun  sebelumnya sebesar Rp481 triliun.
Realisasi itu terdiri kredit korporasi dengan tumbuh 14,6% yoy  menjadi Rp219,1 triliun. Kemudian kredit komersial dan UKM tercatat  sebesar Rp189,2 triliun atau tumbuh 12,5% yoy. Sementara kredit konsumer  meningkat 6,4% yoy menjadi Rp152,0 triliun.
Kredit konsumer tersebut berasal dari  kredit beragun properti yang  tumbuh 11,2% yoy menjadi Rp90,7 triliun. Sebaliknya, kredit kendaraan  bermotor turun 1,5% yoy menjadi Rp48,2 triliun, yang dipengaruhi oleh  penurunan pembiayaan kendaraan roda dua.
Sementara itu, saldo outstanding kartu kredit tumbuh 6,0% yoy menjadi  Rp13,1 triliun pada Juni 2019. Di periode yang sama, pembiayaan Syariah  meningkat 4,3% yoy menjadi Rp4,9 triliun.
Seiring dengan pertumbuhan kredit, BCA mencatatkan pertumbuhan Dana  Pihak Ketiga (DPK) sebesar 8,6% yoy menjadi Rp673,9 triliun. Di mana  dana murah (CASA) yakni giro dan tabungan tumbuh 5,9% yoy menjadi  Rp510,4 triliun, dengan porsi sebesar 75,7% dari total DPK. Sementara  dari dana deposito meningkat 18,1% yoy menjadi Rp163,5 triliun.
Adapun untuk rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) dan  kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) pada level masing-masing sebesar  23,6% dan 79,0%. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) juga  tercatat berada pada level yang dinilai dapat ditoleransi, yakni  sebesar 1,4%.</description><content:encoded>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2019. Kini suku bunga acuan BI menjadi 5,75% dari level 6%.
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menyatakan, pelonggaran kebijakan moneter ini pun memberikan angin segar bagi perbankan. Dirinya berharap tren penurunan suku bunga masih bisa berlanjut ke depannya.
&quot;Kita gembira BI sudah menurunkan bunga 25 bps, tapi memang bunga deposito BCA sudah diturunkan 25% sejak 1 Juli. Kita harap The Fed juga menurunkan bunga, dan ke depannya diharapkan bunga bisa turun lagi,&quot; ujarnya dalam konferensi pers di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (24/7/2019).
Baca Juga: Sinyal Kuat BI Kembali Turunkan Suku Bunga pada Semester II
Menurutnya, penurunan suku bunga ini menjadi sinyal positif di tengah tantangan perbankan menghadapi likuiditas yang ketat. Kata Jahja, saat ini perbankan harus sangat berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Sebab, menengok loan to deposits ratio (LDR) industri yang terus bergerak naik ke level 96% (year on year/yoy) per Mei 2019.
&quot;Ini harus hati-hati melepas kredit harus optimal, karena likuiditas ketat. Dengan LDR industri terus bergerak dari 94% kini 96%, ini pas kalau pertumbuhan kredit pas-pasan. Kalau agresif tapi sumber dananya kecil, ya susah,&quot; ujarnya.
Baca Juga: Sri Mulyani Sebut Kenaikan Suku Bunga Acuan BI Sempat Tekan Investasi
Jahja mengaku masalah likuiditas bukan hal sepele sehingga harus jadi fokus perbankan. Pertumbuhan kredit industri hingga Mei 2019 mencapai 11,2%, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) secara industri hampir tidak ada pertumbuhan alias flat yakni 0,7% yoy.
&amp;ldquo;Jadi ini menggambarkan betapa ketatnya likuiditas di pasar, kalau kredit terus digenjot. Ya seharusnya santai saja, kredit sesuai permintaan pasar, disalurkan secara prudent (hati-hati), yang bagus dan prospektif, enggak usah digenjot-genjot,&quot; ujarnya.Untuk diketahui, sepanjang semester I-2019 BCA telah menyalurkan  kredit sebesar Rp565,2, tumbuh 11,5% yoy dari periode yang sama di tahun  sebelumnya sebesar Rp481 triliun.
Realisasi itu terdiri kredit korporasi dengan tumbuh 14,6% yoy  menjadi Rp219,1 triliun. Kemudian kredit komersial dan UKM tercatat  sebesar Rp189,2 triliun atau tumbuh 12,5% yoy. Sementara kredit konsumer  meningkat 6,4% yoy menjadi Rp152,0 triliun.
Kredit konsumer tersebut berasal dari  kredit beragun properti yang  tumbuh 11,2% yoy menjadi Rp90,7 triliun. Sebaliknya, kredit kendaraan  bermotor turun 1,5% yoy menjadi Rp48,2 triliun, yang dipengaruhi oleh  penurunan pembiayaan kendaraan roda dua.
Sementara itu, saldo outstanding kartu kredit tumbuh 6,0% yoy menjadi  Rp13,1 triliun pada Juni 2019. Di periode yang sama, pembiayaan Syariah  meningkat 4,3% yoy menjadi Rp4,9 triliun.
Seiring dengan pertumbuhan kredit, BCA mencatatkan pertumbuhan Dana  Pihak Ketiga (DPK) sebesar 8,6% yoy menjadi Rp673,9 triliun. Di mana  dana murah (CASA) yakni giro dan tabungan tumbuh 5,9% yoy menjadi  Rp510,4 triliun, dengan porsi sebesar 75,7% dari total DPK. Sementara  dari dana deposito meningkat 18,1% yoy menjadi Rp163,5 triliun.
Adapun untuk rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) dan  kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) pada level masing-masing sebesar  23,6% dan 79,0%. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) juga  tercatat berada pada level yang dinilai dapat ditoleransi, yakni  sebesar 1,4%.</content:encoded></item></channel></rss>
